494 research outputs found

    Mewarisi gagasan Tan Malaka

    No full text
    Buku ini membahas mengenai sepak terjang Tan Malaka dari perspektif sejarah dari masa penjajah sampai masa reformasi.xviii, 168 hlm.: ilus.; 23 cm

    Madilog Tan Malaka : Materialisme, dialekika, dan logika

    No full text
    Bangsa Indonesia memandang bahwa apa yang terjadi di dunia ini dipengaruhi oleh kekuatan keramat di alam gaib. Cara pandang ini, disebut-sebut oleh Tan Malaka sebagai "logika mistika". Logika ini melumpuhkan karena ketimbang menangani sendiri permasalahan yang dihadapi, lebih baik mengharapkan kekuatan-kekuatan gaib itu sendiri. Karena itu, mereka (masyarakat Indonesia) mengadakan mantra, sesajen, dan doa-doa. Melihat kenyataan bangsanya yang masih terkungkung oleh "logika mistika" itu, Tan Malaka melahirkan Madilog.Mendiang peneliti LIPI, Dr Alfian pernah menyebutkan bahwa Madilog memang merupakan karya terbaik Tan Malaka, paling orisinal, berbobot, dan brilian. Naskah Madilog ditulis oleh Tan Malaka selama delapan bulan (15 Juli 1942 - 30 Maret 1943). Buku ini bukan semacam "ajaran partai" atau "ideologi proletariat", melainkan cita-cita Tan Malaka sendiri. Di mana Madilog--sebagian besar mengikuti konsep materialistik-dialektik Fredrich Engels--sama sekali bebas dari buku-buku Marxisme-Leninisme yang menuntut ketaatan mutlak pembaca terhadap Partai Komunis.Tan Malaka melihat kemajuan umat manusia harus melalui tiga tahap: Dari "logika mistika" lewat "filsafat" ke "ilmu pengetahuan" (sains). Dan selama bangsa Indonesia masih terkungkung oleh "logika mistika" itu, tak mungkin ia menjadi bangsa yang merdeka dan maju. Madilog merupakan jalan keluar dari "logika mistika" dan imbauan seorang nasionalis sejati buat bangsanya untuk keluar dari keterbelakangan dan ketertinggalan.560 hlm. 14 x 21 c

    Seri Buku Saku Tan Malaka Bapak republik Yang Dilupakan

    No full text
    Tan melukis revolusi indonesia dengan bergelora. Sukarno pernah menulis testamen politik yang berisi wasiat kekuasaan kepada empat nama salah satunya Tan Malaka--apabila Bung Karno dn Bung Hatta mati atau ditangkap "...jika saya tiada berdaya lagi, maka saya akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner, tan Malaka' kata Sukarno. Tapi di masa pemerintahan Sukarno pula Tan dipenjara dua setengah tahun tanpa pengadilan.xxi; 212 hal Ilus 11 cmX16 c

    Naar De Republiek Indonesia: Kelahiran Suatu Pikiran Sering Menyamai Kelahiran Seorang Anak

    No full text
    Buku ini menjadi tonggak awal gagasan tentang kemerdekaan Indonesia yang dirumuskan secara jelas dan tegas sebelum Proklamasi 1945. Dalam karyanya, Tan Malaka menegaskan bahwa Indonesia harus berdiri sebagai sebuah republik merdeka, bebas dari belenggu kolonialisme Belanda. Ia mengkritik keras sistem feodalisme dan kapitalisme kolonial yang menindas rakyat, serta menolak kompromi dengan bentuk negara lain selain republik. Melalui gaya penulisan yang tajam, Tan Malaka menempatkan kemerdekaan sebagai cita-cita utama bangsa yang harus diperjuangkan dengan kesadaran politik, persatuan rakyat, dan perjuangan terorganisir100 hlm.; 20 c

    Tan Malaka, Gerakan Kiri, Dan Revolusi Indonesia

    No full text
    Judul Asli : Verguisd en vergeten; Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949xx, 378 p. : Il.; 24 c

    Tan Malaka; Aksi Massa

    No full text
    148 hlm.;21cm

    Tan malaka gerpolek, gerilya - politik - ekonomi tahun 2022

    No full text
    Gerpolek merupakan buku yang dikonsep dan ditulis oleh tan malaka ketika dirinya meringkuk di penjara madiun. Buku ini ditulis tanpa dukungan informasi kepustakaan apapun.ii, 139 hlm, 20 x 13,9 c

    Tan malaka gerpolek, gerilya - politik - ekonomi tahun 2022

    No full text
    Gerpolek merupakan buku yang dikonsep dan ditulis oleh tan malaka ketika dirinya meringkuk di penjara madiun. Buku ini ditulis tanpa dukungan informasi kepustakaan apapun.ii, 139 hlm, 20 x 13,9 c

    Misteri pembunuhan Tan Malaka : siapa yang memerintahkan eksekusi Tan Malaka?

