1,722,048 research outputs found
DEKONSTRUKSI DALAM NASKAH DRAMA UMANG-UMANG KARYA ARIFIN C. NOER
Penelitian ini mendeskripsikan tentang dekonstruksi dalam naskah drama Umang-Umang karya Arifin C. Noer. Terdapat hubungan sinergitas antara dekonstruksi dan karya sastra (drama) dalam naskah drama Uamng-Umang yang mengungkapkan ketimpangan sosial masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan fakta penundaan dalam naskah drama Umang-Umang karya Arifin C. Noer; (2) mendeskripsikan fakta jejak dalam naskah drama Umang-Umang karya Arifin C. Noer; (3) mendeskripsikan fakta tanda silang dalam naskah drama Umang-Umang karya Arifin C. Noer; dan (4) mendeskripsikan temuan keterkaitan fakta penundaan, fakta jejak, dan fakta tanda silang dalam naskah drama Umang-Umang karya Arifin C. Noe
DEKONSTRUKSI DALAM NASKAH DRAMA UMANG-UMANG KARYA ARIFIN C. NOER
Abstrak. Penelitian ini mendeskripsikan tentang dekonstruksi dalam naskah drama Umang-Umang karya Arifin C. Noer. Terdapat hubungan sinergitas antara dekonstruksi dan karya sastra (drama) dalam naskah drama Uamang-Umang yang mengungkapkan ketimpangan sosial masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan fakta penundaan dalam naskah drama Umang-Umang karya Arifin C. Noer; (2) mendeskripsikan fakta jejak dalam naskah drama Umang-Umang karya Arifin C. Noer; (3) mendeskripsikan fakta tanda silang dalam naskah drama Umang-Umang karya Arifin C. Noer; dan (4) mendeskripsikan temuan keterkaitan fakta penundaan, fakta jejak, dan fakta tanda silang dalam naskah drama Umang-Umang karya Arifin C. Noer. Kata Kunci: Dekonstruksi, Naskah Drama, Penundaan, Jejak, Tanda SilangAbstract. This research describes deconstruction in drama script of Umang-Umang work Arifin C. Noer. There is a synergy relationship between deconstruktion and literary work (drama) in drama script of Umang-Umang that express social inequality of society. The purpose of this study is (1) describes the fact of differace in the drama script Umang-Umang work Arifin C. Noer; (2) describes the fact of trace in the drama script Umang-Umang work Arifin C. Noer; (3) describes the fact of sous rature in the drama script Umang-Umang work Arifin C. Noer; and (4) describes findings of relevance of fact differance, fact trace, and fact sous rature drama script Umang-Umang work Arifin C. Noer. Keywords: Deconstruction, Drama Script, Differance, Trace, Sous Ratur
Opera Karo Umang
Umang, makhluk halus yang dipercaya masyarakat Karo sebagai pembawa rejeki bagi orang yang didatanginya. Meski tergolong makhluk halus. Umang yang berdiam di dalam gua-gua bukanlah sosok mengerikan. Wujudnya seperti manusia biasa, hanya telapak kakinya terbalik. Tumit di bagian depan dan jari-jarinya di belakang.Tapi ada juga sebagian orang yang menganggap Umang bukan sosok yang baik sebab dipercaya bisa membawa anak nakal.Namun sesungguhnya, selama anak nakal itu dibawa pergi, oleh Umang dididik dan diberi pelajaran soal kebaikan. Ketika anak itu dikembalikan ke orang tuanya sudah berubah menjadi anak baik.Itulah yang dialami Palebo. Tanpa disadarinya suatu kali dikunjungi Umang di kios bunga tempat ibunya berjualan. Ayah ibunya yang semula hanya sebagai penjual bunga, sejak kedatangan Umang jadi ketiban rejeki hingga bisa memiliki kebun bunga sendiri. Keberuntungan memang menghampiri ayah ibu Palebo, tapi malang hampir menimpa dirinya sendiri. Morbit teman bermain Palebo dibawa Umang ketika sedang bersamanya. Palebo dipaksa bertanggung jawab atas hilangnya Morbit.Anak itu sedih bukan kepalang, harus menanggung akibat meski bukan salahnya.Percaya atau tidak akan sosok Umang, toh sampai kini masih saja ada yang berharap dan menanti-nanti dikunjungi Umang.iv, 96 hlm.; 11,5 cm x 17 c
PERA BAHASA TUBUH DALAM PEMENTASAN TEATER: Studikasus Terdapat Pementasan "Umang-Umang Atawa Orkes Madun Madun" Karya Arifin C.Noer di Terter Lakon
Penelitian ini berjudul Peran Bahasa Tubuh Dalam Pementasan Teater (Studi Kasus Pada Pementasan “Umang-umang Atawa Orkes Madun 2” Karya Arifin C. Noer di Teater Lakon), yang merupakan suatu kajian studi kasus terhadap peran bahasa tubuh dalam pementasan teater.
