1,720,978 research outputs found
PENATAAN JALUR HIJAU JALAN DI KOTA GORONTALO
ABSTRAK
Ketersediaan Jalur Hijau Jalan sebagai bagian dari Ruang Terbuka Hijau Perkotaan saat penting pada suatu kota. Hal ini dikarenakan pentingnya fungsi Jalur Hijau dalam menambah keamanan dan kenyamanan bagi pengguna jalan. Oleh karena itu diperlukan penataan Jalur Hijau sebagai bagian dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk mengurangi kesemrawutan di jalan-jalan pada kawasan perkotaan serta memberikan fungsi ekologis dan estetika dalam mengurangi kerusakan lingkungan melalui pencemaran udara yang diakibatkan oleh semakin meningkatnya kendaraan bermotor di Kota Gorontalo.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang pola dan karakteristik RTH Jalur Hijau Jalan serta rekomendasi vegetasi yang sesuai pada jalan-jalan utama di Kota Gorontalo. Kondisi tersebut dapat menjadi dasar atau acuan dalam menata Ruang Terbuka Hijau khususnya Kawasan Jalur Hijau Jalan untuk Perkotaan.
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh hasil bahwa jalur hijau jalan yang tersedia saat ini di Kota Gorontalo berada di tepi dan median jalan John Ario Katili sepanjang 2,75 km dan Jalan Jusuf Dali sepanjang 1,74 km. Jalur hijau tepi jalan juga terdapat pada sebagian ruas jalan By Pass sekitar 700 meter. Arahan untuk penataan jalur hijau jalan perkotaan melalui studi kasus pada di Jalan Nani Wartabone dan Jalan Brigjen Piola Isa.
Kata kunci: Penataan, Jalur Hijau, Jalan
PENATAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) KAWASAN PERMUKIMAN DI KELURAHAN TENILO
ABSTRAK
Perkembangan Kota Gorontalo sebagai ibukota prinvinsi berlangsung dengan cepat menyebabkan tinggi tingkat kebutuhan akan lahan yang berakibat pada ketersediaan lahan terbuka semakin berkurang dan alih fungsi lahan semakin tinggi. Kondisi ini menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan sehingga perlu dilakukan pengembangan dan penataan kawasan ruang terbuka hijau di perkotaan khususnya pada kawasan permukiman.
Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik ruang terbuka hijau dan analisis spasial melalui aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk menghitung ketersediaan ruang terbuka hijau.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa RTH pada kawasan permukiman di Kelurahan Tenilo saat ini belum tersedia, namun luas ruang terbuka (lahan tidak terbangun) sebanyak 46,40 ha atau 79,40% cukup memadai untuk ditata sebagai RTH dan memenuhi luas RTH yang disyaratkan pada Undang-undang penataan ruang sebanyak 30% luas wilayah. Sedangkan arahan RTH pada kawasan tersebut adalah sebagai RTH lapangan olahraga, taman lingkungan, kawasan khusus (sempadan sungai, bekas tambang galian c), jalur hijau dan RTH privat pekarangan rumah.
Kata Kunci : Penataan, Ruang Terbuka Hijau (RTH), Permukima
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA BUMI BAHARI DALAM ‎‎MENINGKATKAN KUALITAS ‎PERMUKIMAN BERBASIS ‎MANAJEMEN ‎PENGELOLAAN SAMPAH BERKELANJUTAN
Permasalahan sampah saat ini telah menjadi masalah global dan sangat ‎mendesak untuk ‎ditangani. Potensi timbulan sampah tertinggi dihasilkan dari ‎kawasan permukiman.‎†â€â€Pengelolaan sampah di kawasan permukiman dan ‎perumahan yang tidak dilakukan secara bijak ‎dan berkelanjutan akan ‎berdampak pada penurunan kualitas permukiman. Hal ini akan ‎memberikan ‎dampak jangka panjang terhadap masyarakat yang bermukiman pada ‎kawasan ‎tersebut seperti terganggunya kesehatan, pencemaran lingkungan ‎‎(tanah, air dan udara), ‎kenyamanan masyarakat berkurang, dan terjadi ‎kekumuhan. Oleh karena itu perlu ‎dilaksanakan progam pengabdian ‎masyarakat melalui KKN Infrastruktur Permukiman yang ‎bertujuan untuk ‎menciptakan permukiman berkualitas melalui pengelolaan sampah ‎‎berkelanjutan, ‎diharapkan menjadi solusi alternatif yang ditawarkan untuk ‎atasi ‎permasalahan ‎permukiman khusunya pada kawasan permukiman ‎kumuh ‎maupun yang kawasan permukiman ‎berpotensi kumuh.‎†â€Kegiatan ini ‎akan dilaksanakan selama 4 bulan di Desa Bumi Bahari ‎Kecamatan Popayato ‎Kabupaten Pohuwato. Desa ini merupakan pintu gerbang kawasan ‎ekowisata ‎dan budaya yang merupakan bagian dari Torosiaje Serumpun dihuni oleh ‎Suku ‎Bajau. Desa ini merupakan salah satu desa yang berada di pesisir Teluk ‎Tomini dengan kondisi ‎sanitasi yang belum tertangani dengan baik termasuk ‎dalam hal pengelolaan sampah yang ‎tidak berkelanjutan sehingga ‎berdampak buruk pada ekosistem disekitarnya.â€
PEMETAAN SEBARAN INFRASTRUKTUR JALAN DAN TELEKOMUNIKASI KOTA GORONTALO
ABSTRAK
Pembangunan infrastruktur yang terencana dengan baik dan berkelanjutan dapat terlaksana jika didukung oleh ketersediaan data dan informasi tentang jumlah dan kualitas infrastruktur tersebut. Hal ini harus didukung dengan peningkatan sarana dan prasarana wilayah yang memadai melalui penyediaan infrastruktur baik fisik maupun non fisik. Penelitian ini menggunakan metode analisis spatial melalui aplikasi Sistem Informasi Geografis dengan menggunakan perangkat lunak ArcGIS 10.1. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengumpulan data primer melalui survey pengambilan data titik koordinat lokasi infrastruktur menggunakan Global Positioning System (GPS).
Hasil pemetaan jaringan jalan di Kota Gorontalo pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 181,76 km dengan rincian 13,20 km Jalan Nasional, 36,20 Jalan Provinsi dan 132,36 Jalan Kota. Menara telekomunikasi untuk telepon seluler yang lebih dikenal dengan naman Base Transceiver Station (BTS) di Kota Gorontalo berada pada 33 titik lokasi dengan rincian masing-masing kecamatan : 1) Dumbo Raya 7 BTS; 2) Dungingi 4 BTS; 3) Hulontalangi 3 BTS; 4) Kota Barat 6 BTS; 5) Kota Selatan 1 BTS; 6) Kota Tengah 6 BTS; 7) Kota Timur 3 BTS; 8) Kota Utara 2 BTS; dan 9) Sipatana 1 BTS.
Kata Kunci : Infrastruktur, Jalan, Telekomunikas
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
