1,720,964 research outputs found
TASAWUF DAN PSIKOLOGI : Tinjauan Psikologi Kesehatan Mental Terhadap Konsep Maqâm dan Hâl dalam Tasawuf Ibn ‘Arabi
Buku yang berjudul: “Tasawuf dan Psikologi : Tinjauan Psikologis Kesehatan Mental dan Maqâm dan Hâl dalam Tasawuf Ibn ‘Arabi ini mengkaji tentang konsep maqâm dan hâl dalam tasawuf Ibn ‘Arabi dalam melahirkan kepribadian dan mental yang sehat sesuai dengan tinjauan psikologis dan prinsip-prinsip kesehatan mental.
Ide penulisan buku ini dilatarbelakangi oleh perjalanan sejarah tasawuf yang panjang, dan tidak luput dari kecurigaan dan kecaman dari golongan Islam ortodoks. Tasawuf dituduh sebagai pengalaman keagamaan yang zindik, bid’ah bahkan secara ektsrim dianggap sebagai pengalaman seseorang yang mengidap sakit jiwa. Faktor utama penyebab munculnya tuduhan tersebut karena pengalaman tasawuf merupakan pengalaman individu yang sulit dikomunikasikan. Dengan demikian tidak berdasarkan pada proses dan pengaruhnya secara kejiwaan. Konstruksi tasawuf yang lebih berorientasi pada peningkatan kepribadian dan mental sangat dibutuhkan untuk menjawab tuduhan di atas. Ibn ‘Arabi sebagai sufi besar, dalam konstelasi tasawufnya tidak hanya berbicara tentang persoalan metafisik, tapi juga konsern dalam peningkatan kepribadian dan mental yang sehat. Melalui ajaran maqâm dan hâl, sufi Andalusia ini berpendapat bahwa peningkatan penghayatan dan pengalaman dalam tasawuf berbanding lurus dengan peningkatan kepribadian dan mental yang sehat.
Adapun kesimpulan buku ini, pertama, maqâm merupakan tingkatan spiritual yang dijalani oleh sufi, sedangkah hâl adalah kondisi kejiwaan tertentu sebagai hasil dari menjalani proses maqâm. Kedua, dimensi psikologis dalam maqâm dan hâl merupakan pengalaman dan kesadaran batin yang dialami seorang sufi ketika sampai pada tingkatan tertentu dalam tingkat-tingkat tersebut. Ketiga, Sedangkan dari sudut kesehatan mental, maqâm dan hâl merupakan terapi yang memuat prinsip-prinsip pengembangan kepribadian dan mental yang sehat
LOCAL WISDOM AND NATURAL DISASTER IN WEST SUMATRA
<p>Community-based disaster management is an attempt to optimize the potential of social and local values in communities to facilitate the handling of natural disasters. West Sumatra as one of the disaster-prone areas in Indonesia has a number of local wisdom values—a value combining religion and local culture—rooted in traditional philosophy; “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”. The examples of those local wisdoms are customary ideas or proverbs in the form of legend and expressions, architectural design of the traditional house—“Rumah Gadang”—and the structure of the environment as well as the social systems of kinship and traditional administration in the form of Nagari. This research employed qualitative method by using ethnography approach. The data were collected through observations, participation in social events, and in-depth interviews. Those techniques were applied to obtain the valid information and the meaning of events and behaviors comprehensively. The local values applied by the indigenous communities as the victims of natural disasters in some regions of West Sumatra include “Badoncek” tradition in Nagari Tandikat Padang Pariaman, the architecture of “Rumah Gadang” in Nagari Sungayang, Tanah Datar and disaster mitigation based on district in Nagari Kubang Putiah Agam.</p><p><br />Managemen bencana berbasis masyarakat merupakan upaya untuk mengoptimalkan potensi sosial dan nilai-nilai lokal yang dimiliki masyarakat untuk memudahkan proses penanganan bencana alam. Sumatera Barat sebagai salah satu daerah rawan bencana di Indonesia, memiliki sejumlah nilai kearifan lokal, sebuah nilai yang memadukan antara agama dan budaya lokal yang termaktub dalam filosofi adat; Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Di antara kearifan lokal itu adalah ide atau pepatah adat dalam bentuk tambo dan ungkapan-ungkapan, tata ruang rumah adat dari segi arsitektur rumah gadang dan penataan lingkungannya serta sistem sosial kekerabatan dan pemerintahan adat dalam bentuk nagari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, keterlibatan dalam kegiatan masyarakat dan wawancara mendalam. Teknik-teknik ini dilakukan untuk mendapat informasi yang valid dan mendalam serta menghayati makna atau arti peristiwa dan tingkah laku secara komprehensif. Adapun nilai-nilai kearifan lokal yang diterapkan komunitas adat di Sumatera Barat meliputi tradisi badoncek di Nagari Tandikat Padang Pariaman, arsitektur dan tata kelola rumah gadang di Nagari Sungayang Tanah Datar serta mitigasi bencana berbasis nagari di Nagari Kubang Putiah Kabupaten Agam.</p></jats:p
