52 research outputs found

    Kecernaan Nutrien pada Kambing Peranakan Etawa Jantan yang Diberi Konsentrat Mengandung Frass Black Soldier Fly

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi frass dari Black soldier fly (BSF) media bungkil inti sawit sebagai bahan pakan alternatif sumber serat dan protein didalam konsentrat terhadap kecernaan nutrien ransum penggemukan kambing peranakan etawa jantan. Penelitian ini menggunakan 8 kambing peranakan etawa jantan berumur 10 bulan dengan berat badan rata rata 30.6 ± 2.08 kg selama 8 minggu. Desain eksperimental yang digunakan adalah uji independent sample t-test dengan 2 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan ini membandingkan antara konsentrat komersial dan konsentrat komersial yang mengandung limbah larva BSF (frass) yang diberi bungkil inti sawit, perlakuannya yaitu P0 = rumput gajah 30% + 70% konsentrat komersial dan P1 = 30% rumput gajah + 70% konsentrat mengandung frass BSF. Peubah yang diamati adalah kecernaan bahan kering, bahan organik, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, Beta-N, dan TDN. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan ransum pakan yang mengandung frass BSF secara signifikan (P <0.05) lebih rendah nilai kecernaan bahan kering, bahan organik, Beta-N, TDN, serat kasar (P<0.1) dibandingkan konsentrat kontrol tanpa mempengaruhi nilai kecernaan protein kasar dan lemak kasar. Ransum perlakuan konsentrat yang mengandung frass BSF (P1) tidak memiliki efek negatif pada konsumsi bahan kering dan bahan organik

    UPAYA PENCEGAHAN KETERLAMBATAN KM. DOBONSOLO MELALUI OPTIMALISASI KEGIATAN EMBARKASI DAN DEBARKASI PENUMPANG

    No full text
    ABSTRAKSI Irvan Fadillah Nurwantoro NIT: 51145220 N, 2019, "Upaya Pencegahan Keterlambatan KM. DOBONSOLO Melalui Optimalisasi Kegiatan Embarkasi dan Debarkasi Penumpang", Skripsi Program Studi Nautika, Program Diploma IV, Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Pembimbing I: Capt. Ali Imran Ritonga, MM, M.Mar. dan Pembimbing II: H. Mustholiq, MM. Pelaksanaan embarkasi dan debarkasi yang cepat dan aman serta lancar merupakan tujuan utama para penumpang. Upaya tersebut di maksudkan agar kapal dan muatan serta keselamatan para penumpang bisa terjamin saat proses embarkasi dan debarkasi. Proses embarkasi dan debarkasi yang terjadi di kapal KM. DOBONSOLO sewaktu di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya adalah kurang efisiennya manajemen untuk mengatur penumpang yang akan naik dan turun, serta kurangnya fasilitas yang memadai di terminal pelabuhan.Sehingga para penumpang saling berdesakkan dan dapat mengakibatkan atau membahayakan jiwa para penumpang tersebut. Sedangkan PT. PELNI sebagai penyedia sarana transportasi pun tidak meningkatkan pelayanan–pelayanan diatas kapal, bahkan terkesan hanya mencari keuntungan tanpa memperdulikan kualitas pelayanan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan, menunjukkan beberapa faktor-faktor yang menghambat jalannya proses embarkasi dan debarkasi penumpang. Faktor-faktor tersebut adalah maraknya pedagang asongan dan tidak tertibnya buruh-buruh bagasi dalam pengangkutan barang milik penumpang,merebaknya pengantar dan pengunjung yang tidak mengindahkan peraturan serta pengumuman yang telah dilakukan oleh pihak kapal sehingga terkadang mereka terbawa dalam pelayaran yang sering disebut Penumpang Tanpa Tiket (PTT), faktor yang lain adalah keterlambatan kapal sewaktu tiba di pelabuhan tujuan, faktor terakhir adalah barang bawaan penumpang yang berlebih (Over Baggage). Adapun upaya yang dilakukan oleh pihak kapal dan petugas darat adalah dengan meningkatkan kerja sama yang baik antara petugas darat dan petugas kapal sehingga dapat mendukung kelancaran proses embarkasi dan debarkasi. ABSTRACT Irvan Fadillah Nurwantoro NIT: 51145220 N, 2019, "Upaya Pencegahan Keterlambatan KM. DOBONSOLO Melalui Optimalisasi Kegiatan Embarkasi dan Debarkasi Penumpang", Nautical Study Program, Diploma IV Program, Merchant Marine Polytechnic of Semarang, 1st Advisor: Capt. Ali Imran Ritonga, MM, M.Mar. and 2nd Advisor: H. Mustholiq, MM. The fast and safe and smooth implementation of embarkation and debarkation is the main goal of the passengers. The effort is intended so that the ship and cargo and the safety of passengers can be guaranteed during the embarkation and debarkation process. The process of embarkation and debarkation that occurs on KM ships. DOBONSOLO while at the port of Tanjung Perak Surabaya was management inefficient to regulate passengers who were going up and down, as well as the lack of adequate facilities at the port terminal. So that passengers crowded together and could cause or endanger the lives of these passengers. Whereas PT. PELNI as a means of transportation also does not improve services on board, even seems to only seek profits regardless of service quality. Based on the results of the research that the author has done, it shows several factors that hinder the process of embarkation and debarkation of passengers. These factors are the rise of hawkers and the disorderly practice of baggage workers in transporting passenger property, widespread outreach and visitors who do not heed the rules and announcements made by the ship so that sometimes they are carried on a cruise which is often called a Passenger Without Tickets ( PTT), another factor is the delay of the ship when it arrives at the destination port, the last factor is excess baggage (Over Baggage).The efforts made by the ship and land officers are to increase good cooperation between land officials and ship officers so that they can support the smooth process of embarkation and debarkation

    FIG. 5 in A New Genus and Two New Species of Arboreal Toads from the Highlands of Sumatra with a Phylogeny of Sundaland Toad Genera

    No full text
    FIG. 5.—Habitat of Sigalegalephrŋnus mandailinguensis—a view of the rainforest at the edge of an inactive solphatara field on the northeastern slope of Gunung Sorikmarapi where the holotype was found (upper); and first author at the entrance of the subterranean hollow where the holotype was collected (lower).Published as part of Smart, Utpal, Sarker, Goutam C., Arifin, Umilaela, Harvey, Michael B., Sidik, Irvan, Hamidy, Amir, Kurniawan, Nia & Smith, Eric N., 2017, Herpetologica 73 (1) on pages 63-75, DOI: 10.1655/Herpetologica-D-16-00041, http://zenodo.org/record/771643

    Reproductive Performance of Multiparous Ewes with Different Flushing Ration Manage-ment: Reproductive Performance of Multiparous Ewes after Flushing Ration Management

    No full text
    Local sheep are small ruminants that are kept by many farmers. The reproductive success of the animals is influenced by the ration offered. The aim of this study is to evaluate the reproductive performance of multiparous ewes with different flush management. For the study, 16 multiparous ewes were used in a 4 x 4 randomized group design. Treatments consisted of P1 = no flushing, P2 = flushing before and after mating, P3 = flushing before and after mating and at mid-pregnancy, P4 = flushing before and after mating, at mid-pregnancy and at the end of pregnancy. The variables observed were the percentage of pregnancy, number of embryos, embryo diameter, amnion diameter, embryo durability, number of offspring and duration of pregnancy. The results showed that the management of flushing rations influenced the pregnancy rate and amniotic diameter. The number and diameter of embryos, gestation length, number of offspring and embryo lifespan did not differ between treatments (P&gt;0.05). This study concludes that the management of flushing rations affects reproductive performance in terms of pregnancy rate and amniotic diameter.This study evaluated the reproductive performance of multiparous ewes under various flush management strategies. A total of 16 multiparous ewes were utilized in a 4 x 4 randomized group design. The treatments included P1: no flushing; P2: flushing before and after mating; P3: flushing before and after mating and at mid-pregnancy; P4: flushing before and after mating, at mid-pregnancy, and at the end of pregnancy. The observed variables included the percentage of pregnancy, number of embryos, embryo diameter, amnion diameter, embryo durability, number of offspring, and duration of pregnancy. The findings indicated that the management of flushing rations affected both the pregnancy rate and the amniotic diameter. No significant differences were observed between treatments regarding the number and diameter of embryos, gestation length, number of offspring, and embryo lifespan (P&gt;0.05). This study concluded that managing flushing rations affects reproductive performance regarding pregnancy rate and amniotic diameter