Penelitian ini berdasarkan permasalahan penelitian yang di antaranya adalah, (1) Bagaimana peran bahasa tubuh dalam komunikasi dramatik pada pementasan “Umang-umang Atawa Orkes Madun 2” Karya Arifin C. Noer yang dipentaskan oleh Teater Lakon? (2) Bagaimana komunikasi makna pada pementasan “Umang-umang Atawa Orkes Madun 2” Karya Arifin C. Noer yang dipentaskan oleh Teater Lakon?
Penelitian ini memiliki tujuan umum yaitu menganalisis bahasa tubuh dalam sebuah pementasan teater serta tujuan khususnya yaitu mendeskripsikan peran bahasa tubuh dan memahami komunikasi makna pada pementasan “Umang-umang Atawa Orkes Madun 2” karya Arifin C. Noer di Teater Lakon.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif untuk mendeskripsikan hasil analisis bahasa tubuh dalam pementasan “Umang-umang Atawa Orkes Madun 2” karya Arifin C. Noer yang dipentaskan oleh Teater Lakon.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah, (1) Keberadaan bahasa tubuh merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari teater sebab fungsinya yang merupakan penyampai makna berupa bahasa non verbal, (2) Makna-makna yang tersirat pada pementasan “Umang-umang Atawa Orkes Madun 2” diungkapkan dalam gerak-gerak tubuh yang tersusun secara koreografis
Tindak Tutur Ekspresif dalam Naskah Drama Umang-umang Atawa Orkes Madun II karya Arifin C. Noer
Berkomunikasi dapat dikatakan berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh penutur dapat diterima dengan baik oleh mitra tutur. Namun, yang menjadi persoalan apabila maksud tuturan dari penutur tidak dapat diterima dengan baik oleh mintra tutur. Hal tersebutlah yang menjadi alasan mendasar mengapa tindak tutur eksprsif yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan fungsi tindak tutur ekspresif dalam naskah drama Umang-umang Atawa Orkes Madun II karya Arifin C. Noer, (2) Mendeskripsikan bentuk tindak tutur ekspresif dalam naskah drama Umang-umang Atawa Orkes Madun II karya Arifin C. Noer. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang digunakan berjumlah 62 data yang diperoleh dengan menggunakan teknik dasar berupa membaca naskah drama dalam hal pengumpulan data, menentukan data tertulis, memindahkan data tersebut ke dalam catatan, mengumpulkan sumber data pustaka dan data sumber lain, serta membaca sumber data pustaka. Acuan teori yang digunakan untuk meneliti data terkait tindak tutur ekspresif adalah teori Searle. Hasil penelitian : (1) Fungsi tindak tutur ekspresif meliputi: mengkritik, memuji, meminta maaf, mengejek, menyindir, menyalahkan, terima kasih, keputusasaan, kekecewaan, kemarahan, belasungkawa, kebahagiaan. (2) Bentuk tindak tutur ekspresif terdiri dari: bentuk tindak tutur langsung dan bentuk tindak tutur langsung literal.Kata kunci: tindak tutur, ekspresif, pragmatik, drama.                                                                                                        Having communication is successfully considered if the speaker’s message can be well understood by the partner. As a matter of fact, there can frequently happen misunderstanding in the communication. The misunderstanding in communication is the main reason why this research discusses speech act. The goal of this research are: (1) to describe the function of expressive speech act in script Umang-umang Atawa Orkes Madun II written by Arifin C. Noer; (2) to describe the forms of expressive speech act in the sript Umang-umang Atawa Orkes Madun II written by Arifin C. Noer. This research uses qualitative descriptive methode. The observed object in this research is Umang-umang Atawa Orkes Madun II written by Arifin C. Noer. The data used in this reseach are 62, collected by using basic technic, reading the script, defining written data, tranferring