4 research outputs found
Buku Teks Materi Tari Sekar Jepun Untuk Bahan Ajar Peserta Didik Kelas X di SMK Pariwisata Triatma Jaya Badung Bali
ABSTRAK Tari Sekar Jepun menjadi materi pokok pembelajaran seni budaya pada kelas X semester ganjil di SMK Pariwisata Triatma Jaya Badung Bali. Perolehan nilai peserta didik diatas KKM adalah keberhasilan sebuah tujuan pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, kerja sama antara pendidik, peserta didik dan penggunaan bahan ajar atau media pembelajaran sangat penting. Penyampaian materi tari Sekar Jepun mengalami kendala karena guru seni budaya di SMK Pariwisata Triatma Jaya berlatar belakang seni rupa dan seni musik. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan penelitian dan pengembangan bahan ajar tari Sekar Jepun. Tujuan penelitian dan pengembangan adalah menyusun buku teks tari Sekar Jepun sebagai bahan ajar bagi peserta didik kelas X di SMK Pariwisata Triatma Jaya Badung Bali. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan prosedur penelitian mengacu pada metode Borg and Gall (1983) yang dimodifikasi, terdiri atas pengumpulan data dan informasi, perencanaan (menyusun buku sesuai KD), pengembangan bentuk awal produk, uji validasi tahap I, revisi hasil uji produk, uji kelompok kecil, revisi produk, uji validasi tahap II, uji kelompok besar, revisi produk akhir dan diseminasi dan implementasi produk. Subjek validasi produk dilakukan oleh ahli media, ahli materi, dan ahli bahasa. Uji coba kelompok kecil dilakukan pada siswa kelas X. Data dikumpulkan melalui angket rating scale dengan menggunakan format penilaian uji coba validasi dan uji coba kelompok kecil. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Adapun hasil uji coba adalah sebagai berikut: (1) hasil validasi tahap I ahli materi mencapai presentase 75% untuk kelayakan isi materi dan kelayakan penyajian, hasil validasi ahli bahasa mencapai 83% untuk aspek tata bahasa dan penyusunan kalimat dan hasil validasi ahli media mencapai 88,15% untuk aspek kelayakan desain produk sehingga ketiga validasi dikategorikan cukup valid, (2) uji kelompok kecil yang dilakukan 5 siswa keahlian Akomodasi Perhotelan SMK Pariwisata Triatma Jaya Badung secara keseluruhan mencapai presentase 86,25% dikategorikan cukup valid, (3) hasil validasi tahap II ahli materi secara keseluruhan mencapai presentase 97,72% untuk kelayakan isi materi dan kelayakan penyajian, hasil validasi ahli bahasa mencapai 91,66% untuk aspek tata bahasa dan penyusunan kalimat dan hasil validasi ahli media mencapai 94,73% aspek kelayakan desain produk sehingga ketiga validasi dikategorikan sangat valid; (4) uji kelompok besar yang dilakukan 33 siswa keahlian Akomodasi Perhotelan SMK Pariwisata Triatma Jaya Badung mencapai presentase 87,31% dikategorikan cukup valid. ii Berdasarkan penelitian dan pengembangan dapat ditarik kesimpulan bahwa buku teks Tari Sekar Jepun telah layak diproduksi dan digunakan di SMK Pariwisata Triatma Jaya Badung,Bali. Saran bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian agar membuat media dalam bentuk lain seperti video pembelajaran, media game, dan media lain
BUKU TEKS MATERI TARI SEKAR JEPUN UNTUK BAHAN AJAR PESERTA DIDIK KELAS X DI SMK PARIWISATA TRIATMA JAYA BADUNG BALI
