1,721,021 research outputs found

    STUDI KOMPARASI PEMIKIRAN SYAIKH MUHAMMAD AT-TIHAMI BIN MADANI DAN KH. HUSEIN MUHAMMAD TENTANG KEWAJIBAN SUAMI MENAFKAHI KELUARGA

    Get PDF
    Perkawinan merupakan akad yang menghalalkan hubungan seksual antara suami istri. Setelah terjadinya akad pernikahan, maka suami dan istri memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Salah satunya ialah kewajiban suami menafkahi keluarganya. Terkait hal ini, Syaikh Muhammad At-Tihami berpendapat bahwa suami lah yang berkewajiban menafkahi keluarganya, dan KH. Husein Muhammad berpendapat bahwa siapa saja baik suami maupun istri siapa yang mampu mencari nafkah, maka dia yang menafkahi keluarganya. Rumusan masalah dari penelitian ini meliputi bagaimana konsep pemikiran Syaikh Muhammad At-Tihami Bin Madani dan KH. Husein Muhammad tentang kewajiban suami menafkahi keluarga? dan bagaimana persamaan dan perbedaan pemikiran Syaikh Muhammad At-Tihami Bin Madani dan KH. Husein Muhammad tentang kewajiban suami menafkahi keluarga? Serta bagaimana alasan pemikiran Syaikh Muhammad At-Tihami Bin Madani dan KH. Husein Muhammad tentang kewajiban suami menafkahi keluarganya. Kemudian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep pemikiran Syaikh Muhammad At-Tihami Bin Madani dan KH. Husein Muhammad, persamaan dan perbedaan pemikiran Syaikh Muhammad At-Tihami Bin Madani dan KH. Husein Muhammad, serta alasan pemikiran Syaikh Muhammad At-Tihami Bin Madani dan KH. Husein Muhammad tentang kewajiban suami menafkahi keluarganya. Adapun jenis penelitian ini adalah Library Reseach (Studi Kepustakaan). kemudian teknik pengumpulan data didapatkan dari wawancara, dokumentasi dan peneliti fokus pada pengkajian dan pembahasan buku-buku atau kitab-kitab fikih, khususnya pemikiran Syaikh Muhammad At-Tihami bin Madani dan KH. Husein Muhammad. Penelitian ini bersifat deskriptif komparatif yaitu membandingkan pemikiran kedua tokoh secara sistematis yang memiliki pemikiran yang berbeda. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Pemikiran Syaikh Muhammad At-Tihami bin Madani di dalam kitab Qurratu ‘Uyun menjelaskan bahwa seorang suami diwajibkan menafkahi keluarganya, baik nafkah lahir maupun batin. Dalam pemenuhan nafkah tersebut, seorang suami harus dengan rasa ikhlas. Lain hal-nya dengan pemikiran KH. Husein Muhammad, di mana beliau berpendapat bahwa baik suami maupun istri siapa yang mampu mencari nafkah, maka dia yang berkewajiban mencari nafkah. Selain itu, alasan Pemikiran keduanya didasarkan pada Al-Qur’an maupun hadist serta adanya perbedaan zaman semasa hidup

    Edukasi Seksual dalam Pernikahan: Pandangan Syekh At-Tihami dalam Kitab Qurrah Al-Uyun

    Get PDF
    This research aims to explore the significant role of sexual education in preventing divorce within the context of Islamic marriages. Through the analysis of Syaikh Abu Muhammad At-Tihami\u27s primary source, "Qurrah al-‘uyūn," and relevant secondary references, this study identifies various guidelines and regulations relevant to sexual relations within Islam. The research findings highlight that appropriate sexual education has substantial potential in maintaining marital stability, given the importance of adhering to prescribed guidelines and prohibitions regarding sexual practices.The research underscores the importance of selecting the right timing for sexual intercourse, choosing a private and secure location to safeguard privacy, following proper etiquettes, and adopting recommended positions during sexual practices. Additionally, the study emphasizes the significance of mutual satisfaction between spouses as a crucial aspect of marital harmony.The research also reveals specific prohibitions, such as refraining from sexual relations during the wife\u27s menstruation and postpartum period, avoiding anal intercourse, and abstaining from sexual activities during discouraged times, such as the night of Eid al-Adha, the first night of marriage, mid-month, and the end of each lunar month. This research contributes significantly to a deeper understanding of sexual practices within Islam and underscores the necessity of accurate sexual education in preventing conflicts and divorce within marital relationships. The novelty of this study lies in the in-depth exploration of Syaikh Abu Muhammad At-Tihami\u27s perspectives on sexual practices within Islamic marriages, providing valuable insights within the context of Islamic matrimony.Penelitian ini bertujuan untuk menjelajahi peran krusial pendidikan seksual dalam mencegah perceraian dalam konteks pernikahan Islami. Ditenagai oleh urgensi memahami dan menerapkan panduan serta regulasi terkait hubungan seksual dalam Islam, metode penelitian melibatkan analisis mendalam terhadap "Qurrah al-‘uyūn" karya Syaikh Abu Muhammad At-Tihami dan referensi sekunder relevan. Keunikannya terletak pada pengungkapan pandangan Syaikh Abu Muhammad At-Tihami mengenai praktik seksual dalam pernikahan Islami. Hasil penelitian menyoroti bahwa pendidikan seksual yang tepat menjadi kunci stabilitas pernikahan, mempertimbangkan waktu, lokasi, etiket, dan pemilihan posisi yang dianjurkan. Keutamaan kepuasan bersama antara suami dan istri diidentifikasi sebagai elemen kunci dari harmoni pernikahan. Larangan khusus, seperti menahan diri selama menstruasi istri dan masa nifas, menghindari hubungan seks anal, dan menjauhi aktivitas seksual selama waktu-waktu yang tidak disarankan, juga diungkapkan. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan untuk memahami praktik seksual dalam Islam dan menyoroti peran penting pendidikan seksual yang akurat dalam mencegah konflik serta perceraian dalam hubungan pernikahan. Keunikan penelitian ini terletak pada penggabungan pendekatan analitis yang mendalam dengan perspektif Islam, khususnya pandangan Syaikh Abu Muhammad At-Tihami, sehingga memberikan wawasan berharga dalam konteks pernikahan Islami

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore