1,720,959 research outputs found

    PENYULUHAN TENTANG PERAN FISIOTERAPI PADA SCOLIOSIS DI SDN 03 PASAR BAWAN KECAMATAN AMPEK ANGKEK NAGARI

    Full text link
    AbstrakMasa anak-anak merupakan masa emas (golden age) bagi setiap orang. Dimasa ini, anak mengalami tumbuh kembang yang luar biasa, baik dari segi emosi, kognitif, psikososial maupun fisik. Masalah tumbuh kembang yang sering dialami oleh anak adalah masalah postur seperti skoliosis, lordosis, kiposis, asimetris bahu. Pada masa ini akan terbawa sampai usia dewasa apabila tidak segera diatasi. Oleh karena itu perlu dilakukan deteksi dini masalah postur anak untuk mengidentifikasi masalah yang dialami oleh anak- anak. Disamping itu sangat perlu untuk memberikan terapi latihan apabila ditemukan masalah postur pada anak. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan anak sekolah dasar tentang gangguan pada tulang belakang dan program terapi latihan untuk mengurangi gejala-gejala pada scoliosis. Kegiatan pengabdian diikuti oleh 40 peserta. Hasil kegiatan pengabdian menunjukan peningkatan pengetahuan anak sekolah dasar tentang scoliosis.AbstractChildhood is a golden age for everyone. At this time, children experience extraordinary growth and development, both in terms of emotions, cognitive, psychosocial and physical. Growth problems that are often experienced by children are posture problems such as scoliosis, lordosis, kyphosis, shoulder asymmetry. At this time it will carry over into adulthood if it is not immediately addressed. Therefore, it is necessary to do early detection of children's posture problems to identify problems experienced by children. Besides, it is very necessary to provide exercise therapy if posture problems are found in children. This community service activity was carried out to increase the knowledge of elementary school children about spinal disorders and exercise therapy programs to reduce the symptoms of scoliosis. The service activity was attended by 40 participants. The results of the service activities showed an increase in the knowledge of elementary school children about scoliosis

    TERAPI BERMAIN PUZZLE BERPENGARUH TERHADAP PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS ANAK DOWN SYNDROME DI SLB KOTA BUKITTINGGI

    Full text link
    Down syndrome merupakan suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom yang ditandai dengan adanya kromosom tambahan pada kromosom 21. Pada dasarnya anak Down Syndrome usia sekolah mengalami keterlambatan motorik halus, kemampuan motorik halus dapat dikembangkan melalui aktivitas bermain yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil serta koordinasi antara mata dan tangan, diantaranya permainan puzzle. Metode Penelitian adalah Quasi Eksperimen dengan pendekatan one group pretest and posttest design. Alat ukur untuk motorik halus menggunakan KPSP (Koesioner Pra Skrining Perkembangan). Penelitian ini dilakukan selama 5 hari berturut-turut dengan durasi 30 menit dalam satu kali pertemuan. Sampel dalam  penelitian  ini  adalah  10  anak  penderita  down  syndrome  dari  umur  6-11  tahun.  teknik pengambilan sampel berupa purposive sampling, yaitu sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan oleh peneliti. Dari hasil penelitian diperoleh rata-rata tingkat motorik halus sebelum pemberian terapi berman puzzle adalah 6. Diperoleh rata-rata tingkat motorik halus sesudah pemberian terapi berman puzzle adalah 14,60. Hasil uji statistik menunjukkan adanya pengaruh pemberian terapi bermain puzzle terhadap perkembangan motorik halus anak down synrome dengan p = 0,005 < (α) ( 0,05 ). Dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi bermain puzzle efektif terhadap perkembangan motorik halus anak down syndrome.

