1,720,956 research outputs found
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Nilai-Nilai Fiqih: Pemahaman Guru dan Peserta Didik dalam Membentuk Karakter (Studi Multi Situs di MAN 1 Banjarbaru, SMAN 1 Banjarbaru, MA Al Falah Putera Banjarbaru dan SMAS Al Islam Nurul Maad Banjarbaru)
Setiap perintah ibadah yang dihukumkan wajib dalam agama adalah bagian
terpenting dalam rangka menumbuhkan kesadaran hukum yang pada akhirnya dapat
membentuk kepribadian setiap orang menjadi mulia. Oleh karena itu penelitian ini fokus
untuk menemukan hal terpenting dalam konteks kewajiban ibadah, yakni bagaimana
nilai-nilai fiqih dalam membentuk karakter, khususnya bagi para peserta didik.
Data utama dalam penelitian ini ialah materi dan metode pembelajaran fiqih,
nilai-nilai fiqih dalam kewajiban ibadah, dan kontribusi nilai-nilai fiqih dalam
membentuk karakter. Adapun yang menjadi sumber data ialah para guru yang mengajar
mata pelajaran fiqih untuk di madrasah, dan para guru pengajar PAI untuk di sekolah.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan metode penelitian
deskriptif kualitatif serta menggunakan pendekatan fenomenologi. Teknik dalam
pengumpulan data dalam penelitian ini ialah; observasi, interview dan dokumentasi,
sedangkan teknik analisis yang digunakan ialah; reduksi data, penyajian data, penarikan
kesimpulan dan verifikasi. Pada proses terakhir dilakukan pengecekan keabsahan data.
Lokasi penelitian ialah; MAN 1 Banjarbaru, SMAN 1 Banjarbaru, MA Al Falah Putera
Banjarbaru dan SMAS Al Islam Nurul Maad Banjarbaru.
Memperhatikan data yang diperoleh dan hasil analisis yang dilakukan maka,
penelitian ini dapat disimpulkan bahwasanya; Pertama, metode yang digunakan dalam
pembelajaran fiqih pada lokasi penelitian ialah; ceramah dan nasehat, Tanya jawab atau
diskusi, pembiasaan, keteladanan, strategi mengaitkan dengan lingkungan dan strategi
memperhatikan kondisi siswa. Kedua, materi yang disampaikan dalam pembelajaran fiqih
pada lokasi penelitian ialah; materi pokok tentang ibadah zakat dan haji serta materi
tambahan tentang ibadah shalat dan puasa. Ketiga, nilai-nilai fiqih dalam kewajiban
ibadah bagi guru dan peserta didik ialah; (1) Shalat: kedisiplinan, ketenangan jiwa,
ketentraman hati, kesholehan pribadi, obat hati dan kedekatan dengan Allah Swt. (2)
Puasa: kedisiplinan, kepedulian sosial (empati), pengendalian diri, penanaman kesholehan
pribadi, pengendalian hawa nafsu, ketenangan hati dan melatih kesabaran. (3) Zakat:
sosial ekonomi, berbagi dan tolong-menolong, pembersih diri dan harta, persaudaraan dan
keakraban, empati, ketenangan jiwa dan kebahagiaan hati. (4) Haji/Umroh: persamaan
derajat, kepedulian, kebersamaan, tidak diskriminatif, sikap dan perilaku baik,
ketentraman hati, persatuan, persaudaraan, kekeluargaan, membentuk pribadi taat dan
momentum bertaubat serta menjaga pergaulan. Keempat, sebagai ilmu yang konsen
pada ketentuan hukum, fiqih tetap memiliki unsur afeksi sehingga dalam
implementasi aqidah sangat terkait dengan karakter terutama dalam hal nilai dan
hikmah ibadah. Dengan demikian nilai-nilai fiqih sangat berkontribusi dalam
membentuk karakter, yakni sebagai berikut; 1) Ibadah shalat berkontribusi pada
karakter disiplin, religius, jujur, tanggung jawab dan cinta damai. 2) Ibadah puasa
berkontribusi pada karakter disiplin, religius, tanggung jawab, menghargai
prestasi, peduli sosial dan toleransi. 3) Ibadah zakat berkontribusi pada karakter
disiplin, religius, tanggung jawab, peduli lingkungan dan bersahabat. 4) Ibadah
viii
haji berkontribusi pada karakter disiplin, religius, tanggung jawab, demokratis,
toleransi dan kerja kera
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
Pandangan Pendidikan Islam terhadap Teori Belajar Behavioristik
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pandangan Pendidikan Agama Islam terhadap Teori belajar Behavioristik. Teori belajar Behavioristik yang dimuat pada penelitian ini adalah teori belajar Behavioristik menurut pandangan dari para ahli, yaitu Ivan Pavlov, Edward Lee Thorndike, B. F. Skinnner, dan teori belajar Behavioristik menurut pandangan Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang dianalisis dengan menggunakan teknik analisis konten. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berupa kajian pustaka (library research). Untuk Teknik pengolahan data dengan cara pengumpulan literatur berdasarkan masalah yang diteliti, kemudian mengadakan penelaahan serta penelitian secara langsung berbagai bahan pustaka yang menerangkan tentang materi-materi atau topik yang berhubungan dengan masalah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan adanya relevansi antara teori belajar behavioristik dengan konsep Pendidikan Islam
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.</p
- …
