1,721,214 research outputs found

    MENGUAK DAN MEMPROVOKASI PERSOALAN PENCIPTAAN SENI LUKIS DENGAN PENDEKATAN: BRAINSTORMING TANGRAM DAN INTERPRETASI SEMANTIK.

    Get PDF
    PENGANTAR Puja dan puji syukur saya panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena dapat menyelesaikan buku kecil ini. Telah disadari untuk membuat buku kecil ini dengan tiga materi yakni, Brainstorming, Tangram dan Interpretasi Simantik yang baik dan lengkap tentunya diperlukan suatu pengalaman dan pengetahuan yang mendalam dan waktu yang cukup. Buku kecil ini dimaksudkan untuk menggarisbawahi metode dalam beberapa tahap proses kreatif dengan meminjam / mempergunakan Brainstorming, Tangram dan Interpretasi Simantik sehingga akan terbukalah ruang-ruang imajiner dan kebolehjadian dalam proses kreatif. Konsep-konsep yang dikemukakan dalam Brainstorming dapat dipergunakan untuk menggali ide-ide dan sebagai kunci untuk membuka semua pintu dan menawarkan hasil-hasil yang sangat mengejutkan. Memacu meningkatkan kemampuan mengkaitkan apa yang lazimnya tidak terkait, merelevankan suatu relasi yang sebelumnya tidak relevan. Tangram dapat menolong untuk mendapatkan identitas baru dari yang sederhana, dari hal-hal kecil yang ada dan hidup disekitar kita karena disitu tergelar serta terpendam potensipotensi yang penting dan berarti untuk membuka imej-imej yang bergema. Sedangkan interpretasi semantik mampu memberikan kerangka pengalaman yang lebih komprehensif, dengan memasuki relung-relung relasi yang tersembunyi dari suatu fenomena. Secara operasional semantik dapat membantu untuk melihat hubungan antara subtansi karya seni lukis dan bahasa ungkap / ekspresinya. Hal diatas sesuai dengan tulisan Victor Shklovsky, seorang ahli estetika dari Rusia menulis: Seni muncul untuk membantu kita menemukan sensasi hidup: seni muncul untuk membuat kita merasakan sesuatu, membuat batu menjadi berbatu. Tujuan dari seni adalah memberi sensasi pada suatu obyek seperti yang terlihat, bukan seperti yang terkenali. Teknik dari seni adalah untuk membuat sesuatu “tidak lazim”. Pada kesempatan ini saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terimakasih setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam pembuatan buku kecil ini terutama kepada M. Dwi Marianto atas nasehat dan dorongan dengan segala komentar dan saran yang nilainya tak terhitung. Diharapkan buku ini akan memberi dasar-dasar dan arah berpikir untuk proses kreativitas dengan wawasan yang lebih luas. I Wayan Setem

    METODE PENCIPTAAN SENI LUKIS Melalui Pendekatan: Brainstorming, Tangram dan Interpretasi Semantik

    Get PDF
    KATA PENGANTAR Puja dan puji syukur saya panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena dapat menyelesaikan bisa membuat bahan pembelajaran Metode Penciptaan Seni Lukis Melalui Pendekatan: Brainstorming, Tangram dan Interpretasi Semantik. Buku ini sebagai upaya melengkapi proses pembelajaran seni lukis yang terstruktur dengan tahapan-tahapan untuk mencapai apa yang menjadi tujuan pembelajaran, yaitu berkarya seni lukis dengan kemampuan untuk menggali ide-ide dan sebagai kunci untuk kreativitas. Metode pembelajaran dengan alternatif-alternatif berbagai pendekatan merupakan cara-cara yang ditempuh para pengampu mata kuliah Seni Lukis (Seni Lukis Pemandangan, Seni Lukis Alam Benda, Seni Lukis Modern, Seni Lukis Kontemporer) untuk menciptakan situasi pengajaran yang menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar yang memuaskan. Hal ini diharapkan agar setiap mahasiswa dapat lebih memahami dan mampu mengembangkan konsep gagasan dan metodologi seni lukis dalam riset dan kemampuan teknik. Dengan harapan kemampuan mahasiswa sebagai seorang pelukis bisa melukis secara akademis, berangkat dari riset, berdasarkan pengamatan, pengalaman dan internalisasi diri. Kemudian dibuat prosedur berkarya seni lukis, dengan berbagai pendekatan sehingga lahirnya sebuah karya menjadi pengetahuan yang bermakna. Pembelajaran seni lukis bukan saja bagaimana bisa melukis dengan baik dan mampu secara teknis dan gagasan. Tetapi juga belajar seni lukis mengetahui bagaimana sebuah karya seni menjadi sebuah karya seni. Sejalan dengan perkembangan zaman, yang disebut dengan seni bukan saja dari karya seninya kemampuan teknik membuat karya, tapi juga mempunyai pengetahuan seni, yang menjadi karya itu disebut dengan seni. Buku kecil ini dimaksudkan untuk menggarisbawahi metode dalam beberapa tahap proses kreatif dengan meminjam/ mempergunakan pendekatan Brainstorming, Tangram dan Interpretasi Simantik sehingga akan terbuka ruang-ruang imajiner dan kebolehjadian dalam proses kreatif. Konsep-konsep yang dikemukakan dalam brainstorming dapat dipergunakan untuk menggali ide-ide dan sebagai kunci untuk membuka semua pintu dan menawarkan hasil-hasil yang sangat mengejutkan. Memacu meningkatkan kemampuan mengkaitkan apa yang lazimnya tidak terkait, merelevankan suatu relasi yang sebelumnya tidak relevan. Tangram dapat menolong untuk mendapatkan identitas baru dari yang sederhana, dari hal-hal kecil yang ada dan hidup disekitar kita karena disitu tergelar serta terpendam potensipotensi yang penting dan berarti untuk membuka imej-imej yang bergema. Sedangkan interpretasi semantik mampu memberikan kerangka pengalaman yang lebih komprehensif, dengan memasuki relung-relung relasi yang tersembunyi dari suatu fenomena. Secara operasional semantik dapat membantu untuk melihat hubungan antara subtansi karya seni lukis dan bahasa ungkap/ekspresinya. Hal di atas sesuai dengan tulisan Victor Shklovsky, seorang ahli estetika dari Rusia menulis: Seni muncul untuk membantu kita menemukan sensasi hidup: seni muncul untuk membuat kita merasakan sesuatu, membuat batu menjadi ”berbatu”. Tujuan dari seni adalah memberi sensasi pada suatu obyek seperti yang terlihat, bukan seperti yang terkenali. Teknik dari seni adalah untuk membuat sesuatu “tidak lazim‛. Terselesaikannya buku ini adalah berkat adanya dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan yang baik ini, saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pihak-pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu terlaksananya penerbitan buku ini. Untuk itu, pada kesempatan yang baik ini, editor menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada: 1. Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn atas segala dukungannya terhadap penulisan buku ini dari sejak perencanaan, proses penulisan, hingga ke tahap penerbitan; 2. Kepala LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar, Dr. I Komang Arba Wirawan, S.Sn., M.Si yang telah memberikan arahan, dan memfasilitasi proses penerbitan buku ini. 3. Dr. A.A. Gde. Bagus Udayana, S.Sn, M.Si, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar beserta jajarannya atas dukungan moral, sarana, dan prasarana yang sangat berharga; 4. Kepada pihak-pihak lainnya yang namanya tidak bisa disebutkan satu persatu yang juga telah memberikan dukungan sepanjang proses penerbitan buku ini. Disadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu kritik dan saran para pengguna dan pembaca buku ini sangat diharapkan. Akhirnya, dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, buku ini dipersembahkan kepada pembaca, semoga bermanfaat adanya. I Wayan Setem tapi dari pengetahuan seni. Karya seni lahir bukan saja dar

