36 research outputs found
Tingkat Kematangan Gonad Ikan Cakalang Kaitannya dengan Penentuan Ikan Layak Tangkap di Perairan Cilacap Jawa Tengah.
Informasi mengenai ukuran pertama kali matang gonad dan ukuran layak tangkap
ikan cakalang dibutuhkan untuk pengelolaan sumberdaya ikan cakalang yang
berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan tingkat kematangan
gonad (TKG) ikan cakalang dan menentukan panjang ikan cakalang layak tangkap
di Perairan Cilacap. Penelitian ini dilakukan di PPS Cilacap, Jawa Tengah. Metode
yang digunakan yaitu metode observasi. Data yang digunakan adalah data primer
yang berupa ukuran panjang ikan cakalang, tingkat kematangan gonad, dan lokasi
penangkapan ikan cakalang. Klasifikasi kematangan gonad terdiri atas TKG I, TKG
II, TKG III, TKG IV, dan TKG V. Klasifikasi tersebut diamati berdasarkan panjang
ikan cakalang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di perairan Cilacap ditemukan
TKG I sebesar 25%, TKG II sebesar 33%, TKG III sebesar 21%, dan TKG IV
sebesar 21%, sedangkan TKG V tidak ditemukan. Ukuran panjang ikan cakalang
pertama kali matang gonad (TKG III) adalah 42 cm. Berdasarkan ukuran panjang
ikan cakalang yang diperoleh selama penelitian, ikan yang layak tangkap sebanyak
41% dan yang tidak layak tangkap sebanyak 59%
Karakteristik Daerah Penangkapan Ikan Kakatua (Scaridae) Di Perairan Pulau Panggang dan Sekitarnya.
Ikan kakatua termasuk ikan karang yang bersifat herbivora. Ikan ini sering
tertangkap dengan bubu tambun dan jaring tegur di perairan Pulau Panggang dan
sekitarnya. Namun karakteristik daerah penangkapan ikan kakatua yang terkait
dengan aspek biologi dan ekologi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk
menghitung komposisi jumlah berdasarkan jenis/spesies ikan kakatua, mengukur
parameter lingkungan perairan, dan memetakan daerah penangkapan ikan kakatua
di perairan Pulau Panggang dan sekitarnya. Pengambilan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode survei. Komposisi hasil tangkapan dan
parameter lingkungan perairan diolah dengan Microsoft Excel lalu dianalisis
secara deskriptif, sedangkan pemetaan daerah penangkapan ikan diolah dengan
software pemetaan lalu dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa ikan kakatua yang tertangkap dengan bubu tambun dan jaring tegur
berjumlah 9 spesies. Ikan kakatua yang dominan tertangkap yaitu spesies mogong
bataan (Scarus ghobban) 31%, mogong iler (Scarus psittacus) 27%, dan mogong
ijo (Scarus rivulatus) 24%. Parameter lingkungan perairan yang diperoleh di
lokasi daerah penangkapan ikan kakatua meliputi, suhu (29,4-31,3°C), salinitas
(28-33 psu), pH (7,1-8,3), kedalaman (0,9-1,8 meter) dan subtrat dasar perairan
berupa karang berpasir. Lokasi daerah penangkapan ikan kakatua tersebar ke
daerah utara dari Pulau Panggang yaitu di perairan Semak Daun dan Karang
Sempit
Prospek Penerapan Traceability Perikanan Tuna Dan Cakalang Di Pelabuhan Perikanan Pantai (Ppp) Sadeng, Gunung Kidul, Yogyakarta
Konsep traceability sekarang pada awalnya merupakan salah satu sistem
manajemen risiko dalam menjamin mutu dan keamanan pangan global dengan
fokus dalam memudahkan pelacakan produk. Saat penerapan traceability
dikembangkan untuk menambah nilai ekonomis hasil tangkapan sehingga nelayan
lebih sejahtera. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kesiapan penerapan
traceability untuk perikanan tuna dan cakalang di Sadeng berdasarkan faktor
internal dan eksternal serta merumuskan strategi yang tepat dalam mendukung
penerapan traceability. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dan
menggunakan analisis deskriptif dan analisis SWOT. Hasil analisis menunjukkan
faktor internal yang digunakan sebagai kekuatan yang mendukung penerapan
traceability yaitu 1) ikan tuna dan cakalang memiliki nilai ekonomis tinggi, 2)
nelayan menggunakan Global Positioning System (GPS), 3) penyimpanan ikan
didominasi menggunakan es, 4) nelayan pancing ulur yang dominan, 5) bycatch
yang ditangkap sedikit. Faktor eksternal yang digunakan sebagai kekuatan
mendukung penerapan traceability yaitu 1) nilai ekspor tuna dan cakalang masih
tinggi, 2) dukungan pemerintah dalam pengelolaan perikanan tuna dan cakalang,
3) potensi sumberdaya perikanan tuna dan cakalang, 4) kesempatan kerja dibidang