WACANA SUFISTIK : TASAWUF FALSAFI DI NUSANTARA ABAD XVII M: ANALISIS HISTORIS DAN FILOSOFIS
Sufistict discourse of Sufism philosophy has grown rapidly to accompany the development of Islam in the period of growth in the archipelago. Seen from the source or network, in the 17th century AD it understood to be brought by the Sufi clerics or nomads who came from Persia and India, although the period appears haramain network is considered as a counter that ultimately criticize the ideology of philosophical Sufism that has developed before. The ideology of philosophical Sufism which developed in the archipelago in terms of the essence of the teachings comes from the philosophical Sufi mursia Ibn 'Arabi received by the archipelago of the archipelago through the followers of Ibn'Arabi or learned from his works which are encountered when wandering the middle queue - persia to study. Hamzah Fansuri and Syamsuddin Sumaterani as representenatasi of wujudiyyah in the archipelago is very stressed to maintain the concept of monotheism in an original and really crowded God. Hamzah especially emphasizes the stages of la ta'ayyun as a pure divine element. While Syamsuddin emphasize to his followers to understand al-muwahhidin al-shiddiqin, not equating anatara God with nature but understood by the logic of thinking that the form of nature is majazi or shadow of the form of God. With this understanding Syamsuddin has first clarified.

Wacana sufistik tasawuf falsafi telah berkembang pesat mengiringi perkembangan Islam pada masa pertumbuhan di Nusantara. Dilihat dari sumber atau jaringannya, pada abad ke-17 M, paham tersebut dapat dikatakan dibawa oleh ulama atau pengembara sufi yang datang dari Persia dan India, walaupun kurun itu muncul jaringan Haramain dianggap sebagi tandingan yang akhirnya mengkritik paham tasawuf falsafi yang telah berkembang sebelumnya. Paham tasawuf falsafi yang berkembang di Nusantara dari segi esensi ajaran berasal dari sufi filosofis mursia Ibn’ Arabi yang diterima ulama Nusantara melalui pengikut-pengikut Ibn’Arabi atau dipelajarai dari karya-karyanya yang ditemui ketika mengembara ke timut tengah – persia untuk menuntut ilmu. Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumaterani sebagai representasi dari paham wujudiyyah di Nusantara sangat menekankan untuk memahani konsep tauhid secara orisinil dan benar-benar mengesakan Tuhan. Khususnya Hamzah menekanan sekali tahapan la ta’ayyun sebagai unsur ketuhanan yang murni. Sedangkan Syamsuddin menekankan kepada pengikutnya untuk berpaham al-muwahhidin al-shiddiqin, tidak menyamakan anatara Tuhan dengan alam tapi dipahami dengan logika berfikir bahwa wujud alam adalah majazi atau bayangan dari wujud Tuhan. Dengan paham ini Syamsuddin telah terlebih dahulu mengklarifikasi.</jats:p
KONSTRUKSI IDENTITAS ISLAM PERBATASAN\ud SEBUAH SINTESIS TERHADAP IDENTITAS TRADISIONAL DAN \ud IDENTITAS MODERNIS DALAM PAHAM KEAGAMAAN DI\ud DAERAH RAO SUMATERA BARAT
Relasi Agama dan Negara dalam Konteks Politik Lokal (Dinamika Formalisasi Islam dalam Perda Syariah di Sumatera Barat)
