1,721,979 research outputs found
Tatsu and Chiyoko Saito
A photograph of Tatsu and Chiyoko or Chiyono Saito. Tatsu Saito is Tanjiro Saito's sister-in-law and Chiyoko is his nephew's wife. They wear kimono and stand in a garden. A photo from: Saito and Ogawa family yellow photo album (csudh_sai_3001), page 44
ANALISIS MAKNA VERBA TATSU SEBAGAI POLISEMI DALAM BAHASA JEPANG
Dalam setiap bahasa termasuk bahasa Jepang, sering kali kita temui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata dengan kata lainnya. Salah satu hubungan kemaknaan tersebut adalah polisemi. Polisemi selain berdampak positif juga berdampak negatif. Disebut negatif karena akan mengakibatkan kesalahan dalam penerimaan informasi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna-makna apa saja yang terkandung dalam verba tatsu, apa makna dasar yang terkandung dalam verba tatsu, dan hubungan antarmakna dalam verba tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif. Data berupa jitsurei dari berbagai sumber dikumpulkan, disusun dan kemudian diklasifikasikan, dianalisis dan dilaporkan.
Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam verba tatsu yaitu: berdiri (keadaan vertikal/tegak lurus); berdiri (bangkit dari keadaan duduk atau berbaring); mengepul/berterbangan; muncul/timbul ke permukaan; berada dalam suatu posisi atau keadaan; tertancap; meninggalkan suatu tempat. Beranjak/berangkat; melakukan tindakan; tertutup; tersiar/tersebar; terselenggara; datang (musim); ditetapkan; masuk akal; hasil dari pembagian; mendidih; diakui. Selain itu mengandung makna kisasn, yaitu: marah; gelisah; berguna; merinding; pandai; mencolok; terselamatkan dan tidak cocok.
Makna dasar dari verba tatsu yaitu Berdiri (keadaan vertikal/tegak lurus). Sedangkan hubungan antar makna dari verba tatsu dilihat dari 3 majas yaitu: hubungan metonimi dengan makna 2, 7, 8, 14 dan 16 sedangkan makna 3,4,5,6,9,10,11,12,13,15 dan 17 memiliki hubungan metafora dengan makna dasar
Maskulinitas shufu yang direpresentasikan tokoh Tatsu dalam manga Gokushufudou karya Oono Kousuke
Jepang merupakan negara yang menganut sistem patriarki sejak abad ke-5.
Pada zaman Meiji (1868-1912), Jepang memulai modernisasinya dari negara
agraris menjadi negara industrial. Transformasi tersebut menyebabkan kemunculan
sarariman (pekerja kerah putih) yang merupakan simbol maskulinitas pada saat itu.
Namun, seiring perkembangan zaman muncul istilah baru, yaitu shufu dan ikumen
yang ditujukan bagi seorang ayah yang ikut serta dalam pekerjaan domestik.
Keberadaan ikumen mempengaruhi persepsi masyarakat Jepang terhadap bapak
rumah tangga atau shufu dimana dalam image keluarga patriarki peran seorang ayah
adalah breadwinner. Maka dari itu, penulis akan menjawab rumusan masalah dalam
penelitian ini, yaitu bagaimana representasi maskulinitas dari shufu.
Dalam penelitian ini, penulis menganalisis representasi maskulinitas yang
terdapat pada tokoh Tatsu dalam manga Gokushufudou. Jenis penelitian ini adalah
kualitatif dengan metode deskriptif. Untuk menganalisis data digunakan teori
maskulinitas Beynon dan stereotype maskulinitas Cejka dan Eagly.