    Lekesan Fenomena Seni Musik Bali

    No full text
    Hubungan antara seni dengan bentuk-bentuk di alam merupakan sikap para seniman dari masa ke masa dalam menanggapi begitu kuatnya impresi alam yang mampu menembus imajinasinya. Ada yang mengaguminya lantas dengan setia ingin menerjemahkan ke dalam karyanya. Bahkan karena kekagumannya itu maka alam ini diidealisasikan, dipilihnya yang baik-baik, diagungkan dalam berbagai mitologi untuk kemudian diekpresikan. Ada juga yang tidak ingin berpendapat apa-apa dan berusaha melukiskan nuansa alam ini seperti apa adanya, walaupun sering kali susah dapat dicapai. Yang lain lagi ingin mengintensifkan alam ini, disana- sini didistorsikan disesuaikan dengan pandangan subyektifnya. Akan tetapi apapun sikap seniman terhadap alam, ternyata alam telah banyak memberikan sumbangan kepada lahirnya suatu karya. Itulah seniman yang hidup dengan kreativitas, sehingga selalu melakukan eksplorasi terhadap apa saja yang bisa dijadikan objek

    Manunggaling Kala Desa Melintas Fenomena Ruang Dan Waktu Dalam Penciptaan Seni Lukis

    Get PDF
    Having observed and studied lingga-yoni, I have got an idea about “The Unity of Time-Space, Crossing the Phenomena of Time and Space in the Creation of Painting is the theme of my Works. What I would like to analyze here is the psychoanthropological aspects of lingga-yoni. Hopefully this analysis is viewed as an effort to reread reinterpret the symbol of linggayoni in my paintings. My perception of lingga-yoni related to the unity of time-space is not merely understood as a sensing quality but as a self projection of various values involving new interpretations. I can perceive the significance of lingga-yoni so that I am fully aware of its relationship with time and space. This perception is related not only to the cognitive achievement but also to the feelings of various values such as aesthetical, moral, and religious. Thus in this context, I place the creative exploration in the painting creation as a critical reflection crossing the time and space phenomena with the theme of “Manunggaling KalaDesa” (the unity of time-space). Keyword: lingga-yoni, manunggal, kala desa, ruang, and waktu

    Intercultural Balinese Painting from the Classic to the Modern

    Get PDF
    This article examines the representation mode painting like a change parallel to the profound transformation of the technical or theoretical knowledge, and also parallel to changes in the Balinese society values due to the physical evolution and the evolution of the system of values. In fact, within one century of painting it has been like moving from the classical, traditional, standard, homogeneous, local, and collectively turned into a painting that has been varied, heterogeneous, individual, and internationally with a modern twist. These waves of change occurred in the span of time through several stages, and most striking result from cash capitalistic economy and culture, especially tourism. In pre-colonial time the painting is a narrative religious functions until the time of breath commercialism modernist touches to always make innovations or changes. From the sacred space of temples and palaces to moving objects souvenirs, hotel interiors, fashion and even interior and exterior car. Developments of painting through innovation should not be interpreted as a discontinuity (rapture) or discontinuity of the local context, but on the contrary, to appreciate again the classical values (pastiche), not by road of preserving it rigidly, but the process of reinterpretation and re-contextualization. Keywords: Intercultural, reinterpretation and recontextualisatio

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Water's Flow/ Alir Air

    Get PDF
    corecore