    BRAIN VITALITATION GYM BERPENGARUH TERHADAP FUNGSI KOGNITIF LANSIA

    Full text link
    As they get older, the elderly will experience a decline in several body functions, one of which is cognitive function. As the center of thinking power, the brain also requires care, namely by carrying out simple movements followed by various components of brain function such as vision, imagination, hearing and emotions. This can be done by doing a brain vitalization gym. The aim of this research is to determine the effect of the brain vitalitation gym in improving the cognitive function of the elderly. The design of this research is Quasi-experimental with a pretest-posttest one group design approach. The population in this study was all elderly people at the Biaro Community Health Center totaling 318 people, the sample in this study was 10 elderly people. The sampling technique was carried out by purposive sampling. Cognitive function was measured using the MMSE (Mini-Mental State Examination). The results showed that the average cognitive function before the brain vitalization gym intervention was 16.20 and after the intervention it was 23.10. The p value = 0.000 means that there is an increase in cognitive function after being given Brain Vitalitation Gym Keywords: Brain Vitalitation Gym, Cognitive Function, Elderly 

    PENGARUH BENTUK CAVUS FOOT TERHADAP POLA JALAN PADA ANAK SDN 11 KOTO BESAR

    Full text link
    Kaki berfungsi sebagai penyokong berat badan dan sebagai pengungkit untuk memajukan tubuh sewaktu berjalan dan berlari. Arkus pedis memiliki fungsi untuk membantu efisien fungsi kaki. Arkus pedis terdiri dari normal foot, flat foot, dan cavus foot. Prevalensi kaki cavus di dunia dilaporkan 10%-25% dari populasi atau sama umum dengan kaki rata. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan bentuk arcus pedis (cavus foot) terhadap pola jalan pada anak. Desain penelitian ini adalah Quasi- eksperiment dengan pendekatan pretest-posttest group design. Populasi dalam penelitian ini siswa-siswi SD sebanyak 56 orang, sampel dalam penelitian ini adalah 10 orang anak yang memiliki arcus pedis normal foot dan 10 orang anak yang memiliki arcus pedis cavus foot. Teknik dalam pengambilan sampel dilakukan dengan cara accidental sampling,yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah dilakukan pemeriksaan arcus pedis dan pemeriksaan pola jalan (stride length, step length, cadence, dan speed) pada anak didapatkan α 0,0005 artinya terdapat perbedaan pada pemeriksaan pola jalan step length, cadence, dan speed pada normal foot dan cavus foot dan α 0,102 artinya tidak terdapat perbedaan pola jalan stride length pada normal foot dan cavus foot. Normal foot memiliki nilai stride length, step  length,  cadence  dan  speed  yang  lebih  baik  daripada  cavus  foot  dan  terdapat perbedaan pola jalan step length, cadence dan speed pada anak. Untuk mencegah terjadinya kelainan pada arcus, anak dapat memakai alas kaki yang dimodifikasi agar lengkungan pada kaki anak tetap normal

    CARPAL TUNNEL SYNDROME DIPENGARUHI LAMA KERJA DAN POSTUR PERGELANGAN TANGAN PADA PENGENDARA OJEK ONLINE DI KOTA BUKITTINGGI

    Full text link
    Pengendara ojek online sering mengalami gangguan musculoskeletal salah satunya Carpal Tunnel Syndrome, hal ini terjadi karena berbagai faktor diantaranya lama kerja dan postur pergelangan tangan saat mengendarai sepeda motor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama kerja dan postur pergelangan tangan dengan kejadian Carpal Tunnel Syndrome pada pengendara ojek online di Kota Bukittinggi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan study cross sectional. Teknik pengambilan sample menggunakan metode total sampling dengan jumlah sample sebanyak 35 Orang. Pengambilan data menggunakan lembar observasi kuesioner dan lembar kerja RULA. Pengolahan data hasil penelitian menggunakan uji chi-square. Hasil uji statistik didapatkan angka kejadian Carpal Tunnel Syndrome 29 orang (82.9%), lama kerja beresiko adalah 22 orang (62.9%) dan postur pergelangan tangan beresiko adalah 27 orang (77.1%) dari 35 responden. Nilai signifikasi kejadian  Carpal Tunnel  Syndrome  dengan  lama kerja  beresiko  didapatkan p=0,019  dan postur pergelangan tangan beresiko didapatkan p<0,001. Disimpulkan terdapat hubungan lama kerja dan postur pergelangan tangan terhadap kejadian Carpal Tunnel Syndrome pada pengendara ojek online di Wilayah  Kota  Bukittinggi  Tahun  2022

    ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN STANDAR PELAYANAN FISIOTERAPI BERDASARKAN PERMENKES NOMOR 65 TAHUN 2015 DI PUSKESMAS WILAYAH KERJA DINAS KESEHATAN KOTA PADANG PANJANG

    Full text link
    Permasalahan kesehatan masyarakat masih banyak yang belum terselesaikan, ditandai dengan meningkatnya penyakit tidak menular. Upaya pencegahan penyakit tersebut dimulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama. Dalam Permenkes Nomor 65 Tahun 2015 fisioterapi terlibat dalam pelayanan tingkat pertama. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang implementasi kebijakan Permenkes Nomor 65 Tahun 2015 di Puskesmas Kota Padang Panjang. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang dilakukan pada bulan April sampai Juli 2019, pengumpulan data dilakukan menggunakan pedoman wawancara, observasi, dan studi dokumen melalui wawancara mendalam dengan kepala dinas, kasi pelayanan kesehatan, ketua IFI dan seluruh kepala Puskesmas Kota Padang Panjang. Hasil penelitian diketahui input seperti kebijakan tentang Permenkes Nomor 65 Tahun 2015 belum pernah disosialisasikan, tenaga fisioterapi belum ada, ketersediaan dana, sarana prasarana belum memadai. Proses implementasi kebijakan pelayanan fisioterapi di Puskesmas, belum ada tenaga fisioterapi yang terlibat dalam program Puskesmas. Dan Output yang diperoleh, Permenkes Nomor 65 Tahun 2015 belum pernah disosialisasikan oleh Pemerintah sehingga belum ada perencanaan dan penerapan tenaga, dana, sarana dan prasarana untuk melakukan pelayanan Fisioterapi di Puskesmas. Kesimpulan penelitian ini adalah seluruh Puskesmas di Kota Padang Panjang belum pernah mendapatkan sosialisasi kebijakan tentang Permenkes Nomor 65 Tahun 2015 sehingga belum ada implementasi pelayanan fisioterapi di Puskesmas

    PHYSICAL ACTIVITY AND COGNITIVE FUNCCTION AND THE RISK OF FALLING IN THE ELDERLY

    No full text
    Latar belakang: Lansia adaIah sekeIompok orang yang mengaIami suatu proses perubahan secara bertahap daIam jangka waktu tertentu. Pada lansia akan terjadi penurunan fungsi kognitif dan aktivitas fisik yang akan berdampak pada resiko jatuh pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan fungsi kognitif dan aktivitas fisik dengan resiko jatuh pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Tigo Baleh Bukittinggi. Desain penelitian menggunakan deskriptif koreIatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode accidental samping. PeneIitian diIaksanakan pada buIan Agustus-September 2021, dengan jumlah populasi lansia sebanyak 1.997 orang usia 60-70 tahundi wilayah kerja Puskesmas Tigo Baleh bukitttinggi. Hasil penelitian Lebih dari sebagian (61,7%) responden adalah lansia dengan resiko jatuh termasuk kategori ringan, Lebih dari sebagian (75%) responden adalah lansia dengan fungsi kognitif termasuk kategori baik, Lebih dari sebagian (66,7%) responden adalah lansia dengan aktivitas fisik termasuk kategori baik, Terdapat hubungan yang signifikan antara fungsi kognitif dengan resiko jatuh pada lansia, secara statistik didapatkan nilai p = 0,004 dan OR = 7,56, Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan resiko jatuh pada lansia, secara statistik didapatkan nilai p = 0,006 dan OR = 5,57. Disimpulkan terdapat hubungan fungsi kognitif dan aktivitas fisik dengan resiko jatuh pada lansia di wilayah kerja puskesmas Tigo Baleh Bukittinggi.

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore