31 research outputs found

    Perhitungan Harga Pokok Produksi Dalam Penentuan Harga Jual Produk di Pabrik Kripik Singkong Cap Lumba-Lumba Malang

    No full text
    ABSTRAK   Purnawati, Tri. 2017. Perhitungan Harga Pokok Produksi Dalam Penentuan Harga Jual Produk di Pabrik Kripik Singkong Cap Lumba-Lumba Malang. Tugas Akhir, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: Nujmatul Laily, S.Pd, M.SA   Kata Kunci: Harga Pokok Produksi   Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya perhatian pencatatan akuntansi keuangan pada Pabrik Kripik Singkong Cap Lumba-Lumba. Pencatatan akuntansi keuangan sangat diperlukan untuk membuat laporan akuntansi, khususnya adalah perhitungan harga pokok produksi. Pabrik Kripik Singkong Cap Lumba-Lumba membutuhkan laporan harga pokok produksi untuk menetapkan harga jual produk sehingga tidak telalu mahal ataupun terlalu murah. Selama ini, pabrik tersebut menetapkan harga jual berdasarkan perhitungan harga pokok produksi dari empat tahun lalu. Penelitian ini bertujuan untuk membuat model perhitungan harga pokok produksi dan penentuan harga jual berdasarkan presentase laba yang diharapkan. Metode pemecahan masalah yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah metode kualitatif. Berdasarkan hasil analisis data maka diperoleh (1) Perhitungan harga pokok produksi meliputi semua biaya produksi yang diklasifikasikan sebagai biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. (2) Biaya produksi yang dihabiskan untuk memproduksi satu kg kripik singkong rasa masis adalah Rp 23.434,04 sedangkan untuk kripik singkong rasa asin adalah Rp 23.679,59. (3) Laba yang diambil terlalu tinggi yaitu sebesar 350%. Peneliti memberikan beberapa saran, yaitu (1) Melakukan perhitungan ulang biaya produksi sebab perhitungan biaya produksi terakhir sudah dilakukan empat tahun yang lalu dan diindikasi penetapan laba terlalu tinggi. (2) Melakukan pembukuan dan pencatatan akuntansi yang sesuai standart

    JAMUR PATOGEN TERBAWA BENIH JAGUNG (ZEA MAYS L.) DI DESA KUWIK, KUNJANG, KEDIRI

    Full text link
    Jagung (Zea mays) merupakan komoditas pangan dengan sumber karbohidrat tertinggi ketiga di dunia setelah gandum dan padi. Benih merupakan merupakan salah satu komponen penting dalam keberhasilan peningkatan produksi pertanian dan salah satunya adalah benih jagung, tetapi sampai dengan saat ini banyak ditemukan patogen terbawa benih yang menurunkan kualitas benih, dan menurunkan daya kecambah benih. Diantara patogen terbawa benih jagung adalah jamur Aspergillus sp., Fusarium sp., dan Colletotrichum sp. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis jamur patogen terbawa benih jagung di Desa Kuwik, Kunjang, Kediri dan dilakukan dilakukan di Laboratorium Kesehatan Tanaman Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur, dimulai Desember 2021 dan berakhir Maret 2022. Identifikasi jamur patogen dilakukan menggunakan metode inkubasi pada media Potato Dekstrosa Agar (PDA).  Pengamatan pertumbuhan jamur dilakukan pada hari ketujuh setelah jamur tumbuh,  selanjutnya diidentifikasi karakter koloni dan morfologinya berdasar buku kunci identifikasi Boerema et al. (2004), Domsch et al. (1980), Ellis (1971), Sutton (1980), dan Watanabe (2002). Hasil identifikasi jamur patogen pada benih jagung adalah Aspergillus flavus, A. niger, Fusarium sp., Colletotrichum sp

    TRADISI NGAYAH MASYARAKAT SUKU BALI DI DAERAH TRANSMIGRASI SEBAGAI CIVIC CULTURE: Studi Etnografi Di Desa Wanamukti Barat, Kec. Bolano, Kab. Parigi Moutong, Sulawesi Tengah

