1,720,960 research outputs found
The relationships between nutrition and food safety knowledge, food consumption and nutritional status of elementary school children.
The objective of this study was to analyze the relationships between nutrition and food safety knowledge, food consumption and nutritional status of elementary school children. The design of the study was cross sectional. The location of this study were in Pajeleran 01 Elementary School and Kotabatu 01 Elementary School. The study was held in August 2009, by using questionaire and interview technique. This result of this study were most elementary students had moderate nutrition as well as food safety knowledge. The intake of energy and protein of the student were 1935 ± 495 kcal/cap/day energy and 50.8 ± 15.2 g/cap/day protein. Based on H/A and BMI/A indexes, most of the elementary school children had normal nutritional status. There was not significant difference between nutrition-food safety knowledge and energy and protein intake, but there was significant difference between nutritional status of the students of the subjects which had been classified by accreditation status of school. The result of correlation test showed that there were not significant relationship (p>0.05) between energy and protein intake and nutritional status with student’s nutrition-food safety knowledge. While, there was not significant relationship between energy and protein adequacy (Indonesian’s RDA, p>0.05) with nutritional status based on H/A as well as BMI/A indexes.Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan pengetahuan gizi dan keamanan pangan serta konsumsi pangan dengan status gizi siswa sekolah dasar. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji karakteristik siswa (jenis kelamin, umur dan besar uang saku), serta karakteristik sosial ekonomi keluarga siswa; (2) mengkaji pengetahuan gizi dan keamanan pangan siswa; (3) mengkaji intik energi dan protein siswa; (4) mengkaji status gizi siswa; (5) menganalisis hubungan antara pengetahuan gizi dan keamanan pangan dengan intik energi dan protein siswa; (6) menganalisis hubungan antara pengetahuan gizi dan keamanan pangan dengan status gizi siswa; (7) menganalisis hubungan antara tingkat kecukupan energi dan protein dengan status gizi siswa. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study yang dilakukan di dua Sekolah Dasar di Kabupaten Bogor, yaitu SDN Pajeleran 01, Kecamatan Cibinong yang berakreditasi A dan SDN Kotabatu 01, Kecamatan Ciomas yang berakreditasi B. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive, yaitu berdasarkan rekomendasi Dinas Pendidikan. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Agustus 2009. Contoh dalam penelitian ini adalah siswa-siswi sekolah dasar yang tercatat sebagai siswa di kedua sekolah tersebut. Siswa yang diambil berjumlah 90 orang, yaitu 68 orang dari SDN Pajeleran 01 dan 22 orang dari SDN Kotabatu 01. Pengambilan contoh dilakukan secara purposive sampling. Penelitian ini menggunakan data sekunder, meliputi gambaran umum sekolah, absensi siswa, karakteristik siswa (kelas, umur, jenis kelamin, besar uang saku), karakteristik sosial ekonomi keluarga (pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua, pendapatan ayah, dan besar keluarga), pengetahuan gizi dan keamanan pangan, konsumsi pangan (recall 2x24 jam), dan pengukuran indeks antropometri siswa, yaitu berat badan dan tinggi badan. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia dengan menggunakan Microsoft Excel 2007 dan SPSS versi 16.0 for Windows. Untuk mengetahui perbedaan dan hubungan antar variabel digunakan uji beda chi-square, uji beda t – test, uji korelasi Pearson dan Rank Spearman. Secara umum, jumlah siswa berjenis kelamin laki-laki sebanding dengan perempuan, yaitu sebanyak 50.0%. Rentang usia siswa berkisar antara 8-10 tahun, sebagian besar siswa (45.6%) berusia 9 tahun. Sebagian besar siswa (62.2%) memiliki uang saku antara Rp 1000 – 4000. Sebagian besar (47.1%) ayah di sekolah berakreditasi A berpendidikan SMA dan perguruan tinggi, sedangkan pada sekolah berakreditasi B, sebagian besar (55.9%) ayah siswa berpendidikan SMA. Sebagian besar ibu siswa di sekolah berakreditasi A (55.9%) dan B (50.0%) berpendidikan SMA. Hampir sebagian ayah pada sekolah berakreditasi A (41.2%) dan B (36.4%) bekerja sebagai pegawai swasta, sedangkan pada ibu baik pada sekolah berakreditasi A (66.2%) dan B (78.3%) bekerja sebagai ibu rumah tangga. Sebagian besar ayah di sekolah berakreditasi A (42.6%) berpenghasilan >Rp 2.000.000, sedangkan di sekolah berakreditasi B (54.5%) berpenghasilan Rp 1.000.001 – Rp 