ABSTRAK Tari Sekar Jepun menjadi materi pokok pembelajaran seni budaya pada kelas X semester ganjil di SMK Pariwisata Triatma Jaya Badung Bali. Perolehan nilai peserta didik diatas KKM adalah keberhasilan sebuah tujuan pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, kerja sama antara pendidik, peserta didik dan penggunaan bahan ajar atau media pembelajaran sangat penting. Penyampaian materi tari Sekar Jepun mengalami kendala karena guru seni budaya di SMK Pariwisata Triatma Jaya berlatar belakang seni rupa dan seni musik. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan penelitian dan pengembangan bahan ajar tari Sekar Jepun. Tujuan penelitian dan pengembangan adalah menyusun buku teks tari Sekar Jepun sebagai bahan ajar bagi peserta didik kelas X di SMK Pariwisata Triatma Jaya Badung Bali. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan prosedur penelitian mengacu pada metode Borg and Gall (1983) yang dimodifikasi, terdiri atas pengumpulan data dan informasi, perencanaan (menyusun buku sesuai KD), pengembangan bentuk awal produk, uji validasi tahap I, revisi hasil uji produk, uji kelompok kecil, revisi produk, uji validasi tahap II, uji kelompok besar, revisi produk akhir dan diseminasi dan implementasi produk. Subjek validasi produk dilakukan oleh ahli media, ahli materi, dan ahli bahasa. Uji coba kelompok kecil dilakukan pada siswa kelas X. Data dikumpulkan melalui angket rating scale dengan menggunakan format penilaian uji coba validasi dan uji coba kelompok kecil. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Adapun hasil uji coba adalah sebagai berikut: (1) hasil validasi tahap I ahli materi mencapai presentase 75% untuk kelayakan isi materi dan kelayakan penyajian, hasil validasi ahli bahasa mencapai 83% untuk aspek tata bahasa dan penyusunan kalimat dan hasil validasi ahli media mencapai 88,15% untuk aspek kelayakan desain produk sehingga ketiga validasi dikategorikan cukup valid, (2) uji kelompok kecil yang dilakukan 5 siswa keahlian Akomodasi Perhotelan SMK Pariwisata Triatma Jaya Badung secara keseluruhan mencapai presentase 86,25% dikategorikan cukup valid, (3) hasil validasi tahap II ahli materi secara keseluruhan mencapai presentase 97,72% untuk kelayakan isi materi dan kelayakan penyajian, hasil validasi ahli bahasa mencapai 91,66% untuk aspek tata bahasa dan penyusunan kalimat dan hasil validasi ahli media mencapai 94,73% aspek kelayakan desain produk sehingga ketiga validasi dikategorikan sangat valid; (4) uji kelompok besar yang dilakukan 33 siswa keahlian Akomodasi Perhotelan SMK Pariwisata Triatma Jaya Badung mencapai presentase 87,31% dikategorikan cukup valid. ii Berdasarkan penelitian dan pengembangan dapat ditarik kesimpulan bahwa buku teks Tari Sekar Jepun telah layak diproduksi dan digunakan di SMK Pariwisata Triatma Jaya Badung,Bali. Saran bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian agar membuat media dalam bentuk lain seperti video pembelajaran, media game, dan media lain
Pengaruh Pajak Dan Insentif Tunneling Terhadap Keputusan Transfer Pricing Pada Perusahaan Food And Beverage Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2020-2023
The following is the new author guidelines and article templates of this research discusses the influence of taxes and tunneling incentives on transfer pricing decisions, where taxes are one of the sources of state revenue in Indonesia, but multinational companies misuse transfer pricing to manipulate taxes to countries with lower tax rates, and the greater the tunneling incentives, the more significant the unreasonable transfer pricing practices for the benefit of majority shareholders. One of the causes is the high ratio of related party receivables to the company's total receivables and the high tax burden. This study aims to determine whether taxes and tunneling incentives affect transfer pricing decisions
PENGARUH INFLASI DAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) SEKTOR PERTANIAN TERHADAP NILAI TUKAR PETANI DI PROVINSI ACEH TAHUN 2008-2019