    Full text link
    ABSTRAK WAYAN PINI PURNAWATI. (2010214). “TRADISI NGAYAH MASYARAKAT SUKU BALI DI DAERAH TRANSMIGRASI SEBAGAI CIVIC CULTURE (Studi Etnografi Di Desa Wanamukti Barat, Kec. Bolano, Kab. Parigi Moutong, Sulawesi Tengah)” Penelitian ini mengkaji praktik tradisi Ngayah dalam masyarakat suku Bali yang telah transmigrasi ke Desa Wanamukti Barat, Kecamatan Bolano, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Tradisi Ngayah, yang merupakan bentuk pelayanan sukarela dalam kegiatan komunal, dipandang sebagai aspek penting dari civic culture atau budaya kewarganegaraan di kalangan masyarakat Bali di Desa Wanamukti Barat. Melalui pendekatan etnografi, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana tradisi ini dipertahankan dan diadaptasi dalam konteks baru transmigrasi, serta implikasinya terhadap dinamika sosial dan kebudayaan di desa transmigrasi. Berdasarkan rumusan masalah yang dibuat, temuan yang diperoleh berupa: (1) Terdapat nilai-nilai civic culture dalam tradisi ngayah, yaitu: nilai Gotong Royong dan Kerja Sama, Kemanusiaan dan Kepedulian, Kerelaan Berkorban, Kebersihan dan Keindahan Lingkungan, Hormat terhadap Agama dan Budaya, Disiplin dan Tanggung Jawab, dan Kerendahan Hati (2) Proses Penurunan nilai dari generasi ke generasi yang terkandung dalam tradisi Ngayah yaitu: Dalam konteks pengembangan karakter masyarakat yang berakar pada kearifan lokal, terdapat beberapa prinsip yang menjadi fondasi, seperti menyama braya (persaudaraan), paras-paros sarpanaya (saling memberi dan menerima), salunglung sabayantaka (saling mendukung), serta ngayah yang mengandung asah-asih-asuh (mendidik dengan kasih sayang). Kepatuhan terhadap awig-awig (aturan adat) dan filosofi tri hita karana (tiga penyebab kebahagiaan), tat twam asi (aku adalah kamu), dan rwabhineda (dualisme) juga merupakan bagian integral dari proses ini. (3) Faktor yang menjadi determinan dalam melestarikan Tradisi Ngayah sebagai pembentukan Civic Culture terdiri dari dua faktor yaitu adanya faktor pendukung dalam melestarikan tradisi ngayah yang meliputi: Upacara Adat, Keyakinan terhadap leluhur, keyakinan terhadap Karma Phala, dan komunitas di dalam masyarakat. Adapun faktor yang menjadi penghalang dalam melestarikan tradisi ngayah yakni kesenjangan ekonomi dan kesibukan pribadi masyarakat.Hasil studi menunjukkan bahwa tradisi Ngayah tidak hanya memperkuat identitas dan solidaritas komunal di antara masyarakat Bali transmigrasi, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan sosial dan budaya di lingkungan baru mereka. Kata Kunci: Tradisi Ngayah, Civic Culture, Transmigrasi ABSTRACT WAYAN PINI PURNAWATI. (2010214). “NGAYAH TRADITIONS OF BALINESE TRIBAL COMMUNITIES IN TRANSMIGRATION AREA AS CIVIC CULTURE (Ethnographic Study in West Wanamukti Village, Bolano, Parigi Moutong, Central Sulawesi)” This research examines the practice of the Ngayah tradition in the Balinese tribal community who have transmigrated to West Wanamukti Village, Bolano District, Parigi Moutong Regency, Central Sulawesi. The Ngayah tradition, which is a form of voluntary service in communal activities, is seen as an important aspect of civic culture among the Balinese people in West Wanamukti Village. Through an ethnographic approach, this research explores how this tradition is maintained and adapted in the new context of transmigration, as well as its implications for social and cultural dynamics in transmigration villages. Based on the problem formulation created, the findings obtained are: (1) There are civic culture values in the ngayah tradition, namely: the values of Mutual Cooperation and Cooperation, Humanity and Caring, Willingness to Sacrifice, Cleanliness and Beauty of the Environment, Respect for Religion and Culture , Discipline and Responsibility, and Humility (2) The process of passing on values from generation to generation contained in the Ngayah tradition, namely: In the context of developing community character that is rooted in local wisdom, there are several principles that form the foundation, such as menyama braya (brotherhood) , paras-paros sarpanaya (mutual giving and receiving), salunglung sabayantaka (mutual support), and ngayah which contains asah-asih-asuh (educating with love). Compliance with awig-awig (customary rules) and the philosophies of tri hita karana (three causes of happiness), tat twam asi (I am you), and rwabhineda (dualism) are also an integral part of this process. (3) Factors that are determinants in preserving the Ngayah Tradition as the formation of Civic Culture consist of two factors, namely the existence of supporting factors in preserving the ngayah tradition which include: Traditional Ceremonies, Belief in ancestors, belief in Karma Phala, and community in society. The factors that become obstacles in preserving the ngayah tradition are economic disparities and people's personal activities. The results of the study show that the Ngayah tradition not only strengthens identity and communal solidarity among the transmigrated Balinese people, but also contributes to social and cultural development in their new environment. Keywords: Ngayah Tradition, Civic Culture, Transmigratio

