93 research outputs found
Looking at the Local Participation of Coastal Communities in South Java, Indonesia
This study aims to describe the issues and problems of community participation related to the empowerment program entitled PKPT (Development of Strong Coastal Area) in the coastal areas. This study also discusses the importance of creating a participatory development model. This study is essential because PKPT implementation is specific, combining the top-down participation mechanism from the central government with the bottom-up mechanism, namely the northern coastal communities in South Java. The combination of the two mechanisms illustrates the complexity of issues and problems that are not simple because they involve the interests of the central government and the interests of ordinary citizens in coastal areas. Moreover, the focus of this study has yet to be widely studied by previous studies. This study uses a qualitative method applying an action research approach. The informants of the research are organizers of the coastal community, heads of village and village officials, and personnel of the Marine and Fisheries Service of Kebumen Regency in South Java. The result shows that implementing the PKPT program in coastal areas of Java, especially in Kebumen, uses both top-down and bottom-up mechanisms resulting in low participation of the community in the implementation of PKPT substantively. Thus, implicating the lack of sustainability in the empowerment program. This study presents a participatory development model that is expected to be a reference in organizing a sustainable empowerment program for the coastal areas in the future
MENJAGA SUSTAINABILITAS PENGEMBANGAN MASYARAKAT PESISIR KEBUMEN : ANTARA CORAK TOP-DOWN, PARTISIPATIF DAN INISIASI KELEMBAGAAN LOKAL
Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji aspek sustainabilitas program pengembangan masyarakat pesisir Kebumen yaitu PKPT(Pengembangan Kawasan Pesisir Tangguh) yang bersifat top-down, partisipatif dan menginisiasi lahirnya kelembagaan lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan memilih lokasi penelitian di Desa Jogosimo dan Tegalretno sebagai penerima program PKPT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PKPT yang memiliki semangat pemberdayaan dengan mengkombinasikan top-down dan bottom-up, ternyata masih diliputi oleh corak top-down yang cukup kuat. PKPT yang sesungguhnya partisipatif awalnya memberi harapan bagi keberlanjutan program pengembangan yang bukan project semata. Sayangnya ruang bottom-up yang ada direduksi oleh kontrol pengambil kebijakan. Selain itu, keberadaan Kelompok Masyarakat Pesisir (KMP) sebagai pengelola PKPT menyiratkan bentukan dari atas semata serta menambah keragaman berbagai kelompok masyarakat yang sudah terlebih dahulu ada. Banyaknya kelompok masyarakat tersebut justru memberi ruang bagi dominasi elit yang sudah lama berkecimpung di berbagai kelembagaan fungsional desa. Berkaitan dengan exit strategy PKPT, KMP dapat merekomendasikan pembentukan BUMDes kepada pemerintah desa dan mendorong pengembangan bina usaha PKPT oleh BUMDes. Selain itu, penting untuk melakukan penguatan kelompok masyarakat yang sudah ada dan berbasis keinginan masyarakat. Secara umum pilihan untuk memperluas ruang bagi corak bottom-up menjadi alternatif keberlanjutan program pengembangan ke depan. ` </jats:p
Strategi Pengembangan Masyarakat (Comunity Development)melalui program pengembangan koperasi dan UMKM berbasis kearifan lokal
Model develoment masyarakat sangat strategis dan penting melalui pengembangan kelembagaan dan pemberdayaan Koperasi (koperasi masyarakat ekonomi) dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk desa. Menggunakan metode kualitatif teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi, serta purposive sampling untuk penentuan informan penelitian di lokasi penelitian di enam desa seperti Bakulon, Bokol, Gambarsari, Jetis, Toyareka, dan Karangtengah, Kecamatan Kemangkon Purbalingga Kabupaten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pengembangan Koperasi (koperasi masyarakat ekonomi) dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) telah menjadi model pengembangan masyarakat sebagai strategi konstruktif (membangun) dan solusi (problem solving) dan transformatif (potensi pengolahan dan sumber daya) untuk mencapai masyarakat pembangunan pedesaan bisa lebih adil dan makmur berdasarkan kearifan loka
ISU PEREMPUAN SEBAGAI STRATEGI KOMUNIKASI POLITIK KAMPANYE CALON DALAM PILKADA
