18 research outputs found
PENGARUH PEMUPUKAN TERHADAP PRODUKSI BUNGA PIRETRUM (Chrysanthemum cinerariifolium Trev.)
Piretrum (Chrysanthemum cinerarii-folium Trev.) merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai pestisida nabati. Keterbatas-an informasi pemupukan pada tanaman piretrum mendorong dilakukannya penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk yang tepat bagi produksi bunga piretrum dengan kadar piretrin tinggi. Penelitian dila-kukan di Kebun Percobaan Nagasari, Gunung Putri Cipanas (1.500 m dpl.). Rancangan yang digunakan adalah Acak Kelompok, dengan 8 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas a). 80 kg N + 120 kg P2O5 + 100 kg K2O/ha, b). FMA1 (Fungi Mikoriza Arbuskula) + a, c). FMA2 + a, d). FMA1 + ½ dosis a, e). FMA2 + ½ dosis a, f). 30 t pukan/ha, g). FMA1 + 30 t pukan/ha, h). FMA2 + 30 t pukan/ha. FMA1 merupakan campuran dari Glomus sp.3, Glomus sp.4, Glomus sp.5, Acaulospora morowae, sedangkan FMA2 merupakan cam-puran dari Acaulospora sp1., Acaulospora sp2., Glomus sp.1 dan Glomus sp.2, Scutelospora sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemupukan berpengaruh nyata terhadap pro-duksi tanaman piretrum (jumlah dan bobot segar bunga pada tanaman sampel maupun total). Perlakuan FMA1 + 30 t pukan/ha menghasilkan jumlah dan bobot segar bunga sampel serta kadar piretrin tertinggi, masing-masing 261, 189 g, dan 0,65%. Selain itu perlakuan FMA2 + 30 t pukan/ha menghasilkan jumlah dan bobot segar bunga total tertinggi (660 dan 503 g)
RESPON TIGA KLON KUMIS KUCING (Orthosipon aristatus) TERHADAP MIKORIZA ARBUSKULA
The research aiming at the effect of arbuscular mycorrhiza to the 3 clones of Orthosipon aristatus was conducted in the green house and laboratory of Indonesian Spices and Medicinal Crops Research Institute, Bogor in 5 months. Completely randomized design, arranged factorially with 2 factors and 3 replications was used. First factor was the clone of orthosipon consisted of white flower, purpel and rather purple clones, meanwhile second factor was Arbuscular Mycorrhiza (AM) inoculation (300 spores of AM/plant) consisted of: without AM, Glomus agregatum, Mac-1 (mixed of Acaulospora sp and Glomus sp), and Mac-2 (mixed of 8 kinds of AM). The result showed a significant effect of orthosipon clone to the plant growth (plant height, number of leaves and stem), fresh weight of stem, dry weight of leaf and root, and leaf area index. White flower clone showed the best growth responses to the AM inoculation (fresh weight of leaf and plant P uptake increased 41,1% to 89,59% and 48,9% to 109,2%, respectively). Glomus agregatum inoculation resulted the highest increasing plant height, number of leaves and stem, dry weight of leaf and stem, and leaf area index of the three clones.
PENGARUH PEMUPUKAN P TERHADAP PRODUKSI DAN SERAPAN P TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth.)
Penelitian bertujuan untuk mengetahui kebutuhan hara P dari pupuk fosfat maupun hayati untuk produksi tanaman nilam (Pogos-temon cablin Benth.) pada tanah Podsolik Jasinga. Penelitian dilaksanakan di Instalasi Rumah Kaca Cimanggu selama 6 bulan (di dalam polybag berukuran 20 kg). Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok, terdiri dari 2 faktor, diulang 3 kali. Faktor I adalah aplikasi fungi mikoriza arbuskula (FMA), yaitu tanpa FMA dan 500 spora FMA (Glomus sp.1, Glomus sp.2, Acaulospora sp)/tanaman. Faktor II adalah pupuk P/tanaman terdiri dari: a). kontrol, (b) 2 g P2O5, c). 4 g P2O5, d). 6 g P2O5, (e) 8 g P2O5. Sebagai pupuk dasar diberikan 1 kg pupuk kandang/tan., pada perlakuan pupuk P ditambahkan 7,5 g N + 16 g K2O/tan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi FMA nyata meningkatkan jumlah daun dan tinggi tanaman serta produksi nilam. Peningkatan bobot segar dan kering akar, batang, daun, bio-mas serta kadar minyak nilam sebesar 65,2 dan 73,8%; 109,5 dan 103,8%; 69,6 dan 73,4%; 88,5 dan 89,5% serta 0,6% dibandingkan tanpa FMA. Pemupukan 2-4 g P2O5/tan. Menghasil-kan produksi nilam dan total serapan hara P, N dan K yang lebih baik dibandingkan dosis pupuk P lainnya. Aplikasi FMA + 2 g P2O5/ tan.menghasilkan kadar minyak nilam tertinggi (3,38%).
