15 research outputs found
Analysis of Student Learning Styles in Differentiation Learning
This research is an attempt to describe students’ learning styles in differentiation learning. The study was conducted on all students of class X-3 at SMAN 8 Malang. Learning style is a consistent way that students have in capturing stimulus or information, how to remember, think, and solve problems. Based on the implementation of the independent curriculum, it is also necessary to map learning needs based on the learning profile of students. This mapping can be done by providing a diagnostic assessment to find out. There are various ways of information processing that students display, some are easier to process through visual information, some are auditory (sound), and others are kinesthetic (direct practice). The findings obtained from this study are that mapping different learning styles can not only improve the quality of learning in students but also help them in mastering mathematics.
Keywords: learning style, differentiation learnin
ADMINISTRASI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
Administration of educators and education personnel is the overall process of the activities of educators to achieve educational goals effectively and efficiently.
In this article the author uses the literature study method, by collecting material sourced from review, journals and others related to the administrative process of educators and education personnel.
The purpose of this article is to fulfill structured assignments in the Administration and Supervision of Education courses. And it is knowledge especially for compilers and generally for readers, regarding the Administration of Educators and Education Personnel
Implementation of The School Literacy Movement Program in Islamic Based Excellence School: Implementasi Program Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Unggulan Berbasis Islam
The background of this research is that GLS has not been widely adopted in many schools in Indonesia, especially schools with an Islamic curriculum. This study aims to analyze, review and discuss the habituation phase of the literacy movement program for elementary school students in more depth. This study uses a qualitative research method using a collection technique in the form of literature studies. The author collects 10 references related to the implementation of the literacy movement program school. The research results were obtained from journal articles published between 2017- 2020 regarding literacy movement programs in elementary schools. Based on the results of reviews from these journals, it is known that the implementation of the Islamic-based superior school literacy movement is carried out in the habituation phase by means of 10 reflections before reading books to improve literacy skills in the morning
TARI RAWAYAN KARYA GUGUM GUMBIRA TIRASONDJAYA DI PADEPOKAN JUGALA
Penelitian ini berjudul “Tari Rawayan Karya Gugum Gumbira Tirasondjaya di Padepokan Jugala”. Tari Rawayan adalah salah satu karya Gugum Gumbira pada tahun 1987. Rawayan sendiri berasal dari bahasa Sunda yaitu “Jembatan”, jembatan gantung yang terbuat dari kayu atau bambu, yang menggambarkan sebagai jembatan antara dua masa yang berbeda, jembatan perpindahan dari tradisi ke modern dalam mencari nilai-nilai menuju nilai-nilai baru. Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, maka fokus peneltian meliputi bagaimana proses penciptaan tari Rawayan, Koreografi tari Rawayan, Tata rias dan Busana tari Rawayan di Padepokan Jugala. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, karena dengan menggunakan metode ini dapat membedah berbagai persoalan yang sedang diteliti oleh peneliti. Adapun hasil temuan yang peneliti dapatkan adalah bahwa proses penciptaan tari Rawayan dengan berbagai gerak misalnya pencak silat, ketuk tilu, gerak modern, ragam gerak jaipong, dan gerak yang menggambarkan dari bintang yang disebut “lengkah maung”, dimana proses penciptaan tari Rawayan yang terdiri dari nilai awal, tengah dan akhir. Tari Rawayan merupakan jenis tarian puteri, yang disajikan tunggal atau kelompok (rampak). Karakteristik tari Rawayan, dibangun oleh sikap tubuh yang penari yang tegak dengan posisi kaki terbuka, dengan langkahan yang beritme lambat, gerak mengalun dengan aksen gerak dengan pola tegas. Gerak khas pada tari Rawayan adalah lengkah maung, ngagalamay,tonjongan dan teundut jagat. Dapat disimpulkan Tari Rawayan ini menjadi model yang dipilih oleh Gugum Gumbira dalam membangun pondasi baru gaya penampilan jaipongan ke depan, sehingga secara keseluruhan mampu mewakili pesan pada tari Rawayan, bahwa bentuk tertentu sesuai dengan kondisi dan situasi zamannya, dengan hati-hati tanpa melupakan nilai tradisi.
