1,720,962 research outputs found

    PERGESERAN PARADIGMA KEISLAMAN NAHDLATUL ULAMA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENGEMBANGAN INSTITUSI PENDIDIKAN NAHDLATUL ULAMA

    Get PDF
    Tejo Waskito (1420411059) : Pergeseran Paradigma Keislaman Nahdlatul Ulama dan Implikasinya terhadap Pengembangan Institusi Pendidikan Nahdlatul Ulama. Kemunculan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di puncak pimpinan sekaligus figur lokomotif gerakan kultural NU merupakan titik awal dalam kilas balik sejarah NU. Kemunculan tokoh tersebut menandai terjadinya revolusi paradigmatik yang secara historis terjadi pada tahun 1984 ketika Muktamar NU di Situbondo, yakni mengembalikan posisi NU “kembali ke khittah 1926” setelah sebelumnya menjadi partai politik. Kembalinya NU ke khittah tidak hanya menempatkan NU dalam posisi semula. Tetapi, secara bersamaan khittah telah melahirkan paradigma baru dalam keislaman NU. Ini dibuktikan dengan kian menjamurnya wacana sosialintelektual (syu’un ijtima’iyyah) dikalangan generasi muda NU sebagai respon terhadap pergolakan itu, sehingga, pada gilirannya melahirkan sejumlah tuntutan pembaharuan. Baik pembaharuan di bidang pemikiran, arah gerakan, maupun pembaharuan di bidang institusi pendidikan. Karenanya, mencari kelindan antara pergeseran paradigma keislaman NU dengan pengembangan sejumlah institusi pendidikan NU menjadi kausalitas logis untuk melakukan penelitian. Secara mekanis, penelitian ini merupakan library research, menggunakan analisis data kualitatif dengan penyajian bersifat deskriptif-anaitik. Pendekatan yang digunakan adalah „historis-hermeneutis‟ dan „filosofis-rasionalistis‟. Selain mengkaji organisasi, penelitian ini juga melacak akar epistemologi pemikiran tokoh Abdurrahman Wahid dengan memposisikannya sebagai lokomotif gerakan kultural pemikiran keislaman NU. Untuk menghubungkan antara dimensi pemikiran, organisasi dan praktik pengembangan institusi pendidikan, peneliti memodifikasi rumusan pendekatan “generatif” Pierre Bourdieu mengenai praktik sosial dengan persamaan: “(Habitus X Modal) + Arena = Praktik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, pergeseran paradigma keislaman NU dilatar belakangi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal diakibatkan oleh terjadinya revolusi paradigmatik tahun 1984 di Situbondo yang ditandai oleh kembalinya NU “ke Khittah 1926”. Faktor eksternal meliputi: 1) Terjadi mobilitas sosial-intelektual di kalangan anak muda NU sehingga mengurangi isolasi warga NU; 2) Adanya tokoh sentral sebagai lokomotif gerakan kultur-sosial-intelektual di tubuh NU; 3) Proyek pengembangan pesantren melalui P3M yang melibatkan sejumlah tokoh NU; 4) Berdirinya IAIN hampir disetiap propinsi yang kemudian membuka peluang bagi santri untuk mendapatkan pendidikan tinggi sehingga mengurangi isolasi kaum santri. Kedua, bentuk pergeseran paradigma keislaman NU meliputi: pergeseran teologi NU, dari Aswaja sebagai doktrin menjadi manhaj al-fikr, pergeseran tradisi fikih dari qauly ke manhajy serta pergeseran politik NU dari politik struktural ke politik kultural. Ketiga: pergeseran paradigma keislaman NU ini kemudian berimplikasi pada kelahiran institusi baru pendidikan NU, seperti institusi pesantren (Tren-Sains), Perguruan Tinggi (UNU) dan institusi pendidikan pemikiran NU (eLSAD, LKiS, Lakpesdam NU)

