1,720,962 research outputs found
Evaluasi Jaringan Irigasi Tersier Daerah Irigasi Pasir Eurih Kabupaten Pandeglang Berbasis Analisis Sifat Fisik Tanah.
Evaluasi irigasi dilakukan untuk menilai suatu jaringan irigasi agar dapat diketahui fungsi irigasi bekerja dengan baik atau tidak. Efisiensi dan efektifitas merupakan salah satu ciri pengelolaan dan pemeliharaan irigasi yang baik, sehingga bisa digunakan untuk mengevaluasi irigasi. Evaluasi irigasi mencakup beberapa aspek, diantaranya: aspek teknis, legalitas, sosial, dan lingkungan. Penelitian ini hanya melakukan evaluasi pada aspek teknis dan sosial. Sifat fisik tanah berhubungan erat dengan pelumpuran (puddling) dan efisiensi penggunaan air irigasi. Sifat fisik tanah sangat menentukan kesesuaian suatu lahan dijadikan lahan sawah. Jika lahan akan disawahkan, sifat fisik yang sangat penting untuk dinilai adalah tekstur, struktur, drainase, permeabilitas, dan tinggi muka air tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi saluran irigasi tersier DI Pasir Eurih, mengidentifikasi sifat fisik tanah yang berkaitan dengan efisiensi dan efektifitas jaringan irigasi, serta mengetahui aspek teknis dan sosial yang mempengaruhi evaluasi DI Pasir Eurih. Parameter yang diukur dilapang diantaranya luas penampang basah, dan kecepatan aliran saluran. Selain itu juga dilakukan wawancara kepada pengurus P3A dan Kelompok Tani. Parameter yang diukur di laboratorium diantaranya bobot isi, bahan organik, distribusi ruang pori, porositas total, permeabilitas, dan tekstur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah sawah memiliki bahan organik, porositas total, pori drainase cepat, permeabilitas, dan kandungan tekstur debu yang rendah, sedangkan tanah sawah memiliki bobot isi, pori drainase lambat dan kandungan klei yang tinggi. Sifat fisik yang berkaitan dengan efisiensi irigasi adalah tekstur, distribusi ruang pori, dan permeabilitas. Efisiensi saluran irigasi tersier sebesar 78.64% dan efektifitas saluran irigasi tersier sebesar 80.65%. Adapun faktor yang mempengaruhi efisiensi dan efektifitas irigasi yaitu pengaliran air ke petakan sawah yang tidak teratur, kerusakan dan keretakan pada dinding saluran, gangguan aliran air pada saluran irigasi akibat vegetasi di sepanjang saluran, dan banyaknya endapan pada saluran irigasi tersier. Peran dari P3A, Kelompok Tani dan masyarakat secara partisipatif dibutuhkan dalam pemeliharaan, perbaikan dan rehabilitasi saluran irigasi dengan metode patisipatif dan melakukan operasi dan pemeliharaan secara berkala
Model Penyediaan Air Baku Berkelanjutan di DAS Ciliman Provinsi Banten
DAS Ciliman merupakan DAS terbesar kedua dan menjadi bagian dari
Wilayah Sungai Ciliman-Cibungur, memiliki potensi Sumberdaya Air yang sangat
strategis yang salah satunya dimanfaatkan untuk mengairi Daerah Irigasi Ciliman
seluas 5.423 hektar yang merupakan salah satu lahan sawah beririgasi teknis yang
terbesar di Kabupaten Pandeglang dan penyumbang lumbung padi nasional. Selain
itu, pada DAS ini juga dimanfaatkan untuk pengembangan kawasan ekonomi
khusus tanjung lesung, pembangunan bandara panimbang dan jalan tol serangpanimbang.
Mengingat pesatnya pembangunan disekitar DAS Ciliman harus
diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan airnya.
Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk merumuskan rancangan model
penyediaan air baku berkelanjutan pada DAS Ciliman, Provinsi Banten digunakan
beberapa metode analisis, salah satunya yang paling mendasar adalah analisis
neraca air yang merupakan perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan air di
suatu wilayah untuk melihat kapasitas sumber daya airnya. Perhitungan
ketersediaan air permukaan dilakukan pembangkitan data hujan menjadi data debit
menggunakan metode Mock dengan memperhatikan adanya titik-titik pengambilan
dengan total kebutuhan air di wilayah yang dilayaninya, dengan belum
memperhitungkan adanya optimasi pemanfaatan jika terjadi defisit air. Selanjutnya
dilakukan optimasi pemanfaatan alokasi air menggunakan metode WEAP karena
walaupun Sungai Ciliman terhitung tidak pernah kering, namun dari perhitungan
debit diketahui adanya 3 (tiga) bulan yang mengalami defisit air di musim kemarau
yaitu Juli, Agustus dan September, sehingga tidak semua kebutuhan yang beragam
pada DAS Ciliman dapat terpenuhi. WEAP ini menghasilkan rekomendasi berupa
pengembangan prasarana bendungan dengan 3 (tiga) alternatif bendungan dengan
kapasitas tampungan dan ketinggian yang berbeda untuk memenuhi berbagai
kepentingan, dan diharapkan dengan adanya pembangunan bendungan ini dapat
lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan.
Perhitungan neraca air dan alokasi air menggunakan metode WEAP
walaupun secara matematis dapat memprediksi terpenuhinya pemenuhan
penyediaan air baku, namun tidak dapat memprediksi keberlanjutan multidimensi
pada DAS Ciliman. Karena itu, dilakukan analisis MDS menggunakan rapfish
modifikasi untuk mengetahui keberlanjutan multi dimensi dari aspek
ekologi/lingkungan, sosial, ekonomi, kelembagaan serta infrastruktur. Diperoleh
hasil bahwa indeks keberlanjutan DAS Ciliman dikategorikan kurang berkelanjutan
dengan nilai indeks 45,78% sehingga dilakukan pemodelan terhadap aspek yang
dikategorikan kurang berkelanjutan, menggunakan metode sistem dinamik untuk
melihat kecenderungan terhadap perilaku sistem dimasa yang akan datang
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.</p
- …
