1,720,970 research outputs found
RESPON PERTUMBUHAN STEK MAWAR (Rosa sp.) PADA BERBAGAI KONSENTRASI ROOTONE-F DAN JENIS MEDIA TANAM
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi pemberian zat pengatur tumbuh Rootone-F dan jenis media tanam terhadap pertumbuhan stek mawar, mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi pemberian zat pengatur tumbuh Rootone-F yang lebih baik terhadap pertumbuhan stek mawar, dan mengetahui pengaruh jenis media tanam terhadap pertumbuhan stek mawar. Penelitian telah dilaksanakan di Screen House Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako. Palu, Sulawesi Tengah. Penelitian ini dimulai dari bulan Oktober sampai bulan Desember 2019. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi Rootone-F (R) terdiri dari empat taraf yaitu: R0 (tanpa Rootone-F atau kontrol), R1 (Rootone-F 50 ppm), R2 (Rootone-F 100 ppm), dan R3 (Rootone-F 150 ppm). Faktor kedua yaitu jenis media tanam (M) terdiri dari dua jenis yaitu : M0 (media tanam pasir), M1 (media tanam pasir+arang sekam), M2 (media tanam pasir+cocopeat) dan M3 (media tanam pasir+arang sekam+cocopeat). Kedua faktor menghasilkan 16 kombinasi perlakuan dan diulang tiga kali sehingga keseluruhan berjumlah 48 satuan percobaan. Setiap satuan percobaan terdapat 3 tanaman sehingga total menjadi 144 polybag. Perlakuan yang berpengaruh nyata diuji lanjut menggunakan uji beda nyata jujur (BNJ) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara perlakuan berbagai konsentrasi Rootone-F dan jenis media tanam tidak berpengaruh nyata pada semua variabel pengamatan. Demikian juga perlakuan jenis media tanam tidak berpengaruh nyata terhadap semua variabel pengamatan yang dilakukan. Namun perlakuan konsentrasi Rootone-F berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas pada umur 28 HST, 42 HST, dan 56 HST. Demikian juga pada panjang tunas (cm), jumlah daun (tangkai) dan jumlah bunga pada pengamatan 6 MST, 7 MST dan 8 MST
PENGARUH DOSIS PUPUK KANDANG KAMBING DAN MULSA PLASTIK HITAM PERAK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAHE MERAH (Zingiber officinale Var Rubrum)
Jahe merah (Zingiber officinale var. Rubrum) merupakan salah satu tanaman yang digunakan sebagai ramuan rempah-rempah, campuran makanan, minuman, kosmetik dan parfum. Produksi jahe di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yaitu pada Tahun 2012 sekitar 114.537.65 ton meningkat menjadi 32.888.249 ton pada Tahun 2016. Salah satu usaha yang dapat dilakukan peningkatan produktivitas tanaman jahe secara intensifikasi adalah dengan penggunaan mulsa dan pemupukan yang berimbang. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kandang dan mulsa pelastik hitam perak terhadap pertumbuhan tanaman jahe merah. Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Simagaya, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala Waktu pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan Maret sampai Juni 2021. Penelitian didesain menurut Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk kandang kambing yang terdiri dari tiga taraf yaitu P0 = tanpa menggunakan pupuk, P1 = pupuk kandang kambing 10 ton/ha (1,8 kg/petak), P2 = pupuk kandang kambing 15 ton/ha (2,7 kg/petak), P3= pupuk kandang kambing 20 ton/ha (3,6 kg/petak). Faktor kedua adalah penggunaan mulsa yang terdiri dari dua aras yaitu M0 = tanpa mulsa (kontrol), M1 = mulsa pelastik hitam perak. Dengan demikian maka kombinasi dari dua faktor maka diperoleh 8 unit dan diulang 4 kali sehingga diperoleh 32 unit percobaan. Setiap unit percobaan diamati 6 sampel tanaman, dengan demikan jumlah tanaman keseluruhan adalah 192 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk kandang kambing 20 ton/ha (3,6 kg/petak) dengan mulsa plastik hitam perak memberikan pertumbuhan tanaman jahe merah yang lebih baik.  