The role of women in development up to now has not been maximally played although reformation era has opened thespace for women to actively participate.Related to pilkada (local election), women empowerment should be considered as an interesting andimportant issue for campaign. However, based on the cases elaborated in this research, most candidates did not take into account womenempowerment programs as political communication strategy in campaign. There are two reasons which can logically explain thisphenomenon; first, women empowerment issue was not considered as important as other issues which can directly answer the crucial socialproblems such as poverty alleviation, providing job opportunities for unemployment or dealing with expensive fee for education so that noteffective to attract the voters. Second, there was an assumption that sex does not have significant relation with political choice of voters. Itmeans female voters do not always vote for female candidates or candidates focusing on women empowerment programs. Finally, issuesrelated to women role improvement were not much included in campaign materials of either male or female candidates to catch theattention of voters
ISU PEREMPUAN SEBAGAI STRATEGI KOMUNIKASI POLITIK KAMPANYE CALON DALAM PILKADA
The role of women in development up to now has not been maximally played although reformation era has opened the
space for women to actively participate.Related to pilkada (local election), women empowerment should be considered as an interesting and
important issue for campaign. However, based on the cases elaborated in this research, most candidates did not take into account women
empowerment programs as political communication strategy in campaign. There are two reasons which can logically explain this
phenomenon; first, women empowerment issue was not considered as important as other issues which can directly answer the crucial social
problems such as poverty alleviation, providing job opportunities for unemployment or dealing with expensive fee for education so that not
effective to attract the voters. Second, there was an assumption that sex does not have significant relation with political choice of voters. It
means female voters do not always vote for female candidates or candidates focusing on women empowerment programs. Finally, issues
related to women role improvement were not much included in campaign materials of either male or female candidates to catch the
attention of voters
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN GEJALA SUBJEKTIF KERACUNAN PESTISIDA PADA PETANI DI DESA LOSARI KECAMATAN SUMOWONO
Latar belakang: petani yang bekerja di ladang menggunakan pestisida untuk
mengusir hama sebagai salah satu penyebab penyakit tanaman sayur yang warga
Desa Losari tanam. Paparan pestisida terhadap petani dapat menyebabkan
timbulnya gejala subjektif keracunan pestisida. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan gejala subjektif
keracunan pestisida petani Desa Losari Kecamatan Sumowono.
Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif yang menggunakan desain analitik
observasional dan memakai pendekatan cross sectional. Besar sampel yang
digunakan dalam penelitian ini berjumlah 85 sampel. Teknik yang digunakan
dalam mengambil sampel adalah teknik non probability sampling dengan metode
insidental sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner gejala subjektif
keracunan pestisida dan perilaku pengelolahan pestisida. Analisis bivariat
menggunakan uji Chi-Square dengan derajat kepercayaan 95%.
Hasil:. Hasil uji Chi-Square mneunjukan tidak ada hubungan yang signifikan
antara penggunaan APD (p = 1,000), frekuensi penyemprotan (p = 0,148), masa
kerja (p = 0,303), lama menyemprot (p = 0,387). Bila nilai p-value dibandingkan
dengan nilai α yakni 0,05 maka nilai p-value > 0,05.
Simpulan: Pada analisis faktor-faktor yang diteliti seperti penggunaan APD,
masa kerja, lama penyemprotan, dan frekuensi penyemprotan tidak ada hubungan
yang signifikan dengan gejala subjektif keracunan pestisida.
Kata Kunci: Pestisida, Gejala Keracunan Pestisida, Faktor Risik
GAMBARAN RESPONS TIME PENERAPAN TRIAGE ESI PADA KASUS PASIEN DI RSD K.R.M.T WONGSONEGORO SEMARANG
Pelayanan Instalasi gawat darurat merupakan garda depan rumah
sakit sehingga harus dapat memberikan pelayanan yang sesuai standar, dan untuk
mendukung terwujudnya pelayanan yang berkualitas, efektif dan efisien. Pelayanan
pasien di Instalasi Gawat Darurat harus dilakukan dan diberikan dengan waktu
pelayanan yang sesuai dengan standar. Respons time atau keberhasilan waktu
tanggap sangat tergantung pada kecepatan yang tersedia dan kualitas pemberian
bantuan untuk menyelamatkan nyawa atau mencegah kecacatan sejak ditempat
kejadian, dalam perjalanan hingga mendapat pertolongan rumah sakit. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui gambaran respons time penerapan triage esi pada
kasus di RSD K.R.M.T Wongsonegoro Semarang.
Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain
deskriptif analitik dengan pendekatan survei. Populasi penelitian ini adalah seluruh
perawat pelaksana IGD sejumlah 39 perawat. Pengambilan data dilakukan dengan
menggunakan lembar observasi. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat.
Hasil: respons time penerapan triage ESI perawat pada kasus pasien sebagian besar
baik yaitu sejumlah 28 responden (71,8%) dan dalam kategori kurang baik sejumlah
11 responden (28,8%).