Kata Kunci :Tari Rawayan, Padepokan Jugala
The study titled “Rawayan Karya Dance By Gugum Gumbira Tirasondjaya From Padepokan Jugala” Rawayan Dance is one of Rawayan dance is one of Gugum Gumbira’s workson 1987. Rawayan it self is derived from the Sundanese that means “bridge”, suspension bridge made of wood or bamboo, which it describes as a bridge between two different eras, the transition bridge from tradition to modern for search for valuest to new values. Based on that research background, then this research are focus include how the creation process of Rawayan Dance, Rawayan Dance Choreography, and Rawayan Dance Cosmetology and Clothing at Padepokan Jugala. The method in this research is descriptive analysis method, because by using this method author can describe a variety of issues that are being studied. And the result that author get are Rawayan dance creation process with various move for examples Pencak Silat, ketuk tilu, modern movement, kind of jaipong move, and describe the motion of stars that called “lengkahmaung”, which the creation process of Rawayan dance that consists of the value, there are beginning, middle and end. Rawayan dance is a type of female dances, which presented a single or group (rampak). Characteristics of Rawayan dance are built by dancers up right posture with open stance, with a slow rhythmic step, floated move with firmly accent move pattern. Rawayan Dance typical move are lengkah maung, ngagalamay, tonjongan and teundut jagat. Can be concluded this Rawayan become the model that chosen by Gugum Gumbira in building a new foundation of Jaipongan appearance, so overall is able to represent the message on Rawayan dance, that certain forms in accordance with the conditions and the situation on that time, carefully, without forgetting the traditional values.
Keyword : Rawayan Dance, Padepokan jugal
TANGGUNG JAWAB LESSEE DALAM PRAKTEK PERJANJIAN LEASING DI PT. ADIRA DINAMIKA MULTI FINANCE CABANG SEMARANG 2 (DUA) DIVISI MOBIL
Leasing sebagai kegiatan pembiayaan perusahaan pada dasarnya dilatar
belakangi oleh tuntutan ekonomi. Fasilitas yang diadakan oleh perusahaan leasing
sebagai perusahaan pembiayaan sangat meringankan konsumen yang kekurangan modal
untuk membeli alat pendukung usaha maka leasing menjadi alternatif. Berdasarkan
alasan demikian PT ADIRA DINAMIKA MULTI FINANCE Cabang Semarang 2 (Dua)
Divisi Mobil memberikan kemudahan bagi konsumen yang membutuhkan sarana
transportasi di kota Semarang dengan pembiayaan secara leasing. Dengan latar belakang
di atas permasalahan yang dapat diangkat adalah tanggung jawab lessee terhadap obyek
perjanjian dan upaya yang ditempuh pihak lessor dalam menyelesaikan wanprestasi yang
dilakukan oleh pihak lessee dalam perjanjian leasing di PT ADIRA DINAMIKA MULTI
FINANCE Cabang Semarang 2 Divisi Mobil.
Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan
yuridis empiris, spesifikasi penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis,
pengumpulan data yang dilakukan adalah pengumpulan data primer dan data sekunder,
pengumpulan data primer dilakukan dengan cara mengamati langsung masalah yang
diteliti dan pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara mengumpulkan bahanbahan
kepustakaan. Proses analisa data yang dipergunakan adalah analisa kualitatif.
Hasil penelitian yang didapat adalah tanggung jawab lessee dalam praktek
perjanjian leasing di PT ADIRA DINAMIKA MULTI FINANCE Cabang Semarang 2
Divisi Mobil tanggung jawab mengenai penggunaan barang leasing, pemeliharaan barang
leasing, kehilangan dan kerusakan barang leasing karena sebab apapun, wanprestasi, serta
semua resiko selama masa leasing berlangsung. Terhadap wanprestasi yang dilakukan
oleh lessee, maka penyelesaiannya pihak lessor melakukan pendekatan secara langsung
memberikan teguran kepada pihak lessee namun jika pihak lessee tetap tidak mematuhi
atau mengindahkan dengan berbagai alasan, maka obyek leasing dapat ditarik oleh pihak
lessor.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah wanprestasi yang terjadi sebagian besar
dilakukan oleh pihak lessee dan yang sering kali terjadi adalah masalah keterlambatan
pembayaran uang angsuran pada tiap-tiap bulannya. Penyelesaian terhadap wanprestasi
yang dilakukan oleh lessee, maka penyelesaiannya melakukan pendekatan secara
kekeluargaan jika tidak mengindahkan maka pihak lessee dikenakan somasi dan denda
atas keterlambatan pembayaran, dan obyek leasing dapat ditarik oleh pihak lessor. Saran
yang dapat diberikan oleh penulis adalah pembentukan peraturan perundang-undangan
yang lengkap dan efektif untuk mencegah atas kurangnya perlindungan hukum yang pada
akhirnya untuk mencaoai tujuan kepastian hukum namun di samping itu pihak lessor
harus hati-hati melakukan analisa yang cermat terhadap karakter dan kemampuan
membayar dari pihak lessee.
