1,720,972 research outputs found

    Adopsi Inovasi Pengelolaan Hutan Rakyat di Desa Singajaya Kecamatan Cibalong Kabupaten Tasikmalaya

    No full text
    Semakin bertambahnya luas hutan rakyat diperlukan suatu inovasi sehingga mewujudkan pengelolaan hutan rakyat yang lestari. Inovasi memegang peranan penting dalam peningkatan produktivitas, nilai tambah dan pendapatan petani hutan rakyat. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan tahapan adopsi inovasi dan mengetahui inovasi beserta sistem pengelolaan hutan rakyat di Desa Singajaya. Data diperoleh dengan pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling sebanyak 60 responden dan 3 individu kunci melalui wawancara, observasi dan studi pustaka. Tahapan adopsi inovasi pengelolaan hutan rakyat di Desa Singajaya ditempuh melalui tahap pengetahuan, tahap persuasi, tahap keputusan, tahap implementasi dan tahap konfirmasi. Rata‒rata saluran komunikasi yang digunakan petani ialah menggunakan saluran komunikasi interpersonal. Inovasi yang diadopsi petani hutan rakyat meliputi pengadaan bibit, jenis bibit, penggunaan kombinasi alat, kombinasi pupuk, penerapan kegiatan (pengolahan tanah, pengaturan jarak tanam, pemupukan, pemasangan ajir, penyulaman, pemangkasan cabang, penjarangan) beserta siklusnya, kebutuhan tenaga kerja, pengolahan hasil dan sistem pemasaran hutan rakyat. Pengelolaan hutan rakyat di Desa Singajaya dilakukan hanya pada subsistem produksi saja. Petani melakukan subsistem pengolahan hasil hanya untuk penggunaan pribadi dan subsistem pemasaran hasil dilakukan dengan sistem borongan menggunakan daur butuh

    Persepsi penyuluh kehutanan dan petani terhadap hutan rakyat di Kabupaten Bogor, Jawa Barat

    No full text
    Keberadaan hutan rakyat di Kabupaten Bogor sangat penting bagi kehidupan para petani karena keberadaannya menjadi sumber penghasilan bagi kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi penyuluh kehutanan terhadap hutan rakyat dan menganalisis persepsi petani terhadap hutan rakyat. Persepsi penyuluh kehutanan terhadap pengetahuan dasar penyuluhan memiliki skor 80.80%, manajemen batas dan status lahan memiliki skor 68.50% dan pengembangan hutan rakyat memiliki skor 59.33%, pengaruh jenis tanaman dengan kesesuaian lahan memiliki skor 79.33%, materi penyuluhan memiliki skor 80.67% dan evaluasi penyuluhan memiliki skor 74.00% dan persepsi petani terhadap pengetahuan penyuluhan memiliki skor 86.20%, kesesuaian lahan dan faktor yang mempengaruhinya memiliki skor 68.00%, pengaruh kayu dengan pendapatan memiliki skor 75.00%, pengaruh jenis tanaman dan kesesuaian lahan memiliki skor 75.00% dan pengaruh hama dengan pertumbuhan tanaman memiliki skor 77.00% dan pengaruh kelangkaan pupuk dengan pertumbuhan tanaman memiliki skor 75.89%. Secara keseluruhan persepsi penyuluh kehutanan dan petani terhadap hutan rakyat termasuk dalam kategori baik dengan skor 74.20% dan 76.10% dikategorikan persepsi baik

    Dinamika Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (Studi Kasus di LMDH Sasaka Patengan, KPH Bandung Selatan).

    No full text
    Interaksi antara petani yang terjadi dalam kelompok dapat berpengaruh dalam meningkatkan kapasitas dan produktivitas ke arah yang lebih mandiri karena kedinamisan akan terus berkembang dari pelaku dan pendukung pembangunan kehutanan yang berasal dari masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengelolaan dan menganalisis tingkat kedinamisan kelompok usaha perhutanan sosial di LMDH Sasaka Patengan, KPH Bandung Selatan. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis, kuesioner, laptop, dokumen LMDH, dan dokumen Profil Desa Patengan. Penentuan responden dalam penelitian ini dilakukan secara purposive sampling atau dilakukan secara sengaja. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara. Tahapan kegiatan pengelolaan perhutanan sosial meliputi sub sistem produksi, sub sistem pengolahan hasil, sub sistem pemasaran hasil dan sub sistem kelembagaan. Tingkat kedinamisan kelompok dari KUPS yang diteliti menyatakan bahwa KUPS Aul tergolong kedalam kategori sedang dan KUPS Cipaganti masuk kedalam ketegori tinggi. Kondisi tersebut terjadi karena masih terdapat lima unsur dinamika yang dimiliki KUPS Aul yang termasuk dalam kategori rendah yang disebabkan oleh beberapa faktor yang diantaranya adalah penyebaran informasi terkait dengan kegiatan bertani tidak diketahui oleh petani, kemudian kurang berminatnya anggota KUPS untuk hadir dalam kegiatan kelompok seperti pertemuan kelompok, tidak adanya agenda rutin untuk pertemuan, tidak adanya penenerapan sanksi bagi anggota yang pasif dan lalai yang menyebabkan efektivitas KUPS Aul masuk kedalam kategori rendah

