1,720,962 research outputs found

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa SMP Melalui Pembelajaran Inkuiri Model Alberta

    Full text link
    This research is motivated by the results of previous research which shows that students\u27 mathematical communication ability is still not as expected. The focus of this research is to determine the improvement of students\u27 mathematical communication ability as a result of the investigation of the Alberta model learning. This research is experimental research with the population of all students of one of the State Junior High School in Bandung. The sample of the research is the grade VII students of the school. Samples were 73 students, 36 students of experimental class and 37 students of the control class. Based on the results of data analysis, it can be concluded that: (1) The achievement of mathematical communication ability of students who gain learning inquiry model Alberta better than students who learn conventional, (2) Improve the ability of mathematical communication, the thinking of students who gain learning inquiry model Alberta better than students Gain conventional learning, and (3) there is a difference in improving the ability of mathematical communication thinking based on the category of early mathematical ability.Keywords: Mathematical Communication Ability, Alberta Model Inquir

    Efektivitas Pembelajaran Matematika melalui Penerapan Model MEA (Means Ends Analysis) pada Siswa SMP

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan penerapan model  MEA (Means – Ends – Analysis) dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Libureng Kabupaten Bone semester ganjil tahun ajaran 2018/2019. Jenis penelitian ini adalah pre – experimental designdengan bentuk one – group pretest – posttest design  yang hanya melinatkan satu kelas. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan caracluster random sampling. Instrument penelitian yang digunakan adalah tes hasil belajar, lembar observasi aktivitas siswa, dan angket respons siswa.Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Analisis hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) skor rata – rata hasil belajar matematika siswa sebelum diterapkan model MEA adalah 18.57 dan berada pada kategori sangat rendah dengan standar deviasi 4.47, sedangkan skor rata – rata hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan model MEA adalah 80.23 dengan standar deviasi 6.55 dimana skor terendah adalah 62 dan skor tertinggi adalah 94. Dari hasil tersebut diperoleh bahwa 22 siswa atau  84.6% mencapai ketuntasan individu dan 4 siswa atau 15.4% tidak mencapai ketuntasan individu. Ini berarti ketuntasan secara klasikal tercapai dengan nilai gain ternormalisasi yaitu 0.7577 berada pada kategori tinggi. (2) aktivitas siswa berada pada kategori baik atau positif dengan rata – rata 86.05%. (3) angket respons siswa menunjukkan bahwa respons siswa terhadap pembelajaran melalui MEA positif dengan rata – rata 77.5%

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN RELATING, EXPERIENCING, APPLYING, COOPERATING, DAN TRANSFERING (REACT)

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Barombong setelah diterapkan strategi pembelajaran Relating, Expreriencing, Applying, Cooperating, dan Transferring (REACT). Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan tahapan pelaksanaan meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Barombong yang berjumlah 32 orang. Penelitian  ini dilaksanakaan dengan dua siklus yaitu siklus I dan siklus II dengan prosedur setiap tindakan terdiri atas empat komponen yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Instrumen penelitian ini adalah lembar observasi aktivitas siswa, lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, tes  kemampuan komunikasi matematis, dan angket respon siswa. Pengelolahan data hasil penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini  menunjukkan bahwa strategi pembelajaran Relating, Expreriencing, Applying, Cooperating, dan Transferring (REACT) dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. Hal ini ditandai dengan meningkatnya skor rata-rata kemampuan komunikasi matematis siswa  kelas VII A SMP Negeri 1 Barombong dari siklus I dan siklus II. Kemampuan komunikasi matematis siswa kelas  VII A SMP Negeri 1 Barombong pada siklus I mencapai 56,25 kemudian pada siklus II mencapai 77,19 dari skor ideal 100. Pada siklus I persentase rata-rata keseluruhan aktivitas siswa sebesar 51,667% meningkat menjadi 73,749%

    Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Komunikasi serta Disposisi Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMP Melalui Pembelajaran Inkuiri Model Alberta

    Full text link
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil-hasil penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi serta disposisi berpikir kreatif matematis siswa belum sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi matematis adalah pembelajaran inkuiri model Alberta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi matematis serta disposisi berpikir kreatif matematis sebagai akibat dari pembelajaran Inkuiri model Alberta. Penelitian ini adalah kuasi eksperimen yang menerapkan dua model pembelajaran yaitu inkuiri model Alberta dan pembelajaran konvensional. Populasi dalam penelitian ini adalah salah satu SMP Negeri di kota Bandung, sekolah ini berjarak 3 km dari pusat kota (Gedung Sate). Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, dan diperoleh kelas VII D dan VII E. Untuk kepentingan analisis masing-masing kelas penelitian dikategorikan menurut kemampuan awal matematis (KAM; tinggi, sedang, rendah). Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi, skala disposisi berpikir kreatif matematis dan lembar observasi. Analisis data menggunakan uji-t, uji Mann-Whitney, dan analisis deskriptif. Analisis data ditinjau berdasarkan data keseluruhan dan kategori KAM. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan: 1) pencapaian dan peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri model Alberta lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional; 2) terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri model Alberta dan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional berdasarkan kategori KAM (tinggi, sedang, rendah); 3) pencapaian dan peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri model Alberta lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional; 4) terdapat perbedaan peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri model Alberta dan pembelajaran konvensional berdasarkan kategori KAM (tinggi, sedang, rendah); 5) Disposisi berpikir kreatif matematis siswa yang memperoleh pembelajaran inkuiri model Alberta lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional; 6) Terdapat asosiasi antara kemampuan berpikir kreatif dengan kemampuan komunikasi matematis siswa, namun antara kemampuan dengan disposisi berpikir kreatif matematis siswa tidak terdapat asosiasi

    Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis dalam Menyelesaikan Soal Persamaan Linear Satu Variabel Ditinjau dari Kemampuan Awal Siswa Kelas VII SMP Negeri 6 Makassar

    Full text link
    Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 6 Makassar tahun ajaran 2019/2020, tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif matematis dalam menyelesaikan soal persamaan linear satu variabel ditinjau dari kemampuan awal siswa kelas VII SMP Negeri 6 Makassar. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII. Pengambilan subjek penelitian dengan melihat hasil tes kemampuan awal matematika siswa hingga memperoleh subjek yang diinginkan yaitu siswa yang memiliki kriteria kemampuan awal matematika tinggi, sedang, dan rendah. Subjek yang diambil sebanyak 3 orang siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tes yang berupa tes tertulis dan non tes yang berupa wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah model Miles and Huberman yang meliputi 3 tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi (penarikan kesimpulan). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek berkemampuan awal tinggi, memenuhi indikator-indikator berpikir kreatif kefasihan (fluency), keluwesan (flexibility) dan keaslian (originality). Jadi, dapat di simpulkan bahwa subjek yang berkemampuan awal tinggi memiliki kemampuan berpikir kreatif tingkat tengah. Subjek berkemampuan awal sedang, memenuhi indikator-indikator berpikir kreatif kefasihan (fluency), keluwesan (flexibility), keaslian (originality) dan keterincian (elaboration). Jadi, dapat di simpulkan bahwa subjek yang berkemampuan awal sedang memiliki kemampuan berpikir kreatif tingkat atas. Subjek berkemampuan awal rendah, memenuhi indikator-indikator berpikir kreatif kefasihan (fluency), dan keaslian (originality). Jadi, dapat di simpulkan bahwa subjek yang berkemampuan awal rendah memiliki kemampuan berpikir kreatif tingkat bawah

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods
    corecore