Leasing as company’s financial activity basically caused by economic
demand. The facilities which is performed by leasing company as financial company very
lightening the consumer which is having capital deficiency to buy the supporter appliance
there fore hence leasing become the alternative. In order to that reason PT ADIRA
DYNAMIC’S MULTI FINANCE BRANCH SEMARANG 2 (TWO) CAR’S
DIVISION, making easier the consumer to fulfill the transportation in Semarang city
using leasing payment.
The method that used in the research is empirical juridical approach method,
the research specification which used is analytic descriptive, data collecting which used is
including primary and secondary data. The process data analyze is using the qualitative
analyze.
Result of this research is lessee responsibility on agreement object in leasing
agreement practice at PT ADIRA DYNAMICS MULTI FINANCE BRANCH
SEMARANG 2 (TWO) CAR’S DIVISION. The responsibility including of
responsibility using the object of leasing, conservancy the object of leasing, loss and
damage the object of leasing because of wan-achievement also all risk during the period
of leasing. To the wan-anchievement which is usually doing by lessee, hence the
solutions for the wan-achievement is lessor will approach directly giving some advice to
the lessee if the lessee do not obey for some reason there fore reauthorizing object of
leasing by lessor.
Conclutions which can be taken is most of wan-achievement is earn by lessee
and the problem usually is installment delay in payment in every month during the period
of leasing. Solutions for the wan-achievement familiarity approach, by lessor in case to
giving some notice to the lessee to pay attention for all the payment leasing agreement. If
lessee does not pay attention to that matter so the drawing or reauthorizing the object of
leasing by lessor. Suggestion by author is Government must be effective complete the
legislation forming in order to avoid the lack of law at the last is to reach the goal for the
supremacy of law in the other hand lessor must be careful to analyse the character of
lessee ability to pay
PERAN INSTRUKTUR PELATIHAN PUBLIC SPEAKING DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI PUBLIK PESERTA : Studi pada Pelatihan Public Speaking di Unit Corporate Culture PT. Kereta Api Indonesia
Peran seorang instruktur dalam mengajar, membimbing, memfasilitasi dan memotivasi serta penyelenggaraan pelatihan public speaking yang terencana diharapkan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi publik pada peserta pelatihan di Unit Corporate Culture PT. Kereta Api Indonesia. Hal ini melatarbelakangi penulis untuk meneliti peran instruktur, penyelengaraan pelatihan dan peningkatan komunikasi publik peserta pasca pelatihan. Metode penelitian yang dilakukan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumentasi dan wawancara. Proses pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara triangulasi teknik. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis interaktif dengan tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dengan subjek penelitian penyelenggara pelatihan, instruktur dan peserta pelatihan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 1) Penyelenggaraan pelatihan disesuaikan dengan analisis individu dan analisis tugas. Pemilihan instruktur berdasarkan kompetensi yang dibutuhkan unit, yaitu instruktur berpengalaman dan menguasai public speaking skill. Pelaksanaan pelatihan ini dilaksanakan di Balai Pusdiklat PT. KAI. Seluruh proses pembelajaran diserahkan kepada instruktur yang tetap diawasi oleh penyelanggara. Lulusan pada pelatihan ini tidak seluruhnya dapat termonitoring karena sistem evaluasinya yang belum berjalan, sedangkan evaluasi terhadap penyelenggara dan instruktur dapat terlaksana 2) Dalam proses pelatihan, instruktur mengkombinasikan antara penyampaian materi dengan praktik, membantu peserta pelatihan menganalisis kelemahan, menarik minat peserta dengan mengemas pelatihan sebagai kegiatan yang menarik dalam proses pelaksanaannya 3) Kemampuan komunikasi publik pasca pelatihan meningkat, diantaranya penambahan wawasan serta kemampuan dari peserta dalam mempersiapkan topik yang akan disampaikan, gestur tubuh yang lebih natural dan menarik serta memperhatikan cara olah vokal agar terdengar lebih jelas dan nyaring saat berbicara di depan audiens.