    No full text
    Pernahkah terpikirkan, siapa sebenarnya yang pertama kali menulis konsep Republik Indonesia? Dialah Tan Malaka. Namanya memangtak sementereng Soekarno, Hatta dan Sutan Sjahrir. Tan Malaka begitu ditakuti, hingga namanya pun berusaha dilupakan. Dia bahkan pernah dihapus dari teks-teks buku sejarah dan kisah heroik pahlawan nasional.Tak hanya dalam pemikiran, idealisme Tan Malaka pun tak tergoyahkan. Lantaran idealisme ini pula ia selalu diburu, hingga akhirnya dia harus mati di ujung senapan bangsanya sendiri -- dalam perjuangan Indonesia Merdeka 100%.Kini, sudah lewat setengah abad sejak waktu yang diduga kematiannya, tapi kisah kematian Tan Malaka masih misteri. Hingga kemudian tersiar penemuan makam tua yang disangka makam orang sakti dengan sebongkah batu pengganti nisan yang diidentifikasi ssebagai makam Tan Malaka. Tapi benarkh itu makam Tan Malaka? Lalu bagaimana dan siapa sebenarnya yang memerintahkan eksekusi terhadap Tan Malaka? Buku ini mengungkap misteri kematian Tan Malaka yang bersumber dari berbagai referensi terpercaya

    Pandangan Tan Malaka tentang Tuhan

    No full text
    Judul dari tulisan ini yaitu; “Pandangan Tan Malaka tentang Tuhan”. Nama Tan Malaka sangat jarang terdengar sepak terjangnya dalam penyajian materi sejarah. Tan Malaka merupakan seorang tokoh kemerdekaan, yang terkenal dengan pemikirannya dan gagasan-gagasan revolusioner yang radikal. Tulisan ini mencoba memahami dan menyelami konsep Tuhan dalam struktur pemikiran Tan Malaka sebagai orang Minangkabau yang memutuskan untuk berjuang menuju Indonesia merdeka sesuai dengan pergerakan yang diyakininya; yakni marxisme. Pengalaman dan pengetahuan mengenai marxisme yang diperoleh ikut membentuk pemikiran Tan Malaka tentang konsep masyarakat yang ideal baginya. Memahami Konsep Tuhan dalam struktur pemikiran Tan Malaka, haruslah lah dikaitkan dengan Alam Minangkabau, sebagai sebagai tempat di mana Tan Malaka dilahirkan dan dibentuk oleh ruang Minangkabau. Hal ini menjadi penting karena penekanan kultural dalam diri Tan Malaka akan menjadi dasar ketika memaknai perjalanan rantaunya (merantau). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan jenis studi kepustakaan. Peneliti akan mengumpulkan data-data pustaka berupa artikel, buku, jurnal dan literatur lainnya yang berhubungan dengan Tan Malaka. Kemudian peneliti akan mempelajari, menulis, dan mencatat yang kemudian akan diteliti dan dikaji dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif sejarah dengan pendekatan Heuristik yakni mencari, mengumpulkan mengkategorikan dan meneliti sumber-sumber sejarah termasuk yang ada dalam buku referensi di antaranya yang berkaitan langsung dengan Tan Malaka. Yang kemudian penulis Historiografikan yakni merekonstruksi imajinatif masa lampau manusia berdasarkan bukti-bukti dan data yang diperoleh melalui proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau. Sehingga memperoleh hasil bahwa Konsep Tuhan haruslah dipahami dan diyakini melalui jembatan rasionalitas Madilog dengan spirit perjuangan untuk melawan imperialisme dan kolonialisme. Konsep Tuhan menurut Tan Malaka berangkat dari konsep Tuhan dalam pandangan Islam. Madilog sebagai konsep cara berpikir rasional yang digunakan oleh Tan Malaka, puncaknya adalah pemahaman tentang ke- Esa -an Tuhan. Qul huwallāhu aḥad… Tuhan Esa yang dibawa oleh Muhammad saw, menurut Tan Malaka merupakan gerak rasionalitas yang paling tinggi, dalam bahasanya Tan Malaka menyebutnya sebuah puncak rasioanalitas. Muhammad bin Abdullah tertarik oleh Tuhan Esanya, Nabi Ibrahim, Musa dan Daud. Di sini Tuhan itu lebih terang ke Esaannya pada pertarungan lahir batin yang seru sengit yang mesti dijalankan dengan jasmani dan rohani yang mesti dipimpin oleh satu kemauan, Sedangkan ketersesuaian konsep Tuhan menurut Tan Malaka dengan sistem berketuhanan di Indonesia khususnya saat ini, tidaklah terlepas dari konteks kesejarahan berdirinya negara Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara, pandangan bernegara, ideologi bangsa sampai pada Pancasila sebagai sebuah cita -cita, dengan sila pertamanya yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa menjadi sebuah dasar yang paling fundamental, juga sebagai sebuah landasan yang paling mendasar dalam bernegara. Sayangnya relevansi konsep Tuhan menurut Tan Malaka terjadi ketidak tersesuaian dengan sistem berketuhanan di Indonesia saat ini. Sehingga pola pikir yang dicoba dibangun Tan Malaka, yakni Madilog sama sekali jauh dari harapan
    corecore