1,720,962 research outputs found
INDEKS STANDAR PENCEMAR UDARA POLUTAN KARBON MONOKSIDA DI TERMINAL MALENGKERI KOTA MAKASSAR
Salah satu sektor yang berperan penting dalam penurunan kualitas udara diseluruh dunia adalah transportasi. Di antara polutan yang berasal dari sektor transportasi dan berpotensi menyebabkan penurunan kualitas udara, karbon monoksida (CO) adalah salah satu yang paling berbahaya dari polutan lainnya. Indeks standar pencemar udara diukur untuk untuk menilai potensi pajanan yang dihasilkan oleh karbon monoksida di Terminal Malengkeri Kota Makassar. Sampel adalah udara ambien di sekitar wilayah Terminal Malengkeri. Sampel udara ambien diukur melalui dua tahap pengukuran yaitu pada saat awal pekan (senin-rabu) dan pada saat akhir pekan (kamis-sabtu) sebanyak tiga kali dalam sehari (pagi, siang, dan sore) dalam rentang waktu 1 jam pengukuran untuk melihat konsentrasi CO. Delapan titik pengukuran dipilih pada wilayah Terminal Malengkeri. Dari hasil penelitian, terdapat peningkatan konsentrasi CO sebesar 22,44% antara awal pekan dan akhir pekan baik untuk pengukuran 1 jam maupun 8 jam. Adapun konsentrasi rata-rata karbon monoksida dalam sepekan untuk seluruh titik sampel dengan pengukuran 8 jam adalah sebesar 252,29, dengan nilai tertinggi dimiliki oleh titik sampel 4 yaitu sebesar 454,02 µg/m3. Nilai ISPU polutan CO di Terminal Malengkeri Kota Makassar sebesar 2.193,84. Nilai tersebut dikategorikan sebagai berbahaya bagi setiap makhluk hidup yang menghirupnya. Selain itu jika dilihat berdasarkan titik pengambilan sampel, nilai ISPU tertinggi berasal dari titik 4 yaitu sebesar 3.948,03 dan dikategorikan sebagai berbahaya. Nilai tersebut lebih tinggi sekitar 44,43% dari nilai ISPU rata-rata untuk seluruh titik pengukuran.Kata kunci: ISPU, karbon monoksida, bus termina
Hubungan Faktor Sosiodemografi Dengan Pemberian Asi Eksklusif Pada Ibu Primipara Di Kelurahan Tenun Kota Samarinda
Tujuan Studi: Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan faktor sosiodemografi dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu primipara.di kelurahan Tenun Kota Samarinda.
Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 35 responden. Analisa data menggunakan uji chi-square. Adapun variabel yang diteliti yaitu usia, status pekerjaan, pendidikan, penghasilan, dan pengetahuan. Pengumpulan data menggunakan kuesioner.
Hasil Analisis: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan usia (p.value= 1,000), pendidikan (p.value= 0,767), status pekerjaan (p.value= 0,057), sosial ekonomi (p.value= 1,000), dan pengetahuan (p.value= 0,961).
Manfaat: penelitian ini tidak ada hubungan antara faktor sosiodemografi dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu primipara di Kelurahan Tenun Kota Samarinda.
 
Hubungan Faktor Psikososial dengan Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu Primipara di Kelurahan Tenun Kota Samarinda
Tujuan studi : Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan faktor psikososial dengan pemberian asi eksklusif pada ibu primipara di Kelurahan Tenun Kota Samarinda
Metodologi : Metode yang digunakan dalam penelitian ini berjenis kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, analisa data menggunakan uji chi-square. Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh ibu primipara yang memiliki bayi usia 6 – 11 bulan 29 hari yang berdomisili di wilayah Kelurahan Tenun Kota Samarinda dengan jumlah 35 responden.
Hasil : Tidak ada hubungan antara dukungan suami dan dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu primipara. Namun pada dukungan petugas kesehatan dengan pemberian ASI Eksklusif menunjukkan ada hubungan yang signifikan.
