1,720,971 research outputs found
BUDIDAYA IKAN LELE BERBASIS TEKNOLOGI REKAYASA HORMONAL PADA KELOMPOK MINA TANI GARUDA KECAMATAN SUKABUMI BANDAR LAMPUNG DAN MANDIRI SENTOSA KECAMATAN JATI AGUNG LAMPUNG SELATAN
Implementasi Kewenangan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam Menjalankan Fungsi Pengawasan Terhadap Pemerintah Desa (Studi di Kabupaten Kuningan)
Abstrak : Reformasi dan otonomi daerah sebenarnya adalah harapan baru bagi pemerintah dan masyarakat desa untuk membangun desanya sesuai kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Kewenangan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam melaksanakan fungsi pengawasan kepada pemerintah desa. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kewenangan BPD dalam melaksanakan fungsi pengawasan sesuai Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan fakor-faktor yang menjadi kendala Badan Permusyawaratan Desa dalam melaksanakan fungsi pengawasan kepada pemerintah desa di Desa Sukaharja, Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan. Metode penelitian ini dengan pendekatan yuridis empiris, yaitu menggunakan data primer dan sekunder dan dianalisis dengan metode deskriptif analisis. Hasil penelitian ini adalah kewenangan Badan Permusyawaratan Desa dalam melaksanakan fungsi pengawasan sesuai dengan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 yaitu BPD memiliki hak untuk mengawasi dan meminta informasi tentang administrasi desa kepada pemerintah desa; menyampaikan pendapat tentang pelaksanaan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan desa, pengembangan masyarakat desa, dan pemberdayaan masyarakat pedesaan; serta mendapatkan biaya operasional untuk pelaksanaan tugas dan fungsi anggaran pendapatan dan belanja desa serta faktor-faktor yang menjadi kendala yaitu dalam menerapkan fungsi supervisi kepada pemerintah desa terbagi menjadi 2 (dua) : faktor internal termasuk: sarana yang tidak memadai, pola komunikasi tidak berjalan dengan baik, dan anggota BPD tidak mengerti fungsi sedangkan faktor eksternal meliputi: masyarakat tidak mengerti fungsi BPD, ada sosialisasi pemerintah desa terkait fungsi Badan Permusyawaratan Desa , dan faktor sumber daya manusia masyarakat desa. Kesimpulan adalah kewenangan BPD dalam melaksanakan fungsi pengawasan sesuai Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yaitu BPD yang berhak mendapat pertanggungjawaban kepala desa dan meminta informasi kepada pemerintah desa.Kata kunci: Otoritas, BPD, Pengawasan, dan Pemerintahan Desa. THE IMPLEMENTATION OF AUTHORITY OF VILLAGE CONSULTATIVE AGENCY IN RUNNING CONTROL FUNCTIONS ON VILLAGE GOVERNMENT (STUDY IN KUNINGAN REGENCY) Abstract : The writer conducted this research with background to know the authority of Village Consultative Agency (Badan Permusyawaratan Desa) in implementing supervision function to village government. The purposes of writing this research are to know the authority of Village Consultative Agency in implementing supervision function according to Law Number 6 of 2014 about Village and what factors that become obstacles are faced by Village Consultative Agency in implementing supervision function to village government in Sukaharja Village, Cibingbin District, Kuningan Regency. This research used descriptive analysis research with juridical-normative approach. Stage of research is through literature research using primary and secondary data collected through documentation and analyzed descriptive qualitative method. The result of this research was the authority of Village Consultative Agency in implementing supervisory function according to Law Number 6 of 2014 namely VCB has the right to supervise and request information about the administration of village administration to village government; to express opinions on the implementation of village governance, implementation of village development, village community development, and empowerment of rural communities; as well as obtaining operational costs for the execution of duties and functions of the village income and expenditure budget. The factors that into two: internal factor including: inadequate means, communication patterns were not working properly, and members of Village Consultative Agency do not understand the functions while external factors include: the community does not understand the functions of Village Consultative Agency, there was a socialization of the village government related to the function of Village Consultative Agency, and the human resource factor of the village community. The conclusion of paper was the authority of Village Consultative Agency in implementing supervision function according to Law Number 6 of 2014 about Village namely VCB was entitled to hold accountability of village head and ask for information to village government.Keywords: Authority, VCB, Supervision, and Village Government
FEED ENRICHMENT WITH FISH OIL TO INCREASE EEL GROWTH RATE Anguilla bicolor (McCelland, 1844)