    STRATEGI KOLABORASI DALAM SENI PERTUNJUKAN TRADISIONAL DI KABUPATEN SUBANG

    No full text
    Abstrak Kesenian tradisional memegang peranan dalam pencirian dan menjadi kekhasan suatu daerah. Bagi wilayah administratif yang menjadi cikal bakal suatu kesenian daerah tentu saja tidak sulit untuk menyebut istilah kesenian khas dan menjadi milik daerah tersebut. Lain halnya dengan wilayah administratif yang tidak memiliki kesenian daerah sehingga akan berusaha menciptakan sebuah kesenian untuk dijadikan sebagai kesenian khas bagi daerahnya. Beruntunglah bagi Kabupaten Subang yang menjadi cikal bakal beberapa kesenian yang terlahir dan besar di daerahnya. Tidak hanya sampai disitu, Pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional tampak serius dilakukan. Hal tersebut terlihat dari papan nama berbagai kesenian (tradisional) di beberapa ruas jalan dalam wilayah Kabupaten Subang. Seiring berjalannya waktu tampak jelas terlihat adanya perubahan dalam pernak pernik atau tahapan pertunjukan pada beberapa seni pertunjukan tradisional. Kondisi tersebut pada akhirnya mengundang keingintahuan mengenai strategi kolaborasi apa yang membuat seni pertunjukan tradisional masih tetap diminati masyarakat Subang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif analisis yang didukung dengan data lintas waktu baik dari sumber sekunder maupun dari pernyataan informan mengenai seni pertunjukan tradisional di Kabupaten Subang. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kolaborasi yang dilakukan meliputi kolaborasi lintas waktu dan lintas ruang yang masih dibatasi oleh seperangkat aturan agar kolaborasi tidak melenceng dari identitas ketradisionalannya.AbstractTraditional arts play a role in the characterization of a region. The Regency of Subang became the pioneer for inventing and creating some traditional arts. They were born and grew in the area, and their preservation and development are seriously taken into consideration. It is evident that some changes occurred over time, for example in the accessories or phase of performances at several traditional performing arts. ThisNaskah Diterima: 28 Februari 2013Naskah Disetujui: 2 April 2013condition makes the author curious about the strategy of collaboration that makes the people of Subang interested in traditional performing art. The author conducted descriptive analytical method supported by cross-time data either from primary or secondary sources. The result shows that the strategy of collaboration across time and space in traditional performing</jats:p

    Analisis Penerapan Akuntansi Pada SMP Rusqah Di Kecamatan Tenayan Raya Pekanbaru

    No full text
    The accounting process at SMP Rusqah Pekanbaru only record transactions, do not do journals. Starting recording financial transactions into the daily cash book, then transferred to the book recapitulation of receipts and disbursements of funds. Prepared financial reports SMP Rusqah Pekanbaru, namely profit and loss reports and balance reports. The purpose of this research is to find out how the accounting applied by Rusqah Pekanbaru Middle School is in accordance with generally accepted accounting principles. The required data type is data primary and secondary data, data collection techniques by way of direct interviews and documentation. The findings of this study are Rusqah Pekanbaru Middle School, not making journal, does not calculate the depreciation of fixed assets owned by the school. Based on research conducted by the author that SMP Rusqah Pekanbaru have not applied generally accepted accounting principles