PENGARUH JENIS SETEK DAN MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH BUAH MERAH
Buah merah (Pandanus conoideus LAMK.) merupakan tanaman asli Papua yang digunakan sebagai penunjang makanan pokok dan bahan baku obat tradisional. Teknik per-banyakan tanaman dibutuhkan untuk mendu-kung pelestarian dan pengembangannya. Tuju-an penelitian ini adalah untuk mendapatkan je-nis setek dan media tanam yang dapat men-dukung pertumbuhan benih tanaman optimal. Penelitian dilaksanakan di laboratorium dan rumah kaca Balittro serta rumah atap BPTP Papua, di Sentani Jayapura, sejak Januari–Desember 2006. Rancangan yang digunakan adalah RAK, 2 faktor, disusun secara faktorial dengan 3 ulangan. Faktor ke-1. adalah 3 jenis setek, yaitu dari anakan, batang dan tunas, faktor ke-2. adalah media tanam : a). Tanah, b). Tanah : pupuk kandang (pukan) (2:1), c). Tanah : kompos (2:1), d). Tanah + fungi miko-riza arbuskula (FMA). Hasil penelitian menun-jukkan bahwa perbedaan jenis setek berpe-ngaruh nyata terhadap pertambahan jumlah daun (3 dan 4 BST), jumlah akar dan panjang akar benih (4-6 BST). Setek tunas dan anakan menghasilkan pertumbuhan benih, jumlah dan panjang akar terbaik. Perbedaan media tanam berpengaruh nyata terhadap pertambahan jum-lah daun (3 BST). Media tanah + pukan meng-hasilkan jumlah daun benih buah merah ter-tinggi. Media tanah + kompos dan tanah + FMA berpengaruh positif terhadap jumlah dan panjang akar. Perbanyakan benih tanaman buah merah baik dilakukan dengan menggunakan bahan setek dari tunas atau anakan, pada media tanah : pu-puk organik (2:1) atau tanah + FMA selama 3-4 bulan
PENGARUH CEKAMAN DEFISIT AIR TERHADAP PEMBENTUKAN BAHAN AKTIF PADA PURWOCENG
Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) berkhasiat aprodisiak dengan bahan aktif antara lain steriod, saponin dan ber-gaptin. Penelitian dilakukan di KP. Gunung Putri, bertujuan untuk menge-tahui hubungan cekaman defisit air dengan pembentukan bahan aktif penting pada purwoceng. Pada kegiatan penelitian ini dilakukan dua pengujian yaitu respon pembentukan bahan aktif terhadap peningkatan level cekaman defisit air pada tiga fase pertumbuhan tanaman (3, 5, dan 7 bulan), dan kandungan bahan aktif purwoceng pada kondisi tingkat ketersediaan air tanah di level 80% kegiatan lapang (KL), 60% KL, 50% KL, dan 40% KL, dengan meng-gunakan rancangan acak kelompok, 6 ulangan, pada intensitas cahaya 55%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa periode cekaman defisit air berpengaruh terhadap pembentukan bahan aktif pur-woceng. Periode cekaman defisit air 21-38 hari berpengaruh terhadap kandung-an bahan aktif steroid, saponin dan bergapten. Periode cekaman defisit air selama 21-24 hari pada purwoceng berumur tiga bulan menghasilkan kan-dungan stigmasterol dan sitosterol ter-tinggi. Cekaman ringan dengan potensial air pada jaringan daunantara 5-12 bar menghasilkan kandungan bahan aktif steroid dan saponin tertinggi pada tujuh bulan setelah tanam (BST). Perlakuan cekaman defisit air selama 2 bulan dengan pengaturan ketersediaan air tanah setara 60% KL menghasilkan bahan aktif stigmasterol (0,121%), sitos-terol (0,087%) tertinggi pada tanaman purwoceng berumur lima bulan, sedang-kan empat bulan cekamans defisit air dengan 50% KL menghasilkan kandung-an saponin (0,149%) tertinggi pada umur tanaman tujuh bulan
PENGARUH CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT PANILI (Vanilla planifolia Andrews)
The effect of micorrhiza abuscular on the growth of vanilla cuttings (Vanilla flanifoliaAndrews)Mycorrhiza inoculation at nursery represent an effort to gain better quality and growth of vanilla,s cutting. A research aiming at the effect of arbuscular mycorrhiza (AM) inoculation on the growth of vanilla,s cutting was conducted in the green house of the Sukamulya ExperimentalGarden-Sukabumi, Indonesian Spices and Medicinal Crops Research Institute, from April 2002 to August 2002. A complete randomized design was used, arranged factorially with 2 factors and 3 replications. The first factor was vanilla types, consisted of Gisting and Anggerek, and the second factor was AM inoculation, such as without AM, 500 spores ofAM-p/plant, and 500 spores of Mycofer/plant. AM-p was a mixture of Acaulospora spp. and Glomus sp., while Mycofer was a mixture of Glomus sp., Glomus etunicatum, Gigaspora margarita, and Acaulospora sp. The result indicated that there was no significant interaction between vanilla type and AM inoculation on the plant growth. AM inoculation significantly affected the plant height, number of leaves, stem diameter, leaf area index, and dry weight of biomass. The difference of vanilla type significantly affected the root dry weight and precentage of AM root infection, but the interaction 19between AM and vanilla type did not significantly affect the plant growth. AM-pinoculation increased the plant height, number of leaves, stem diameter, leaf area index, and dry weight of biomass equal to 31,62%, 16,94%, 6%, 25,45% and 47,05%, while Mycofer increased those parameter 49,64%, 32,01%, 6%, 32,41% and 54,85%, respectively. The Anggerek type showed better responses to the AM inoculation than the Gisting type.