perikanan tinggi, 5) jumlah rumpon diperairan semakin bertambah. Terkait
strategi yang dapat dipilih untuk mendukung penerapan traceability perikanan
tuna dan cakalang di Pelabuhan Perikanan Pantai Sadeng adalah 1)
mengoptimalkan pemanfaatan SDI tuna dan cakalang, 2) melakukan
pengembangan perikanan tuna dan cakalang, 3) peningkatan pendidikan
sumberdaya manusia, 4) peningkatan pemahaman mengenai ukuran tuna layak
tangkap dan traceability 5) membangun kerjasama dengan Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) dalam penerapan traceability, 6) membuka investasi dalam
penerapan traceability, 7) memperkuat peraturan traceability untuk nelayan
pancing ulur, 8) meningkatkan pengawasan dalam kegiatan penangkapan ikan, 9)
perbaikan pengembangan fasilitas pelabuhan, 10) meningkatkan sosialisasi
perikanan rumpon dan traceability, dan mengadakan 11) pelatihan sertifikasi
traceability
Faktor-Faktor Produksi Operasi Penangkapan Purse Seine (Pukat Cincin) yang Berbasis di PPP Bajomulyo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Bajomulyo coastal fishing port (PPP) is located in Pati Regency. PPP Bajomulyo consists of two fish auction (TPI), namely TPI Bajomulyo I and TPI Bajomulyo II. TPI Bajomulyo I is older than TPI Bajomulyo II. One of the dominant fishing gear in PPP Bajomulyo is purse seine, which is not optimal in fishing operation. The study aimed to analyze the technical, business and social aspects, and to determine production factors of fishing operations using purse seine in PPP Bajomulyo. The research used a survey method. The research indicated that technically, purse seines are categorized as surrounding nets. While this bussines analysis showed that purse seine give a profit and the business could be continued. On the other hand the social analysis, purse seine fishers in PPP Bajomulyo come from Indramayu, Brebes, Pekalongan, and Pati. Finally fish hold capacity should be maintenance on purse seine for improving purse seine fishing capacity
Kelayakan Mutu Tuna Untuk Ekspor Segar Hasil Tangkapan Kapal Bandar Nelayan Ii A Di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus
Produksi ikan tuna di PPS Bungus baru sekitar 36% yang diekspor, disebabkan mutu yang masih rendah. Tujuan penelitian ini adalah Mengenali standar mutu tuna untuk ekspor segar dari PPS Bungus dan menghitung persentase mutu ikan tuna dan menentukan faktor penyebab rendahnya mutu tuna hasil tangkapan yang didaratkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 80 ekor madidihang didaratkan KM Bandar Nelayan II A di PPS Bungus, dimana hanya 21% atau 17 ekor saja yang lolos untuk ekspor. Terdapat dua pembagian nilai mutu tuna ekspor di PPS Bungus, yaitu mutu I dan II. Penyortiran madidihang untuk ekspor didasari pada kondisi tekstur, minyak dan warna daging serta tidak terdapat cacat pada kulit luar ikan. Hasil penelitian juga menunjukkan terdapat empat aspek faktor-faktor penyebab rendahnya mutu tuna hasil tangkapan, yaitu: Nelayan, Penanganan di atas kapal, penanganan di pelabuhan dan teknologi. Kurang pedulinya nelayan terhadap penanganan tuna hasil tangkapan serta penggunaan es curah pada palka penyimpanan ikan, dan suhu pada tempat penyimpanan ikan yang masih belum teratur menyebabkan banyak mutu tuna hasil tangkapan menjadi rendah
Pola Adaptasi Operasi Penangkapan Ikan Nelayan Gillnet di PPI Karangsong Indramayu
Karangsong fishing port which located at Indramayu is dominated by gillnet fisheries. The purpose of this research is to describe gillnet fishing system in Karangsong, gillnet fisher’s adaptation and relation between index season with income, number trip, and the catch. To analyze gillnet fishing system and gillnet fisher’s adaptation it is used descriptive method. The result of this research shows that adaptation of gillnet 3 GT and 6 GT was changing the duration of fishing operation while for gillnet >10 GT have various adaptation models of fishing operation. Gillnet fisher’s change the duration of fishing operation, the fishing ground, adding the net piece, and reducing the net piece. In addition, the relation between index season with income, number trip and the catch is directly proportional. In conclusion, the adaptation pattern fisher’s gillnet is affected by their environmental condition
