1,720,959 research outputs found
Eksplorasi Jamur Patogen Tanaman Ganyong (Canna edulis Ker.) Di Wilayah Malang
Ganyong, Achira, atau Queensland Ganyong (Canna edulis Ker.) merupakan salah satu tanaman herba berumpun dan termasuk dalam umbi-umbian. Ganyong juga merupakan salah satu sumber makanan alternatif yang mengandung karbohidrat dan mineral tinggi. Produktivitas umbi ganyong cukup melimpah di wilayah Jawa Timur yaitu mencapai ± 700 ton/tahun yang tersebar diberbagai wilayah seperti Malang, Nganjuk, Ngawi, Trenggalek, Banyuwangi, dan Bojonegoro. Komoditas ganyong belum banyak dikembangkan di Indonesia, tetapi baru beberapa daerah yang mulai mengembangkannya sebagai potensi daerah dan diversifikasi pangan. Salah satu daerah yang sudah mulai mengembangkan ganyong adalah Jawa Barat, khususnya Kabupaten Ciamis sebagai sentra produksinya. Ganyong sering dimanfaatkan dalam bentuk pati. Pati ganyong saat ini memiliki peluang pasar yang terbuka untuk industri, baik industri pengolahan skala rumah tangga (UMKM) seperti pembuatan kue, egg roll, mie, soun, dsb hingga skala industri modern seperti industri makanan bayi sebagai bentuk diversifikasi produk dari komoditas ganyong. Untuk memenuhi kebutuhan pati ganyong, perlu ada pengembangan bubidaya tanaman ganyong dalam skala besar dan berkelanjutan. Ganyong pun tergolong mudah dibudidayakan karena tahan kekeringan, efisien dalam penggunaan nitrogen, mampu tumbuh pada tanah yang lembab, dan ternaungi. Sedangkan, penelitian faktor-faktor yang memengaruhi budidaya ganyong khususnya terkait patogen pada tanaman ganyong masih belum banyak dikembangkan. Patogen pada tanaman ganyong salah satunya disebabkan oleh jamur. Keragaman jamur patogen yang menyerang tersebut salah satunya disebabkan oleh faktor lingkungan. Setiap daerah tentu memiliki kondisi lingkungan yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh ketinggian datarannya. Salah satu daerah yang memiliki beragam ketinggian dataran dalam satu wilayah adalah Malang dan Malang merupakan salah satu sentra ganyong.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Universitas Brawijaya, Malang pada bulan Agustus 2016 sampai dengan Januari 2017. Metode penelitian ini menggunakan metode eksplorasi pada beberapa lokasi eksplorasi selanjutnya dilakukan isolasi, purifikasi, dan identifikasi di laboratorium, serta dilakukan postulat Koch. Ada tujuh lokasi pengamatan yaitu tiga lokasi di dataran tinggi (Batu, Ngantang, Pujon), tiga lokasi di dataran menengah (Pakis, Malang, Wajak), dan satu lokasi di dataran rendah (Gondanglegi). Pada setiap lokasi dilakukan pengambilan sampel tanaman bergejala pada daun, batang, maupun umbi ganyong. Hasil pengamatan akan disajikan berupa deskriptif dan analisis perhitungan intensitas penyakit pada setiap lahan. Terdapat jamur patogen pada tanaman ganyong yang berbeda pada dataran tinggi, menengah, dan rendah. Jamur patogen di dataran tinggi didominasi oleh jamur Puccinia sp. yaitu P. thaliae sedangkan pada dataran menengah dan rendah didominasi oleh jamur Fusarium sp. meliputi F. oxysporum, F. solani, dan F. moniliforme. Gejala penyakit akibat Puccinia sp. berupa serbuk atau pustul berwarna kuning pada permukaan atas dan bawah daun, sedangkan gejala penyakit akibat Fusarium sp. pada daun berupa daun berwarna kuning kecoklatan dan terdapat lesi-lesi berwarna hitam, pada umbi berupa busuk kering, dan pada pangkal batang berupa layu serta busuk
PARADIGMA PENDIDIKAN BERBASIS MASYARAKAT (COMMUNITY BASED EDUCATION)