2.000.000. Sebagian besar siswa pada sekolah berakreditasi A (57.4%) dan B (63.6%) memiliki besar keluarga kecil, yaitu ≤ 4 orang. Secara umum, sebagian besar pengetahuan siswa baik terkait gizi (56.7%) maupun terkait keamanan pangan (51.1%) serta secara keseluruhan (50.0%) berada dalam kategori sedang. Rata-rata intik energi siswa adalah 1935±445 kkal/kap/hari. Rata-rata intik protein siswa adalah 50.8±15.2 g/kap/hari. Rata-rata intik energi dan protein siswa sekolah berakreditasi A relatif lebih tinggi dibandingkan B. Sebagian besar siswa sekolah berakreditasi A dan B memiliki tingkat kecukupan energi dan protein dalam kategori berlebihan. Rata-rata tingkat kecukupan energi siswa pada sekolah berakreditasi A (118.4±29.4%) dan B (123.9±27.6%), sedangkan rata-rata tingkat kecukupan protein siswa pada sekolah berakreditasi A (215.2±70.3%) dan B (214.1±78.8%). Sebagian besar siswa sekolah berakreditasi A (98.5%) dan B (86.4%) memiliki status gizi normal berdasarkan indeks TB/U. Selajutnya, sebagian besar siswa sekolah berakreditasi A (70.6%) dan B (77.3%) juga memiliki status gizi normal berdasarkan indeks IMT/U. Hasil uji beda t - test menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi dan keamanan pangan, intik, serta tingkat kecukupan energi dan protein (p>0.05) siswa pada sekolah berakreditasi A dan B. Selanjutnya, terdapat perbedaan yang signifikan antara status gizi (p0.05) antara usia dan besar uang saku siswa dengan pengetahuan, baik secara keseluruhan maupun terkait gizi dan keamanan pangan. Namun, terdapat hubungan yang negatif dan signifikan (p0.05) antara pengetahuan gizi dan keamanan pangan dengan intik energi dan protein, serta status gizi siswa. Dengan uji korelasi yang sama diketahui bahwa tidak terdapat hubungan signifikan (p>0.05) antara tingkat kecukupan energi dan protein dengan status gizi siswa berdasarkan indeks TB/U dan IMT/U. Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0.05) antara pendidikan ibu dan pendapatan ayah dengan pengetahuan gizi secara keseluruhan maupun pengetahuan terkait gizi dan keamanan pangan. Namun, terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pendidikan ayah dengan pengetahuan terkait gizi (p<0.01, r=0.334) maupun pengetahuan secara keseluruhan (p<0.05, r=0.252)
Hubungan status antropometri dan vitamin A dengan status imun siswa sekolah usia 7-9 tahun di Cibeber, Leuwiliang kabupaten Bogor
Defisiensi vitamin A merupakan penyebab kebutaan yang paling sering dijumpai pada anak-anak dan membuat 250.000-500.000 orang anak meninggal dunia. Lebih kurang 150 juta anak lain mengalami kematian dalam usia anakanak akibat penyakit infeksi yang antara lain akibat status vitamin A yang tidak memadai (Ahmed dan Darnton 2008). Defisiensi Vitamin A berhubungan dengan penurunan imunitas dan peningkatan infeksi. Defisiensi zat gizi mikro juga dapat menyebabkan kehilangan berat badan, kegagalan tumbuh kembang pada anak dan penyebab penurunan cadangan zat gizi yang berpengaruh terhadap penurunan imunitas (Tomkins dan Watson 1993). Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara status antropometri dan status vitamin A dengan status imun siswa sekolah dasar (usia 7-9 tahun) di Cibeber, Leuwiliang Kabupaten Bogor. Tujuan khusus penelitian ini menganalisis: (1) hubungan status antropometri dengan status vitamin A anak; (2) hubungan status vitamin A dengan status imun anak; (3) hubungan status imun dengan morbiditas anak; serta (4) hubungan morbiditas dengan status gizi berdasarkan antropometri anak
Kebiasaan konsumsi fast food pada siswa yang berstatus gizi lebih di SMA Kartini Batam
Tujuan umum penelitian ini untuk mempelajari dan menganalisis kebiasaan konsumsi fast food pada siswa yang berstatus gizi lebih di SMA Kartini Batam. Sedangkan Tujuan khususnya adalah mengidentifikasi karakteristik contoh yang berstatus gizi lebih dan normal (jenis kelamin, umur, berat badan, tinggi badan dan uang saku), mempelajari kebiasaan konsumsi fast food contoh berstatus gizi lebih dan normal, mempelajari pengetahuan gizi contoh berstatus gizi lebih dan normal, menganalisis kebutuhan dan aktivitas fisik pada contoh berstatus gizi lebih dan normal, menganalisis perbedaan uang saku, pengetahuan gizi, frekuensi konsumsi fast food, konsumsi, dan aktivitas fisik berstatus gizi lebih dan normal, menganalisis hubungan uang saku dan pengetahuan gizi dengan frekuensi konsumsi fast food pada contoh berstatus gizi lebih dan normal, dan menganalisis hubungan jenis kelamin, uang saku, pengetahuan gizi, frekuensi konsumsi fast food, dan aktivitas fisik dengan status gizi contoh
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