Eel (Anguilla bicolor) is a export commodity fish in fisheries sector and has has high economic value but has slow growth. One method to accelerate eel growth is through feeding with the enrichment of fish oil. The aim of this research is to know the increase of growth rate of eel fish fed with the enrichment of essential fatty acids with fish oil. The study used 3 treatments and 3 replications ie A (0% fish oil / control), B (1.5% fish oil), and C (3% fish oil). Parameters observed included specific growth rate, feed consumption total, feed efiesiensi, fat retention, survival rate. The supporting parameters are water quality. The result of research obtained were tabulated and analyzed by excel 2013 program and SPSS v. 20.0. with 95% confidence interva and continued by Duncan test. The results showed that there was a significant effect (P <0.05) on the growth rate of eel fish fed with the enrichment of essential fatty acids with fish oil. Treatment C (3% fish oil) is the optimum dose because it has the best growth performance and best feed efficiency that is specific growth rate (4,61% ± 0,0075), total feed consumption (246,3 g ± 50,1), feed efiesiensi (42,5% ± 3,74), fat retention (2,97% ± 0,148) and survival rate (86,7% ± 11,5)
EFEKTIFITAS PENAMBAHAN ASAM AMINO PADA PAKAN UNTUK PERTUMBUHAN IKAN SIDAT, Anguilla bicolor (McCelland, 1844)
Eel is one of the fisheries commodity that have not been rearing widelyin Indonesia. Constraint that occured in rearing eel is slow growth. A way to accelerate eel growth isfeeding with enrichment by using an amino acids. An amino acids can be used directly by eel for cell growth and the formation of body tissue. An amino acid that is used from the stingrays are not utilized by people because it has no economic value to production activities. This research was aimed to study the growth rate of eel whichis fed with enrichment of an amino acids derived from stingray extract. The method in this research used completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 3 replications. The measure of eel that usedare 26-28 cm, the average weight is 28 grams and an amino acids dosage that used are 0 ml, 0.5 ml and 1 ml. It use FR 3% which is given at night to support the characteristic of eel that is nocturnal (active at night). The analyze result from the parameters that have been observed, there is not a significant effect (P> 0.05) and the fed with enrichment by using an amino acids with the dosage used hasn't been able to be utilized as fish feed mixture to increase growth rate
PERKEMBANGAN LARVA UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) HASIL PERSILANGAN POPULASI ACEH DAN STRAIN SIRATU
Budidaya udang galah sangat diminati dan berkembang pesat karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Permasalahan yang timbul yakni pengendalian terhadap kualitas genetik udang galah menjadi turun terutama pada produksi larva tanpa diikuti manajemen induk yang baik, upaya yang dapat dilakukan yaitu perbaikan genetik melalui kegiatan persilangan induk (hibridisasi) untuk menghasilkan larva dengan kualitas unggul. Hibridisasi intraspesifik menggunakan udang galah populasi Aceh (A) dan strain Siratu (R) dilakukan secara resiprokal (RA dan AR) dan galur murni (RR dan AA). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persilangan resiprokal udang galah populasi Aceh dan strain Siratu terhadap laju dan durasi perkembangan larva yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva hasil persilangan dengan metode resiprokal hibrida Siratu x Aceh (RA) dengan nilai laju perkembangan 9,87 dan durasi perkembangan 27 hari lebih baik dibandingkan hibrida Aceh x Siratu (AR) dengan nilai laju perkembangan 9,78 dan durasi perkembangan 30 hari untuk mencapai post larva. Hasil persilangan hibridisasi RA dan AR lebih lama dibandingkan inbrida Siratu x Siratu (RR) tetapi lebih cepat dibandingkan dengan inbrida Aceh x Aceh (AA) sebagai tetua.</p
Pengaruh Suhu yang Berbeda terhadap Daya Tetas dan Perkembang Embrio Ikan Tawes (Barbonymus gonionotus)
Suhu berpengaruh signifikan terhadap daya tetas dan larva ikan. Suhu tinggi dapat mengganggu aktivitas enzim, suhu rendah dapat mempengaruhi metabolisme telur dan menghambat proses penetasan pada telur dan perkembangan larva. .Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap hasil daya tetas, perkembangan embrio dan lama waktu penetasan telur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan(25 ℃, 26℃, 27 ℃ dan 28 ℃) dan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi perkembangan embrio telur, daya tetas telur, dan lama waktu penetasan telur. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik rgam dilanjutkan dengan uji lanjut BNT (Beda Nytaa Terkecil). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap daya tetas telur, dan lama waktu penetasan telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya tetas tertinggi dengan nilai 93% pada suhu 26℃ , kelangsungan dan lama waktu penetasan telur tercepat dengan nilai 12,93 jam pada suhu 26℃