    KARAKTERISTIK SENSORIS DAN FISIOKIMIA SOSIS LELE DUMBO (Clarias gariepinus) YANG DIBUAT DENGAN VARIASI JENIS DAN KONSENTRASI BAHAN PENGIKAT

    No full text
    Lele dumbo (Clarias gariepinus) memiliki kandungan gizi yang sehat karena berprotein tinggi juga rendah lemak dan kolesterol. Lele dumbo memungkinkan untuk diolah menjadi produk olahan, seperti sosis. Penambahan bahan pengikat yang banyak mengandung protein bertujuan untuk menghasilkan karakteristik serta sifat-sifat sosis yang baik. Sumber protein nabati dari korokoroan yang cukup mengandung protein tinggi yaitu koro komak dimanfaatkan sebagai potensi pangan lokal, kemudian diolah menjadi konsentrat protein koro komak. Selain itu juga digunakan pula jenis bahan berprotein hewani yang biasa digunakan sebagai bahan pengikat pembuatan sosis pada umumnya yaitu susu skim. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh penggunaan jenis dan konsentrasi bahan pengikat terhadap sifat fisiokimia dan sensoris sosis lele dumbo serta memperoleh jenis dan konsentrasi bahan pengikat yang tepat dalam pembuatan sosis lele dumbo dengan sifat-sifat baik dan disukai konsumen. Penelitian dilakukan dua tahapan, yaitu pembuatan konsentrat protein koro komak dan penelitian utama. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan menggunakan 2 faktor, yaitu faktor A jenis bahan pengikat dan faktor B konsentrasi bahan pengikat yang ditambahkan (% berat daging ikan giling). Faktor A terdiri dari 2 variasi yaitu susu skim (A1), konsentrat protein koro komak (A2) dan faktor B terdiri dari 3 variasi 3,5% (B1); 4,5% (B2); 5,5% (B3), sehingga diperoleh 6 kombinasi (A1B1, A1B2, A1B3, A2B1, A2B2, A2B3) dengan dilakukan pengulangan 3 kali. Data yang dihasilkan diolah menggunakan uji statistik analisis varian (ANOVA). Apabila ada perbedaan yang signifikan antar perlakuan, dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) dengan tingkat kepercayaan 5%. Perlakuan terbaik diamati menggunkan uji efektivitas, setelah itu hasil terbaik dilakukan uji proksimat. Variabel pengamatan penelitian meliputi sifat fisik, sifat kimia dan organoleptik. Karakteristik fisik meliputi tekstur (menggunakan rheotex), warna (menggunakan colour reader), cooking loss sosis lele dumbo (menggunakan timbangan), kenampakan irisan (metode visual dengan pemotretan). Karakteristik kimia meliputi kadar air (metode thermogravimetri, AOAC 2005) dan kadar protein (metode Mikro Kjedahl, AOAC 2005). Karakteristik sensoris (dengan uji kesukaan) meliputi warna, rasa, tekstur (kekenyalan), aroma dan kesukaan keseluruhan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penggunaan variasi jenis bahan pengikat cenderung berpengaruh terhadap kadar air sosis, tekstur sosis, kadar protein serta cooking loss sosis lele dumbo, namun berpengaruh kurang terhadap warna sosis lele dumbo. Peningkatan konsentrasi bahan pengikat cenderung berpengaruh terhadap tekstur, dan kadar protein sosis, namun berpengaruh tidak nyata terhadap kadar air sosis, warna sosis, dan cooking loss sosis. Terdapat interaksi diantara kedua perlakuan yaitu pada kadar protein sosis. Bahan pengikat konsentrat protein koro komak konsentrasi 4,5% (A2B2) menghasilkan sosis lele dumbo yang bersifat baik dan disukai. Sosis yang dihasilkan memiliki kadar air 66,17%; kadar protein 20,72%; kadar lemak 5,12%; kadar abu 1,41%; karbohidrat 6,58%; nilai tekstur sebesar 170,10g/5mm; intensitas kecerahan 70,58, nilai cooking loss 0,003%; nilai kesukaan warna, rasa, tekstur, aroma berturut-turut 3,36; 3,93; 3,93; 3,64 (agak suka sampai suka), dan nilai keseluruhan 4 (suka)