    Konsep Tujuan Pendidikan Islam

    No full text
    Berbicara tentang tujuan pendidikan, tentunya tidak terlepas dari hakikat pendidikan itu sendiri. Seperti yang telah disinggung pada makalah sebelumnya, secara filosofis, pendidikan islam diartikan sebagai pendidikan yang berparadigma kesemestaan yaitu terciptanya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan kealaman secara integratif dalam rangka humanisasi dan liberalisasi manusia agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya sebagai khalifah di bumi sebagai bentuk pengabdiannya kepada Allah dan sesama manusia. Oleh sebab itu, pendidikan sebagai wahana dalam proses perubahan tingkah laku individu tentunya harus mempunyai tujuan, dimana tujuan merupakan suatu arah yang ingin dicapai

    Pendidikan Multikultural Perspektif Al-Quran

    No full text
    Islam sejatinya telah mengajarkan pemeluknya untuk menghargai perbedaan. Pada dasarnya, keragaman (etnis, budaya, agama dan lain-lain) manusia merupakan sunnatullah. Jauh sebelum pemikir orientalis mengenalkan pendidikan multikultural, Islam telah mengenal secara gamblang seperti dijelaskan dalam kitab sucinya (al-Qur’an). Pendidikan Multikultural bukanlah upaya untuk mencari sinkretisme baru, melainkan mencari titik temu diantara perbedaan-perbedaan latar belakang itu, dan menjadikan perbedaan menjadi sebuah rahmat bagi persatuan dan kesatuan umat, sehingga tercipta suatu simfoni Islam dalam bingkai nasionalisme dan pluralisme

    tejo waskito's Quick Files

    No full text
    The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity

    Pendidikan Multikultural Perspektif Al-Quran

    No full text
    Islam sejatinya telah mengajarkan pemeluknya untuk menghargai perbedaan. Pada dasarnya, keragaman (etnis, budaya, agama dan lain-lain) manusia merupakan sunnatullah. Jauh sebelum pemikir orientalis mengenalkan pendidikan multikultural, Islam telah mengenal secara gamblang seperti dijelaskan dalam kitab sucinya (al-Qur’an). Pendidikan Multikultural bukanlah upaya untuk mencari sinkretisme baru, melainkan mencari titik temu diantara perbedaan-perbedaan latar belakang itu, dan menjadikan perbedaan menjadi sebuah rahmat bagi persatuan dan kesatuan umat, sehingga tercipta suatu simfoni Islam dalam bingkai nasionalisme dan pluralisme

    Konsep Tujuan Pendidikan Islam

    No full text
    Berbicara tentang tujuan pendidikan, tentunya tidak terlepas dari hakikat pendidikan itu sendiri. Seperti yang telah disinggung pada makalah sebelumnya, secara filosofis, pendidikan islam diartikan sebagai pendidikan yang berparadigma kesemestaan yaitu terciptanya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan kealaman secara integratif dalam rangka humanisasi dan liberalisasi manusia agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya sebagai khalifah di bumi sebagai bentuk pengabdiannya kepada Allah dan sesama manusia. Oleh sebab itu, pendidikan sebagai wahana dalam proses perubahan tingkah laku individu tentunya harus mempunyai tujuan, dimana tujuan merupakan suatu arah yang ingin dicapai

    Konsep Tujuan Pendidikan Islam

    No full text
    Berbicara tentang tujuan pendidikan, tentunya tidak terlepas dari hakikat pendidikan itu sendiri. Seperti yang telah disinggung pada makalah sebelumnya, secara filosofis, pendidikan islam diartikan sebagai pendidikan yang berparadigma kesemestaan yaitu terciptanya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan kealaman secara integratif dalam rangka humanisasi dan liberalisasi manusia agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya sebagai khalifah di bumi sebagai bentuk pengabdiannya kepada Allah dan sesama manusia. Oleh sebab itu, pendidikan sebagai wahana dalam proses perubahan tingkah laku individu tentunya harus mempunyai tujuan, dimana tujuan merupakan suatu arah yang ingin dicapai

    tejo waskito's Quick Files

    No full text
    The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore