69 research outputs found

    STUDI KOMPARASI PEMIKIRAN SYAIKH MUHAMMAD AT-TIHAMI BIN MADANI DAN KH. HUSEIN MUHAMMAD TENTANG KEWAJIBAN SUAMI MENAFKAHI KELUARGA

    No full text
    Perkawinan merupakan akad yang menghalalkan hubungan seksual antara suami istri. Setelah terjadinya akad pernikahan, maka suami dan istri memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Salah satunya ialah kewajiban suami menafkahi keluarganya. Terkait hal ini, Syaikh Muhammad At-Tihami berpendapat bahwa suami lah yang berkewajiban menafkahi keluarganya, dan KH. Husein Muhammad berpendapat bahwa siapa saja baik suami maupun istri siapa yang mampu mencari nafkah, maka dia yang menafkahi keluarganya. Rumusan masalah dari penelitian ini meliputi bagaimana konsep pemikiran Syaikh Muhammad At-Tihami Bin Madani dan KH. Husein Muhammad tentang kewajiban suami menafkahi keluarga? dan bagaimana persamaan dan perbedaan pemikiran Syaikh Muhammad At-Tihami Bin Madani dan KH. Husein Muhammad tentang kewajiban suami menafkahi keluarga? Serta bagaimana alasan pemikiran Syaikh Muhammad At-Tihami Bin Madani dan KH. Husein Muhammad tentang kewajiban suami menafkahi keluarganya. Kemudian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep pemikiran Syaikh Muhammad At-Tihami Bin Madani dan KH. Husein Muhammad, persamaan dan perbedaan pemikiran Syaikh Muhammad At-Tihami Bin Madani dan KH. Husein Muhammad, serta alasan pemikiran Syaikh Muhammad At-Tihami Bin Madani dan KH. Husein Muhammad tentang kewajiban suami menafkahi keluarganya. Adapun jenis penelitian ini adalah Library Reseach (Studi Kepustakaan). kemudian teknik pengumpulan data didapatkan dari wawancara, dokumentasi dan peneliti fokus pada pengkajian dan pembahasan buku-buku atau kitab-kitab fikih, khususnya pemikiran Syaikh Muhammad At-Tihami bin Madani dan KH. Husein Muhammad. Penelitian ini bersifat deskriptif komparatif yaitu membandingkan pemikiran kedua tokoh secara sistematis yang memiliki pemikiran yang berbeda. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Pemikiran Syaikh Muhammad At-Tihami bin Madani di dalam kitab Qurratu ‘Uyun menjelaskan bahwa seorang suami diwajibkan menafkahi keluarganya, baik nafkah lahir maupun batin. Dalam pemenuhan nafkah tersebut, seorang suami harus dengan rasa ikhlas. Lain hal-nya dengan pemikiran KH. Husein Muhammad, di mana beliau berpendapat bahwa baik suami maupun istri siapa yang mampu mencari nafkah, maka dia yang berkewajiban mencari nafkah. Selain itu, alasan Pemikiran keduanya didasarkan pada Al-Qur’an maupun hadist serta adanya perbedaan zaman semasa hidup

    Edukasi Seksual dalam Pernikahan: Pandangan Syekh At-Tihami dalam Kitab Qurrah Al-Uyun

    No full text
    This research aims to explore the significant role of sexual education in preventing divorce within the context of Islamic marriages. Through the analysis of Syaikh Abu Muhammad At-Tihami\u27s primary source, "Qurrah al-‘uyūn," and relevant secondary references, this study identifies various guidelines and regulations relevant to sexual relations within Islam. The research findings highlight that appropriate sexual education has substantial potential in maintaining marital stability, given the importance of adhering to prescribed guidelines and prohibitions regarding sexual practices.The research underscores the importance of selecting the right timing for sexual intercourse, choosing a private and secure location to safeguard privacy, following proper etiquettes, and adopting recommended positions during sexual practices. Additionally, the study emphasizes the significance of mutual satisfaction between spouses as a crucial aspect of marital harmony.The research also reveals specific prohibitions, such as refraining from sexual relations during the wife\u27s menstruation and postpartum period, avoiding anal intercourse, and abstaining from sexual activities during discouraged times, such as the night of Eid al-Adha, the first night of marriage, mid-month, and the end of each lunar month. This research contributes significantly to a deeper understanding of sexual practices within Islam and underscores the necessity of accurate sexual education in preventing conflicts and divorce within marital relationships. The novelty of this study lies in the in-depth exploration of Syaikh Abu Muhammad At-Tihami\u27s perspectives on sexual practices within Islamic marriages, providing valuable insights within the context of Islamic matrimony.Penelitian ini bertujuan untuk menjelajahi peran krusial pendidikan seksual dalam mencegah perceraian dalam konteks pernikahan Islami. Ditenagai oleh urgensi memahami dan menerapkan panduan serta regulasi terkait hubungan seksual dalam Islam, metode penelitian melibatkan analisis mendalam terhadap "Qurrah al-‘uyūn" karya Syaikh Abu Muhammad At-Tihami dan referensi sekunder relevan. Keunikannya terletak pada pengungkapan pandangan Syaikh Abu Muhammad At-Tihami mengenai praktik seksual dalam pernikahan Islami. Hasil penelitian menyoroti bahwa pendidikan seksual yang tepat menjadi kunci stabilitas pernikahan, mempertimbangkan waktu, lokasi, etiket, dan pemilihan posisi yang dianjurkan. Keutamaan kepuasan bersama antara suami dan istri diidentifikasi sebagai elemen kunci dari harmoni pernikahan. Larangan khusus, seperti menahan diri selama menstruasi istri dan masa nifas, menghindari hubungan seks anal, dan menjauhi aktivitas seksual selama waktu-waktu yang tidak disarankan, juga diungkapkan. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan untuk memahami praktik seksual dalam Islam dan menyoroti peran penting pendidikan seksual yang akurat dalam mencegah konflik serta perceraian dalam hubungan pernikahan. Keunikan penelitian ini terletak pada penggabungan pendekatan analitis yang mendalam dengan perspektif Islam, khususnya pandangan Syaikh Abu Muhammad At-Tihami, sehingga memberikan wawasan berharga dalam konteks pernikahan Islami