    KEBERADAAN KAMPUNG SENI JELEKONG DALAM MENUNJANG KEBUTUHAN EKONOMI RUMAH TANGGA

    No full text
    ABSTRAKKampung Seni Jelekong telah lama menapakkan kiprahnya dalam bidang industri kreatif berbasis kebudayaan. Hasil yang dicapai adalah ketenaran Jelekong hingga ke mancanegara sebagai kelurahan di Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung yang memproduksi lukisan dan kerajinan wayang golek. Berdasarkan pengalaman tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung memberikan predikat Desa Wisata melalui SK Nomor 556.42/Kop.71 – Dispopar/2011. Pengalaman yang telah dicapai sebagai kampung seni tentunya harus melalui proses yang cukup panjang. Di samping itu juga ada kiat-kiat tertentu yang menjadi pedoman mereka untuk tetap menekuni industri berbasis kebudayaan tersebut. Kiat-kiat yang tentunya harus memperhatikan unsur hobi, kemahiran, dan sektor pendapatan yang mereka terima selama bekerja sebagai seniman di Kelurahan Jelekong. Penelitian yang menggunakan metode deskripsi dengan pendekatan kualitatif ini menemukan adanya aspek ketekunan, strategi pemasaran, dan pola pembagian kerja yang bervariasi. Aspek ketekunan dicapai oleh para pelopor seni yang secara intensif mengajarkan pada warga Jelekong untuk berkecimpung dan mencari nafkah melalui pemberdayaan produk seni. Strategi pemasaran menuntut kreativitas mereka semaksimal mungkin baik melalui modifikasi karya seni maupun memperbanyak relasi mulai dari strategi door to door hingga membuka galeri seni. Pola pembagian kerja yang fleksibel, yaitu segi kualitas dan kuantitas seniman menjadi tolak ukur besaran pendapatan yang mereka terima untuk nantinya digunakan mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari.  AbstractJelekong has been famous for its creativity in culture-based industry, especially in producing wayang golek paintings and handicrafts. It was awarded Desa Wisata (Village of Tourism) by the government of Regency of Bandung in 2011. This village has certain tips that guide them running the business, tips that combine many elements like hobby, skill, and income that  they receive during they are working as artists in the village. By conducting descriptive method and qualitative approach, the author finds that combination of persistence, marketing strategy and division of work are indirect factors for the artists to rely on art as their main income.</jats:p

    Ramli Abdul Wahid and His Thoughts on Islamic Education

    No full text
    Ramli Abdul Wahid and His Thought on Islamic Education. This paper discusses the biography of Ramli Abdul Wahid, a North Sumatra scholar who has multidisciplinary thinking. He is a Hadith expert, but discusses various disciplines and one of them is Islamic education. This research is a qualitative research with a character study approach. From the research conducted, the author concludes that Ramli Abdul Wahid's Islamic education thinking is motivated by his educational history and his position as chairman of the fatwa commission at the Indonesian Ulama Council of North Sumatra (MUI SU) and Al-Jam'iyatul Washliyah Medan. Therefore, the orientation of Islamic education according to him is that it must be in accordance with Islamic values based on the Qur'an and Hadith

    BATIK GARUT: Studi Tentang Sistem Produksi dan Pemasaran

    No full text
    AbstrakBatik Garut atau yang lebih dikenal dengan nama batik Garutan, saat ini sudah menampakkan kiprahnya dalam kancah dunia perbatikan Indonesia. Upaya untuk berkiprah ini tidak luput dari beberapa persiapan yang harus dilakukan, terutama dalam sistem produksi dan sistem pemasaran agar dapat bersaing baik dengan motif batik dari daerah lain, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Oleh karena itu, penelitian yang menggunakan metode deskripsi dengan pendekatan kualitatif ini ingin mengungkapkan dua hal tersebut di atas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meski masih menggunakan sistem manajemen keluarga namun dalam hal sistem produksi yang dilakukan mulai menunjukkan adanya unsur teknologi modern di samping teknologi tradisional yang digunakan untuk mendukung pesanan dalam jumlah banyak. Sistem pemasaran juga sudah mulai menampakkan perubahan dari sistem lama yang hanya menggunakan keahlian berkomunikasi, kini telah mengalami peningkatan terutama dari segi promosi baik dengan menggunakan media elektronik (promosi dengan menggunakan internet) ataupun keikutsertaan dalam berbagai macam pameran dan pergelaran busana. AbstractBatik Garut, or popularly called batik garutan is becoming a more significant asset in the world of batin in Indonesia nowadays. Efforts such as production and marketing system should be into consideration in order to make batik garutan worth competing with batiks of other regions in Indonesia, especially in terms of quality and quantity. These issues were examined in this research, and the author conducted a descriptive method as well as qualitative approach.The result indicates that, although the industries are still applying family management system, modern technology has been adopted without leaving the old and traditional one. In fulfilling great amount of market demands, old marketing system is improved by implementing an online marketing tekchnique as well as participating in fashion shows and other exhibiton events.</jats:p
    corecore