The role of an instructor in teaching, guiding, facilitating and motivating as well as the implementation of planned public speaking training is expected to improve public communication skills in trainees in the Corporate Culture Unit of PT Kereta Api Indonesia. This is the background for the author to examine the role of the instructor, the organization of training and the improvement of participants' public communication after training. The research method used is a qualitative approach with descriptive method. The data collection techniques used in this research are documentation studies and interviews. The process of checking the validity of data is done by triangulating techniques. The data analysis technique uses interactive analysis techniques with the stages of data collection, data reduction, data presentation and conclusion drawing. With the research subjects of training organizers, instructors and trainees. The results of this study indicate that 1) The organization of training is adjusted to individual analysis and task analysis. The selection of instructors is based on the competencies needed by the unit, namely experienced instructors and mastering public speaking skills. The implementation of this training was carried out at the Balai Pusdiklat PT KAI. The entire learning process was left to the instructors who were still supervised by the organizers. Not all graduates of this training can be monitored because the evaluation system has not yet been implemented, while the evaluation of the organizers and instructors can be carried out. 2) In the training process, the instructor combines the delivery of material with practice, helps trainees analyze weaknesses, attracts participants' interest by packaging training as an interesting activity in the process of implementation 3) The ability of public communication after this training is the addition of insight and ability of participants in preparing topics to be delivered, body gestures that are more natural and interesting and pay attention to vocal processing to sound clearer and louder when speaking in front of an audience
Pendampingan terhadap pasangan Mental Retardation dalam mewujudkan keluarga sakinah perspektif teori Hierarki kebutuhan Abraham Maslow: Studi di pemerintah desa Sidoharjo kec. Jambon kab. Ponorogo
ABSTRAK
Mental retardation (retardasi mental) atau istilah lain yang dikenal dengan penyandang tunagrahita adalah penurunan fungsi intelektual. Kondisi dalam kehidupan rumah tangga pasangan mental retardation terdapat berbagai tantangan, jika terdapat keberagaman persoalan dalam kehidupan pasangan mental retardation tidak dapat ditangani dengan tepat maka akan menjadi sumber lahirnya persoalan dalam rumah tangga. Ditengah persoalan tersebut terdapat pemerintah desa Sidoharjo yang memberikan pendampingan melalui berbagai upaya dalam mencari jalan keluar dari berbagai problem untuk mewujudkan keluarga sakinah bagi pasangan mental retardation.
Sesuai dengan konteks penelitian tersebut, penulis mengkaji tiga hal, yaitu: 1) Bagaimana pendampingan yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Sidoharjo terhadap pasangan mental retardation dalam mewujudkan keluarga sakinah? 2) Bagaimana problem yang dihadapi pemerintah Desa Sidoharjo dalam mendampingi pasangan mental retardation dan problem pasangan mental retardation dalam mewujudkan keluarga sakinah? 3) Bagaimana pendampingan yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Sidoharjo terhadap pasangan mental retardation dalam mewujudkan keluarga sakinah perspektif teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow?
Penelitian ini termasuk dalam penelitian lapangan yang menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan dokumentasi. Analisis data bersifat deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan realita social tentang pendampingan pasangan mental retardation oleh pemerintah desa Sidoharjo.
Hasil penelitian ini menunjukkan: 1) Pendampingan pasangan mnetal retardation ini didasari atas alasan pembedayaan masyarakat desa, alasan kemanusiaan, alasan administrative. 2) Munculnya problem yang dihadapi pemerintah desa Sidoharjo selama pendampingan yaitu komunikasi, Problem yang dihadapi oleh pasangan mental retardation terbagi menjadi dua bagian yaitu internal dan eksternal. 3) Pendampingan yang dilakukan oleh pemerintah desa Sidoharjo dilihat dengan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, yaitu Fisiologis dengan pemenuhan kebutuhan finansial, Rasa aman pendampingan dalam hal pengurusan administasi, Cinta dan kasih sayang pendampingan ketika terdapat persoalan keluarga, Akan penghargaan dalam hal interaksi memberikan pemahaman kepada masyrakat, Aktualisasi diri pendampingan yang dilakukan oleh pemerintah desa Sidoharjo sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan, mengembangkan kemampuan pasangan mental retardation.