FEED ENRICHMENT WITH FISH OIL AND CORN OIL TO INCREASE EEL GROWTH RATE Anguilla bicolor (McCelland, 1844)
Eel (Anguilla bicolor) is an Indonesian freshwater commodity that has high economic value but has slow growth. One method to accelerate eel growth is through feeding with the enrichment of essential fatty acids. The aim of this research is to know the increase of growth rate of eel fish fed with the enrichment of essential fatty acids with fish oil and corn oil. The study used 3 treatments and 3 replications ie A (0% corn oil + 0% fish oil), B (1.5% corn oil + 1.5% fish oil), and C (3% corn oil + 3% fish oil). Parameters observed included specific growth rate, total feed consumption, feed efficiency, fat retention, and survival rate. The supporting parameter is water quality. The data obtained were analyzed by analysis of variance and continued by fisher test with 95% confidence interval. The results showed that there was a significant effect (P <0.05) on the growth rate of eel fish fed with the enrichment of essential fatty acids with fish oil and corn oil. Treatment C (3% corn oil + 3% fish oil) is the optimum dose because it has the best growth performance and best feed efficiency that is specific growth rate (4.67%), total feed consumption (262,9 g), feed efficiency (61% ), fat retention (2.805%), and survival rate (80%)
Embriogenesis Dan Daya Tetas Ikan Pelangi (Melanotaenia parva) Pada Salinitas Yang Berbeda
Ikan hias adalah salah satu potensi perikanan yang cukup besar di Indonesia. Budidaya ikan hias air tawar memiliki nilai ekspor yang cukup tinggi dan berpeluang dapat meningkatkan devisa. Ikan hias dapat dijadikan alternatif usaha yang dapat memberikan keuntungan finansial. Ikan pelangi (Melanotaenia parva) merupakan salah satu ikan hias air tawar yang memiliki warna, bentuk dan ukuran yang menarik, serta mudah dibudidayakan. Budidaya ikan pelangi memiliki kendala terutama pada ketersediaan benih. Ketersediaan benih berhubungan dengan waktu penetasan telur yang membutuhkan waktu lama. Peningkatan salinitas dapat digunakan untuk meningkatkan ketersediaan benih ikan pelangi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap daya tetas dan lama waktu penetasan telur ikan pelangi. Desain penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan salinitas yaitu 0; 2; 4; 6; 8; dan 10 ppt dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penetasan telur menggunakan salinitas yang berbeda berpengaruh terhadap lama embriogenesis. Telur ikan pelangi yang ditetaskan pada salinitas 4 ppt lebih cepat menetas dibandingkan dengan perlakuan lain. Kontras dengan lama waktu penetasan, ternyata salinitas tidak berpengaruh terhadap daya tetas telur ikan pelangi. Penelitian ini menyarankan agar penggunaan air berkadar garam rendah disarankan untuk mempersingkat embriogenesis ikan pelangi
KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERKEMBANGAN LARVA UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) ASAHAN PADA SALINITAS BERBEDA
Kelangsungan hidup dan perkembangan larva udang galah asahan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, salah satu faktor eksternal yakni salinitas yang merupakan faktor pembatas bagi kelangsungan hidup dan perkembangan larva udang. Larva udang galah asahan memiliki kemampuan toleransi salinitas dengan kisaran 8-15 ppt. Kemampuan toleransi pada larva udang galah dapatdisempurnakan dengan menentukan pola adaptasi dengan perubahan salinitas yang tepat. Setelah ditentukan salinitas yang tepat maka diharapkan kelangsungan hidup dan perkembangan larva udang galah asahan akan optimum. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan menganalisis kelangsungan hidup dan perkembangan larva udang galah asahan pada salinitas berbeda (11 ppt, 13 ppt, dan 15 ppt). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan larva udang galah asahan pada salinitas berbeda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup dan perkembangan larva udang galah asahan.
INFLUENCES OF LAMP IRRADIATION EXPOSURE ON GROWTH AND SURVIVAL OF JUVENILE SNEAKHEAD FISH Channa striata (Bloch, 1793)
The research has been conducted by February to March 2018 in the Laboratory of Aquaculture, Faculty of Agriculture, Lampung University. The research aim of this to acknowledge the influences of lamp irradiation exposure on growth and survival of juvenile sneakhead fish (Channa striata). This research used a completely randomized design with five treatments, A (12B;12D), B (9B;15D), C (6B;18D), D (3B;21D), and E (0B;24D) with three replications. The research showed that the effect of the length of light irradiation exposure has a significant effect on growth and survival of juvenile snakehead fish. The best treatment found in treatment D, that the resulted highest value of weight growth (5,46 g), daily weight growth (0,121 g/day), length growth (5,37 cm), daily length growth (0,119 cm/day), and survival rate of 97%
- …