AJurnal Ekonomi Pertanian Unmal, Volume 02 Nomor 02 Desember 2021 E-ISSN : 2614-4565URL : http://ojs.unimal.ac.id/index.php/JEPU PENGARUH INFLASI DAN PRODUK DOMESTIK REGIONALBRUTO (PDRB) SEKTOR PERTANIAN TERHADAP NILAI TUKAR PETANI DI PROVINSI ACEH TAHUN 2008-2019 Jumilah a*, Devi Andriyani a*aFakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh * Corresponding author : [email protected]* [email protected] A R T I C L E I N F O R M A T I O N A B S T R A C T Keywords:Inflation, Agricultural Sector GRDP, Farmers Exchange Value, Farmers Exchange Rate. This study examined the influence of inflation and PRDB in the agricultural sector on farmer exchange rates in Aceh province. The data used was quantitative data with a time-series approach from 2008 to 2019. The analytical method used was Multiple Linear Regression. Partial test results showed that inflation did not affect Farmer Exchange Rates, while GRDP in the Agricultural Sector negatively and significantly influenced Farmer Exchange Rates. Furthermore, the simultaneous test results showed that inflation and GDP in the agricultural sector positively and significantly influenced Aceh Farmer Exchange Rate. The determination coefficient (R2) was 0.5233, which indicated that the ability of the independent variables to explain the dependent variable was 51.33%, while the remaining 48.67% was influenced by other variables outside the model. The results of the correlation coefficient obtained in this study are R = ˆšR2 = ˆš0.6018 = 0.7757. So it concluded that inflation and GRDP in the Agricultural Sector had a significant and positive relationship to the Farmer Exchange Rate because the correlation value of 77.57% was almost close to a positive one (1). 1. PENDAHULUANPembangunan disegala bidang merupakan arah dan tujuan kebijakan Pemerintah Indonesia.Adapun hakikat sosial dari pembangunan itu sendiri adalah peningkatan kesejahteraan bagi seluruh penduduk Indonesia. Mengingat bahwa sebagian besar penduduknya Indonesia tinggalnya di daerahnya pedesaannya dengan mata pencaharian bertumpu pada sektornya pertanian, makanya sangat diharapkannya sektornya pertaniannya ini dapatnya merupakan motornya penggerak pertumbuhannya yang mampunya meningkatkannya pendapatan para petani dan mampu mengentaskan kemiskinan (Nirmala et al., 2016).Berikut adalah perkembangan pada nilai PDRB pertanian, tingkat inflasi dan nilai tukar petani yang ada di provinsi Aceh 2015-2019.Tabel 1Perkembangan NTP, Inflasi dan PDRB sektor Pertanian Provinsi AcehTahun 2015-2019TahunNTP(%)Inflasi(%)PDRB(%)201596.631.5329.13201696.273.9529.39201794.754.2529.74201894.731.8429.74201992.281.6929.54Sumber: BPS Aceh, 2020.Berdasarkan tabel 1.1 di atas dapat dilihat bahwa Nilai Tukar Petani (NTP), inflasi, dan PDRB sektor pertanian di Provinsi Aceh cenderung fluktuatif. Dimana secara umum terlihat bahwa NTP setiap tahunnya mulai mengalami penuruan bahkan nilainya berada dibawah 100, halnya ini dapatnya dilihatnya pada tahun 2015 NPT Aceh tercatat sebesar 96.63% dan terus menurun hingga tahun 2019 menjadi sebesar 92.28%.Nilai NTP yang berada dibawah 100 memberikan gambaran bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat aceh sangat rendah, dan hal ini harus adanya perhatian khusus dan tindak lanjut dari pemerintah Aceh.Jika dikaitkan dengan perkembangan inflasi yang terjadinya di Aceh Secara teoritis diungkapkan bahwa peningkatan inflasi akan menyebabkan nilai tukarnya petani yakni indeksnya harganya yang dibayarkan petani akan mengalami peningkatan, sedangkan indeks harga yang diperoleh petani tetap