ABSTRACT
Mental retardation (mental retardation), or other terms known as people with mental retardation, is a decreased intellectual function. Conditions in the household life of a mentally retarded various challenges. If there are multiple problems in the life of a mentally retarded that cannot be adequately handled, it will be a source of birth problems in the household. During these problems, the Sidoharjo village government assisted in various efforts to find a way out of multiple issues to create a sakinah family for the mentally disabled.
Following the research context, the author examines three things: 1) How does the Sidoharjo Village Government assist mentally retarded couples in realizing a sakinah family? 2) What are the problems the Sidoharjo Village government faces in assisting mental retardation couples and mental retardation couples in realizing a sakinah family? 3) How is the assistance provided by the Sidoharjo Village Government to mentally retarded couples in realizing a sakinah family from the perspective of Abraham Maslow's hierarchy of needs theory?
This research is included in the field research that uses qualitative research methods with a phenomenological approach. The descriptive data analysis aims to describe the social reality of the assistance of mental retardation by the Sidoharjo village government. Interviews and documentation did the data collection.
The results of this study indicate: 1) Mentoring for mental retardation couples is based on reasons for empowering rural communities, humanitarian causes, and administrative reasons. 2) The emergence of problems faced by the Sidoharjo village government during mentoring, namely communication. Problems faced by mental retardation couples are divided into two parts, namely internal and external. 3) The assistance provided by the Sidoharjo village government is seen with Abraham Maslow's hierarchy of needs theory, namely Physiological with the fulfillment of financial needs, A sense of security of assistance in terms of administrative management, Love and affection for assistance when there are family problems, Will be rewarded in terms of interaction providing understanding to the community, self-actualization of mentoring carried out by the Sidoharjo village government is needed to grow, develop the ability of mental retardation partners.
مستخلص البحث
المتخلفون عقلياً هم الأشخاص الذين لديهم ضعف في الوظيفة العقلية. هناك تحديات مختلفة في الحياة المنزلية للزوجين المتخلفين عقليًا، إذا كانت مجموعة متنوعة من المشاكل في حياة الزوجين المتخلفين عقليًا لا يمكن معالجتها بشكل صحيح، فسيكون ذلك مصدرًا لولادة المشاكل في الأسرة. في خضم هذه المشاكل، هناك حكومة قرية سيدوهارجو التي تقدم المرافقة من خلال مختلف الجهود في إيجاد طريقة للخروج من مختلف المشاكل لتكوين أسرة سكينة للأزواج المتخلفين عقلياً.
بالنسبة الى سياق الدراسة، قام المؤلف بفحص ثلاثة أشياء، وهي: 1) كيف المرافقة التى تفعلها حكومة قرية سيدوهارجو الى الأزواج المتخلفين عقليًا عن عائلة السكينة؟ 2) كيف المشاكل التي تواجهها حكومة قرية سيدوهارجو في مرافقة الأزواج المتخلفين عقلياً والمشاكل للأزواج المتخلفين عقلياً في تكوين الأسرة السكينة؟ 3) كيف المرافقة التى تفعلها حكومة قرية سيدوهارجو الى الأزواج المتخلفين عقليًا في تحقيق عائلة السكينة بنظرية التسلسل الاحتياجيّ لأبراهام ماسلو؟ يدخل هذا البحث من البحث الميداني الذي يستخدم أسلوب البحث النوعي بمنهج الظاهري. يتم جمع البيانات عن طريق المقابلة والتوثيق. تحليل البيانات وصفي بطبيعته ويهدف إلى تصوير الواقع الاجتماعي فيما يتعلق بمرافقة الأزواج المتخلفين عقليًا من قبل حكومة قرية سيدوهارجو.