Pemenuhan Standar dan Persyaratan Ekspor Ikan Tuna ke Uni Eropa
Uni Eropa merupakan negara tujuan ekspor Indonesia yang memiliki standar yang
ketat untuk ikan yang dibelinya. Hal tersebut menyebabkan banyak produk ikan
olahan dari unit pengolahan ikan Indonesia mengalami penolakan. Produk ikan
tuna Indonesia ditolak oleh Uni Eropa dengan alasan mutu, administrasi, higienis,
kontaminasi mikroba dan logam berat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan
prosedur dan persyaratan ekspor ikan tuna ke Uni Eropa, membandingkan
kesenjangan kualitas produk tuna yang diekspor Indonesia dengan standar Uni
Eropa, mengidentifikasi penyebab penolakan ikan tuna Indonesia di pasar Uni
Eropa, memberikan rekomendasi strategi untuk meningkatkan nilai ekspor tuna ke
Uni Eropa pada unit pengolahan ikan tuna. Analisis yang digunakan yaitu analisis
deskripsi untuk tujuan satu, skoring analysis untuk tujuan dua, analisis fishbone
untuk tujuan tiga dan analisis SWOT untuk tujuan empat. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kesenjangan persyaratan Indonesia memperoleh skor 19 atau
tingkat keketatan sedang, sementara skor Uni Eropa adalah 23 atau keketatan
tinggi. Penyebab utama penurunan mutu produk tuna di PT X yaitu disebabkan
oleh faktor manusia, mesin, metode, pengujian, lingkungan dan material. Strategi
yang direkomendasikan adalah pengawasan dilakukan menyeluruh pada setiap
alur proses pengolahan hingga transportasi ke tempat tujuan ekspor, penerapan
traceability pada rantai suplai bahan baku, optimalisasi penerapan HACCP dan
penanganan ikan pada proses penerimaan, serta pengujian organoleptik dan uji
laboratorium dengan sampel yang sesuai dengan kondisi aslinya
Analysis Catching Activity of Eel Elver on the Water of Cimandiri Estuary, Palabuhanratu Bay, Jawa Barat
Eels (Anguilla sp.) are potential export commodities. However, there is a decrease in the number of eel elvers. Eel farming is still difficult to do if it starts from the stage of eggs and larvae. So, fishermen catch eel elver at the river or sea. Then, the elvers have been raised in fishpond. The current research attempts to describe the catching activities of eel elvers, to describe the condition of eel elver resources, and to estimate the relationship between sea surface temperature (SST), chlorophyll-a and fishing ground of eels at Cimandiri’s estuaries, Palabuhanratu Bay. The Research conducted on January to April 2012. Data were collected by interviews and also downloaded SST and chlorofil-a concentration images on http://oceancolor.gsfc.nasa.gov and http://www.nodc.noaa.gov/. The results show that, fishermen use simple fishing gear and operating technique for catching eel elvers. The fishing gear have been used by fisherman are waring and anco. Fishermen sell eel elver’s catch to the aquaculture’s company. Moreover, there was a sharp decrease in the volume in the eel elver catches. It is because the eel elver resources condition is getting worse compared to the early period of fishing activities. In addition, the SST averages was still in the range value of adaptation for eel elvers. It is because there is a small number of temperature variety in tropical water (including Indonesian water). In addition, the average concentration of chlorophyll-a included high categories from 1998 to 2011. So that, the high concentration of chlorophyll-a is a good location for the growth of phytoplankton and other aquatic animals
Analisis Pengembangan Perikanan Purse Seine Kabupaten Aceh Besar
Purse seine is one the productive fishing gear for fishing pelagic fishes. Fishing capacity is one the important issue in sustainable fisheries. This study aimed to measure fishing capacity of purse seine in Aceh Besar district, estimated the maximum economic yield (MEY) the targeted pelagic fishes, and formulate management strategies purse seine in the district of Aceh Besar. Fishing capacity was analyzed using the data envelopment analysis (DEA) method based on fishing capacity efficiency of monthly total catch as single output, from September 2009 to August 2010. Fishing vessel was used as decision making unit (DMU). Fixed input consists gross