karena tidak diikutinya dengan kenaikannya harga gabahnya. Berdasarkan data tahun 2017 dapat dilihat bahwa nilai inflasi berada pada tingkat tertinggi yakni 4,25%, namun nilai tukar petani semakin rendah berada pada angka 94.75%, hal ini disebabkan karena harga jual gabah ditingkat petani tidak mengalami kenaikan meskipun harga kebutuhan pokok ikut naik, hal ini menyebabkan pendapatannya yang diterimanya petani tidak mencukupi untuk memenuhinya kebutuhannya pokok dan modal bertani.Faktor inflasi dapat mempengaruhi Nilai Tukar Petani (NTP) dimana tingginya tingkat inflasi menyebakan petani tidak mampu membeli sarana produksi pertanian. Petani harus menghemat dan sebagian menggunakan sarana produksi alternatif meskipun kurang berkualitas. Dampak yang terjadi, menurunnya jumlah produksi yang berakibat nilai tukar petani menjadi rendah.Faktor selanjutnya adalah PDRB sektor pertanian. Sebagimana yang kita ketahui bahwa PDRB sektor pertanian sangat berpengaruh penting dalam perkembangan NTP, Secara teoritis nilai tukar petani mempunyai kegunaan untuk mengukur kemampuan tukar barang dijual petani dengan produk yang dibeli petani pada kebutuhan rumah tangga. Kenaikan pendapatan bruto sektor pertanian khususnya mengindikasikan jika pendapatan petani mengalami peningkatan. Hal yang berbeda terjadi pada tahun 2016 dimana nilai PDRB sektor pertanian tercatat sebesar 29.13% dan terus meningkat hingga tahun 2018 sebesar 29.74% namun nilai tukar petani justru mengalami penurunan yaitu sebesar 96.63% ditahun 2016 dan semakin rendah sampai tahun 2018 sebesar 94,73%, sedangkan tahun 2019 PDRB sektor pertaniannya dan Nilai Tukarnya Petani sama-sama mengalami penurunan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis Pengaruh Inflasi dan PDRB Sektor Pertanian Terhadap Nilai Tukar Petani di Provinsi Aceh.Selanjutnya bagian kedua dari penelitiannya ini akannya membahas tinjauan teoritis, metode penelitian akan dibahas pada bagian ketiga. Kemudian pada bagian ke empat akan dibahas hasil penelitian dan pembahasan. Pada bagiannya kelima akan membahas kesimpulan dannya saran. 2. TINJAUAN TEORITIS Nilai Tukar PetaniAlat ukur kemampuan tukar barang barang (produk) pertanian yang dihasilkannya petani terhadapnya barang dan jasanya yang diperlukannya untuknya konsumsi rumah tangganya dan kebutuhannya dalam memproduksi hasil pertanian adalah definisi dari Nilai tukar petani. NTP juga diartikan angka perbandingannya antara indeksnya harga yang diperoleh petaninya dengan indeksnya harga yang dibayarnya petani (BPS Aceh, 2019).Menurut Riyadh (2015) NTP merupakannya hubungan antaranya hasil pertaniannya yang dijualnya petani dengan barangnya dan jasanya lain yang dibelinya oleh petaninya. Selanjutnya Faridah Nurul (2016) menyebutkan bahwa Nilai Tukarnya Petani adalah perbandingan atau rasionya antara indeksnya harga yangnya diterima petaninya dengan indeksnya harganya yang dibayarnya petani. NTP ditunjukkannya dalam bentuknya rasio antaranya indeks harganya yang diterimanya petani, yakni indeksnya harga jualnya outputnya, terhadapnya indeks harganya yang dibayarnya petani, yakni indeksnya harga input-inputnya yang digunakannya untuk bertaninya, misalnya pupuknya, pestisidanya, tenaga kerjanya, irigasi, bibit, sewa traktor, dan lainnya. InflasiMenurut Herlianto (2013) inflasi merupakan suatu gejala yang menunjukkan harga-harga mengalami kenaikan secara umum. Secara sederhnana inflasi diartikan sebagai keadaan meningkatnya harga secaranya umumnya dan terus menerus.Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali jika kenaikkan inflasi tersebut meluass (atau menyebabkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Perhitungan inflasi dlakukan dalam rentang waktu minimal bulanan (Wardhani, Kusuma, 2017).Salah satu peristiwa modern yang sangatnya penting dan yang selalu dijumpai dihampir semua negara di dunia adalah inflasi. Definisi singkat dari inflasi adalahnya kecenderungannya harga-harganya untuk menaiknya secaraumum dan terusnya menerus, hal ini tidak berarti bahwa harga-harga berbagai macam barang itu naik dengan presentase yang sama. Mungkin kenaikan tersebut dapat terjadi tidak bersamaannya, yang pentingnya terdapat kenaikannya harga umumnya barangnya secaranya terus menerusnya selama satu periode tertentu. Kenaikannya yang terjadinya sekali sajanya meskipunnya dalam presentasenya yang besarnya, bukanlah merupakannya inflasinya (Mankiw N, 2006). Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Indikator pentingnya untuknya dapat mengetahuinya kondisi ekonominya suatu daerahnya dalam kurunnya waktu tertentunya ialah menggunakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), dapat menggunakan atasnya dasar harganya berlaku ataupun atas dasarnya harga konstannya. Menurutnya Sukirno (2012) pertumbuhannya ekonomi merupakannya kenaikan outputnya per kapitanya dalam jangkanya yang panjangnya, penekanannya ialahnya pada tiganya aspek yakni prosesnya, outputnya per kapitanya, serta jangkanya panjang. Pertumbuhan ekonomi merupakan proses, bukan hanya gambaran ekonomi sesaat. Pembangunan daerah serta pembangunan sektoral harus dilaksanakan sejalan agar pembangunan sektoral yang beradanya di daerah-daerah dapat berjalan sesuainya dengan potensi serta prioritas daerah.Produk Domestik Bruto (PDB) merupakannya salah satunya indikatornya makro ekonomi yang padanya umumnya digunakannya untuk mengukurnya kinerja ekonominya di suatu negaranya. Sedangkan untuknya tingkat wilayahnya, baiknya di tingkatnya wilayahnya propinsi maupunnya kabupaten ataunya kota digunakannya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB merupakannya bagian darinya PDB, sehingganya perubahannya PDRB yang terjadinya ditingkatnya regional akannya berpengaruhnya terhadapnya PDB atau sebaliknya Raharjonya (Simanjuntak & Bhakti, 2018). Kerangka Konseptual Gambar 1. Kerangka KonseptualKerangka konseptual gambar 1 di atas menjelaskan pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat, yaitu pengaruh inflasi (x1) dan produk domestic regional bruto (x2) terhadap nilai tukar petani (y) yang akan di uji secara parsial dengan mengguakan uji t, dan secara bersama-sama seluruh variabel independen terhadap dependen dengan menggunakan uji f. Hipotesis Adapun hipotesis alternatif yang diberikannya dalam penelitiannya ini adalahnya sebagainya berikut :H1 = Diduga inflasi berpengaruh Negatif dan Signifikan terhadap Nilai Tukar Petani di Provinsi Aceh.H2 = Diduga PDRB Sektor Pertanian berpengaruhnya Negatif dan Signnifikan terhdap Nilai TukarPetani di Provinsii Aceh.H3 = Diduga Inflasi dan PDRB Sektor Pertanian berpengaruhnya positif dannya Signifikan terhadapnya Nilai Tukar Petani Provinsi Aceh. 3. METODE PENELITIANData dan Sumber DataPenelitiannya ini menggunakannya data sekunder, yang dimaksudnya dengan data sekunder adalah data yang telah diolah oleh pihaknya lain. Data yang digunakan dari tahun 2008 sampai 2019. Data utama di dalam penulisan proposal ini bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS). Definisi Operasionalisasi VariabelOperasionalisasi variabel merupakan petunjuk bagaimana variabel-variabeldalam penelitian diukur. Untuk memperjelasnya dan mempermudahnya pemahamannya terhadap variabel-variabelnya yang akannya dianalisisnya