Berdasarkan hasil penelitian, tokoh Tatsu mampu merepresentasikan lima
karakteristik dari gagasan maskulinitas. Dari segi fisik, Tatsu memiliki bentuk
badan yang kekar serta tenaga fisik yang kuat. Dari segi sifat, Tatsu memiliki
karakteristik berupa agresif dan competitive. Dari segi kognitif, Tatsu mampu
menyelesaikan masalah dalam kondisi apapun. Berdasarkan karakteristik tersebut
dapat disimpulkan bahwa tokoh Tatsu dapat dikatakan sebagai sosok maskulin serta
mampu merepresentasikan nilai-nilai maskulinitas. Peran Tatsu sebagai shufu dapat
diterima oleh pihak keluarga istrinya. Tatsu sebagai shufu mengubah image lakilaki Jepang dimana ia bekerja di area domestik serta memiliki hubungan yang erat
dengan keluarganya seperti memberikan perhatian penuh pada istrinya. Tatsu juga
menghormati lawan jenisnya dari sudut pandangnya sebagai seorang shuf
ANALISIS VERBA KIRU, TATSU, DAN KIZAMU SEBAGAI SINONIM DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG
Sinonim dalam bahasa Jepang disebut ruigigo. Ruigigo terdapat dalam setiap kelas kata, salah satunya adalah verba. Contoh verba yang bersinonim dalam bahasa Jepang adalah verba kiru, tatsu, dan kizamu. Dalam bahasa Indonesia, ketiga verba tersebut sama-sama bermakna ‘memotong’. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode analisis deskriptif yang menganalisis makna melalui contoh kalimat dari berbagai sumber. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persamaan dan perbedaan penggunaan dan makna antara verba kiru, tatsu, dan kizamu pada kalimat bahasa Jepang, serta untuk mengetahui apakah ketiga verba tersebut dapat saling menggantikan dalam kalimat bahasa Jepang atau tidak. Hasil dari penelitian ini diketahui ketiga makna ini sama-sama menunjukkan makna ‘memotong’. Perbedaannya adalah verba kiru dapat digunakan untuk menunjukkan kegiatan memotong secara umum, sedangkan verba tatsu digunakan untuk menunjukkan kegiatan memotong untuk dijadikan pakaian, dan verba kizamu menunjukkan kegiatan memotong untuk dijadikan potongan yang kecil. Diketahui pula verba kiru dapat menggantikan fungsi verba tatsu dan kizamu. Sedangkan verba tatsu dan kizamu tidak
166. Tatsu-no-kuchi no hōnan
Iwao Seiichi, Iyanaga Teizō, Ishii Susumu, Yoshida Shōichirō, Fujimura Jun'ichirō, Fujimura Michio, Yoshikawa Itsuji, Akiyama Terukazu, Iyanaga Shōkichi, Matsubara Hideichi. 166. Tatsu-no-kuchi no hōnan. In: Dictionnaire historique du Japon, volume 19, 1993. Lettre T. p. 60
Chiyoko or Chiyono and Tatsu Saito
A photograph of Chiyoko or Chiyono Saito and her mother-in-law, Tatsu Saito in kimono. They are Tanjiro Saito's relatives in Japan. A photo from: Tanjiro Saito small photo album of trip to Japan (csudh_sai_5001), page 7
MAKNA GRAMATIKAL VERBA ?? (TATSU) DAN ??? (TATERU) DALAM BAHASA JEPANG
Verba merupakan unsur yang penting dalam kalimat, terutama dalam bahasa Jepang karena verba menyatakan suatu aktivitas atau keadaan dalam suatu kalimat. Suatu verba ketika digunakan dalam suatu kalimat akan bermakna gramatikal akibat dari menyesuaikan konteks dan proses kegramatikalan. Bahkan verba tersebut dapat menjadi suatu verba baru dan memiliki makna baru ketika digabungkan dengan verba lain. Sehingga memahami suatu kalimat akibat hal tersebut bagi mahasiswa pembelajar bahasa Jepang merupakan hal yang sulit.Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan empat rumusan masalah yaitu, 1) makna gramatikal dari verba ?? (tatsu) yang berdiri sendiri, 2) makna gramatikal dari verba ??? (tateru) yang berdiri sendiri, 3) makna fukugoudoushi ?? (tatsu), dan 4) makna gramatikal fukugoudoushi ??? (tateru) dalam bahasa Jepang.Rumusan masalah pertama dan kedua dijawab dengan konsep gabungan dari Bunkachou (1971) dan Koizumi, dkk (1998). Sedangkan untuk rumusan masalah ketiga dan keempat dijawab dengan konsep gabungan dari Himeno (1999) dan Niimi (1987) .Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan metode yang digunakan ialah deskriptif kualitatif. Data dari penelitian ini ialah berupa kalimat yang mengandung verba ?? (tatsu) dan??? (tateru), baik yang berdiri sendiri maupun yang telah digabungkan dengan verba lain (fukugoudoushi). Dari hasil analisis dan pembahasan dapat diperoleh hasil sebagai berikut.Pertama, makna yang dihasilkan dari verba ?? (tatsu) yang terdapat dalam sumber data, yakni 1) keberadaannya pada posisi atau keadaan lurus secara vertikal; 2) meninggalkan suatu tempat; 3) sesuatu yang menakjubkan dengan jelas terjadi; 4) tersebar ke dunia; 5) dapat melakukan suatu hal atau keperluan/urusan dengan baik; 6) menempati pangkat atau posisi yang memiliki peran; 7) suatu hal yang pasti dan masuk akal; dan 8) melanjutkan suatu kondisi.Kedua, makna verba ??? (tateru) dalam sumber data yakni, , 1) menjadikan suatu hal dalam keadaan lurus secara vertikal; 2) menyebarkan atau menunjukkan suatu hal kepada dunia; 3) memberikan posisi atau tingkatan pada sesuatu yang memiliki suatu peran; 4) menutup pintu dan lain sebagainya; 5) terjadi suatu hal yang hebat; 6) suatu hal yang spesial dan dipergunakan; dan 7) memikirkan sesuatu dan menjadikan sesuatu menjadi nyata dan baru.Ketiga, makna fukugoudoushi ?? (tatsu) yang terdapat dalam sumber data terdiri dari makna 1) berdiri tegak/berdiri, 2) meluapkan perasaan; dan 3) suatu kejadian/naik.Keempat, makna dari fukugoudoushi ??? (tateru) yang terdapat dalam sumber data terdiri dari makna 1) tegak lurus (penetapan); 2) penghargaan, pilihan; 3) pembinaan, pencapaian; dan 4) penekanan, besar/penuh.Kata Kunci: makna gramatikal, verba, fukugoudoushi
??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????1) ????????????????????2)?????????????????3)??????????????????4)???????????????????????????????????????????????????1971??????1998?????????????????????????????????1999???????1987??????????Makna Gramatikal Verba ?? (Tatsu) dan ??? (Tateru) dalam Bahasa Jepang??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????1???????????.????????2????????3???????????????4?????????5??????????????????6???????????????????7??????????????8??????????????????????????????????????1???????????????2????????3???????????.????????4?????????5?????????????6????????????????7????????????????????????????????????????????????????1??????.??????2?????????3???.??????????????????????????????1????????2???.???3???.???4???.?????????????????????????????
TATSU DAN BERDIRI SEBAGAI POLISEMI: Kajian Linguistik Kognitif
Penelitian ini mengkaji kata kerja tatsu dalam bahasa Jepang dan kata kerja berdiri dalam bahasa Indonesia sebagai polisemi. Kajian yang dibahas adalah kajian semantik berdasarkan sudut pandang linguistik kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna dasar dan makna perluasan kata tatsu dan kata berdiri, serta untuk mendeskripsikan hubungan antara makna dasar dan makna perluasan dari kedua kata tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data diambil dari korpus bahasa, untuk bahasa Jepang di ambil dari Koran online seperti Yomiuri Shinbun (YS) dan Asahi Shinbun (AS), kemudian diambil dari novel Bahasa Jepang seperti Noruwei no Mori (1987), Kimi no Nawa (2016), Just Because (2017) dan Otomodachi Kara Onegaishimasu (2012). Sedangkan kalimat bahasa Indonesia diambil dari koran online seperti Jawa pos (JP). Serta diambil dari novel Laskar pelangi (2007) dan Laut Bercerita (2017). Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa makna dasar dari kata tatsu adalah berdiri (tegak lurus secara vertikal), sedangkan makna perluasannya adalah bangkit, naik dari bawah ke atas, menempatkan diri pada posisi atau jabatan tertentu, sesuatu menjadi terasa oleh panca indra, sesuatu hal yang diputuskan, berguna, dan terakhir yaitu kehilangan ketenangan dan menjadi marah. Melalui hubungan antara makna dasar dan makna perluasan kata tatsu, terdapat lima makna yang meluas secara metafora, dan 2 makna meluas secara metonimi. Kemudian, makna dasar dari kata berdiri adalah berdiri (bersikap tegak dengan bertumpu pada kaki), sedangkan makna perluasannya adalah tegak (tidak terbaring), bangkit, telah ada atau telah dijadikan, bertumpu atau mandiri, dan berada (pada pihak, golongan, dan sebagainya). Melalui hubungan antara makna dasar dan makna perluasan kata berdiri, terdapat tiga makna meluas secara metafora, dan dua makna meluas secara metonimi. Penelitian ini hanya mendeskripsikan satu per satu makna dari verba tatsu dan verba berdiri tanpa melakukan perbandingan antara kedua bahasa. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang lebih spesifik dan terfokus, seperti penelitian kontrastif, untuk mengetahui persamaan dan perbedaan antara verba tatsu dan verba berdiri.
