7 research outputs found
PENGARUH KOMPETISI ALANG-ALANG (Imperata cylindrica L.) DENGAN PUPUK K TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KACANG HIJAU (Phaseolus radiatus L.)
The research aimed to know the influence of competition with weeds K fertilizer on the growth and yield of green bean plant, has been held in the shadow home Crop Science Study Program Graduate of Sriwijaya University, from September to December 2010. The designs used in this study were factorial randomized block design with three replications. The first factor is rhizome reeds: R1 = 0, R2 = 2, R3 = 4, R4 = 6, R5 = 8 rhizome polybag-1. Factor II doses of fertilizer K, K1 and K2 = 0 g = 1.25 g KCl polybag-1. The results showed that the growth and yield of green beans decreased with the increasing number rhizome weeds that compete, either with or without fertilizer K fertilizer K. But with the growth and yield of K fertilization gives better results than without fertilizer K.Key words: competition, weed, fertilizer K, green bean
PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAWANG MERAH (Allium cepa L. Var Bima) THE EFFECT OF GROWING MEDIA COMPOSITION ON GROWTH AND YIELD ONION (Allium cepa L. Var Bima)
Abstract This research was conducted to determine the growth and yield of Bima varieties onion with the composition of the planting media. The research was carried out in the experimental garden of the Faculty of Agriculture, Sriwijaya University in September 2018 to December 2018. The research used Bima variety onion seeds. Media treatment P0 = 100% soil (control), Ps1= 90% soil and 10% cow manure, Ps2 = 80% soil and 20% Cow manure, Ps3 = 70% soil and 30% Cow manure, Ps4 = 60% soil and 40% Cow manure, Ps5 = 50% soil and 50% Cow manure, Pa1 = 90% soil and 10% husk charcoal, Pa2 = 80% soil and 20% husk charcoal, Pa3 = 70% soil and 30% husk charcoal, Pa4 = 60% soil and 40% husk charcoal, Pa5 = 50% soil and 50% husk charcoal. This study used RBD and continued with a orthogonal contrast test. The results showed that the composition of the planting medium with treatment Ps4= 60% soil and 40% Cow manure had a positive influence on the growth of shallots, as evidenced by variable plant height average 40.76 cm, fresh weight of tubers per average seed. - average 46.8
BUDIDAYA TANAMAN BAWANG MERAH (ALLIUM CEPA L.) DALAM POLYBAG DENGAN MEMANFAATKAN KOMPOS TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT (TKKS) PADA TANAMAN BAWANG MERAH
Bawang merah merupakan salah satu tanaman bumbu dapur yang sangat mudah dijumpai di berbagai tempat. Tanaman ini merupakan bumbu yang wajib ada disetiap masakan, sehingga tidak heran bawang merah sangat populer, khususnya dikalangan ibu rumah tangga. Selain bumbu masak juga dijadikan campuran acar atau campuran bumbu mentah seperti bumbu sate dan lain sebagainya, bahkan ada yagng dimakan mentah sebagai pengobatan tradisional. Pemberian kompos tandan kosong kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik bagi tanaman, dapat menunjang perkembangan organisme tanah, sehingga tanah semakin baik dan tersedianya unsur hara yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Mikroorganisme merupakan faktor penting pada proses pengomposan bahan organik, mikroorganisme tersebut terutama bakteri dan jamur. Daerah Tanjung Rawo kelurahan Bukit Lama Palembang merupakan daerah yang tidak ada mempunyai lahan untuk bercocok tanam karena semakin banyaknya lahan yang dijadikan tempat pemukiman. Salah satu alternatif adalah bercocok tanam dalam polybag. Hasil pengabdian masyarakat ini telah menggugah ibu-ibu untuk bertanam bawang merah dalam polybag
PERGESERAN KOMPOSISI GULMA PADA TANAMAN PAPAYA (Carica papaya) YANG DIBERI PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK
ABSTRACT This study aims to see a shift in the composition of the weed on papaya plants fed organic fertilizer (pukana) and inorganic (NPK). And analyze its effect on dry weight of weeds. Research done at the Garden Village folk Sukasari Kec. Talang Kelapa, Palembang, South Sumatra, from June to October 2010. Randomized studies using Design Group (RAK) with 5 treatments and 5 replications. Fertilizer treatments consisted of: P1 = 30 kg plant pukana -1, P2 = 100 g NPK tanaman-1, P3 = 30 kg + 100 g of NPK plant pukana -1, P4 = 25 kg + 200 g of NPK plant pukana-1, P5 = 20 kg + 300 g of NPK plant pukana -1. To determine the dominant weeds were analyzed by the method of squares. The results showed that a shift in the composition of the weeds before cultivation and after treatment fertilizer age 1 month, 2 months and 3 months. Before tilling the land is dominated by Imperata cylindrica, Cyperus rotundus and, Mimosa invisa, while after treatment is dominated by the weed Ageratum conyzoides and Echinochloa colonum both at age 1, 2 and 3 months after planting. The results of the diversity of the highest weed dry weight obtained in the treatment of P3 is 81.85 g and the lowest in the treatment of P2 with weight 37.85 g.Keywords: Shifts, Weeds, Papaya, Pukana, NP
SELECTIVITY OF ALACHLOR HERBICIDE ON SWEET CORN (Zea mays saccharata L.) AND NUTSEDGE (Cyperus rotundus L.)
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ekologi Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, mulai
bulan Juni sampai Agustus 2007. Percobaan laboratorium. (I dan II) menggunakan petridis dan kertas saring whatman berdiameter 9 cm. Delapan konsentrasi herbisida alachlor (yaitu. 0, 0.003, 0.03, 0.3, 3, 30, 300, 3000 ppm) dengan empat ulangan. Parameter yang diamati meliputi persentase perkecambahan, panjang akar, panjang unas, berat kering akar dan pucuk untuk keduanya yakni jagung manis dan rumput teki. Data dikumpulkan selama 7 hari selama periode perkecambahan, kecuali persentase perkecambahan dihitung setiap hari. Hasil penelitian menunjukkan terjadi penurunan berat kering akar dan berat kering pucuk baik pada jagung manis maupun rumput teki, ketika satu taraf konsentrasi dinaikkan, terutama pada jagung manis. Pada jagung manis, aplikasi herbisida alachlor pada konsentrasi 3000 ppm menurunkan berat kering akar 35.0% (percobaan I), 45.0% (percobaan II), dan berat kering pucuk 39.90% (percobaan I), 59.59% (percobaan II). Pada rumput teki penurunan telah terjadi dari konsentrasi alachlor 3 ppm, yaitu. pada berat kering akar menurun 57.58% percobaan. I), 60% (percobaan II), dan pada berat kering pucuk menurun 68.33% (percobaan. I), 69.5% percobaan II). Nilai tertinggi GR50 untuk semua variabel terjadi pada jagung manis dibanding rumput teki. Dapat digambarkan herbisida alachlor sebagai herbisida selektip pada jagung manis dan rumput,
ketika keduanya ditanam secara interaktif
Selektivitas herbisida alakhlor pada jagung (Zea mays L.) dan gulma teki (Cyperus rotundus L.)
PENGARUH INTERVAL PENGENDALIAN GULMA DAN APLIKASI HERBISIDA TERHADAP PERTUMBUHAN GULMA DAN TANAMAN KARET TBM
Metode pengendalian gulma yang tidak efektif akan menyebabkan dinamika gulma ke jenis yang lebih sulit dikendalikan dan tertundanya matang sadap 2-3 tahun. Penelitian ini untuk mengkaji pertumbuhan gulma dan tanaman karet akibat pengaruh berbagai interval pengendalian dan aplikasi herbisida pada kebun karet TBM. Penelitian dilaksanakan dari Januari 2013 sampai Juni 2014. Rancangan penelitian Split Plot, petak utama adalah perlakuan interval pengendalian gulma dan perlakuan herbisida sebagai anak petak dengan ulangan 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan gulma daun lebar lebih dominan (SDR 52,76%) dari gulma sempit (SDR 47,24%) di awal penelitian (pra perlakuan). Bobot kering dan penutupan gulma lebih rendah, pada interval pengendalian lebih singkat. Bobot kering gulma antar petak perlakuan berbeda nyata pada Juni dan Desmber 2013. Bobot kering dan penutupan gulma terendah pada perlakuan glifosat + metil metsulfuron yang tertinggi pada perlakuan ditebas dan kontrol. Bobot kering dan penutupan gulma selalu berbeda nyata antara perlakuan glifosat + metil metsulfuron dengan perlakuan ditebas dan kontrol. Perlakuan herbisida campuran parakuat + metil metsulfuron menghasilkan pertumbuhan lilit batang karet lebih baik (17,9 cm) dibanding perlakuan glifosat + metil metsulfuron (16,9 cm). Pertumbuhan lilit batang tanaman karet sangat dipengaruhi bobot kering gulma dengan nilai koefisien diterminasi R2  = 0,82. Dapat disimpulkan bahwa perlakuan herbisida glifosat + metil metsulfuron lebih efektif menekan pertumbuhan gulma dan pertumbuhan lilit batang karet sangat dipengaruhi bobot kering gulma yang membentuk pola hubungan pertumbuhan negatif