dalam penelitiannya ini, maka butuhnya dirumuskan operasionalisasinya variabelnya yaitu sebagainya berikut: 1. Variabel Dependen (Y)Variabel dependen adalah variabel terikat yang artinya variabelnya yang dipengaruhinya oleh variabel bebas. Variabel dependen dalam penelitiannya ini yaitu Nialai Tukar Petaani (NTP) yang artinya adalah Raiso antara harga yang didapat petani dengan harganya yang dibayarnya petani, NTP dalam peneitian ini diambil dari total nilai tukarnya petani yang diukur dalam satuan persen (%) 2. Variabel Independen (X)Variabel Independen adalah variabel bebas yang artinya variabel yang perubahannya mempengaruhi variabel terikat. Dalam penelitiannya ini variabelnya independen terdiri atas :a) Inflasi (X1) adalah suatu keadaannya dimana terjadinya peningkatan harga-harga secara umumnya dan terus menerus dalam wkatu atau tempo jangka panjang. Inflasi diambil dari jumlah inflasi 43 kotanya di indonesiia yang diukur dalam satuan persen (%)b) PDRB Sektor Pertanian (X2) adalah Nilai tambahnya bruto atau penjumlahan dari nilainya output bersih yang tercipta di wilayah domestik (provinsi) pada suatu periode waktunya tertentu. Dalam penelitiannya ini PDRB diambil dari data PDRB menurut lapangan usaha jenis sektor pertaniannya yang diukur dalam satuan (%). Metode Analisis DataUntuk menganalisis pengaruh variabel bebas dan variabel terikat digunakan teknik regresi linear berganda dengan formula OLS (Ordinary Least Quare), yaitu :Y= α+β1x1+β2x2+eiDimana :Y : Nilai Tukar PetaniX1 : InflasiX2 : PDRB Sektor Pertanianei : Error Term Uji NormalitasMenurut Gujarati (2009), menyebutkan bahwa ujinya normalitas adalahnya suatu pengujian dimana jika probabilitasnya lebih besar daripada alpha 5 persen maka uji normalitas diterima. Justifikasi lainnya untuk uji ini adalah dengan membandingkan nilai J-B hitung dengan x2 tabel , apabila alpha J-B <x2 tabel maka residual terdistribusi normal. Sedangkan menurut Sunyoto (2011), uji normalitas adalah pengujian yang akan menguji data variabel bebas (x) dan data variabel terikat (y) pada persamaan regresi yang dihasilkan berdistribusi normal atau berdistribusi tidak normal. Model regresi yang baik merupakan berdistribusi data normalnya atau mendekatinya normal.Metode yang sering digunakan untuk melakukannya uji normalitasnya adalah dengan uji Jarque- bera. Pengujian ini dapat dilakukannya dengan program EVIEWS sehingga nantinya memperoleh nilai probabilitas (p-value). Jika nilai probabilitasnya lebih besarnya dari 5% (<0,05), berarti nilai residualnya berdistribusinya normal. Sebaliknya, jika nilainya probabilitas lebihnya kecil darinya 5% (<0,05), berarti nilai residualnya berdistribusi tidak normal. Pengujian Asumsi KlasikDalam melakukannya estimasi persamaannya linier dengannya menggunakannya metodenya OLS, makanya asumsi-asumsinya dari OLS harusnya dipenuhi.Berdasarkan keadaannya tersebut didalamnya ilmu ekonometrikanya agar suatunya model dikatakannya baik makanya perlu dilakukannya pengujiannya sebagai berikutnya : Uji Autokorelasi Menurut Ghozali (2006), ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk melihat terjadi atau tidaknya Autokorelasi. Salah satunya dengannya Uji Breusch-Godfrey Serial LM Test. Uji MultikolineritasMultikolineritas adalahnya suatu kondisinya dimana terjadinya korelasinya yang kuatnya diantaranya variabel-variabelnya (x) yang di ikutnya sertakan dalamnya pembentukannya model regresinya linear (Gujarati, 2006). Uji multikolineritas dilakukan untuk melihatnya apakah dalam model regresinya ditemukannya adanya korelasinya antar variabelnya bebas (x).Jika terjadi korelasi yang tinggi, maka