PERTUMBUHAN DAN HASIL RIMPANG TANAMAN KUNYIT PUTIH (Curcuma zedoaria Rosc.) PADA INTERVAL PENYIRAMAN DAN KOMBINASI PUPUK ORGANIK DENGAN NPK MUTIARA
Beberapa tahun terakhir ini, masyarakat cenderung memakai obattradisional sebagai salah satu alternatif. Salah satu diantaranya adalah jamu yang berbahan baku dari kunyit(Curcuma zedoaria Rosc). Penelitian bertujuan mengetahui respons pertumbuhan dan hasil rimpang kunyit putih terhadap interval penyiraman dan kombinasi pemupukan. Penelitian dilaksanakan bulan JunihinggaNovember 2019 di Lahan Akademik Fakultas Pertanian Universitas Tadulako. Penelitian didesain menurut rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah interval penyiraman, terdiri dari 2 taraf yaitu penyiraman setiap 2 hari (A1) dan penyiraman setiap 4 hari (A2). Faktor kedua adalah kombinasi pupuk organik dengan NPK mutiara, terdiri dari 8 macam yaitu: Kontrol (M1), Pupuk Kandang (M2), Pupuk Kandang+Jerami Padi (M3), Jerami Padi (M4), NPK (M5), Pupuk Kandang+NPK (M6), Pupuk Kandang+Jerami Padi+NPK (M7), dan Jerami Padi+NPK (M8); Kombinasi perlakuan terdapat 16 unit dan diulang 3 kali sehingga totalnya menjadi 48 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara interval penyiraman dengan kombinasi pemupukan (AxM). Interval penyiraman setiap 2 hari (A1) memberikan bobot segar dan bobot kering rimpang lebih tinggi dibanding interval penyiraman setiap 4 hari (A2). Kombinasi pupuk kandang+jerami+NPK (M7) juga memberikan pertumbuhan tanaman lebih baik(tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, jumlah anakan, bobot segardan bobot kering tajuk tanaman) lebih tinggi dibanding perlakuan kombinasi pemupukan lainnya
RESPONS PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L.) PADA BERBAGAI KOMBINASI PUPUK NPK DENGAN POC URIN SAPI
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh kombinasi POC urin sapi dengan pupuk NPK (mutiara) terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun, disamping itu perlakuan dengan cara mengkombinasikan kedua jenis pupuk tersebut diharapkan dosis pupuk NPK lebih hemat oleh penggunaan POC urin sapi. Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 kali ulangan. Adapun perlakuan kombinasi POC urin sapi dengan pupuk NPK adalah sebagai berikut : P0 = Tanpa perlakuan (kontrol), P1 = 10 g NPK/tanaman (50%) + 20 ml POC urin sapi, P2 = 10 g NPK/tanaman (50%)+30 ml POC urin sapi, P3 = 10 g NPK/tanaman (50 %) + 40 ml POC urin sapi, P4 = 20 g NPK/tanaman (75 %) + 20 ml POC urin sapi, P5 = 20 g NPK/tanaman (75 %) + 30 ml POC urin sapi, P6 = 20 g NPK/tanaman (75 %) + 40 ml POC urin sapi, P7 = 30 g NPK/tanaman (100 %) + 20 ml POC urin sapi, P8 = 30 g NPK/tanaman (100 %) + 30 ml POC urin sapi, P9 = 30 g NPK/tanaman (100 %) + 40 ml POC urin sapi. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga menghasilkan 30 unit percobaan. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perlakuan berbagai kombinasi urin sapi dengan pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada umur 8 MST, luas daun, panjang buah, lilit buah tetapi tidak berpengaruh nyata pada pengamatan bobot segar buah. Kombinasi pupuk NPK 20 gram (75%) + 40 ml POC urin sapi per tanaman (P6) merupakan perlakuan terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun. Ini berarti bahwa dengan menggunakan POC urin sapi 40ml dapat menghemat dosis pupuk NPK hingga 75%
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
APLIKASI KOMPOSISI MEDIA TANAM DAN PUPUK KANDANG PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman asli Indonesia, termasuk salah satu jenis tanaman obat yang potensial untuk dikembangkan, karena memiliki banyak manfaat dan khasiat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil tanaman temulawak dengan menggunakan media tanam arang sekam padi dan serbuk sabut kelapa serta pupuk kandang kambing. Kegunaan penelitian ini adalah diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang pengaruh media tanam arang sekam padi, serbuk sabut kelapa dan pupuk kandang kambing, dapat digunakan sebagai media tanam yang baik pada budidaya tanaman temulawak. Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 2 faktor Faktor pertama adalah komposisi media tanam terdiri dari 3 macam yaitu B1 = Tanah + arang sekam padi (2:1) B2 = Tanah + serbuk sabut kelapa (2:1), B3 = Tanah + arang sekam padi + serbuk sabut kelapa (2:1:1) sedangkan Faktor kedua adalah dosis pupuk kandang yang terdiri atas 3 taraf yaitu P1= dosis pupuk kandang 10 ton/ha (182 g/polibag), P2= pupuk kandang 20 ton/ha (364 g/polibag), dan P3= dosis pupuk kandang 30 tonha (546 g/polibag). Dalam penelitian ini terdapat 9 kombinasi perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga terdapat 27 unit percobaan. Setiap unit percobaan terdapat 3 tanaman, sehingga diperlukan 81 tanaman. Data pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis of varians (ANOVA) dan menggunakan uji lanjut BNJ(Beda Nyata Jujur) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanam tanah +arang sekam padi+serbuk sabut kelapa dengan dosis pupuk kandang 30 ton/ha (B3P3) memberikan pertumbuhan dan hasil yang lebih baik pada tinggi tanaman, jumlah tunas, bobot segar tajuk, dan bobot segar rimpang dibanding perlakuan lainnya dan untuk media tanam tanah+serbuk sabut kelapa dengan dosis pupuk kandang 20 ton/ha (B2P2) memberikan hasil yang lebih baik pada bobot kering rimpang temulawak dibanding perlakuan lainnya
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