Era reformasi di Indonesia ditandai dengan perubahan system pemerintahan yang sentralistik menjadi desentralistik, serta menguatnya gejala-gejala politik identitas yang ditandai dengan maraknya isu kesukuan, kedaerahan dan keagamaan. Munculnya Perda berbasis agama dan kedaerahan adalah fenomena menarik di awal fase politik reformasi saat itu. Tidak terkecuali Sumatera Barat dengan relasi agama dan budaya yang selama ini dikenal kuat juga terdapat beberapa perda berbasis agama. Tulisan ini akan mengkaji tentang pola relasi agama dan Negara dalam konteks lokal terhadap perda syariah di Sumatera Barat. Supaya lebih fokusnya, Studi ini akan menelusuri penerapan, efektivitas dan polarelasi Islam dan Negara dalam 3 perda berbasis syariah yaitu Perda Provinsi Sumatera Barat No. 11/2001 tentang pemberantasan maksiat, Perda Kabupaten Solok No.6/2002 tentang pakaian muslimah dan Perda Kabupaten Agam No.5 tahun 2005 tentang kewajiban membaca dan menulis al-Qur’an. Hasil penelitian ini akan mengelaborasi apakah pergerakan Islam di aras lokal di era otonomi daerah ini, sebagai sebuah sikap romantisme dari pada masa lalu, atau sebuah gerakan yang benar-benar merekam kembali kedigdayaan Islam. Atau gejala ini, merupakan kontaminasi elit lokal yang sering mempolitisasi Islam yang melahirkan budaya Islam sesaat yang tidak terkultur
Sejarah Lokal Muhammadiyah: Perjuangan Inspiratif Umi Hj Saadah Siddik Dalam Gerakan Perempuan Dan Dakwah Sosial Melalui Social Solidary Network
Buku ini berjudul: Sejarah Lokal Muhammadiyah: Perjuangan Inspiratif Umi Hj Saadah Siddik dalam Gerakan Perempuan dan Dakwah Sosial Melalui Social Solidary Network. Fokus kajiannya adalah mengungkap tentang perjuangan Ummi Hj Saadah Siddik yang mengembangkan Panti Asuhan melalui model social solidarity network (solidaritas sosial berjaringan). Penelitiannya dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan mengumpulkan sumber, literatur dan bahan yang memuat perjuangan dan model pengembangan panti asuhan yang telah dilakukan sang tokoh
Penulisan buku ini dilatarbelakangi dengan perkembangan Aisyiyah Sumatera Barat yang telah menjadi lokomotif gerakan perempuan dan pendidikan di Sumatra Barat. Sejarah mencatat di beberapa daerah, gerbong dan pengendali aset pendidikan dan amal usaha umumnya digerakkan oleh tokoh-tokoh Asyiyah. Salah satunya adalah Ummi Hj Saadah Siddik dari Bukittinggi yang telah mendedikasikan hidupnya selama 56 tahun dari tahun 1951 sampai 1995 dalam amal usaha Aisyiyah Bukittinggi.
Adapun hasil yang telah didapatkan bahwa kiprah dan perjuangan serta dakwah sosial Ummi dalam gerakan sosial dan amal usaha Aisyiyah ini dikenal dengan pola pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan modal dan jaringan sosial karena beliau telah menerapkan pola partisipatif dengan memanfaatkan jaringan dan relasi serta modal sosial masyarakat serta komunitas. Model ini diterapkan untuk pengembangan pola asuh dan pola pengurusan Panti Asuhan Aisyiyah Bukittinggi. Model ini masih diterapkan oleh panti asuhan yang dibangun dan di binanya selama 20 tahun
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Penerapan nilai toleransi antar budaya dalam pelaksanaan hukum kewarisan Islam pada masyarakat perbatasan di Rao Pasaman Sumatera Barat
The Rao community on the border of West Sumatra inhabited by ethnic Minangkabau and ethnicMandailing is a plural society that embraces two kinship systems. The patrilineal, the matrilineal, and theparent. But in the process of their interaction for decades there has been interaction through culturaltolerance in the kinship system. Here the birth of a parental kinship and familial system is the mostdominant character in this multi ethnic Rao region as a new kinship system built in their social interactionprocess for hundreds of years. This system also affects the inheritance division system in theirinteractions. As for the inheritance distribution system, indigenous peoples of the border, especially theRao area, have applied several types of inheritance distribution: First, Rao customary people use the newcustomary law of parental system which combines two customs as the first spear in determininginheritance. Second, they use Islamic law, because the Minangkabau and Mandailing are Moslems, so theyuse Islamic law in the inheritance. Third, they use national law, because if customary law and Islamic lawdo not want to be used then they use national law. These three systems are all intercultural toleranceamid differences in their customary system between Minangkabau adat matrineal system and Mandailingcustom patrineal system.</jats:p
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
