196,590 research outputs found

    Profil Darah Ikan Nila Nirwana (Oreochromis niloticus) dipelihara pada Kolam Sistem Akuaponik dengan Padat Tebar Berbeda

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh padat tebar yang berbeda terhadap profil darah Nila Nirwana (Oreochromis niloticus) dalam sistem akuaponik. Parameter profil darah yang diamati meliputi total eritrosit, hemoglobin, hematokrit, dan glukosa darah. Penelitian dilakukan selama 40 hari dengan dua perlakuan padat tebar, yaitu 30 ekor/m³ dan 50 ekor/m³ dengan rancangan penelitian menggunakan metode eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat tebar berpengaruh signifikan terhadap kadar eritrosit, hemoglobin, dan hematokrit, dimana nilai pada padat tebar 30 ekor/m³ lebih tinggi dibandingkan padat tebar 50 ekor/m³.Total eritrosit padat tebar (30 ekor/m3); 1,76 ± 0,41×106 sel/mm3 (50 ekor/m3); 1,3545 ± 0,28×106 sel/mm3, hematokrit sebesar 24,9 ± 2,2 % (30 ekor/m3); 22,14 ± 2,9% (50 ekor/m3), haemoglobin sebesar 7,56 ± 0,78 g/dL (30 ekor/m3); 6,75 ± 0,84 g/dL (50 ekor/m3). Kadar glukosa darah juga menunjukan tidak ada perbedaan yang signifikan. Peningkatan pada padat tebar yang lebih tinggi, yang mengindikasikan adanya stres. Glukosa darah padat tebar (30 ekor/m3) 124,4 ± 47,1 mg/dL; 161,2 ± 56,3 mg/dL (50 ekor/m3). Seluruh parameter darah masih berada dalam kisaran normal, namun padat tebar yang lebih rendah memberikan kondisi darah yang lebih stabil. Oleh karena itu, padat tebar yang sesuai diperlukan untuk mendukung kesehatan ikan dan keberhasilan budidaya dalam sistem akuaponik

    Anak M Nasir tak malu tebar roti canai

    No full text
    Kuala Kangsar: Pemegang Diploma Sains Komputer daripada sebuah universiti awam, Nor Aishah Mohd Nasir tidak pernah malu menjadi penebar roti canai di kedai makan diusahakannya di persisiran Jalan Sultan Iskandar Shah, berdekatan Taman Mayang Sari di sini

    Kinerja Produksi Ikan Koridoras (Corydoras paleatus) pada Teknologi Bioflok C/N 12 dengan Padat Tebar Berbeda.

    No full text
    Ikan hias merupakan komoditas perikanan yang menjadi andalan baru dalam sektor budidaya perairan non konsumsi. Penelitian ini bertujuan menentukan kinerja produksi ikan koridoras (Corydoras paleatus) yang dipelihara pada teknologi bioflok C/N rasio 12 dengan padat tebar berbeda. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan tiga kali ulangan. Penelitian ini meliputi padat tebar perlakuan A (1 000 ekor m-2), perlakuan B (3 000 ekor m-2), dan perlakuan C (5 000 ekor m-2). Ikan Corydoras paleatus yang digunakan memiliki panjang rata-rata 2.56±0.09 cm dan bobot rata-rata 0.65±0.13 g. Ikan dipelihara selama 50 hari menggunakan teknologi bioflok C/N 12. Penelitian menunjukkan pada padat tebar 5 000 ekor m-2 memiliki hasil terbaik yaitu dengan kelangsungan hidup 72.00 ± 2.83 %, laju pertumbuhan spesifik 2.62 ± 0.13 %, serta hasil analisis usaha dengan keuntungan terbesar yaitu Rp 188 421 078

    Pengaruh Padat Tebar Tinggi terhadap Pertumbuhan Ikan Mas (Cyprinus Carpio L.) di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara

    No full text
    Ikan mas adalah salah satu jenis ikan konsumsi yang palingdiminati. Budidaya intensif dilakukan dengan mengoptimalkan padat penebaranmenggunakan sistem padat tebar tinggi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh padat tebar tinggi terhadap kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan ikan untuk menentukan padat tebar maksimal ikan mas dengan ukuran panjang rata-rata10 cm dan bobot rata-rata 1,0 gram. Ikan mas yang digunakan sebanyak150 ekor. Penelitian dilakukan di Kolam Budidaya Nelayan Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara padabulan Juli-Agustus 2021. Parameter yang diamati antara lain: kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan bobot harian. Rancangan percobaan yang digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan yaitu padat tebar 50 ekor/m³ (P1), 100 ekor/m³ (P2) dan 150 ekor/m³ (P3) dan diulang 3 kali. Perlakuan P1 menunjukkanlaju pertumbuhan bobot harian dan laju pertumbuhan panjang harian terbaik yaitu sebesar 3,51%. Perlakuan P3 menunjukkan laju pertumbuhan bobotharian dan laju pertumbuhan panjang harian terendah yaitu sebesar 3,15%. Padat tebar berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan panjang harian dan laju pertumbuhan bobot harian namun tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup. Hasil uji lanjut Tuckey menunjukkan perlakuan P3 berbedanyata dengan P1 namun P1 dan P3 tidak berbeda nyata dengan P2

    Inventarisasi Ektoparasit Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang Dipelihara dengan Padat Tebar Berbeda pada Kolam Akuaponik

    No full text
    Padat tebar memengaruhi tingkat infeksi ektoparasit ikan. Akuaponik dapat menjaga kualitas air dan memanfaatkan limbah pakan secara efisien sehingga menekan perkembangan ektoparasit. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui jenis ektoparasit serta nilai prevalensi, intensitas, dan dominansi pada ikan nila (Oreochromis niloticus) yang dipelihara dengan padat tebar berbeda dalam sistem akuaponik. Metode penelitian ini menerapkan metode eksperimental menggunakan dua perlakuan padat tebar yaitu 30 dan 50 ekor/m3 dan teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Jenis ektoparasit yang ditemukan adalah Trichodina sp. dan Monogenea. Nilai prevalensi ektoparasit Trichodina sp. dan Monogenea pada padat tebar 30 ekor/m3 dan 50 ekor/m3 berturut-turut berkisar antara 5-50% dan 20-70%. Nilai intensitas ektoparasit Trichodina sp. dan Monogenea pada pada padat tebar 30 ekor/m3 dan 50 ekor/m3 berturut-turut berkisar antara 1-1,5 ind/ekor dan 1,4-1,8 ind/ekor, yang termasuk dalam kategori low. Hasil analisis Mann-Whitney menunjukkan bahwa perbedaan padat tebar ikan tidak berpengaruh signifikan terhadap intensitas ektoparasit. Trichodina sp. merupakan ektoparasit paling dominan dengan nilai 100% pada padat tebar 30 ekor/m3 dan 76,92% pada 50 ekor/m3. Kualitas air pada kolam penelitian masih dalam kisaran standar baku mutu yaitu suhu 25,4-25,7°C, pH 7,1-7,3, dan DO 5,1-5,4 mg/L. Padat tebar 50 ekor/m³ aman diterapkan dalam budidaya ikan nila akuaponik

    Efektivitas Sistem Akuaponik untuk Budidaya Pendederan Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) dengan Padat Tebar Berbeda

    No full text
    Penurunan kualitas air pemeliharaan ikan dalam sistem tertutup disebabkan oleh limbah metabolisme ikan maupun sisa pakan. Hal tersebut diupayakan diatasi dengan penanaman tanaman yang dapat memanfaatkan limbah budidaya seperti pada sistem akuaponik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis efektivitas sistem akuaponik terhadap produksi terbaik pendederan ikan nilem dengan padat tebar berbeda dikombinasikan dengan tanaman pakcoy. Penelitian ini dilaksanakan dari Maret sampai April 2019 di Laboratorium Sistem Teknologi Produksi dan Manajemen Akuakultur Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Perlakuan yang diuji adalah padat tebar ikan nilem sebanyak 100 ekor m-2, 150 ekor m-2, 200 ekor m-2 pada wadah ikan dengan jumlah tanaman pakcoy sebanyak 30 dengan bobot ratarata awal tanaman 1,68±0,70 g, bobot rata-rata akar 0,25±0,15 g. Air dialirkan selama 24 jam secara terus menerus dari wadah ikan ke unit filter dengan menggunakan pompa berkecepatan 700 L jam-1 dan dari unit filter menuju bedengan tanaman dengan pompa berkecepatan 3 000 L jam-1. Sistem akuaponik dapat digunakan untuk pendederan ikan nilem pada padat tebar yang tinggi. Kinerja produksi ikan nilem terbaik diperoleh pada perlakuan padat tebar 200 ekor m-2

