413 research outputs found

    AKUNTANSI USAHA KONSINYASI

    No full text
    Buku dengan judul “Akuntansi Usaha Konsinyasi” ini ditulis oleh Fita Tri Wulandari NIM 12403173196, pembimbing Lantip Susilowati, S.Pd., M.M. Dalam bisnis modern banyak strategi yang digunakan untuk memasarkan barang dagangan. Mencari cara bagaimana supaya barang yang telah diproduksi atau dibeli bisa segera terjual dan dan memberi manfaat bagi pembeli. Sehingga para pelaku usaha terus menerus melakukan inovasi agar tujuan mereka mampu terwujud. Seiring dengan hal tersebut, timbullah perkembangan dalam hal kerja sama, sa;ah satunya usaha konsinyasi. Konsep dalam akuntansi konsinyasi memuat mengenai bagaimana perlakuan terhadap barang yang menjadi objek dalam kerjasama penjualan konsinyasi terkait penjualan yang dilakukan dua pihak, dimana satu pihak selaku pemilik barang atau pengamanat atau consignor dan satu pihak sebagai komisioner atau penerima amanat atau consignee yang kemudian penerima amanat berkewajiban untuk menjualkan barang dari pengamanat dengan imbalan berupa komisi yang telah disepakati. Dalam buku ini membahas mengenai akuntansi usaha konsinyasi, yang dimana menjelaskan mengenai pengertian, karakteristik, sumber hukum, hak dan kewajiban, syarat, serta kelebihan dan kelemahan penjualan konsinyasi, serta pencatatan akuntansi dan penyajian laporan atas penjualan konsinyasi disertai contoh kasus dan latihan soal komprehensif. Kata Kunci: Akuntansi Konsinyasi, Pengamanat, Komisioner

    Senam Rematik Meningkatkan Jarak Tempuh Berjalan Lansia dengan Nyeri Sendi di Panti Wreda Dharma Bhakti Pajang Surakarta

    No full text
    Joint pain experienced by the elderly may limit walking ability like mileage. Mileage can be improved by reducing joint pain through exercise. The purpose of this study was to clarify the effect of rheumatic gymnastics to mileage in older adults with joint pain. This type of research is “True Experimental” with The Randomized Pre Test and Post Test Control Group Design. Population is elderly inelderly house of Dharma Bhakti Pajang Surakarta who suffer joint pain and not in a state of total dependency. Sample was elderly who meet the inclusion and exclusion criteria are 40 people (20 people per group). Normality test data used the Kolmogorov-Smirnov test. Analysis of data (pre and post test) with a paired t test (for normal data) and Wilcoxon Signed Ranks Test test (for not normal data) with significance level of 95%. Changes in mileage differences between groups were tested with unpaired t test with significance level of 95%. The results showed mileage in the treatment group experienced an increase, in which the prices are p &lt;0,05. The results of the study data analysis between groups showed that the mileage have p &lt;0,05 (p = 0,022), which means that there are significant differences between groups. It needs a longer time for the adoption and application of the distance so exercise movement performed by the elderly is closer to the direction of movement so that the effect of exercise on mileage is higher.</jats:p

    STUDI IN-VITRO POTENSI ANTIOKSIDAN DAN ANTIDIABETIK DARI EKSTRAK FENOLIK DAUN GARU (Antidesma montanum) DAN WUNI (Antidesma bunius) ASAL TAMAN NASIONAL MERUBETIRI