Simpulan: Rumah sakit diharapkan dapat melaksanakan update persamaan
persepsi melalui workshop atau in house training terhadap perawat IGD dalam
penentuan kategori esi pada setiap pasien yang datang ke IGD RSD KRMT
Wongsonegoro
MAKNA TRADISI SEPASARAN SETELAH KELAHIRAN BAYI DI DESA WAY KUYUNG KALIANDA
ABSTRAK
MAKNA TRADISI SEPASARAN SETELAH KELAHIRAN
BAYI DI DESA WAY KUYUNG KALIANDA
Oleh
Handoko Putra Siswoyo
Indonesia adalah negara yang kaya dengan perbedaan,
diantarranya adalaah perbedaan agama, suku, bahasa, dan tradisi
serta budaya. Salah satu suku mayoritas di Indonesia adalah suku
Jawa yang memiliki kekayaan tradisi dan budaya. Dalam beragama
suku Jawa mayoritas beragama Islam, hal ini lah yang menjadikan
masyarakat Jawa-Islam untuk menjaga adat istiadat dari nenek
moyang tetapi dengan nilai-nillai Islam. Sepasaran adalah salah
satu tradisi suku Jawa yang masihh dilestarikan hingga sekarang,
maka penulis memiliki ketertarikan untuk melakukan penelitian
mengenai sepasaran yang lahir dari adat istiadat Jawa dan
bagaimana penyesuaiannya dengan nilai-nilai Islam, khususnya
tradisi sepasaran di Desa Way Kuyung, Kalianda.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang bersifat
deskriptif-kualitatif. Sumber data yang diambil dari responden
utama, yaitu tokoh agama dan masyarakat di Desa Way Kuyung,
Kalianda dengan menggunakan meetode wawancara yaang
didukung dengan observasi dan juga dokumentasi. Data tersebut
akan diulas secara mendalam menggunakan teori simbolis milik
Victor W. Turner dan juga teori fungsionalisme agama milik Emile
Durkheim.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tradisi sepasaran
bagi masyarakat Way Kuyung, Kalianda adalah bentuk rasa syukur
dan do’a serta harapan yang dimintakan kepada Allah Swt., selain
itu juga pelaksanaan terhadap sunah rasul saw., dan terakhir makna
yang ingin dicapai perasaan satu kesatuan agama atau ukhuwah
islamiyah yang tidak memandang suku dalam pelaksanaan tradisi
ini. Lalu terdapat relevansi atau kecocokan tradisi sepasaran bayi di
desa Way Kuyung, Kalianda terhadap nilai-nilai agama Islam; hal ini diperbolehkan atau sesuai karena telah masuknya nilai-nilai
Islam seeperti aqiqah dan pembacaan sholawat dan dihilangkannya
sesuatu yang dilarang seperti sesajen diubah menjadi berkat yang
menjadi simbol sedekah.
Kata Kunci: Sepasaran, Tradisi, Funngsionalisme Agama. ABSTRACT
THE MEANING OF THE SEPASARAN TRADITION AFTER
THE BIRTH OF A BABY IN WAY KUYUNG KALIANDA
VILLAGE
By
Handoko Putra Siswoyo
Indonesia is a country rich in differences, including
differences in religion, ethnicity, language, and traditions and
culture. One of the majority tribes in Indonesia is the Javanese
tribe which has rich traditions and culture. In the Javanese
religion, the majority are Muslim, this is what makes the Javanese
Islamic community maintain the customs of their ancestors but
with Islamic values. Sepasaran is one of the Javanese traditions
that is still preserved today, so the author has an interest in
conducting research on sepasaran which was born from Javanese
customs and how it adapts to Islamic values, especially the
sepasaran tradition in Way Kuyung Village, Kalianda.
This research is descriptive-qualitative field research. The
data source was taken from the main respondents, namely religious
and community leaders in Way Kuyung Village, Kalianda using an
interview method which was supported by observation and
documentation. This data will be reviewed in depth using Victor W.
Turner's symbolic theory and Emile Durkheim's theory of religious
functionalism.
The results of this research show that the sepasaran
tradition for the people of Way Kuyung, Kalianda is a form of
gratitude and prayer as well as hope asked of Allah SWT, apart
from that it is also the implementation of the sunnah of the
Messenger of Allah, and finally the meaning that the feeling of one
religious unity wants to achieve. or ukhuwah Islamiyah which does
not look at ethnicity in implementing this tradition. Then there is
the relevance or suitability of the baby sepasaran tradition in Way
Kuyung village, Kalianda to Islamic religious values; This is permissible or appropriate because Islamic values such as aqiqah
and prayer reading have been included and the removal of
something that is prohibited such as offerings has been converted
into a blessing which is a symbol of alms.
Keywords: Sepasaran, Tradition, Religious Functionalism
- …