    KORELASI PADAT TEBAR DAN DEBIT AIR DALAM TEKNIK PENDEDERAN BENIH UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) SECARA INTENSIF

    No full text
    Riset ini dilaksanakan untuk mengetahui korelasi antara padat tebar dan debit air dalam teknik pendederan udang galah. Riset dilakukan dengan menggunakan bak ukuran 4 m x 2 m x 0,75 m yang mempunyai sistem air mengalir. Perlakuan yang diaplikasikan adalah padat tebar dalam tiga tingkatan yaitu 250, 500, dan 750 ekor/m2 yang dikombinasikan dengan tiga tingkat debit air yaitu 0,010; 0,020; dan 0,030 liter/detik/m2. Setiap perlakuan dilakukan dengan 3 ulangan. Udang galah dalam penelitian ini adalah PL-44 dengan ukuran 0,04 g. Pendederan udang galah dilaksanakan selama 40 hari. Hasil riset menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara variabel padat tebar dan debit air. Variabel debit air memberikan kontribusi sebesar 57% dan variabel padat tebar mempunyai kontribusi 18% dalam mendukung sintasan benih udang galah. Hasil terbaik dicapai oleh perlakuan padat tebar 500 ekor/m2 dan debit air 0,030 liter/detik/m2 dengan laju pertumbuhan harian udang mencapai rata-rata 2,84% dan sintasan sebesar 89,6% selama 40 hari masa pemeliharaan.The research aim was to evaluate the correlation between fry density and water flow rate in the nursery of giant prawn. The experiment was conducted in concrete tanks. The treatment consisted of three levels, 250, 500, and 750 fry/m2 and combination of three levels of water flow, i.e. 0.010, 0.020, and 0.030 litre/second/m2. Three replications were used in each treatments. The prawn fry were PL-14 with 0.04 g of average weight. The research was conducted for 40 days of post-larvae rearing. Result of this experiment showed that there was interaction between density and water flow. The data analysis indicated that there were 57% contribution of water flow and 18% of fry density to survival rate of giant prawn. The best result was showed by the density of 500 fry/m2 and water flow of 0.030 litre/second/m2. The specimen have specific growth rate of 2.84% and survival rate of 89.6% for 40 days of rearing

    Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Nila Nirwana (Oreochromis niloticus) pada Kolam Sistem Akuaponik dengan Padat Tebar yang Berbeda

    No full text
    Pertumbuhan merupakan proses biologis yang ditandai peningkatan ukuran tubuh dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan serta manajemen budidaya, termasuk kelangsungan hidup (SR) yang menjadi indikator keberhasilan budidaya. Penelitian pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila nirwana (Oreochromis niloticus) pada kolam sistem akuaponik dengan padat tebar yang berbeda bertujuan untuk mengetahui pengaruh padat tebar ikan nila terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup dalam sistem akuaponik. Penelitian dilakukan selama 42 hari dengan metode eksperimental menggunakan dua kepadatan tebar: 30 ekor/m³ (P1) dan 50 ekor/m³ (P2). Parameter utama yang diamati meliputi pertumbuhan berat dan panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik, kelangsungan hidup (SR), dan rasio konversi pakan. Parameter pendukung berupa kualitas air yaitu pH, suhu, oksigen terlarut (DO), dan TDS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat tebar 30 ekor/m³ menghasilkan pertumbuhan terbaik, yaitu berat dan panjang mutlak sebesar 16,25±1,56 g dan 4,13±0,35 cm, serta laju pertumbuhan spesifik 4,40±0,51%/hari. Kelangsungan hidup dan FCR yang dihasilkan pada P1 juga lebih optimal yaitu 72,77% dan 0,57. Kualitas air pada kedua perlakuan tetap dalam kisaran optimal budidaya. Temuan ini menegaskan bahwa padat tebar 30 ekor/m³ lebih optimal dalam sistem akuaponik Nutrient Film Technique (NFT) karena mampu mendukung pertumbuhan dan efisiensi budidaya tanpa menurunkan kualitas air secara signifikan

    Profil Kualitas Air, Respon Stres, dan Kinerja Produksi Pendederan Lobster Pasir Panulirus homarus dengan Padat Tebar yang Berbeda.