    No full text
    Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit endokrin yang umum terjadi di seluruh dunia. Akumulasi glukosa darah yang berlebih pada penderita DM menyebabkan berbagai komplikasi karena glukosa dapat mengalami reaksi autookisdasi yang menghasilkan radikal bebas yang menyebabkan tubuh mengalami percepatan modifikasi lipid, DNA, dan protein di seluruh jaringan tubuh sehingga tubuh mengalami stress oksidatif. Terapi farmakologis menggunakan obat antidiabetik sintetis seperti akarbosa memiliki efek samping pada gastrointestinal sedangkan obat antioksidan sintetis seperti butil hidroksianisol bersifat karsinogenesis. Kondisi ini menyebabkan banyak penelitian diarahkan untuk mencari obat antidiabetik dan antioksidan alami yang berasal dari bahan alam. Garu dan Wuni merupakan bahan baku obat tradisional yang tumbuh di kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Potensi ekstrak fenolik dari Garu dan Wuni sebagai antidiabetik dan antioksidan dianalisis dalam penelitian ini. Potensi ekstrak fenolik Garu dan Wuni sebagai antidiabetik dan antioksidan dianalisis secara in-vitro menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Radikal DPPH digunakan untuk melihat potensi ekstrak sebagai antioksidan secara umum sedangkan potensinya sebagai antioksidan yang lebih spesifik menggunakan radikal anion superoksida dan hidroksil. Hasil analisis peredaman radikal DPPH dalam bentuk IC50 dibandingkan untuk menentukan ekstrak yang paling berpotensi sebagai peredam radikal tersebut. Nilai IC50 yang lebih kecil menunjukkan potensinya yang lebih baik. Potensi ekstrak sebagai peredam radikal anion superoksida dan hidroksil dilihat dari nilai persen peredamannya. Ekstrak dengan konsentrasi yang sama dan memiliki persen peredaman yang lebih tinggi menunjukkan potensi yang lebih baik. Vitamin C digunakan sebagai standar dalam analisis antioksidan sedangkan akarbosa digunakan sebagai standar dalam analisis antidiabetik. Analisis potensi ekstrak sebagai antidiabetik didasarkan pada penghambatan α-amilase dan α-glukosidase. Ekstrak yang memiliki persen penghambatan pada α-amilase dan α-glukosidase yang lebih tinggi pada konsentrasi yang sama dikatakan lebih berpotensi. Mekanisme penghambatan α-amilase dan α-glukosidase oleh senyawa aktif dalam ekstrak yang paling berpotensi sebagai antidiabetik dipelajari dari kinetika penghambatannya. Hasil analisis antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak fenolik daun Garu dan Wuni berpotensi sebagai antioksidan dibandingkan dengan standar vitamin C. Ekstrak MG (metanol Garu) meredam aktivitas radikal anion superoksida, dan hidroksil tertinggi dibandingkan ekstrak HG (heksana garu) dan EG (etil asetat Garu). Ekstrak HG meredam radikal DPPH tertinggi dibandingkan dengan EG (etil asetat garu) dan MG (metanol Garu). Ekstrak MW (metanol Wuni) meredam aktivitas radikal DPPH, anion superoksida, dan hidroksil tertinggi dibandingkan dengan ekstrak HW (heksana Wuni) dan EW (etil asetat Wuni). Ekstrak fenolik daun Garu dan Wuni berpotensi sebagai antidiabetik meskipun dibawah akarbosa. Ekstrak EG (etil asetat garu) mampu menghambat aktivitas α-Amilase dibandingkan dengan HG (heksana garu) dan MG (metanol Garu). Sedangkan ekstrak HG (heksana Garu) mampu menghambat α-Glukosidase tertinggi dibandingkan ekstrak EG (etil asetat Garu) dan MG (metanol Garu). Ekstrak EW (etil asetat Wuni) mampu menghambat aktivitas α-Amilase dan α-Glukosidase tertinggi dibandingkan HW (heksana Wuni) dan MW (metanol Wuni). Ekstrak EW (etil asetat Wuni) menghambat α-amilase dan α-glukosidase secara kompetitif

    SK Penguji Skripsi Juli 2023

    No full text
    Listri Susilowati Anisa Alfian

    Author Checklist - Full_EGCG CNPs.pdf

    No full text
    Author chck list of EGCG CNPs post-thawed Kacang buck semen</p

    AKUNTANSI USAHA PETERNAKAN RUMINANSIA (SAPI, KAMBING, DOMBA DAN KERBAU)

    No full text
    ABSTRAK Buku berjudul “Akuntansi Usaha Peternakan Ruminansia (Sapi, Kambing, Domba dan Kerbau),” ditulis oleh Trisse Tri Maviana, NIM. 12403173140, Jurusan Akuntansi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, dibimibing oleh Lantip Susilowati. S.Pd., M.M. Buku ini disusun agar pembaca mampu memahami karakteristik usaha peternakan ruminansia, siklus akuntansi, penyajian dan pengungkapan laporan keuangan dalam kegiatan usaha peternakan, dan bagaimana contoh laporan keuangan dalam kegiatan usaha peternakan yang baik dan benar berdasarkan standar akuntansi keuangan. Harapan dengan disusunnya buku ini mampu menambah khasanah keilmuan praktis dan teoritis mengenai sistem akuntansi yang diterapkan di peternakan hewan ternak. Khususnya yang menjadi bahasan dalam buku ini berhubungan dengan hewan sapi, kambing, domba, dan kerbau. Keempat hewan-hewan tersebut juga identik dengan culture masyarakat Indonesia, menjadi hewan-hewan yang sering dijumpai untuk diternakkan baik secara perorangan maupun secara berkelompok. Tujuan dari penulisan karya ini yaitu untuk menambah khasanah keilmuan yang berhubungan dengan sistem akuntansi yang diterapkan dalam kegiatan beternak pada hewan sapi, kambing, domba, dan kerbau. Pendekatan penulisan yang digunakan dalam kajian buku ini, dengan berpedoman pada metode studi Pustaka, yaitu peneliti menghimpuan teori-teori yang bersifat teoritis maupun praktis yang berkaitan dengan sistem akiuntansi yang diterapkan dalam kegiatan beternak pada hewan sapi, kambing, domba, dan kerbau. Data diperoleh dari buku maupun jurnal, kemudian dianalisis hingga ditemukan teori-teori yang berhubungan dengan sub bab pembahasan yang telah ditentukan. Hasil kajian buku ini secara umum Usaha ternak ruminansia merupakan bisnis yang sering seseorang temui di lapisan masyarakat karena Indonesia merupakan negara agraris dengan struktur tanah yang bagus untuk pertanian, perkebunan, hingga peternakan. Tingginya minat dan konsumsi manusia yang berasal dari hewan ternak ini membuat sebagaian masyarakat memelihara hewan ternak. Namun, pemeliharaan hewan ternak tidak boleh sembarangan ada beberapa pemeliharaan misalnya pemeliharaan sapi potong, sapi perah, kambing potong, kambing perah, kerbau dan lain sebagainya terdiri pemeliharaan semi intensif dan intensif. Dalam membuka usaha, tentunya seseorang harus mempunyai pengetahun terhadap usaha yang ingin seseorang buka. Peternak harus mengetahui siklus akuntansi yang ada. Siklus akuntansi merupakan proses identifikasi, analisis, dan mencatat transaksi dan diakhiri dengan penyajian dalam bentuk laporan keuangan. Akuntansi peternakan lebih kompleks dibandingkan usaha lainnya ketika datang ke aset, kewajiban, biaya dan pendapatan. Sehingga usaha ternak yang dijalankannya dapat memberikan keuntungan dan peternak dapat menghindari potensi kerugian yang terjadi