نتائج هذه الدراسة إلى ما يلي: 1) ت يعتمد مرافقة الأزواج المتخلفين عقليًا على أسباب تمكين المجتمعات القريتية والأسباب الإنسانية والأسباب الإدارية. 2) ظهور المشكلات التي واجهتها حكومة قرية سيدوهارجو أثناء المرافقة وهي الاتّصال، وتنقسم المشكلات التي يواجهها الأزواج المتخلفان عقليًا إلى قسمين، داخليًا وخارجيًا. 3) المرافقة التى تفعلها حكومة قرية سيدوهارجو ترى بنظرية التسلسل الاحتياجيّ لأبراهام ماسلو، وهي فسيولوجيًا مع تلبية الاحتياجات المالية، والشعور بالأمان المرافقة من حيث الإدارة، والحب والعاطفة المرافقة عندما تكون هناك مشاكل عائلية، سيتم مكافأته من حيث التفاعل الذي يوفر الفهم للمجتمع، والتحقيق الذاتي المرافقة التي تفعل بها حكومة قرية سيدوهارجو مهمة جدا للتنمو وتتطوير استطاعة الأزواج المتخلفين عقليًا
PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BERBASIS POTENSI TEKNOLOGI, INOVASI, DAN PEMBERDAYAAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI KABUPATEN LAMPUNG TENGAH
The suboptimal use of information and technology systems for planning and monitoring, along with the lack of innovation and social empowerment programs by the Development Planning Agency at the Sub-National Level (Bappeda) of Central Lampung Regency, is indicated to potentially hinder the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs). This issue has drawn the author’s attention to propose ideas regarding the potential development of technology, innovation, and socio-economic empowerment to Bappeda of Central Lampung Regency. This study aims to explain the role of Bappeda in supporting sustainable development based on the potential, technology, innovation, and socio-economic empowerment of the community in Central Lampung Regency. By employing literature studies and descriptive analysis, document-based data relevant to the research focus were critically and thoroughly analyzed to obtain comprehensive answers to the research questions. The results indicate that Central Lampung Regency faces 15 strategic issues and six significant problems within Bappeda. The author suggests that the development of technology, innovation, and socio-economic empowerment can be achieved through collaborative efforts involving various stakeholders, ensuring that all processes are well-executed. It is hoped that the complexity of these problems can be addressed by maximizing the resources available in Central Lampung with support through several program initiatives aimed at achieving the sustainable development goals of Lampung Province by 2030.Belum optimalnya sistem infomasi dan tekonologi untuk menyusun dan memonitor perencanaan, serta kurangnya inovasi dan program pemberdayaan sosial oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeda) Kabupaten Lampung Tengah yang diindikasikan akan berdampak pada tidak tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB)/Sustainable Development Goals (SDGs) menarik perhatian penulis untuk memberikan gagasan mengenai potensi pengembangan teknologi, inovasi, dan pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat kepada Bappeda Kabupaten Lampung Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana peran Bappeda dalam mendukung pembangunan berkelanjutan berbasis potensi, teknologi, inovasi, dan pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah. Dengan menggunakan studi kepustakaan dan analisis deskriptif sumber data berupa dokumen yang terkait dengan fokus penelitian dianalisis secara kritis dan mendalam sehingga memperoleh jawaban yang komprehensif berkaitan dengan pertanyaan penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada Kabupaten lampung Tengah memiliki 15 isu strategis dan 6 masalah yang dimiliki oleh Bappeda Lampung Tengah. Gagasan penulis terhadap potensi pengembangan teknologi, inovasi, dan pengembangan sosial ekonomi masyarakat dapat dilakukan dengan upaya kolaboratif berbagai stakeholder sehingga seluruh proses pengembangan teknologi, inovasi, dan pengembangan sosial ekonomi masyarakat dapat dilakukan dengan baik. Harapannya kompleksitas masalah yang terjadi dapat diselesaikan dengan seluruh potensi sumber daya di Lampung Tengah dengan dukungan melalui beberapa program kegiatan yang memiliki tujuan untuk mencapai Pembangunan berkelanjutan provinsi lampung 2030
Pengawasan pengelolaan dana desa perspektif partisipasi public: Studi kasus Desa Slemanan Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar
INDONESIA:
Penulisan Skripsi ini untuk mendeskripsikan analisis pengawasan pengelolaan dana desa di Desa Slemanan Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar yang dilakukan oleh Masyarakat Desa Slemanan. Pengawasan dapat terlaksana dengan baik apabila masyarakat dapat secara aktif berpartisipasi dalam pengelolaan dana desa.