tonnage (GT), engine horse power (HP) and length of webb. Variable input consists number of crew, lamp power (watt), hold capacity (ton), and number of trip. The result showed that fishing capasity, 17 vessels reached optimum (CU=1), and fishing capacity of purse seine was 257 ton/year/unit. Thus bioeconomic analysis of pelagic fishes showed that MEY reached at 3,753.37 ton/year and optimum effort at 8,623 trip/year with total cost Rp 34,992,314,500 year and total revenue Rp 51,643,083,629. Management strategy for purse seine fishery in Aceh Besar district is the development of technology, human resource development and the role of institutions such as institutions laot commander.Kabupaten Aceh Besar merupakan salah satu kabupaten di Pemerintah Aceh yang memiliki potensi sumberdaya ikan sekitar 11.131 ton, terdiri dari ikan pelagis 2,0 ton/km2 dan ikan dimersal sebesar 3,2 ton/km2. Potensi yang telah dimanfaatkan 5.057,2 ton per tahun atau 45,43%, sehingga peluang untuk pengembangan perikanan laut sebanyak 6.074 ton atau 54,56% (DKP Aceh Besar 2010). Dewasa ini pengembangan dan pengelolaan kapasitas penangkapan berikut metode pengukurannya sudah menjadi isu penting pada upaya pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. The Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) yang disusun oleh FAO (1995) mengajak seluruh negara untuk menghindari overfishing dan kelebihan kapasitas penangkapan ikan. Kelebihan kapasitas penangkapan dapat dikurangi pada level dimana keberlanjutan penangkapan ikan akan terjamin melalui metode pengukuran kapasitas penangkapan. Menurut Lindebo (2003), kapasitas penangkapan adalah kemampuan suatu armada dalam melakukan penangkapan. Kemampuan ini didasarkan pada 1) banyaknya kapal nelayan dalam suatu armada, 2) ukuran setiap kapal, 3) efisiensi setiap kapal yang ditentukan oleh peralatan tehnis yang tersedia, 4) kemampuan nelayan dalam penangkapan, dan 5) waktu yang dibutuhkan. Menurut Kirkley and Squires (1998), kapasitas penangkapan dapat diukur, baik berdasarkan ketersediaan sumberdaya (stok) maupun tidak berdasarkan ketersedian. Kapasitas diukur berdasarkan ketersediaan stok, diartikan sebagai potensi maksimum output yang datanya dihasilkan melalui tingkat sumberdaya yang ada. Sebaliknya, kapasitas penangkapan diukur tidak berdasarkan ketersedian stok, diartikan sebagai output potensial yang dapat dihasilkan, dimana sumberdaya tidak menjadi kendal
KARAKTERISTIK HASIL TANGKAPAN DAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN KAKATUA (Famili Scaridae) MENGGUNAKAN BUBU TAMBUN DAN MUROAMI DI PERAIRAN PULAU PANGGANG DAN SEKITARNYA, KEPULAUAN SERIBU
Parrot fish is a herbivorous reef fish. This fish is frequently caught with traps and fishing nets around Panggang Island waters. However, information on the biological and ecological characteristics of the parrot fish fishing grounds still needs to be made available. This research aims to calculate the number composition based on the type/species of parrot fish, measure aquatic environmental parameters, and map the parrot fishing areas in the waters of Panggang Island and its surroundings. The method of data retrieval used in this study is a survey method. Catch composition and aquatic environmental parameters were processed using Microsoft Excel and then analyzed by descriptive analysis, whereas fishing area mapping was processed using mapping software and then descriptively analyzed. The results show that nine different species of parrot fish were caught using tambun traps and fishing nets. The caught of Scarus ghobban, Scarus psittacus and Scarus rivulatus were 31%, 27%, 24% respectively. Most parrot fish caught was 17-20 cm, indicating that small parrot fish occupied the observation location. The fishing traps were more selective fishing gear for catching parrot fish around Panggang Island. The distribution of environmental parameters in the waters of Panggang Island and its surroundings includes temperature (29.4-31.3°C), water depth (0.9-1.8 m), salinity (28-33 psu), and pH value (7. 1-8,3). The environmental conditions are generally consistent with those of parrot fish waters. The best fishing spots are north of Panggang Island, specifically in the Semak Daun waters