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian IPB 2010

    Full text link
    Hutan rakyat telah diusahakan sejak lama dan terbukti memberikan banyak manfaat, tidak hanya bagi pemiliknya, tapi juga bagi masyarakat dan lingkungannya. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan rumusan konsep dan metodologi pedoman pembangunan hutan rakyat dalam rangka merehabilitasi lahan kritis untuk pasokan kayu energi bahan baku industri dalam rangka pengentasan kemiskinan di pedesaan. Keluaran penelitian adalah kriteria dan indikator aspek sosial, ekonomi dan ekologi pembangunan hutan rakyat energi. Metode penelitian menggunakan acuan utama prins ip kelestarian hutan (Davis and Johnson,1987; Davis et al., 2001;LEI, 2002). Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bogor Bagian Barat dengan konsentrasi pengamatan di wilayah Kecamatan Leuwisadeng. Hasil penelitian untuk rumusan prinsip, kriteria dan indikator kunci yang diperlukan dalam pembangunan hutan rakyat energi, yaitu: prinsip kelestarian fungsi produksi, 2 kriteria dengan 9 indikator; prinsip kelestarian fungsi ekologi 1 kriteria dengan 1 indikator; prinsip kelestarian fungsi sosial 2 kriteria dengan 3 indikator: Faktor perencanaan pembangunan hutan rakyat energi, yaitu: kebutuhan industri terhadap kayu energi, ketersediaan lahan, kesesuaian lahan, ketersediaan tenaga kerja dan ketersediaan sarana prasarana. Kontribusi hutan rakyat terhadap pengentasan kemiskinan, yaitu: penyerapan tenaga kerja adalah minimal sebesar 10 persen dari total kepala keluarga dalam suatu wilayah dan peningkatan pendapatan adalah sebesar 10 persen dari total pendapatan asli daerah (PAD) wilayah setempat.People forests (forests owned by people) have been developed and utilized for a long time and have been proven as providing many benefits, not only for the owner, but also for the community and the environment. The objective of this research was obtaining concept formulation and methodology of developing people forests for rehabilitating critical land to supply wood energy as industrial raw materials for alleviating poverty in rural areas. Research output is the criteria and indicators of social, economic and ecological development of people forest for energy. Research method used Principles of Forest Management (Davis and Johnson, 1987; Davis et al. , 2001; LEI, 2002). The research was conducted in western Bogor regency with observation being concentrated in the areas of Leuwisadeng subdistrict. Research results for formulating principles, criteria, and key indicators which are needed in developing people forests for energy are: Principles of the production function, with 2 criteria and 9 indicators; principles of ecological sustainability, with 1 criteria and 1 indicator; sustainability principle social functions with 2 criteria and 3 indicators. Factors of planning for people forest development for energy are: The need of industry for energy wood, land availability, land suitability, availability of labor and availability of facilities and infrastructure. Contribution of people forests towards poverty alleviation are: absorption of labor is at least 10 percent of the total heads of households in an area and increase of income (10 percent of total of Native Local Income of the local region)

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Desain Kelembagaan Usaha Hutan Rakyat untuk Mewujudkan Kelestarian Hutan dan Kelestarian Usaha dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan Masyarakat Pedesaan

    Full text link
    People forests in Java, have been around since 1950s, and it has been sustaining naturally following the market without any intervention. Nowadays, it keeps developing, with the increase in market demand and wood processing industry. People forest system consists of four sub-systems, those are: production, processing, marketing, and institutional sub-systems, which are simultaneously and dynamically interrelated in a system. The institutional sub-system requires collaborative arrangement that involves many parties. The objectives of the study were: 1) to identify knowledge, actors/networks, and interest/dynamic of people forest, 2) to analyze policy space of people forest management, and 3) to make a design of a people forest institution. The results showed that 1) The knowledge in people forest business came from families, neighbors, and government programs, 2) Actors of people forest agribusiness consisted of primary and secondary actors, 3) Cooperative relationship among actors of people forest business was mainly in the interest of gaining profit for each party,and 4) Institutional designs aimed at solving problems in policy space of people forest management

    STRATEGI PENGHIDUPAN KELOMPOK KEMITRAAN KONSERVASI DI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI

    Full text link
    Perubahan fungsi lingkungan hutan berdampak pada kondisi aset penghidupan masyarakat dan beragam strategi penghidupan masyarakat sekitar hutan. Sistem mata pencaharian didefinisikan sebagai kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan tingkat pendapatan yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi yang tepat untuk pengembangan sistem penghidupan berkelanjutan bagi keluarga/rumah tangga anggota Kelompok Kemitraan Konservasi di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang mencakup analisis aset mata pencaharian, analisis Strengths Weaknesses Opportunities Threats (SWOT), dan analisis Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelompok Tani Hutan (KTH) Palutungan Arban memiliki modal manusia, modal sosial dan modal fisik yang paling tinggi, yaitu skor modal manusia 3,45, skor modal sosial 3,76 dan skor modal fisik 3,70; sedangkan KTH Cipeuteuy Agung Lestari memiliki modal alam dengan skor 3,73 dan modal finansial 3,80. Strategi prioritas Kelompok Kemitraan Konservasi di TNGC adalah strategi diversifikasi.The change in function of the forest environment has an impact on the condition of community livelihood assets and a variety of livelihood strategies for communities around the forest. The livelihood system is defined as a household\u27s ability to meet its daily needs within a sufficient level of income. This research aims to formulate appropriate strategies for developing sustainable livelihoods of family/ household members of the Conservation Partnership Groups in Gunung Ciremai National Park (TNGC). This research used a quantitative approach including livelihood asset analysis, Strengths Weaknesses Opportunities Threats (SWOT) analysis and Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) analysis. The results of the research show that The Palutungan Arban group has the highest human capital, social capital and physical capital, namely score of human capital 3.45, social capital 3.76 and physical capital 3.70, while the Cipeuteuy Agung Lestari group has natural capital scores of 3.73 and financial capital 3.80. The priority strategy of conservation partnership groups in TNGC is diversification strategy
    corecore