All educational activities that are currently developing basically have a goal of involving all components of education including the community. However, in reality the community lacks a proper place as a subject that plays an important role in every education policy. What's more, many people are used as objects and tools to reap profits. In fact, the contribution of the community is so clear and tangible in supporting efforts towards overall educational goals. On that basis, it is necessary to develop an education paradigm based on the community. an Education Paradigm that will reunite formal educational institutions with informal real-life communities. Thus formal and informal education is not just a story, but a complete reality. Thus, a learning society will be created
PENERAPAN ETIKA DALAM MANAJEMEN PEMBINAAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN ATS-TSAQOFIY TANJUNG MORAWA
Kata etika dapat dipahami sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan yang menjelaskan tentang arti baik atau buruknya perbuatan. Selain itu, kata etika juga bertujuan agar manusia mampu mempresentasikan segala tindak tanduknya dalam bentuk tindakan nyata. Faktanya, selama hari ini lembaga pendidikan pada umumnya tidak mampu menanamkan etika kepada para peserta didiknya dikarenakan banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya adalah tersandung dengan Pasal-Pasal yang diberlakukan dalam Undang-Undang Penegakan HAM. Di Pondok Pesantren Ats-Tsaqofiy misalnya, masih adanya santri/wati yang belum mematuhi sepenuhnya peraturan mengenai tatacara beretika dengan benar, baik dengan sesama santriwan/wati maupun dengan para ustadz serta ustadzahnya. Adapun tujuan dari pengabdian kepada masyarakat di Pondok Pesantren Ats-Tsaqofiy ini antara lain untuk mengetahui: (1) penerapan etika kepada santri/wati di Pondok Pesantren Ats-Tsaqofiy, (2) manajemen pembinaan etika santri/wati di Pondok Pesantren Ats-Tsaqofiy, (3) faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan etika kepada santri/wati di Pondok Pesantren Ats-Tsaqofiy. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Pondok Pesantren Ats-Tsaqofiy ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan menggunakan teks naratif yakni memaparkan data berdasarkan pernyataan dari narasumber. Hasil dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Pondok Pesantren Ats-Tsaqofiy diharapkan menjadi suatu pertimbangan bagi pimpinan serta para ustadz dan ustadzah saat menerapkan etika dalam manajemen pembinaan santri/wati di Pondok Pesantren Ats-Tsaqofiy Tanjung Morawa in
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Peran Operator Sekolah dalam Pengelolaan Layanan Website Sekolah di MA Taruna Teknik Aljabbar Medan
Masih banyak sekolah yang belum mempunyai situs web sekolah sendiri, karena keterbatasan sumber daya manusia dan juga rendahnya pengetahuan dan pemanfaatan ilmu teknologi informasi. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui peran operator sekolah dalam mengelola layanan website sekolah di MA Taruna Teknik Al-Jabbar Medan dan juga untuk mengetahui apa hambatan yang dihadapi operator sekolah dalam mengelola layanan website sekolah di MA Taruna Teknik Al-Jabbar Medan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan penelitian lapangan (field Research). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan peran operator sekolah sangat penting dalam pengelolaan layanan website sekolah. Peran operator sekolah dalam mengelola layanan website sekolah ialah rutin mengelola website dengan memposting konten bagus dan keren agar dapat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap sekolah tersebut, juga memonitor segala layanan atau fitur yang ada didalam website agar tetap berfungsi dan dapat diakses oleh para pengguna layanan website sekolah. Didalam menjalankan perannya dalam mengelola layanan website sekolah, ternyata operator sekolah juga menghadapi berbagai macam hambatan dalam mengelola layanan website sekolah. hal itu disebabkan karena terlalu banyak tugas utama yang harus dikerjakan
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