    PEMBERDAYAAN ASPEK HUKUM PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA BEKERJA DI LUAR NEGERI

    No full text
    Working plays very important role for all people. Each party expects that working and prosperity serve as good couple. Hence, term of Java people saying "ono dina ono upo" becomes very important for this moment. However, this expression of relying on the fortune is still not enough whenever it is kept in such this real economic pressure. One of the alternatives to make people prosper is that government's effort to cope with the high rate of unemployment and the less chances of working in their own country, namely by providing chance for Indonesian workers to work abroad. Those who needs the job welcomes it well. Besides, the government is providing service for placement of work force abroad. However, the phenomena. available shows that there are still many problems concerning work force taking up a job abroad. For Indonesian, Working abroad requires many supporting factors. Law aspect is one of the supporting factors, which is very important, because, by means of the law, it is aimed at creating protection for those who work in other countries. This research is aimed at knowing the rate of law empowerment of which the government tries to make effort of in abundance with placement of Indonesian work force in other countries. Therefore, method of the research that is applied was research method of normative law which is supported with emphirical research. The Result of the research shows that the rate of law empowerment in abundance with placement of Indonesian work force in other countries was still low. It is because of law substantive aspect controlled by Minister's Decree making case of overseas work force as sectoral job of The Man Power Department. Whereas, Indonesian work force in other countries needs support from many kind of sectors. Meanwhile, law structure aspect has not been coordinated among the institutions supporting the system process of placement of Indonesian work force in other countries. Therefore, the placement mechanism of Indonesian work force in other countries was not yet optimum or in accordance with mission of placement of Indonesian work force in other countries. There are some differences of perception among the interrelated parties concerning law culture aspect in line with the placement mechanism of Indonesian work (bite in other .coun tri es. The law aspect in abundance with the placement mechanism of Indonesian work force in other countries will take its responsibility if it is supported by 1) The law substantive aspect in line with the placement of Indonesian work force revised and promoted from Minister's Decree to The Law so that many sectors may get involved in this matter, 2) The more intensive coordination and diplomacy are required by law structure aspect. In this matter, improvement of professionalism of those who are dealing with the placement is needed, 3) In order to make the same perception on the plaCement of Indonesian work force in othe rcountries in abundance with la• culture aspect, socialization and dissemination of the right information about placement of Indonesian work force in other countries are rquired. Bekerja mempunyai fungsi yang amat penting bagi setnua orang. Hubungan antara bekerja dengan kesejahteraan merupakan pasangan yang diharapkan setnua pihak. Hingga ada istilah orang jawa berkata "ana dina ana upo" untuk saat ini rnenjadi sangat berarti. Namun ekspresi kepasrahan itu tetap saja belum cukup tatkala diperhadapkan dengan tekanan ekonomi yang bersilat dil. Salah satu alternatif untuk mensejahterakan rakyat adalah upaya pemerintah mengatasi tingginya tingkat pengangguran serta sempitnya kesempatan kerja di negaranya sendiri, yaitu dengan memberikan peluang tenaga kerja Indonesia bekerja ke luar negeri. hal tersebut disambut baik oleh orang-orang yang sangat membutuhkan pekerjaan. Dan pemerintah menyiapkan pula pelayanan penempatan tenaga kerja yang bekerja di luar negerL Akan tetapi fenomena yang ada tnenunjukkan masih muncul berbagai permasalahan orang bekerja diluar negert Bekerja diluar negeri bagi rakyat Indonesia memerlukan berbagai faktor pendukung. Aspek hukum merupakan salah satu faktor pendukung yang sangat penting, karena melalui aspek hukum dimaksudkan untuk menciptakan perlindungan tenaga kerja yang bekerja di luar negerL Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberdayaan hukum pada suatu proses yang dilakukan negara dalam upayanya melakukan penempatan tenaga kerja Indonesia untuk bekerja di luar negeri. sehingga metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian hukum normatlf didukung dengan penelitian empiris. Hasil penelitian tnenunjukkan tnasih rendahnya tingkat keberdayaan hukum untuk kepentingan Tenaga Kerja Indonesia (TICI) yang di luar negerL penyebab yang muncul adalah pada aspek substansi hukum yang diatur melalui Keputusan Menteri menjadikan masalah tenaga kerja bekerja diluar negeri selalu merupakan pekerjaan sektoral Departeman Tenaga Kerja padahal tenaga kerja bekerja diluar negeri memerlukan dukungan dad berbagal sektor, sedangkan pada aspek strukrtur hukum belum adanya koordinasi antar lembaga untuk menunjang pada proses sistem penempatan TKI ke luar negeri sehingga mekanisme penempatan TIC! belum optimal atau sesuai dengan tnisi penempatan TKI ke luar negeri , pada aspek kultur hulcum diternukan perbedaan persepsi yang saling bertentangan pada masing-masing piltak yang terkait pada mekanisme penempatan TKI bekerja diluar negerL Aspek hukum untuk penempatan tenaga kerja yang bekerja diluar negeri akan dapat melakukan tanggung jawabnya .apabila didukung I. Aspek substansi lzukum peneinpatan tenaga kerja yang dibenahi dan ditingkatkan menjadi Undang-Undang agar keterlibatan berbagai sektor dapat masuk didalamnya. 2. Pada aspek struktur diperlukan adnnya koordinasi dan diplomasi yang lebih intensif dan hal ini dipedukan peningkatan profesionalisme pelaku penempatan. 3. Untuk aspek kultur hukum, diperlukan sosialisasi dan perluasan informasi yang benar tentang penempatan tenaga kerja bekerja ke luar negeri, agar menciptakan persamaan persepsi tentang penempatan tenaga kerja yang bekerja diluar neger

    BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN PASCA PERSALINAN DI RS KASIH IBU DAN RS PERMATA KABUPATEN PURWOREJO

    No full text
    Perdarahan pasca persalinan masih merupakan penyebab utama kematian ibu di Indonesia (40-60%) dan menjadi masalah kesehatan yang perlu mendapat prioritas khusus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian pasca persalinan yaitu umur, paritas jarak kelahiran, kehamilan kembar, hipertensi dan persalinan dengan sectio caesaria. Jeniis penelitian ini adalah survey penjelasan dengan rancanngan kasus kontrol. Jumlah sampel sebanyak 120 responden terdiri dari 60 kasus dan 60 kontrol. Analisa data yang digunakan adalah uji Chi Square. Hasil analisa bivariat (alfa=0,05) diperoleh variabel yang berhubungan dengan kajadian perdarahan pasca persalinan adalah umur {p=0,043 OR=2,1 (95% Cl=1,0-4,4) jumlah kelahiran {p=0,003 OR=4,2(95% Cl=1,5-11,4) jarak kelahiran {p=0,001 OR=14,5(95% Cl=4,1-51,6) kehamilan kembar {p=0,0403 OR=3,8(95% Cl=1,0-14,6) hipertensi {p=0,016 OR=3,0(95% Cl=1,2-7,6) sedangkan persalinan dengan sectio caesaria (p=0,154) tidak mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian perdarahan pasca persalinan. Pembinaan oleh petugas kesehatan pada ibu dengan usia reproduksi sehat, diperlukan audit maternal dan dilakukannya anamnese yang lengkap merupakan saran yang perlu dipertimbangkan untuk menekan kejadian perdarahan pasca persalinan di kabupaten Purworejo. Kata Kunci: komplikasi persalinan, perdarahan pasca persalinan, Purworejo parturity   FAKTORS RELATED TO THE OCCURANCE OF POSTPARTUM HAEMORRHAGIC IN KASIH IBU HOSPITAL AND PERMATA HOSPITAL IN PURWOREJO DISTRICT Abstract The postpartum haemorrhagic still be the main caused in maternal mortality in Indonesia (40-60%) and also became healthy problem that need specifics priority. The objectives of research were to ivestigate several factor that correlate with occurance of postpartum haemorrhagic include age, parity, parturition interval, twin birth, hipertention and parturition with section caesaria. It was explanatory survey with the outline of the research was case control study. It had 120 respondens included 60 cases and 60 controls. It used Chi squaretest to analysis. According to bivariat analysis (alfa = 0,05) the result of the research indicated that some variables had statistically relation with the occurence of postpartum haemorrhagic. It included age {p=0,043 OR=2,1 (95% Cl=1,0-4,4) parity {p=0,003 OR=4,2(95% Cl=1,5-11,4) parturitium interval {p=0,001 OR=14,5(95% Cl=4,1-51,6) twin birth {p=0,0403 OR=3,8(95% Cl=1,0-14,6) hipertention {p=0,016 OR=3,0(95% Cl=1,2-7,6)but parturitium with sectio caesaria (p=0,154) had not statistically relation with the occurence of postpartum haemorrhagic. It was needed for health officer to educate the health reproductive mother, to do maternal audit and to complete anamnese, is one of suggestion that need to be considered to decrease postpartum haemorrhagic Purworejo. Keyword : complication, of postpartum haemorrhagic Purworej