regresi tersebut terjadi multikolineritas.Untuk mengetahui multikolineritas dengan menggunakan Eviews dapat dilakukannya dengan melihatnya korelasi antar variabel bebas (Correlation Matrik). Jika korelasi antara variabelnya bebas lebih atau samanya dengan 0,8 (<0,8), berarti terjadi multikolineritas. Uji HeteroskedastisitasHeteroskedastisitas adalahnya variabel pengganggunya dimana memilikivariannya yang berbedanya dari satunya observasinya ke observasinya lainnya ataunya varian antarnya variabel independennya tidak samanya, hal ininya melanggar asumsinya homokedastisitasnya yaitu setiapnya variabel penjelas memiliki variannya yang samanya (konstan). Uji heteroskedastisitas dapat dilakukannya dengan Uji White, yaitu dengan melihatnya nilai obs*R-Square dan nilai signifikansi di atas tingkat α=5% atau harus lebih besarnya dari (> 0,05) sehingga dapatnya disimpulkan bahwanya model regresinya tidak mengandung adanya Heteroskedastisitas (Ghozali, 2012).Pengujian StatistikUntuk menguji kebenaran model regresi diperlukan pengujian statistik diantaranya :Uji t-StatistikMenurut Ghozali (2006), uji statistic atau uji t bertujuan untuknya melihat signifikan dari pengaruh variabel bebasnya secara individual terhadap variabelnya terikat dengannya menganggap variabelnya bebasnya lainnya adalahnya konstan.Jika t hitung > t tabel , maka variabel penjelas secara individual mempengaruhi variabel yang dijelaskan secara signifikan.Jika t hitung < t tabel , maka variabel penjelas secara individual tidak mempengaruhi variabel yag dijelaskan secara signifikan. Uji F-statistik Untuk menentukan tingkat signifikan secara keseluruhan pada tingkat kepercayaan sebesar 95%, pengujian hipotesis dengan uji F. Gujarati (2006), uji F dilakukan dengannya membandingkan antara F hitungnya dengan F table, apabila F hitung>F table, dicari di tabel F dengan patokan taraf signifikan 5%, artinya bahwa (X1), (X2), dan (X3), secara bersama-sama mempengaruhi (Y). Koefisien DeterminasiKoefisien ini nilainya antara 0 (nol) sampai dengan 1 (satu).Semakin besar nilai koefisien tersebut maka variabel-variabel independen lebih mampu menjelaskan variasi variabel dependen. Nilai koefisiennya determinasi merupakannya suatu ukurannya yang menunjukkannya besar sumbangannya dari variabelnya independen terhadapnya variabel dependennya, atau dengannya kata lain koefisiennya determinasinya mengukur variasi turunan Y yang diterangkannya oleh pengaruhnya X. Bila nilainya koefisiennya dterminasi yang diberi symbol mendekatinya angkanya 1, maka variabelnya independennya makin mendekatinya hubungannya dengan variabelnya dependen (Gujarati, 2009). Adapun kegunaannya koefisien determinasinya adalah:Ukuran mengukur proporsi atau presentasenya dari jumlahnya variasinya yang diterangkannya oleh modelnya regresi ataunya untuk mengukurnya besar sumbangannya dari variabelnya X terhadapnya variabel Y.Hasil darinya analisisnya ini dinyatakan dalam presentasi batas-batas determinasi sebagi berikut : 0< <1.Untuk mengetahui nilai koefisiennya determinasi, mak dapat dihitung dengan cara mengkuadratkan nilai koefisien korelasi ). Koefisien KorelasiKoefesien korelasi dinyatakan dalam nilai koefisiennya korelasi (R), Koefisien Kolerasi ini bertujuannya untuk melihat seberapa besar tingkat kekuatan hubungannya antaranya variabel independen dengan variabelnya dependen. Menurut Ghozali (2012) terdapat beberapa ketentuan dalam menginterpretasikan hasil koefisien kolerasi, diantaranya yaitu :1) Jika koefisien korelasi bernilai 0,00 sampai 0,199 (plus atau minus) menunjukkan derajat hubungan yang sangat rendah,2) Jika koefisiennya korelasi