Tujuan dalam penelitian untuk menganalisis pengawasan masyarakat dalam pengelolaan dana desa di Desa Slemanan Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar dan untuk merumuskan model pengawasan pengelolaan dana desa berbasis partisipasi publik. Metode penelitian menggunakan Yuridis Empiris, Data terkumpul dengan teknik wawancara, studi pustaka dan dokumentasi serta menggunakan teknik analisis data Yuridis Kualitatif.
Temuan pertama dalam penelitian ini, partisipasi masyarakat dalam hal pengawasan pengelolaan dana desa di Desa Slemanan Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar masih kurang. Fakta lapangan menunjukkan kurang mengertinya masyarakat dengan program pembangunan, dan pembangunan apa saja yang sudah dikerjakan oleh pemerintah desa.
Temuan kedua dalam penelitian ini yaitu model pengawasan pengelolaan dana desa yang telah digunakan di Desa Slemanan yaitu pertama, pengawasan dengan menyerahkan laporan kepada Inspektorat Daerah yang dilakukan oleh pemerintah desa. Kedua, dengan musyawarah desa yang disampaikan melalui BPD. Model pengawasan tersebut kurang optimal maka dari itu penulis merekomendasikan model pengawasan agar masyarakat tidak apatis yaitu pemerintah desa dapat membuat forum Focus Group Discussion., melakukan monitoring dan evaluasi, terakhir yaitu menggunakan media sosial.
Rekomendasi penulis yaitu hendaknya masyarakat yang mengikuti rapat musyawarah desa, mensosialisasikan hasil rapat tersebuit kepada masyarakat agar semua masyarakat dapat mengetahui program dana desa.
ENGLISH:
The writing of this thesis is to describe the analysis of the supervision of village fund management in Slemanan Village, Udanawu District, Blitar Regency, which was carried out by the Slemanan Village Community. Supervision can be carried out properly if the community can actively participate in the management of village funds.
The purpose of this research is to analyze the supervision of the community in managing village funds in Slemanan Village, Udanawu District, Blitar Regency and to formulate a model of supervision of village fund management based on public participation. The research method uses Empirical Juridical data, data collected by interview techniques, library research and documentation and uses Qualitative Juridical data analysis techniques.
The first finding in this study, community participation in terms of oversight of village fund management in Slemanan Village, Udanawu District, Blitar Regency is still lacking. Field facts show that people do not understand the development program, and what development has been done by the village government.
The second finding in this study is the supervision model of village fund management that has been used in Slemanan Village, first, monitoring by submitting a report to the Regional Inspectorate conducted by the village government. Second, with village deliberations delivered through BPD. The supervision model is less than optimal, so the author recommends a monitoring model so that the community is not apathetic, ie the village government can create a Focus Group Discussion forum, conduct monitoring and evaluation, finally using social media.
The author's recommendation is for the community to take part in the village meeting, to socialize the results of the meeting to the community so that all communities can know about the village funding program.
ARABIC:
تكمن كتابة هذه الرسالة في وصف تحليل الإشراف على إدارة صناديق القرية في قرية سليمانان ، مقاطعة أودانوو ، بليتار ريجنسي ، والتي نفذها مجتمع قرية سليمانان. يمكن القيام بالإشراف بشكل صحيح إذا كان بإمكان المجتمع المشاركة بنشاط في إدارة أموال القرية.
الغرض من هذا البحث هو تحليل إشراف المجتمع في إدارة الأموال القروية في قرية سليمانان ، مقاطعة أودانوو ، بليتار ريجنسي وصياغة نموذج لرصد إدارة صندوق القرية على أساس المشاركة العامة. تستخدم طريقة البحث البيانات القانونية التجريبية والبيانات التي تم جمعها عن طريق تقنيات المقابلة ودراسة الأدبيات والوثائق وكذلك استخدام تقنيات تحليل البيانات القانونية النوعية.