    Physiology and genetic characterization of pseudomonas sp. For biocontrol of soilborne fungal pathogen in soybean plant

    No full text
    Antagonist bacteria have been recognized playing important role in plant disease suppression. In Indonesia, the role and potential indigenous soybeans’ rhizobacteria such as antagonist Pseudomonas sp. as biocontrol have not many been reported. The aims of this study were to screen and characterize a number of Pseudomonas isolates as biocontrol agent against soilborne fungal pathogens i.e. Sclerotium rolfsii, Fusarium oxysporum or Rhizoctonia solani in soybean plants. Eleven isolates of Pseudomonas sp. CRB showed strong inhibition on the growth of the soilborne pathogenic fungi in vitro. Among of them, 7 isolates produced siderophore, 2 isolates produced chitinase, and 4 isolates produced hydrogen cyanide. Amplified rDNA restriction analysis (ARDRA) indicated high genetic diversity level since 7 ribotype groups were presented. 16S rRNA based sequences phylogenetic tree formed four clusters. There was a quite overlap among ARDRA groups and 16S rRNA clusters, suggested that in the same ARDRA group they were closely related to each other. The sequences of 16S rRNA gene confirmed that the isolates belonging to Pseudomonas sp. and similarity percentage varied to various species of Pseudomonas showed their extensive diversity. Part of antifungal biosynthesis gene encoding phenazine, phzF, phospho-2-dehydro-3-deoxyheptonate aldolase could be detected and confirmed in Pseudomonas sp. CRB-80 and CRB-102. Seed coating with the Pseudomonas sp. CRB demonstrated disease suppression in planta at approximately 14-100% in sterile soil and 5-53% in non-sterile soil. Pseudomonas sp. CRB-16, CRB-44, CRB-86, CRB-102 and CRB-109 which maintained moderate disease suppression, more than 30% in non-sterile soil might be considered for development as biological control agents to protect soybean from the soilborne fungal disease. Population density in soybean rhizosphere of Pseudomonas sp. CRB-17, CRB-80 and CRB-102 Rifr were 102-107 cells/g fresh root weight in sterile soil, in contrast to 0-106 cells/g fresh root weight in non-sterile soil for 6 weeks observation.Proteksi tanaman modern sangat bergantung pada penggunaan bahan kimia untuk mengatasi hama dan penyakit. Akan tetapi, meningkatnya perhatian terhadap kesehatan dan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan bahan kimia untuk pertanian menyebabkan peningkatan tuntutan yang lebih besar terhadap pertanian yang berkelanjutan. Pada tanah yang menekan penyakit dan kompos, penekanan penyakit diperoleh tanpa penggunaan bahan kimia. Penekanan penyakit selalu berhubungan dengan keberadaan bakteri antagonis yang jumlahnya semakin meningkat di dalam tanah. Bakteri rizosfer antagonis yang bermanfaat ini dapat dikembangkan sebagai agen pengendali biologi untuk mengurangi penggunaan bahan kimia di bidang pertanian. Di Indonesia, bakteri antagonis asli rizosfer tanaman kedelai belum banyak dilaporkan dan potensinya sebagai agen biokontrol perlu diteliti lebih lanjut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kandidat agen biokontrol terhadap cendawan patogen tular tanah Sclerotium rolfsii, Fusarium oxysporum atau Rhizoctonia solani untuk tanaman kedelai
    corecore