1,720,954 research outputs found
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Tradisi Manyaratus Dengan Khatamul Quran Di Kabupaten Barito Kuala
Indonesia merupakan negeri yang kaya akan warisan budaya dan nilai-nilai keagamaan yang terinternalisasi dalam kehidupan masyarakatnya. Di antara kekayaan tersebut, tradisi keagamaan lokal yang berpadu dengan nilai-nilai Islam menjadi bentuk akulturasi yang unik dan berharga. Salah satu tradisi yang menarik untuk diteliti adalah tradisi Manyaratus yang disandingkan dengan kegiatan Khatamul Qur’an, sebagaimana yang berkembang di Kecamatan Marabahan, khususnya di lingkungan masyarakat Dayak Bakumpai di Koeripan dan Kecamatan Bakumpai, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis latar belakang munculnya tradisi Manyaratus dalam masyarakat Dayak Bakumpai di Kecamatan Marabahan serta menjelaskan secara rinci proses pelaksanaan serta struktur kegiatan tradisi Manyaratus yang disandingkan dengan Khatamul Qur’an dan untuk mengidentifikasi dan mengkaji nilai-nilai yang terinternalisasi dalam tradisi Manyaratus dari perspektif Pendidikan Islam dan teori etnopedagogik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif- analitis yang bertujuan untuk menggali secara mendalam makna, nilai, dan proses internalisasi tradisi Manyaratus yang terintegrasi dengan kegiatan Khatamul Qur’an. Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif, wawancara dan studi dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Tradisi Manyaratus dengan Khatmul Qur’an sudah dilakukan sejak zaman almarhum Qodhi H. Abdusshamad Albakumpai bin Mufti H. Jamalauddin bin Qodhi Arsyad Al-Banjari di kampung dayak bakumpai (sekarang Kec. Marabahan) kabupaten barito kuala. Beliau lahir pada tanggal 24 Dzulqa’idah 1237 H bertepatan dengan 12 Agustus 1822 M di Kampung Penghulu Tengah Marabahan. Proses pelaksanaan tradisi Manyaratus dimulai pada malam hari, yakni pembacaan Al-Qur’am atau batamat Qur’an. Keesokan harinya mulai dari pukul 8 pagi sampai dengan pukul 10 siang dilaksanakan pelaksanaan baakramal pembacaan kitab “Khatamul Qur’an”. Prosesi tradisi ini dimulai dari pembacaan Surah Adh-Dhuha sampai selesai yang dibaca oleh orang banyak. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan do’a selamat, doa halarat, hadarat, dan kiparat. Setelah itu dilanjutkan dengan membaca surah yasin, kemudian membaca ritual khatamul qur’an (menggunakan kitab “Khatmul Qur’an) disambung dengan nasyid dzikir Bakumpai (dipandu dengan group khusus). Terdapat nilai-nilai religius (taqwa dan syukur), sosial (gotong royong dan persatun) dan budaya lokal. Sehingga mekanisme internal dari perspektif pendidikan Islam dan etnopedagogik dalam tradisi Manyaratus di Kabupaten Barito Kuala, Kecamatan Marabahan, Bakumpai dan Koeripan, menunjukkan bagaimana pembacaan akramal “khatamul Qur’an” menjadi lebih dari sekadar ritual keagamaa
Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Tradisi Manyaratus Dengan Khatamul Quran Di Kabupaten Barito Kuala
Indonesia merupakan negeri yang kaya akan warisan budaya dan nilai-nilai keagamaan yang terinternalisasi dalam kehidupan masyarakatnya. Di antara kekayaan tersebut, tradisi keagamaan lokal yang berpadu dengan nilai-nilai Islam menjadi bentuk akulturasi yang unik dan berharga. Salah satu tradisi yang menarik untuk diteliti adalah tradisi Manyaratus yang disandingkan dengan kegiatan Khatamul Qur’an, sebagaimana yang berkembang di Kecamatan Marabahan, khususnya di lingkungan masyarakat Dayak Bakumpai di Koeripan dan Kecamatan Bakumpai, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis latar belakang munculnya tradisi Manyaratus dalam masyarakat Dayak Bakumpai di Kecamatan Marabahan serta menjelaskan secara rinci proses pelaksanaan serta struktur kegiatan tradisi Manyaratus yang disandingkan dengan Khatamul Qur’an dan untuk mengidentifikasi dan mengkaji nilai-nilai yang terinternalisasi dalam tradisi Manyaratus dari perspektif Pendidikan Islam dan teori etnopedagogik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif- analitis yang bertujuan untuk menggali secara mendalam makna, nilai, dan proses internalisasi tradisi Manyaratus yang terintegrasi dengan kegiatan Khatamul Qur’an. Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif, wawancara dan studi dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Tradisi Manyaratus dengan Khatmul Qur’an sudah dilakukan sejak zaman almarhum Qodhi H. Abdusshamad Albakumpai bin Mufti H. Jamalauddin bin Qodhi Arsyad Al-Banjari di kampung dayak bakumpai (sekarang Kec. Marabahan) kabupaten barito kuala. Beliau lahir pada tanggal 24 Dzulqa’idah 1237 H bertepatan dengan 12 Agustus 1822 M di Kampung Penghulu Tengah Marabahan. Proses pelaksanaan tradisi Manyaratus dimulai pada malam hari, yakni pembacaan Al-Qur’am atau batamat Qur’an. Keesokan harinya mulai dari pukul 8 pagi sampai dengan pukul 10 siang dilaksanakan pelaksanaan baakramal pembacaan kitab “Khatamul Qur’an”. Prosesi tradisi ini dimulai dari pembacaan Surah Adh-Dhuha sampai selesai yang dibaca oleh orang banyak. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan do’a selamat, doa halarat, hadarat, dan kiparat. Setelah itu dilanjutkan dengan membaca surah yasin, kemudian membaca ritual khatamul qur’an (menggunakan kitab “Khatmul Qur’an) disambung dengan nasyid dzikir Bakumpai (dipandu dengan group khusus). Terdapat nilai-nilai religius (taqwa dan syukur), sosial (gotong royong dan persatun) dan budaya lokal. Sehingga mekanisme internal dari perspektif pendidikan Islam dan etnopedagogik dalam tradisi Manyaratus di Kabupaten Barito Kuala, Kecamatan Marabahan, Bakumpai dan Koeripan, menunjukkan bagaimana pembacaan akramal “khatamul Qur’an” menjadi lebih dari sekadar ritual keagamaa
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.</p
- …