the data to notes, collecting bibliographies and other sources of data, as well as the source of bibliography. The reference of theory to research the expressive speech act related-data is Searle’s theory. The result of this research are: (1)function of expressive speech act of: critisizing, praising, apolgizing, mocking, satirizing, blaming, gratifying, disillusionment, dissapointment, anger, condolence, and happiness. The form of expressive speech act consists of: (1) form of direct speech act, (2) form of literal speech act.Keywords: speech acts, expressive, pragmatic, drama
PERANCANGAN ULANG IDENTITAS VISUAL PULAU UMANG RESORT AND SPA
PERANCANGAN ULANG IDENTITAS VISUAL PULAU UMANG RESORT AND SPA - Identitas Visual, wisata,resort, Pulau Umang, sp
Kohesi Antar-Kalimat dalam Naskah Drama Orkes Madun II Atawa Umang-Umang Karya Arifin C. Noer.
This study aims to describe some of the important things that the writer analysis in Arifin C. Noer’s drama. (1) the markers of inter-sentence cohesion on the Orkes Madun II Atawa Umang-umang by Arifin C. Noer, and (2) the use of cross-phrase cohesion marker on the drama script of Orkes Madun II Atawa Umang-Umang drama by Arifin C Noer. This research includes the type of qualitative research in the form of producing descriptive data requires the sharpness of analysis, objectivity, systematic and systemic to obtain interpretation. The data collection techniques in this study is using the method of document analysis and literature study. This research is able to produce 3 kinds of research. (a) of which there are 39 types of grammatical cohesion and 33 types of lexical cohesion in drama Orkes Madun II Atawa Umang-Umangby Arifin C. Noer, (b) was found to be a reference grammatical cohesion signature (reference) there are 15 data. Recovery (substitution) is 4 data, release (elliption) there are 9 data, perjungsi (conjuction) is 11 data. While the lexical cohesion marker there is repetition (repetition) that is 10 data, sinonim (synonyms) was found 13 data, anonymous (anonimi) there are 9 data, sanding kata (collocation) was found in 1 word. And (c), cohesion is used to compose discourse in order to be cohesive. Besides discourse analysis is the practice of oral and written language
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN DI PULAU UMANG RESORT & SPA
Pulau Umang Resort & Spa merupakan sebuah resort yang terletak di Ujung Kulon, tepatnya di daerah Sumur – Pandeglang, Banten. Pulau ini memiliki konsep yang menarik, yaitu “living in nature”, dimana design arsitekturnya yang bernafas alam dan terbuka. Karyawan Pulau Umang tidak mengetahui dan memahami budaya organisasi Pulau Umang, padahal hal ini merupakan salah satu factor yang mempengaruhi kinerja karyawan. Tanpa kinerja yang tinggi dari karyawannya, maka Pulau Umang akan sulit memiliki daya saing. Masalah dalam penelitian ini meliputi (1) Bagaimana budaya organisasi yang diterapkan di Pulau Umang Resort & Spa?; (2) Bagaimana kinerja karyawan di Pulau Umang Resort & Spa?; (3) Bagaimana pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja karyawan di Pulau Umang Resort & Spa?. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) memberikan gambaran mengenai budaya organisasi yang diterapkan di Pulau Umang Resort & Spa; (2) memberikan gambaran mengenai kinerja karyawan di Pulau Umang Resort & Spa; (3) menganalisis seberapa besar pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja karyawan di Pulau Umang Resort & Spa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian adalah seluruh karyawan di Pulau Umang yaitu sebanyak 99 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara kuesioner, wawancara, studi literature dan observasi lapangan. Teknik analisis data