1,720,968 research outputs found
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
KINERJA PERALATAN SOUNDSISTEM NEW ANUGRAH PADA GRUP KARAWITAN LARAS KRIDHA TARUNA DESA KRADENAN KABUPATEN GROBOGAN
Penelitian dengan judul “Kinerja Peralatan Soundsistem New Anugrah pada Grup Karawitan Laras Kridha Taruna, Desa Kradenan, Kabupaten Grobogan”ditujukan untuk mengetahui seberapa jauh perencanaan pemasangan peralatan soundsistem dan pengoperasian mencapai konsep keselarasan sesuai
permintaan para musisi karawitan. Pada pertunjukan karawitan jawa saat ini dibutuhkan perangkat soundsistem. Kebutuhan didasarkan berbagai kondisi lapangan, misalnya pertunjukan karawitan itu berada pada area yang luas dengan jumlah penonton yang banyak atau pada suatu tempat yang tingkat kebisingannya sangat tinggi. Perangkat soundsistem digunakan untuk memperkeras bunyi instrumen dari sumbernya sehingga musisi atau pengrawit bisa mendengarkan suara instrumen
yang ditabuhnya sendiri dan suara instrumen secara keseluruhan. Salah satu grup karawitan yang masih eksis di pedesaan bagian timur wilayah kabupaten Grobogan adalah Laras Kridha Taruna. Sebuah grup Karawitan yang diawali dengan latihan bersama para pemuda di Desa Kradenan,
Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan. Sampai saat ini grup tersebut masih eksis dengan anggotanya yang relatif tetap. Kekompakan group terjaga dengan garapan gendhing yang disajikan dan tersedianya soundsistem yang representatif.
Soundsistem menjadi kebutuhan utama karena posisi gamelan berjauhan sehingga
hasil suaranya harus bisa didengarkan oleh pengrawit yang lain. Kebutuhan akan soundsistem yang mumpuni ini ditangkap oleh salah satu anggota dari grup itu sendiri untuk mengadakan seperangkat soundsistem yang kemudian disebut
dengan New Anugrah. New Anugrah adalah salah satu soundsistem yang juga memenuhi segala permintaan masyarakat untuk hajatan pada umumnya. Kelengkapan peralatan
mikrofon, mixer audio, power amplifier, speaker dan peralatan managamen serta peralatan pendukung lainnya disiapkan untuk segala bentuk kebutuhan pementasan. Pementasan karawitan adalah salah satu yang memerlukan
optimalisasi kinerja peralatan. Pada pementasan karawitan dibutuhkan keselarasan atas semua suara dipanggung melalui soundsistem. Pada kerja soundsistem di pedesaan pada umumnya dikenal dengan istilah “dadi”. Dadi digunakan untuk menyebut
kesepahaman pengelolaan atau treatmen suara baik setiap instrumen maupun secara keseluruhan. Hasil treatmen ini yang kemudian menjadi bahan untuk d ilakukan pengukuran frekuensi dalam satuan hertz (Hz) dan kuat bunyi dalam satuan desibel (dB)
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
EKSPLORASI MIKING RICIKAN GENDER PADA GAMELAN JAWA
Penelitian dengan judul “Ekplorasi Miking Ricikan Gender Pada Gamelan
Jawa” ditujukan untuk menggali berbagai kemungkinan yang dapat diterapkan
dalam pemilihan tipe mikrofon dan penempatannya pada ricikan gender agar
dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam pemasangannya.
Miking atau pemasangan mikrofon merupakan bagian dari kerja
soundsistem. Kebutuhan soundsistem itu sendiri biasanya didasarkan berbagai
kondisi lapangan, misalnya pertunjukan karawitan itu berada pada area yang luas
dengan jumlah penonton yang banyak atau pada suatu tempat yang tingkat
kebisingannya sangat tinggi. Perangkat soundsistem digunakan untuk
menyampaikan dengan memperkeras bunyi instrumen dari sumbernya kepada
pengrawit supaya bisa mendengarkan suara instrumennya sendiri dan instrumen
secara keseluruhan. Penari juga membutuhkan soundsistem untuk mendengarkan
suara musik sebagai acuan untuk menari. Penonton tentu juga membutuhkan
keselarasan atas semua suara dipanggung melalui soundsistem. Ketiganya
memerlukan jalinan musikal yang selaras sesuai kepentingan masing-masing,
dengan demikian dalam pertunjukan dibutuhkan soundsistem yang berkualitas.
Satu perangkat gamelan terdiri dari beberapa ricikan (instrumen) yang
berbeda intensitas maupun warna suaranya. Salah satu ricikan gamelan yang
intensitas suaranya rendah (lembut) adalah gender. Gender merupakan instrumen
dengan rancakan (penyangga bilah) sepanjang 1,2 meter dan mempunyai teba
frekuensi kurang lebih 119 Hz sampai 728 Hz. Teba frekuensi itu terwadahi
dalam beberapa bilah yang urut dari frekuensi terendah sampai tertinggi.
Intensitas bunyi yang dihasilkan relatif lebih kecil dari ricikan gamelan yang lain
sehingga perlu adanya pemilihan tipe mikrofon dan penempatannya secara tepat
sehingga tersampaikan kepada pengrawit lainnya, penari maupun penonton secara
selaras.
Dua tipe mikrofon yang biasa dipakai dalam pertunjukan adalah mikrofon
kondenser dan dinamik. Dua tipe ini mempunyai kelebihan dan kekurangan
dalam menangkap sumber bunyi. Tipe mikrofon kondenser mempunyai tangkapan
frequensi yang lebar dan sudut atau pola arah tangkapan yang lebar juga, sensitif
terhadap sumber bunyi sehingga mampu menangkap sumber bunyi yang sangat
halus dan detail. Mikrofon dinamik mempunyai respon frekuensi dan sensitifitas
terbatas, pola arah tangkapan suara terbatas dari arah depan saja dan hanya
mampu menangkap suara yang dekat dengan membran mikrofon.
Hasil eksplorasi yang didapatkan dari model pertama adalah bahwa
dengan pemasangan satu mikrofon dinamik Shure SM 58 tidak optimal, bilah
yang jauh dari mikrofon intensitasnya sangat kecil. Pada eksplorasi dengan model
yang kedua adalah dengan mikrofon kondensor AKG C1000, dalam jarak tertentu
didapatkan intensitas bunyi bilah yang sama akan tetapi suara dari instrumen lain
masuk. Model yang ketiga adalah miking dengan mikrofon dinamik Shure (SM
58) dua buah
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.</p
- …
