1,720,959 research outputs found

    PENENTUAN LUAS RETAK MEMANJANG DAN MELINTANG PERMUKAAN JALAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN PEMROSESAN CITRA DIGITAL

    Full text link
    ABSTRAKInformasi mengenai luas retak permukaan jalan merupakan salah satu oarameter utama dalam system manajemen pemeliharaan jalan. Besaran luas retak permukaan ini merupakan salah satu factor yang menentukan dalam menghitung kebutuhan perbaikan dan juga digunakan untuk penentuan tingkatan kondisi jalan. Metoda konvensional untuk survey kerusakan ini biasanya dilakukan dengan perjalan kaki dimna surveyour mencatat luas retak yang ditemui pada lokasi tertentu. Saat ini dengan berkembangnya pengetahuan mengenai teknologi kamera digital dan juga kemajuan ilmu computer, tipe survei bergesar dari manual menjadi otomatis dengan pemanfaatan kamera agar supaya menjadi lebih cepat dan lebih akurat. Kamera yang digunakan adalah tipe kamera digital dengan resolusi sedang sampai tinggi. Pemrosesan citra digital digunakan sebagai dasar dalam menganalisis citra foto yang dikumpulkan. Langkah-langkah yang dilakukan mencangkup pemrosesan awal, penentuan batasan antara citra retak dan latar belakang serta perhitungan luas retak. Pemrosesan awal mencakup kompresi ukuran citra foto serta konversi menjadi format hitam putih. Predksi batasan menggunakan metode bounding box. Dari ketiga citra foto digital yang di analisis didapat kesimpulan bahawa penggunaan metoda pemrosesan citra digital bisa diterima seperti terlihat dari hasil perhitungan luas retak yang dihasilkan. Kata kunci : pemrosesan citra digital, luas retak permukaan jalan, sistem manajemen, pemeliharaan jalan, survei kekerasan, bounding bo

    PERKIRAAN TEBAL LAPISAN PERKERASN JALAN DENGAN METODA JARINGAN SYARAF TIRUAN TIPE RADIAL BASIS

    Full text link
    ABSTRAK Didalam system manajemen pemeliharaan jalan, kebutuhan informasi mengenai tebal lapisan perkerasan merupakan salah satu hal yang sangat penting. Informasi ini digunakan terutama untuk melakukan perhitungan kekuatan structural perkerasan yang ada. Saat ini pengumpulan data tebal perkerasan ini dilakukan dengan menggunakan metoda konfensional seperti pembuatan sumur uji (sumur uji) ataupun pengambilan contoh inti (core drill). Metoda-metoda seperti ini kurang efektif terutama apabila dilakukan pada ruas-ruas jalan yang bervolume lalu lintas tinggi yang dapat mengganggu lalu lintas. Metoda lain yang sering digunakan adalah uji coba merusak (non destructive test) seperti Ground Penetrating radar (GPR), Spectral Analysis of Surface Wave (SASWE) dan jaringan syaraf tiruan (Artificial Neural Network). Metoda jaringan syaraf tiruan mengadopsi mekanisme kerja dari jaringan syaraf biologis didalam merespons suatu aktifitas. Untuk penentuan tebal lapisan perkerasan jalan dengan memanfaatkan data FWD dan metoda jaringan syaraf tiruan ini, pembuatan data pelatihan dilakukan dengan menggunakan program KENPAVE. Pendekatan prediksi tebal perkerasan menggunakan jaringan syaraf tiruan (neural network) telah memulai dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu. Dengan perkembangannya metoda jaringan syaraf buatan dimana salah satu metoda terbarunya adalah radial basis, makalah ini akan mencoba untuk melihat kemungkinan penggunaan metoda tipe ini untuk memprediksi tebal lapisan perkerasan dengan mengguanakan data lendutan FWD. hasil yang didapat cukup akurat dimana hasil perhitungan menggunakan metoda jaringan syaraf buatan tipe radial basis memberilkan nilai yang tidak jauh berbeda dibandingkan dengan hasil pengujian sumur uj. Untuk perkiraan tebal lapisan aspal error yang didapat adalah sebesar 6.5% dan 10.8% untuk lokasi Jatibarang dan Jagorawi. Sedangkan untuk perkiraan tebal granular error yang didapat adalah 8.9% dan 6.3% untuk lokasi yang sama. Kata kunci : jaringan syaraf buatan tipe radial basis, lendutan FWD, tebal lapisan perkerasan, uji tidak merusak, lalu lintas tingg