dilakukan dengan analisis regresi linier sederhana secara manual dan koefisien korelasi product moment, dengan hipotesisnya yaitu terdapat pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja karyawan di Pulau Umang Resort & Spa. Hasil penelitian yang diperoleh memberikan kesimpulan bahwa Pulau Umang Resort & Spa menerapkan budaya konstruktif dan tergolong ke dalam budaya organisasi yang kuat. Kinerja Karyawan Pulau Umang Resort & spa juga berada pada kategori baik. Besarnya pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja karyawan sebesar 33,32%, motivasi terhadap kinerja sebesar 23,14%, dan sisanya sebesar 43,54% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti penulis yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan di Pulau Umang Resort & Spa, seperti gaya kepemimpinan, kompensasi, kepuasan kerja, pelatihan dan sebagainy
UMANG UMANG (KELOMANG) SEBAGAI KONSEP PENCIPTAAN KABINET TELEVISI
Kebutuhan hidup manusia tergantung pada perkembangan zaman, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tingkat perekonomian keadaan tempat, waktu pemenuhan, tingkat pendidikan, agama dan adat istiadat. zaman banyak sekali perubahan yang telah terjadi. Perubahan tersebut sulit diprediksi, begitu juga dalam industri mebel perubahan mulai dari desain mebel
Kebutuhan barang mebel dapat menunjang segala kegiatan dan aktivitas manusia, diantaranya kursi, meja, lemari dan kabinet televisi
Kabinet televisi merupakan salah satu kebutuhan dalam rumah tangga yang digunakan untuk fasilitas menaruh televisi, Kebutuhan manusia terhadap desain kabinet televisi perlu adanya desain-desain yang unik dalam pembuatannya.
Permasalahannya adalah bagaimana membuat desain produk kabinet televisi yang sumber inspirasinya dari bentuk Umang umang (kelomang) dengan bentuk yang sederhana dan praktis tanpa mengurangi fungsinya.
Metode yang di pakai adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi dan teknik analisis data. Bentuk kabinet televisi yang terinspirasi oleh bentuk kelomang sebagai ide dasar penciptaanya.
Kesimpulan, proses desain tematik yaitu dengan keberanian untuk mengekplorasi bentuk dan sistem konstruksi Kelomang
Penciptaan Tata Panggung dalam Pementasan Umang-umang Atawa Orkes Madun II Karya Arifin C. Noer
Tata panggung merupakan penampakan visual yang dibuat oleh seorang penata artistik dalam pertunjukan yang bertujuan untuk memberikan informasi tambahan kepada penonton. Tata panggung merupakan unsur pokok yang tidak dapat dipisahkan dari teater. Pertunjukan teater tidak menjadi utuh tanpa adanya tata panggung yang mendukung. Naskah Umang-Umang Atawa Orkes Madun II karya Arifin C. Noer memiliki bentuk tata panggung yang bisa diekpolarasi wujudnya. Bahan-bahan industrial sangat berpotensi untuk dijadikan dalam wujud tata panggung. Oleh karena itu seorang pencipta tata panggung membuat set dengan memiliki tujuan yaitu: Lokatif, Ekspresif, Aktraktif, Jelas, Bermanfaat, Organis. Proses penciptaannya dilakukan dengan menganalisis naskah terlebih dahaulu kemudian dilanjutkan dengan membuat konsep sebagai pijakan untuk mengekpolarasi bahan. Tahap berikutnya mentransformasikan rancangan ke lembar kerja tata panggung guna mempermudah proses visualisasi, kemudian dieksplorasi dan dieksekusi sebagai bentuk pementasan teater. Persoalan penciptaan dan pelaksaan merupakan dua persoalan yang berbeda dan keduanya membutuhkan keterampilan khusus. Dalam penciptaan dibutuhkan keterampilan untuk mendeskripsikan berbagai gagasan yang muncul dari hasil studi maupun imajinasi. Sedangkan pelaksanaan membutuhkan keterampilan dan berkomunikasi dengan orang-orang yang terlibat dalam sebuah penciptaan teater. Kata kunci : Tata Panggung, Umang-Umang Atawa Orkes Madun II, Arifin C. Noe
- …