النتيجة الأولى في هذه الدراسة ، مشاركة المجتمع فيما يتعلق بالإشراف على إدارة صناديق القرية في قرية سليمانان ، منطقة أودانوو ، بليتار ريجنسي لا تزال غير موجودة. تظهر الحقائق الميدانية أن الناس لا يفهمون برنامج التطوير ، وما هو التطور الذي قامت به حكومة القرية.
الاستنتاج الثاني في هذه الدراسة هو نموذج الإشراف على إدارة صندوق القرية الذي تم استخدامه في قرية سليمانان ، أولاً ، من خلال تقديم تقرير إلى المفتشية الإقليمية أجرته حكومة القرية. الثانية ، مع مداولات القرية تسليمها من خلال BPD. نموذج الإشراف أقل من المستوى الأمثل ، لذلك يوصي المؤلف بنموذج للمراقبة بحيث لا يكون المجتمع غير مبالي ، أي يمكن للحكومة القروية إنشاء منتدى للمناقشة الجماعية المركزة ، وإجراء المراقبة والتقييم ، وأخيراً باستخدام وسائل التواصل الاجتماعي.
تتمثل توصية المؤلف في أن يشارك المجتمع في اجتماع القرية ، ولإضفاء طابع اجتماعي على نتائج الاجتماع إلى المجتمع حتى يتمكن جميع الأشخاص من معرفة برنامج صندوق القري
Identification Study of Factors Affecting Consumer Loyalty at Pereka Coffee Coffee Shop Medan
108 HalamanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas konsumen di coffee shop Pereka Coffee Medan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif pendekatan kuantitatif. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu konsumen yang melakukan pembelian lebih dari dua kali di coffee shop pereka coffee dengan jumlah sampel sebanyak 60 orang konsumen. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sampling insidental (accidental sampling) yakni teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja konsumen yang secara kebetulan bertemu dengan penulis dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Pada penelitian ini juga menggunakan metode skala, skala yang digunakan adalah skala Likert. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis faktor, sebelum dilakukan analisis faktor terlebih dahulu dilakukan uji asumsi sebagai syarat untuk melakukan analisis data. uji asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji asumsi normalitas sebaran dengan menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov. Berdasarkan dari hasil analisis data diketahui bahwa persentase faktor-faktor yang berkontribusi mempengaruhi loyalitas konsumen di pereka coffee antara lain faktor kualitas produk sebesar 0,894 atau 20%, faktor kualitas pelayanan sebesar 0,937 atau 21%, faktor emosional sebesar 0,929 atau 21%, faktor harga sebesar 0,894 atau 20% dan faktor biaya sebesar 0,818 atau 18%. Maka dengan itu di simpulkan bahwa faktor tertinggi yang berkontribusi mempengaruhi loyalitas konsumen di pereka coffee adalah faktor kualitas pelayanan sebesar 0,937 atau 21% dan faktor terendah yang berkontribusi mempengaruhi loyalitas konsumen adalah faktor biaya sebesar 0,818 atau 18%. This study aims to find out how many factors affect consumer loyalty at the Pereka Coffee Medan coffee shop. The method used in this study is a descriptive method of quantitative approach. The sample used in this study was consumers who made more than two purchases at coffee shops with a total sample of 60 consumers. The sampling technique uses incidental sampling technique (accidental sampling), which is a technique of determining samples based on chance, that is, anyone who coincidentally meets the author can be used as a sample, if it is seen that the person who happens to be met is suitable as a data source. In this study also used the scale method, the scale used was the Likert scale. The data analysis technique used in this study is a factor analysis technique, before factor analysis is carried out, an assumption test is first carried out as a condition for conducting data analysis. The assumption test used in this study is a distribution normality assumption test using the Kolmogorov-Smirnov technique. Based on the results of data analysis, it is known that the percentage of factors that contribute to influencing consumer loyalty in coffee makers include product quality factors of 0.894 or 20%, service quality factors of 0.937 or 21%, emotional factors of 0.929 or 21%, price factors of 0.894 or 20% and cost factors of 0.818 or 18%. Therefore, it is concluded that the highest factor that contributes to influencing consumer loyalty in coffee makers is the service quality factor of 0.937 or 21% and the lowest factor that contributes to influencing consumer loyalty is the cost factor of 0.818 or 18%