    No full text
    Lobster pasir (Panulirus homarus) di Indonesia merupakan komoditas perikanan unggulan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dalam perdagangan domestik maupun internasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air, respon stres, dan kinerja produksi pendederan lobster pasir (P. homarus) pada padat tebar yang berbeda. Penelitian ini terdiri dari tiga perlakuan dan dua ulangan. Perlakuan padat tebar yang digunakan yaitu 15 ekor m-2 (A), 20 ekor m-2 (B), dan 25 ekor m-2 (C). Lobster dengan bobot 88,13±3,73 g dan panjang total 122,51±2,14 mm dipelihara dalam bak plastik berukuran 1×1×1 m selama 30 hari. Parameter yang diuji meliputi pertumbuhan bobot dan panjang, tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, rasio konversi pakan, hasil produksi, kualitas air (suhu, DO, salinitas, pH, amonia), dan respon stres total haemocyte count (THC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil kualitas air tidak berbeda antar perlakuan padat tebar yang diberikan. Perlakuan terbaik pada padat tebar tertinggi 25 ekor m-2 dengan hasil respon stres yang lebih rendah ditinjau dari nilai THC, serta tingkat kelangsungan hidup dan hasil produksi

    Pengaruh Perbedaan Kontruksi Jala Tebar Terhadap Hasil Tangkapan Di Telaga Ngebel Kabupaten Ponorogo.

    No full text
    Telaga Ngebel merupakan danau yang terletak di Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Kegiatan perikanan di Telaga Ngebel terdiri dari sektor perikanan budidaya dan perikanan tangkap. Alat tangkap yang sering digunakan dalam sektor perikanan tangkap oleh nelayan Telaga Ngebel adalah alat tangkap jala tebar. Nelayan Desa Ngebel membangun jala tebar secara tradisional tanpa proses rancang bangun yang benar. Mereka biasanya membuat alat tangkap berdasarkan pengetahuan turun temurun dari keluarganya. Hasilnya kontruksi jala tebar di Telaga Ngebel sangat bervariasi. Alat tangkap jala tebar yang dioperasikan pada perairan Telaga Ngebel oleh masyarakat setempat rata-rata memiliki 2 alat tangkap dengan ukuran mata jaring (mesh size) yang berbeda yaitu antara 2, 54 cm dan 4,445 cm . Dengan adanya permasalahan variasi ukuran alat tangkap jala tebar di telaga ngebel ini mengakibatkan adanya keberagaman variasi pada hasil tangkapan dalam ukuran dan beratnya. Hal ini bisa mempengaruhi konsistensi hasil tangkapan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2024 hingga Maret 2024 di Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental. Setiap alat tangkap dengan mesh size yang berbeda terdapat ulangan sebanyak 16 kali trip. Data sekunder yang diambil pada penelitian ini meliputi : literatur-literatur penunjang pustaka yang berasal dari bukubuku maupun jurnal melalui internet. Data primer yang diambil yakni pengambilan data komposisi jenis dan jumlah hasil tangkapan yang meliputi catatan hasil tangkapan berupa jenis ikan yang tertangkap, jumlah ikan yang tertangkap dalam individu (ekor), ukuran tubuh ikan (cm) dari masing-masing alat tangkap jala tebar. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan uji normalitas data, uji homogensitas data, uji one way anova serta uji analisis kurva selektivitas alat tangkap jala tebar. Dari hasil analisis uji one way anova diperoleh hasil bahwa perbedaan ukuran mata jaring pada alat tangkap jala tebar di Telaga Ngebel tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan. Hasil tangkapan dari kedua ukuran mata jaring yaitu mesh size 2,54 cm dan 4,445 cm didominasi oleh jenis ikan hampala (Hampala macrolepidota). Hasil tangkapan paling dominan pada ukuran mata jaring (mesh size) 2,54 cm yaitu ikan tertangkap pada kelas panjang 14.25-16.19 cm sebanyak 47 ekor. Sedangkan hasil paling dominan pada ukuran mata jaring (mesh size) 4,445 cm yaitu ikan tertangkap pada kelas panjang 16.20-18.14 cm sebanyak 61 ekor. Ukuran mata jaring 2,54 cm memiliki selektivitas optimal pada ikan hasil tangkapan dengan panjang 12 cm. Sementara pada mesh size 4,445 cm memiliki selektivitas optimal pada ikan hasil tangkapan dengan panjang 21 c
    corecore