1,722,344 research outputs found

    INSTRUMEN MOBILISASI POLITIK PENCALONAN SYAHRI MULYO DALAM PILKADA KABUPATEN TULUNGAGUNG 2013

    No full text
    Mobilisasi politik yang efektif dibutuhkan seiring dengan semakin tingginya tingkat persaingan antar partai politik maupun antar kandidat. Dalam kaitannya dengan pilkada, apakah penggunaan mobilisasi politik yang tepat dalam pilkada kemudian mampu mengatasi berbagai hambatan, sehingga kampanye bagi kandidat dapat lebih efektif dalam upaya mencapai pemenangan. Karena dalam persaingan yang sengit, masing-masing kandidat tentu semakin membutuhkan strategi yang tepat, yang dapat lebih menjamin efektifitas serta efisiensi. Penelitian ini memilih pilkada Kabupaten Tulungagung sebagai lokasi penelitian, dengan subyek penelitian pasangan SAHTO (Syahri Mulyo-Maryoto Bhirowo). Syahri Mulyo merupakan salah satu dari delapan kader PDIP yang mencalonkan diri di pilkada Kabupaten Tulungagung ini namun kemunculannya nampak sebagai sebuah prestasi di dalam sejarah pertarungan pilkada Kabupaten Tulungagung yang merupakan basis massa PDIP. Hal ini disebabkan karena latar belakang sosio kultural masyarakat Kabupaten Tulungagung yang mataraman cenderung nasionalis dan abangan. Menariknya, Syahri Mulyo berhasil lolos pada verifikasi dan menang walaupun tidak diusung dari PDIP yang merupakan partai kuat di Kabupaten Tulungagung dan justru di usung oleh PKNU. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian studi kasus, yaitu mengambil satu kasus dan dianalisis untuk menemukan aspek-aspek secara teoritik yang ingin dijelaskan sebagai hasil penelitian, dengan melihat keseluruhan proses-proses dalam pilkada dan mobilisasi politik pasangan SAHTO menunjukkan bahwa Syahri Mulyo sebagai figur yang dominan untuk meraup suara dibandingkan pasangannya. Karena jaringan pribadi calon yang mengakar yaitu salah satu yang kuat adalah jejaring botoh yang merupakan kerabat dari bapak Syahri Mulyo yaitu Bapak Dasar. Selama masa kampanye figur Syahri Mulyo dan Bapak Dasar memudahkan pasangan SAHTO memperoleh suara dari kantong-kantong yang mayoritas adalah jaringan dari PDIP dan jaringan pribadi calon. Jaringan-jaringan tersebut tidak diperoleh begitu saja, namun telah melalui proses panjang yaitu hubungan relasional dengan masyarakat pemilihnya pada saat jauh sebelum masa kampanye. Hal ini memberikan referensi, bahwa pendekatan non partai dapat dilakukan efektif dan tepat sasaran selama mengetahui daerah dan kultur masyarakat setempat dan pendekatan peran institusional partai melemah digantikan oleh peran non elektoral partai

    PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG KEMENANGAN SYAHRI MULYO DALAM PILKADA 2018 DI TULUNGAGUNG

    No full text
    Abstrak Tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan persepsi masyarakat tentang korupsi, konstruksi masyarakat tentang Syahri Mulyo dan pengalaman masyarakat dengan Syahri Mulyo di Kabupaten Tulungagung. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan angket tertutup kemudian memeroleh sebanyak 63% responden memiliki persepsi positif, 30% responden meiliki persepsi netral, 7% responden memiliki persepsi negatif tentang kemenangan Syahri Mulyo dalam pilkada 2018 di Tulungagung dari keseluruhan sampel yang berjumlah 100 orang dari jumlah populasi 365.201 pemilih yang memberikan suara kepada Syahri Mulyo dan responden harus yang sudah menamatkan S1. Hasil penelitian jika dilihat dari indikator persepsi tergolong dalam kategori positif dengan skor rata-rata 31,04, indikator konstruksi tergolong dalam kategori positif dengan skor rata-rata 31,04 dan indikator pengalaman tergolong dalam kategori positif dengan skor rata-rata 30,13. Hasil dari keseluruhan indikator menyatakan jika persepsi masyarakat tentang kemenangan Syahri Mulyo dalam pilkada 2018 di Tulungagung tergolong positif dengan skor rata-rata 92,25. Kata Kunci: Persepsi, Masyarakat, PilkadaAbstract The purpose of this study is to describe peoples perceptions about corruption, community construction about Syahri Mulyo and community experiences with Syahri Mulyo in Tulungagung Regency. This research method uses quantitative methods with descriptive research type. The technique of collecting data using a closed questionnaire then obtained as many as 63% of respondents had positive perceptions, 30% of respondents had negative perceptions, 7% of respondents had negative perceptions about Syahri Mulyos victory in the 2018 elections in Tulungagung from all samples totaling 100 people from the amount spent 365,201 voters who voted for Syahri Mulyo. Responded chosen must have saved S1. The results of the study when viewed from the perception indicators are in the positive category with an average score of 31.04, construction indicators are classified in the positive category with an average score of 31.04 and the experience indicator is classified in the positive category with an average score of 30.13. Syahri Mulyo in the 2018 elections in Tulungagung was classified as positive with an average score of 92.25. Keywords: Perception, Society, Local Electio

    Pendidikan kewarganegaraan di Perguruan Tinggi/ Syahri

    No full text
    ix, 173 hal.; 23 cm

    Pola kerja gender pada industri kecil/ Syahri

    No full text
    Xi, 70 hal.; tab.; 28 c

    Kemenangan Tersangka Tindak Pidana Korupsi Dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Tulungagung Tahun 2018 (Studi Kasus Perilaku Memilih Masyarakat Dalam Memilih Syahri Mulyo Pada Pilkada Kabupaten Tulungagung Tahun 2018)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana Dinamika Pemilihan Kepala daerah Kabupaten Tulungagung tahun 2018 pasca ditetapkannya salah satu calon sebagai tersangka oleh KPK dengan dugaan kasus korupsi pembangunan infrastruktur jalan di Kabupaten Tulungagung. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik Pengumpulan data dengan wawancara dan dokumentasi. Serta menggunakan pendekatan teori perilaku memilih. Dalam Pilkada Kabupaten Tulungagung Tahun 2018, terdapat satu calon yang ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK yaitu Syahri Mulyo yang merupakan incumbent yang dikenal sangat baik oleh masyarakat. Dalam Penelitian ini ditemukan fenomena bahwa sejak ditetapkan menjadi tersangka, elektabilitas Syahri Mulyo sempat turun, akan tetapi sebelum Pilkada dilaksanakan, elektabilitasnya kembali naik dengan berbagai usaha dari relawan dan tim kemenangan Syahri Mulyo. Penelitian ini juga ditemukan adanya perilaku memilih sosiologis yaitu adanya rasa hutang budi, hubungan pertemanan dan pengaruh organisasi. Pendekatan psikologis ditemukan dengan alasan suka dengan partai pengusung Syahri Mulyo, PDIP. Pendekatan rasional hampir ditemukan di setiap wilayah tempat penelitian Penulis. Penetapan tersangka ini menyebabkan beberapa masyarakat melakukan golput dan berpaling untuk tidak memilih Syahri Mulyo lagi. Akan tetapi, sebagian besar masyarakat Kabupaten Tulungagung tidak terpengaruh oleh kasus ini, mereka tetap memilih Syahri Mulyo. Terbukti walaupun dia terjerat kasus, Syahri Mulyo tetap memenangkan Pilkada Kabupaten Tulungagung Tahun 2018 dengan selisih suara yang cukup tinggi. Hal ini terjadi karena Syahri Mulyo sudah dikenal sangat baik oleh masyarakat dan sudah mendapat citra baik dimata masyarakat dengan sifatnya yang loman dan akrab dengan masyarakat kecil. Selain itu, hasil kerja Syahri Mulyo juga dinilai berhasil oleh masyarakat Tulungagung

    Pendidikan kewarganegaraan di Perguruan Tinggi/ Syahri

    No full text
    ix, 173 hal.; 23 cm

    Pendidikan kewarganegaraan di Perguruan Tinggi/ Syahri

    No full text
    ix, 173 hal.; 23 cm
    corecore