    PENGGUNAAN LWD PUSJATAN PADA JALAN TANAH UNTUK PENGECEKAN KEKUATAN TANAH (THE USE OF PUSJATAN’S LWD ON EARTH ROADS FOR CHECKING STRUCTURAL SOIL STRENGTH)

    Full text link
    ABSTRAKLWD merupakan salah satu alat yang digunakan untuk mengukur kekuatan struktural dari suatu sistem perkerasan jalan terutama untuk jalan-jalan yang tanpa penutup. Alat ini cukup praktis karena membutuhkan hanya 2 orang operator dalam pengoperasiannya. Selain itu juga lebih cepat karena hasil pengukuran langsung didapat sesaat setelah pengujian dilakukan. Alat LWD ini terdiri atas beban jatuhan, pelat pembebanan, dan sensor geophone. Beban yang dijatuhkan pada ketinggian tertentu akan menghasilkan gelombang yang ditangkap oleh geophone. Dengan menggunakan prinsip-prinsip teori gelombang kemudian bisa dihitung lendutan yang dihasilkan. Data lendutan ini dengan menggunakan rumus Boussinesq kemudian akan menghasilkan modulus elastisitas yang merupakan parameter kekuatan struktural lapisan tanah. LWD Pusjatan merupakan alat LWD yang dihasilkan dari penelitian tahun anggaran 2013, 2014, dan 2015 pada Puslitbang Jalan dan Jembatan. Alat ini dipakai pada pengujian jalan tanah di Bogor dan Kuningan, dimana untuk masing-masing lokasi diambil 10 titik pengujian. Pada titik pengujian yang sama kemudian juga dilakukan pengujian DCP. Pemilihan DCP sebagai alat pembanding dengan alasan bahwa pada umumnya alat DCP inilah yang biasanya digunakan untuk mengukur kekuatan pada jalan tanah. Hasil pengujian LWD dan DCP kemudian dibandingkan satu dengan yang lainnya. Dari kedua lokasi ini terlihat bahwa perbedaan modulus elastisitas yang didapat dari kedua alat tidak berbeda jauh seperti terlihat dari hasil plotting, dimana hasil yang didapat terlihat berada disekitar garis kesamaan. Kenyataan ini membuktikan bahwa alat LWD Pusjatan bisa digunakan pada pengujian untuk mendapatkan kekuatan struktural pada jalan tanah.Kata Kunci : LWD Pusjatan, kekuatan struktural, jalan tanah, geophone, Boussinesq.ABSTRACTLWD is a equipment that is purposed to measure the structural strength of a pavement system especially unpaved roads. This equipment is quite practical as it only needs 2 people in operation. LWD is quite handy as the data is obtained directly after testing. It consists of falling weight, load plate, and geophones. When the weight falls, it generates vibration recorded by geophones. Applying the basic formulas of vibration engineering, it can then result deflection. The deflection value is used for the calculation of modulus elasticity of layer tested using Boussinesq formula. The modulus elasticity is one of the structural strength parameters. Pusjatan’s LWD is the product of Pusjatan’s research in the fiscal years of 2013, 2014 and 2015. The LWD is applied to test earth roads in Bogor and Kuningan, where in each location it is collected 10 data using LWD and DCP on the same tested points. The main reason of using DCP for comparing Pusjatan’s LWD is that the former equipment used to measure the earth road structural strength. The results in term of modulus elasticity are compared. The results show that the differences obtained of these two equipments are quite close as near as results plotted fall in the equality line. This finding comes to the conclusion that the Pusjatan’s LWD could be used for testing of structural strength of earth roads.Key words: Pusjatan’s LWD, structural strength, earth roads, geophone, Boussinesq