This study is research about verb tatsu in Japanese and the verb berdiri in Indonesian as polysemy. The study discussed is a semantic analysis based on a cognitive linguistic perspective. The purpose of this research is to describe the basic meanings and extended meanings of the words tatsu and berdiri, as well as to describe the relationship between their basic and extended meanings. This research uses a qualitative descriptive research method. Data sources were taken from language corpora; for Japanese, data were taken from online newspapers such as Yomiuri Shinbun (YS) and Asahi Shinbun (AS), and from Japanese novels such as Noruwei no Mori (1987), Kimi no Nawa (2016), Just Because (2017), and Otomodachi Kara Onegaishimasu (2012). For Indonesian, sentences were taken from online newspapers such as Jawa Pos (JP), as well as from novels Laskar Pelangi (2007) and Laut Bercerita (2017). Based on the results of data analysis, it can be concluded that the basic meaning of the word tatsu is to stand (upright vertically), while its extended meanings are to rise, ascend from below to above, place oneself in a certain position or rank, something perceivable by the senses, something decided, to be useful, and lastly, to lose composure and become angry. Through the relationship between the basic and extended meanings of the word tatsu, there are five metaphorically extended meanings and two metonymically extended meanings. Then, the basic meaning of the word berdiri is to stand (upright by supporting oneself on the feet), while its extended meanings are to be erect (not lying down), to rise, to exist or to be established, to support or be independent, and to be on a side, group, etc. Through the relationship between the basic and extended meanings of the word berdiri, there are three metaphorically extended meanings and two metonymically extended meanings. This research only describes the individual meanings of the verbs tatsu and berdiri without comparing the two languages. Therefore, more specific and focused research, such as contrastive studies, is needed to identify the similarities and differences between the verbs tatsu and berdiri
VERBA MAJEMUK ~ TATSU DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG ( KAJIAN MORFOLOGI) 日本語の文章における複合動詞「-たつ」
ABSTRACT
Beta Arum Rizki. 2017. “Compound Verbs ~Tatsu in Japanese Sentences”. Thesis, Japanese Departement, Faculty of Humanities, Diponegoro University. Advisor Lina Rosliana, S.S, M.Hum.
This thesis has two purposes. First, is to describe the structure of compound verb ~Tatsu. Second, is to describe the meaning of compound verb ~Tatsu.
The study uses online newspaper as the data resourse, and uses descriptive method with qualitative approach. Data obtained by the methods and techniques refer to the note. The last was presenting data using formal words. The way to analyze it is to find the data verb-plot-tatsu, analyze the structure and meaning, and the last was presenting data using formal words.
The result of this thesis are, the combination structure of the compound verb ~Tatsu consists of a combination of “verb + verb” and “noun + verb”. Characteristics of the front elements in combination “verb + verb” are verbs of condition /activity verbs, verbal will /non-verbal will, and transitive /intransitive. Characteristics of the front elements in combination of “noun + verb” are ordinary nouns. Compound verbs ~Tatsu having seven kind of meaning : It exists in a straight state /posture at once, leave where you have been, occupy position /position with a certain role, clearly appear, rumors /reputation spreads, things to think /plan /schedule, showing something that the other can see.
Keywords : compound verbs, meaning, structure, tatsu
- …