Respon Bibit Tanaman Panili (Vanili Planifora) Terhadap Mikoriza
Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Cimanggu, Bali Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. Penelitian terdiri atas 2 kegiatan. Kegiatan pertama berlangsun selama 2 bulam menggunakan metode kualiatif, bertujuan untuk menguji kompatibiltas mikoriza campuran pada penakaran panili tipe Anggrek dan Gisting pada 2, 3, 4 dan 5 minggu setelah stek 1 ruas panili disemaikan (MS). Kegiatan keua selama 5 bulan, bertujuan untuk meg=nguji perlakuan mikoriza dan pupuk NPT terbaik pada tanaman panili dengan menggunakan rancangan acak kelompok, faktorial, 2 faktor dan 4 ulangan. Yaitu tanpa mikoriza (MO) dan 100 g mikoriza campuran/tanaman(MI).Faktor kedua adalah komposisi pupuk NPK yaitu tanpa pupuk (PO), IN:IP:IK (PI) IN:IP:3K (P2), dan IN:2P:3K (P3). Hasil kegitan penelitian pertama menunjukka bahwa mikoriza yang digunakan mempunyai kompatibilitas yang cukup baik terhadap kedua tipe panili dan pada 5 MSS menghasilkan tingkat infeksi perakaran tertinggi. Selain itu, mikoriza yang digunakan kompatibilatasnya lebih tinggi pada perakaran panili tipe Anggrek dibandingkan tipe Gisting. Hasil kegiatan kedua menunjukan perlakuan pupuk NPK dan Interaksinya dengan mikoriza tidk berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang diukur. Inokulasi mikoriza campuran nyata meninkatkan tinggi dan jumlah daum bibit panili tipe Gisting (32.4$ dan 20,43%) dibandingkan tanpa mikoriza
SERAPAN HARA N, P, K PADA TUJUH NOMOR HARAPAN SERAI DAPUR PADA TANAH LASOTOL / The Nutrient Uptake of N, P, and K of Seven Promising Numbers of Lemongrass in Latosol Soil
<p>The constrain of lemongrass cultivation is crop nutrient requirement does not estimate yet as a reference for determining the dosage of fertilizer needed to produce good yield and quality. The study aims to determine the NPK uptake of seven lemongrass promising numbers grown in latosol soil in Cibinong research garden, Bogor, namely: Cyci 0003, 0004, 0006, 0009, 0012, 0018 and local. Seven lemongrass promising numbers were from Boyolali, Yogyakarta, Cipatat, Cisaroni, East Nusa Tenggara, Bogor, and Cibinong which had been characterized. The design used was randomized block design with four replications and 25 plants per plots. The parameters observed were number of tillers, plant height, leaf length and width, stem diameter weight per clump, oil yield and quality, and chlorophyll content. The results showed that there were differences of nutrient uptake pattern, as well as the amount of fertilizer requirement N, P and K on all seven promising numbers of lemongrass. Local and Cyci 0003 had highest oil and sitral production compared to other lemongrass promising numbers. To generate the essential oil yield 81,39 kg ha-1 and production of citral 14,25 tonnes ha-1, Cyci 0003 absorbed 284,65 kg Urea, 49,15 kg SP-36, and 308,95 kg KCl ha-1, while local Cyci absorbed 230,29 kg Urea, 49,97 kg SP-36, and 161,8 kg KCl ha-1 to produce 97,94 kg essential oils yield ha-1 and 16,01 tonnes citral ha-1. Essential oil content of Lemongrass increased with increasing uptake of N and P, and citral oil content increased with increasing nutrient P uptake. Local Cyci promising number was relatively efficient in N, P, and K nutrient absorption.</p><p>Keywords: Cymbopogon citratus Stapf., promising number, yield, quality, the uptake of N, P, and K.</p><p> </p><p><strong>Abstrak</strong></p><p>Salah satu kendala dalam pengembangan budidaya serai dapur adalah belum ada perhitungan kebutuhan hara tanaman secara riil sebagai acuan dalam menentukan dosis pupuk yang dibutuhkan untuk menghasilkan produksi dan mutu terna yang baik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui serapan hara N, P, dan K dari tujuh nomor harapan serai dapur yang ditanam di tanah latosol. Tujuh nomor harapan serai dapur yang telah dikarakterisasi yaitu Cyci 0003, Cyci 0004, Cyci 0006, Cyci 0009, Cyci 0012, Cyci 0018 dan Cyci lokal berasal dari Boyolali, Yogyakarta, Cipatat, Cisaroni, NTT, Bogor, dan Cibinong ditanam di kebun percobaan Cibinong, Bogor. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok, dengan 4 ulangan dan jumlah tanaman sebanyak 25 per petak. Parameter yang diamati meliputi jumlah anakan, tinggi tanaman, panjang dan lebar daun, diameter batang, bobot kering terna per rumpun, kadar minyak, mutu minyak, serta kandungan klorofil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pola serapan hara, jumlah serta kebutuhan pupuk N, P, dan K dari ke tujuh nomor harapan serai dapur. Cyci lokal dan Cyci 0003 menghasilkan minyak atsiri dan sitral tertinggi. Untuk menghasilkan minyak atsiri 81,39 kg ha-1 dan sitral 14,25 t ha-1, Cyci 0003 menyerap 284,65 kg Urea, 49,15 kg SP-36, dan 308,95 kg KCl ha-1, sedangkan untuk menghasilkan minyak atsiri 97,94 kg ha-1 dan sitral 16,01 ton ha-1, Cyci lokal menyerap 230,29 kg Urea, 49,97 kg SP-36 dan 161,8 kg KCl ha-1. Kadar minyak atsiri serai dapur meningkat sejalan dengan peningkatan serapan hara N dan P, dan kadar minyak sitral meningkat seiring dengan peningkatan serapan hara P. Cyci lokal merupakan nomor harapan serai dapur yang relatif efisien dalam penyerapan hara N, P, dan K.</p><p>Kata kunci: Cymbopogon citratus Stapf, nomor harapan, produksi, mutu, serapan hara N, P dan K.</p><p> </p></jats:p
Pemupukan Nitrogen, Fosfor, Dan Kalium Pada Tanaman Akar Wangi
The optimum dosage of N, P, and K fertilizer has not been knownyet and it USAge was still varied. The research aim is to obtain an optimalcomposition of N, P, and K fertilizer that could increase productivity ofvetiver crop. The researsch has been conducted in Sukakarya Village,Garut, from January 2009 to December 2010. The research was arrangedin randomized block design, with 3 replications and N, P, and K fertilizercombination treatments i.e.: (1) Control; (2) 100 kg SP-36 + 75 kg KCl;(3) 100 kg ZA + 75 kg KCl; (4) 100 kg ZA + 50 kg SP-36 + 75 kg KCl;(5) 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl; (6) 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl; (7) 100 kg ZA + 100 kg SP-36; (8) 200 kg ZA + 100 kgSP-36 + 75 kg KCl; (9) 200 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl.Harvesting was done at 12, 14 and 16 months after planting (MAP). Theresult showed that the dose of 100 kg ZA + 75 kg KCl produced vetiver oil52,59 and 67,78 kg/ha (12 and 14 MAP). Meanwhile the dose of 200 kgZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl produced 67,76 kg/ha (16 MAP),respectively. vetiverol content were more than 50%
Pengaruh Mikoriza Arbuskula dan Pupuk Fosfat terhadap Pertumbuhan Jambu Mente pada Tanah Podsolik Merah Kuning
Effect of Arbuscular Mycorrhizae Fungi and Phosphate Fertilizer to the Growth of Cashew on Red Yellow Podzolic Soil. The research about the effect of arbuscular mycorrhizae (AM) fungi and phosphate fertilizer applications to the growth of cashew seedling (Anacardium occidentale L.) grown on the red yellow podzolic soil was conducted in the green house at Cimanggu Research Installation, Research Institute for Spice and Medicinal Crops, Bogor. Completelly randomized design with factorial pattern, two factors and three replications was used. First factor was AM inoculation consisted of: without AM, Glomus etunicatum, Mycofer, whether second factor was phosphate fertilizer level consisted of: 0, 15, 30, and 45 g P2O5 per plant. The result showed an interaction between AM and phosphate fertilizer levels to the plant height, leaves dry weight, and spore population, and the best result on giving mycofer with P level 30 g P2O5/plant. AM inoculation significantly effected plant height, stem diameter, dry weight of leaves, stem and root, percentage of AM infection, and spore population, whether phosphate application significantly effected all of the parameters