    HADIS-HADIS TENTANG HUBUNGAN SEKSUAL MENURUT AL-TIHAMI DALAM KITAB QURRAT AL-'UYUN

    No full text
    Problematika seks memang selalu menarik untuk diperbincangkan dari dulu sampai sekarang, apabila diperhatikan secara sepintas masalah seksual hanyalah bersifat sepele. Ternyata dibalik kesederhanaan itu, masih banyak sekali dalam kehidupan rumah tangga yang hancur disebabkan permasalahan seksualnya. Hal ini disebabkan karena dari kedua belah pihak tidak mau dan tidak pernah memperhatikan ataupun membicarakan kehidupan seksualnya. Dalam kontek saat ini masalah seks bukanlah suatu misteri yang harus dihindari dan dianggap tabu, akan tetapi harus dihadapi, dimengerti dan dipahami. Dalam Islam masalah seks bukanlah hanya bersifat kebutuhan biologis semata, akan tetapi lebih dari itu adalah proses pembentukan generasi yang baik, berguna bagi dirinya, agama dan masyarakat sekitarnya. Maka dari itu, Islam dalam masalah aktivitas seksual penganutnya telah memberikan aturan-aturan yang harus diindahkan dalam melakukannya. Dalam aktivitas seksual, Islam memberikan nuansa yang berbeda dari agama yang lain yaitu dengan menonjolkan aspek spiritualitasnya. Untuk membuka kembali lembaran-lembaran masalah aktivitas seksual dalam Islam yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw tersebut, maka di sini penulis berusaha memaparkan tentang masalah aktivitas hubungan seksual antara suami-istri yang merujuk pada kitab QUJTat al- 'Uyiin karya al-Tihami. Dalam kitab ini banyak sekali dicantumkan hadis-hadis Nabi saw, dan juga pendapat para ulama mengenai masalah tersebut. Akan tetapi, di sini penulis mengkhususkan pembahasan pada pemikiran al-Tihami tentang hadis-hadis etika hubungan seksual dalam kitab Qurrat al-'Uyun dan konsepnya. Penelitian ini merupakan kajian pustaka murni (Libraiy Research), dan tehnik pengolahan data menggunakan metode interpretasi, deskriptif dan komparasi dengan melalui pendekatan ma'ani al-hadis. Yaitu dengan metode antara lain analisis matan, kajian linguistik, konfirmasi dengan al-Qur'an dan hadis, kajian realitas historis dan generalisasi. Dengan metode ini diharapkan dapat menangkap pesan moral universal yang terdapat dalam hadis-hadis tersebut, sehingga pesan yang didapat bisa direalisasikan dalam tatanan kehidupan rumah tangga sebagai salah satu jalan untuk menuju kebahagiaan dan keharmonisan dalam sebuah keluarga

    The Phonology of the Definite Determiners in Yemeni Tihami Arabic

    No full text
    This paper analyzes the phonology of the definite determiner (DET) of two Yemeni Tihami Arabic dialects. The underlying Det for one dialect (the b-dialect) is /b-/: [θoor] ‘ox’- [b-θoor] ‘the ox’, and /m/ for another dialect (the OCP m-dialect): [m-θoor] ‘the ox’. Although the determiner is underlyingly different in both dialects, it fully assimilates to the following word-initial consonant if it is labial, creating a word-initial geminate. On the surface, the onset geminate behaves differently in both dialects. I present an analysis that treats them the same except for their underlying representation and the ranking of two constraints. Both dialects present further complications involving these onset geminates. In the OCP m-dialect, labial assimilation is always optional, and if the word-initial syllable is light, as in /firag/ ‘teams’, gemination is optional ([f-firag] ~ [m-firag]), but if it is heavy, gemination is resolved by epenthesis: /m-fiiraan/ → [ʔaf.fii.raan] ‘the mice’. This is explained if we assume all geminates, even word-initial ones, are moraic: in that case, epenthesis is compelled by a ban on extra-heavy syllables. In the b-dialect, labial assimilation is obligatory because of a high-ranking Ocp-Lab. However, gemination in heavy syllables is only optional: [f-faanuus] ~ [ʔif.faa.nuus], ‘the lantern’
    corecore