    (IRE’s LWD as Alternative Tool for Flexible Pavement Test)

    Full text link
    Pengujian kekuatan struktural dibutuhkan dalam mengevaluasi suatu ruas jalan existing. Pada umumnya alat FWD digunakan untuk pengumpulan data. Untuk kondisi Indonesia FWD ini jumlahnya masih terbatas dan pada umumnya berada di Pulau Jawa. Alternatif yang bisa digunakan adalah alat LWD. Alat LWD ini sama seperti FWD tapi dioperasikan secara manual dan beban yang digunakan lebih rendah dibandingkan dengan alat FWD. Pusjatan telah mengembangkan alat LWD dan memiliki perbedaan dengan LWD pada umumnya. Perbedaan ini antara lain tidak menggunakan load cell dan besarnya beban didapat dari hasil kalibrasi labaoratorium. Selain itu, juga mempunyai stress level yang lebih tinggi dari alat LWD pada umumnya. Studi ini melihat kemungkinan penggunaan alat LWD Pusjatan dalam mengevaluasi perkerasan lentur untuk lalu lintas sedang s.d. rendah sehingga nantinya bisa digunakan untuk perencanaan terutama pada daerah-daerah di luar Pulau Jawa yang tidak mempunyai FWD. Parameter utama yang digunakan dalam studi ini adalah modulus permukaan pada titik pembebanan dan modulus permukaan pada jarak 900 mm. Ruas jalan yang digunakan terletak di seputar kampus Pusjatan dan diasumsikan sebagai jalan dengan lalu lintas sedang sampai rendah. Terlihat dari hasil analisis bahwa terdapat hubungan yang cukup kuat dari kedua modulus ini yang dihitung dari hasil lendutan yang didapat dari pengujian menggunakan alat FWD dan LWD Pusjatan. Hubungan ini terlihat dari hasil plotting terhadap garis kesamaan serta koefisien korelasi yang cukup tinggi. Kenyataan ini memberikan keyakinan  bahwa penggunaan alat LWD bisa sebagai alternatif alat FWD untuk evaluasi jalan-jaan lentur dengan lalu lintas sedang s.d. rendah. Kata kunci: FWD, LWD, modulus permukaan, evaluasi perkerasan lentur, lalu lintas sedang s.d. rendah.    The structural strength testing is required to evaluate an existing pavement. The common equipment used for this sort of testing is Falling Weight Deflectometer (FWD. Especially in Indonesia, the availability of FWDs is very limited except in Java island. The alternate equipment for this purpose is to use the IRE’s LWD. This type of LWD is slightly different to that of standard ones, where the IRE’s LWD does not use load cell. The load parameter depends on the height of drops which is calibrated on the laboratory. Another thing is that the IRE’s LWD has higher stress level because its load is higher than the standard ones. This study is to look for the possibility of the use of IRE’s LWD as the alternate equipment for FWD on the flexible pavement as well as to find the correlation between these equipment in terms of surface modulus. The main parameters considered in this study are the surface modulus on the load point (E0) and surface modulus in the 900 mm offset (E1). The site for this study is at IRE campus which is classified as medium to low volume flexible roads.  It is found that there is a strong correlation between surface modulus obtained from FWD test and that of IRE’s LWD. This is indicated by the plotting between each modulus around the equality line as well as by their coefficient correlation. This findings assure that it is possible to use the IRE’s LWD as the alternative for FWD for evaluation flexible roads which are classified as the medium to low traffic flexible roads.  Keywords: IRE’s LWD, FWD, surface modulus, flexible pavement evaluation, medium to low traffic roads

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado
    corecore