Manfaat : Dapat digunakan untuk menggambarkan pemberian ASI eksklusif khususnya pada ibu Primipara dan sebagai sarana untuk menyusun strategi yang tepat dalam meningkatkan Pemberian ASI eksklusif
Fasilitasi Kader Kesehatan Remaja Untuk Memaksimalkan Fungsi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di SMK Muhammadiyah 1 Samarinda
Perilaku hidup bersih dan sehat pada tatanan sekolah perlu diterapkan untuk menjamin kesehatan siswa yang memiliki potensi besar terserang penyakit. Melihat adanya potensi penyakit yang mengancam siswa, maka dirasa perlu adanya upaya preventif yang dilakukan secara aktif oleh siswa di sekolah. Adanya Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di SMK Muhammadiyah 1 Samarinda dirasa masih belum maksimal. Dalam pelaksanaan UKS ini, perlu adanya kader kesehatan remaja yang berkemampuan untuk menggerakkan rekan sebayanya untuk hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah, sehingga akan muncul lingkungan sekolah yang sehat dan nyaman bagi siswa. Untuk meningkatkan kapasitas kader kesehatan remaja ini dirasa perlu adanya intervensi berupa pelatihan softskill dan sosialisasi kepada seluruh warga sekolah akan pentingnya peran UKS dalam meningkatkan derajar kesehatan melalui standar Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di lingkungan sekolah. Metode yang digunakan dalam kegiatan program pelatihan kader remaja kesehatan ini adalah metode ceramah, tanya jawab dan praktik menjadi peer educator. Ada peningkatan pengetahuan setelah pemberian edukasi bagi peer educator dan siswa SMK Muhamamdiyah 1 Samarinda. Perlunya monitoring berkelanjutan oleh pihak sekolah dirasa perlu untuk menjamin berjalannya sistem pengelolaam Usaha Kesehatan Sekolah ini
Program Pelatihan Perlindungan Risiko Kebakaran Daerah Pemukiman Padat Penduduk di Kota Samarinda
Intensitas kebakaran yang terjadi di Kota Samarinda menurut data dari dinas pemadam kebakaran cukup tinggi, yaitu sebanyak 28 kasus kebakaran (Juni-Juli 2018) dengan faktor penyebab utama adalah kelalaian warga, baik terhadap penggunaan listrik maupun kesalahan penggunaan tabung gas. Tujuan dari pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam penanggulangan risiko kebakaran di daerah pemukiman padat penduduk. Pengabdian ini dilaksanakan di Jl. Lambung Mangkurat Gang Masjid, Kelurahan Pelita, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda. Sasaran pengabdian adalah warga yang berada di pemukiman padat penduduk. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan dalam waktu satu hari melalui 3 tahap, yaitu penyuluhan, pelatihan pembuatan APAR sederhana dan praktik penggunaan APAR. Metode kegiatan yang digunakan adalah ceramah, diskusi, demonstrasi, dan praktik individu. Capaian peningkatan pengetahuan masyarakat diukur menggunakan kuesioner pretest dan posttest, dengan p.value = 0,000 yaitu ada perbedaan yang siginifikan antara tingkat pengetahuan sebelum dan setelah pelatihan. Adapun peningkatan rata-rata pengetahuan masyarakat tentang penanggulangan kebakaran untuk skala rumah tangga sebelum dan setelah pelatihan adalah sebesar 35,4%. Praktik pembuatan APAR sederhana berlangsung dengan baik dan diakhiri dengan penyerahan APAR sederhana ke masing-masing warga peserta pelatihan. Diharapkan dengan adanya program pelatihan ini, dikemudian hari akan ada tim di setiap RT yang dapat membantu menanggulangi kebakaran dan memberikan sosialisasi terhadap warga di pemukimannya terkait risiko kebakaran serta tata cara penanggulangannya.Intensitas kebakaran yang terjadi di Kota Samarinda menurut data dari dinas pemadam kebakaran cukup tinggi, yaitu sebanyak 28 kasus kebakaran (Juni-Juli 2018) dengan faktor penyebab utama adalah kelalaian warga, baik terhadap penggunaan listrik maupun kesalahan penggunaan tabung gas. Tujuan dari pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam penanggulangan risiko kebakaran di daerah pemukiman padat penduduk. Pengabdian ini dilaksanakan di Jl. Lambung Mangkurat Gang Masjid, Kelurahan Pelita, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda. Sasaran pengabdian adalah warga yang berada di pemukiman padat penduduk. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan dalam waktu satu hari melalui 3 tahap, yaitu penyuluhan, pelatihan pembuatan APAR sederhana dan praktik penggunaan APAR. Metode kegiatan yang digunakan adalah ceramah, diskusi, demonstrasi, dan praktik individu. Capaian peningkatan pengetahuan masyarakat diukur menggunakan kuesioner pretest dan posttest, dengan p.value = 0,000 yaitu ada perbedaan yang siginifikan antara tingkat pengetahuan sebelum dan setelah pelatihan. Adapun peningkatan rata-rata pengetahuan masyarakat tentang penanggulangan kebakaran untuk skala rumah tangga sebelum dan setelah pelatihan adalah sebesar 35,4%. Praktik pembuatan APAR sederhana berlangsung dengan baik dan diakhiri dengan penyerahan APAR sederhana ke masing-masing warga peserta pelatihan. Diharapkan dengan adanya program pelatihan ini, dikemudian hari akan ada tim di setiap RT yang dapat membantu menanggulangi kebakaran dan memberikan sosialisasi terhadap warga di pemukimannya terkait risiko kebakaran serta tata cara penanggulangannya
Hubungan Faktor Sosiodemografi dengan Pemberian Asi Eksklusif Pada Ibu Multipara di Kelurahan Tenun Kota Samarinda
Tujuan studi: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan faktor sosiodemografi dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu Multipara di wilayah kerja puskesmas Mangkupalas Kelurahan Tenun Kota Samarinda.
Metodologi: Metode yang digunakan dalam penelitian ini berjenis kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 60 responden. Analisa data menggunakan uji chi-square. Hasil uji menujukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan pemberian ASI eksklusif.
Hasil: Dapat disimpulkan bahwa faktor sosiodemografi tidak berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif.
Manfaat: Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang signifikan terhadap faktor sosiodemografi dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu multipara di kelurahan tenun kota samarinda, dengan dilakukannya penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi mahasiswa selanjutnya yang akan meneliti hal serupa
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