    DEVELOPING STUDENT’S SCIENTIFIC LITERACY BY INCORPORATING LOCAL TERMS AND SOCIOCULTURAL PHENOMENA INTO SCIENCE TEACHING-LEARNING PROCESS

    Full text link
    The lack of integration between science and culture, students' social-life and science experiences, as well as between students' sociocultural and science world, creates a "gap" between both aspects. When students fail to transition their school science situation and knowledge to real-life cultural experience or vice versa, they refuse to learn science deeper because science might threaten their sociocultural beliefs. As a further consequence, this condition will result in low scientific literacy. It is essential to increase students' scientific and cultural literacy because it helps young generation to marry science and culture effectively. Based on literature review done by the author, it shows that integrating local language and sociocultural phenomena into science classrooms can enhance students' motivation and interest in science and increase learning achievement. Connecting more students' social-cultural aspects, particularly language and life experience, can help to increase scientific literacy

    Pemanfaat Ape Wire Game Sebagai Alat Bantu Stimulasi Perkembangan Anak Usia Dini

    Full text link
    Artikel ini merupakan penelitian sekunder yang menggunakan data yang sebelumnya telah dikumpulkan oleh orang lain sehingga peneliti tinggal mengambil secara ilmiah melalui data hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Dari temuan jurnal yang dilakukan didapatkan bahwa manfaat alat permainan edukatif wire game membawa manfaat dalam menstimulasi kemampuan konsentrasi anak, kedua ditemuan bahwasannya media wire game dalam menstimulasi kemampuan anak dalam memahami bentuk geomtri secara sederhana. Besar harapan artikel ini dalam menjadi pemicu peneliti dalam menguji manfaat meida wire game dalam aspek perkembangan lainny

    KARAKTERISTIK SENSORIS DAN FISIOKIMIA SOSIS LELE DUMBO (Clarias gariepinus)

    No full text
    Lele dumbo (Clarias gariepinus) merupakan pangan bergizi dan sehat karena berprotein tinggi, rendah lemak dan kolesterol. Lele dumbo memungkinkan untuk diolah menjadi produk olahan, seperti sosis. Penambahan bahan pengikat berfungsi untuk menghasilkan sosis dengan sifat-sifat yang baik. Sumber protein nabati dari koro-koroan yang cukup mengandung protein tinggi yaitu koro komak sebagai pangan lokal yang potensial. Konsentrat protein koro komak dan susu skim dapat digunakan sebagai bahan pengikat pembuatan sosis. Tujuan penelitian untuk memperoleh jenis dan konsentrasi bahan pengikat yang tepat dalam pembuatan sosis lele dumbo dengan sifat-sifat baik dan disukai. Konsentrasi bahan pengikat yang digunakan 3,5%; 4,5%; dan 5,5%. Pengamatan karakteristik fisik meliputi tekstur, warna, cookingloss, kenampakan irisan, karakteristik kimia meliputi kadar air dan kadar protein, karakteristik sensoris meliputi warna, rasa, tekstur, aroma, kesukaan keseluruhan. Perlakuan terbaik ditentukan menggunakan uji efektivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik penggunaan bahan pengikat konsentrat protein koro komak 4,5%. Sosis yang dihasilkan mempunyai kadar air 66,17%; kadar protein 20,72%; kadar lemak 5,12%; kadar abu 1,41%; karbohidrat 6,58%; nilai tekstur sebesar 170,10g/5mm; intensitas kecerahan 70,58, nilai cookingloss 0,003%; nilai kesukaan warna, rasa, tekstur, aroma berturut-turut 3,36; 3,93; 3,93; 3,64 (agak suka sampai suka), dan nilai keseluruhan 4 (suka)

    UJI ANTAGONIS BAKTERI ENDOFIT TERHADAP PATOGEN Fusarium sp. ASAL TANAMAN TERUNG SECARA IN VITRO

    Full text link
    Tanaman terung merupakan tanaman komoditas hortikultura yang memiliki gizi yang tinggi dan dapat digunakan untuk pencegahan penyakit kanker. Hasil produksi terung mengalami penurunan, salah satunya dikarenakan terserangnya tanaman terung oleh jamur Fusarium sp. yang merupakan patogen tular tanah (soilborne). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi bakteri endofit berasal dari tanaman terung sebagai antagonis jamur Fusarium sp. Penelitian ini menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan menggunakan 12 macam bakteri endofit dengan Fusarium sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 isolat bakteri endofit mampu  yang menghambat Fusarium sp yakni isolat bakteri kode AT 13 (28,12%), BT 3 (26,98%), dan AT 11 (26,76%
    corecore