bernilai 0,20 sampai 0,399 (plus atau minus) menunjukkan derajat hubungan yang Rendah,3) Jika koefisiennya korelasi bernilai 0,40 sampai 0,599 (plus atau minus) menunjukkan derajat hubungan yang Sedang,4) Jika koefisiennya korelasi bernilai 0,60 sampai 0,799 (plus atau minus) menunjukkan derajat hubungan yang tingginya atau kuat,5) Jika koefisien korelasi bernilai 0,80 sampai 1,00 (plus atau minus) menunjukkan derajat hubungan yang tingginya atau kuat. 4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANHasil PenelitianHasil Analisis Regresi Liniear BergandaRegresi liniear berganda bertujuannya untuk mengetahuinya ada tidaknya pengaruh signifikan dua ataunya lebih variabelnya bebas terhadap variabel terikat (Y). Untuk melihatnya adanya tidaknya pengaruh dapat dilihat melalui uji asumsi klasik.Hasil Uji Normalitas Sumber: Data Diolah (2020)Gambar 2Histogram-Hasil Uji NormalitasBerdasarkan Gambar 2 diatas dapat dilihat bahwa data penelitiannya ini telah terdistribusi secaranya normal. Hal ininya dapat dibuktikannya dengan melihat perbandingan nilai Jarqu-Berra < Chi-Square Tabel yaitu 0.37 < 7.81 dengan nilaiprobabilitas Jarqu-Berra> taraf signifikan 5% (0.05)yaitusebesar 0.8309 > 0.05. hasil penelitiannya ini sejalannya dengan teori yang dinyatakan oleh (Ghozali, 2012) apabila nilai Jarqu-Berra < Chi-Square dan probabilitas Jarqu-Berra > taraf signifikan 5% (0.05) maka data sudah terdistribusi dengan normal. Hasil Uji Asumsi KlasikBerikut hasil uji asumsi klasik :Hasil Uji AutokorelasiAdapun hasil pengujian sebagai berikut :Tabel 2Hasil Uji Autokorelasi Sumber: Hasil Olah Data,2020 Berdasarkan Tabel 2 diatas terlihat bahwa hasil penelitian ini terbebas dari indikasi Autokolerasi, hal ininya dapat dilihatnya pada nilai Obs*R-squared < Chi-Square Tabel yaitu 5.463314 < 7.81 dan probablitas Obs*R-squared > taraf signifikan 5% (0,05) yaitu 0.06 > 0,05. Uji MulticoliniearitasAdapun hasil pengujian sebagai berikut :Tabel 3Hasil Uji MulticoliniearitasVariabelINFLASIPDRB_PERTANIANINFLASI 1.000000-0.499962PDRB_PERTANIAN-0.499962 1.000000Sumber : Hasil Olah Data,2020Berdasarkan hasil uji multikolinearitas menunjukkan bahwa tidaknya terdapat variabel yang memiliki nilai lebih dari 0,8. Dengan demikian dapat disimpulkannya bahwa dalamnya penelitiannya ini tidaknya terjadi multikolinearitas. Hasil Uji HeteroskedastisitasTabel 4Hasil Uji Heteroskedastisitas Sumber : Hasil Olah Data,2020Berdasarkan hasil pengujian heteroskedastisitas pada tabel 4 diatas terlihat bahwa model dalam penelitian ini sudah terbebas dari indikasi heteroskedastisitas.Hal ini terbuktinya dari nilai Obs*R-squared< Chi-Square Tabel yaitu 3.439983< 7.81 dan juga nilai Probabilitas Chi-Square > taraf signifikansi 5% yaitu >0.1791.Hasil Uji HipotesisAdapun hasil pengujian yaitu :Tabel 5Hasil Uji Regresi Liniear Berganda Sumber: Hasil Olah Data, 2020Berdasarkan tabel 5 diatas persamaan regresi linear berganda yaitu :Y = α + β1 X1 + β2 X2 + eDan jika dikaitkannya dengan hasil penelitiannya ini makanya diperoleh :Y = 1734.707 - 4.115053 Inflasi- 19.51945 PDRB_Pertanian + e Dari hasil diatas maka interprestasi model regresi linearnya bergandanya adalah sebagainya berikut :Kostanta sebesar 1734.707 yang artinya apabila inflasi dan PDRB Sektor pertanian bernilai konstan atau (0) maka Nilai Tukar Petani juga akan konstan sebesar 1734.707 satuan atau 17.34707%.Koefisien Variabel Inflasi bernilai negatif sebesar -4.115053 yang artinya apabila inflasi mengalami kenaikan sebesar satu persen maka akan membuat Nilai Tukar Petani menurun sebesar 4.115053 atau 4.11% dengan asumsi variabel PDRB Sektor Pertani
