8 research outputs found
Akselerasi Pembelajaran Tahfiz Pada Lembaga Pendidikan Alquran: Studi Di Pondok Pesantren Wadi Mubarak Bogor Authors: Syaeful Rokim
Tujuan Penelitian ini adalah mengkaji strategi akselerasi pembelajaran tahfiz alquran pada lembaga pendidikan alquran dengan studi kasus di pondok pesantren Wadi Mubarak Bogor. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskritif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dengan wawancara, observasi dan studi dokumen. Penelitian ini dilaksanakan pada pondok pesantren Wadi Mubarak Bogor, Jawa Barat tahun 2019 M. Penelitian ini membuktikan bahwa strategi pembelajaran tahfiz yang dapat mengakselerasi proses menghafal alquran dan meluluskan hafiz yang mutqin adalah menggunakan strategi student center pada pada santri yang bermotivasi tinggi, didampingi musyrif yang handal dan didukung manajemen yang profesional serta fasilitas yang mendukung. Santri sangat membutuhkan konsentrasi besar dalam tahfiz alquran sehingga perlu dikarantina secara khusus. Pada akhir penulisan ini melahirkan kaidah ?semakin besar asosiasi santri dengan tindakannya, maka akan semakin mengakselerasi daya ingatnya‛. Kesimpulan ini memperkuat penelitian M. Syatibi yang berjudul potret Lembaga Pendidikan Tahfiz alquran di Indonesia: studi pembelajaran tahfiz yang berkesimpulan bahwa pembelajaran tahfiz alquran bagi masyarakat Indonesia membutuhkan konsentrasi lebih besar dari masyarakat Arabi, sehingga santri membutuhkan karantina dalam proses pembelajaran tahfiz alquran. Terkait pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Yahya al-Ghawtsani dengan judul ?Kaifa Tahfaz al-qur?an‛. Dia menyimpulkan bahwa keberhasilan siswa dalam pembelajaran alquran bukan pada satu metode tertentu yang digunakannya, akan tetapi kesesuaian siswa dalam menggunakan metode tahfiz sehingga perhatian siswa dalam hafalan lebih fokus. Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhfuz Fawzi dengan kesimpulan bahwa pembelajaran tahfiz alquran di Indonesia dapat dilakukan dengan bersamaan dengan pendidikan lainnya, tanpa ada pengaruh negatif dalam hasil belajar tahfiz santri. Begitu pula penelitian yang dilakukan oleh Amin Muhammad Ahmad al-Syingkit}i dengan judul ?Tahfiz al-Qur?an al-Karim bi al-Tikra>r ?Abr al-Taqniyah‛ dia menyimpulkan bahwa inti dari pembelajaran tahfiz alquran adalah pengulangan-pengulangan bacaan/hafalan santri secara individu, terutama pengulangan melalui sarana teknologi
IBADAH-IBADAH ILAHI DAN MANFAATNYA DALAM PENDIDIKAN JASMANI
Islamic education has memperhati comprehensive human-kan, the Islamic education in terms of human attention-faceted; spiritual terms, in terms of sense (intellectual), and enthusiastic grow well in terms of physical and appropriate, in order to carry out the tasks that have been entrusted to humans. Attention Islam in terms of physical education is a human deliver on physical health in general, and basic knowledge about health, and care of diseases. Physical education is one of the aspects of Islamic education that need attention. Moreover, physical man will be held accountable on the Day of Judgment. Worship is conducted by humans is the right of Allah, which He has created this universe with regular system and beautiful, even Allah created man with the best of shape. In worship services that have been prescribed by Allah have a positive influence on human physical education
Kata Kunci: ibadah, pendidikan, jasman
KARAKTERISTIK PENDIDIKAN ISLAM
Islamic education is education for all human beings. Where he brings goodness and suitability for all of humanity. Not limited to one item of each period. On a particular group of people, or nation of nations. However, it is a global human education for all human. Indeed characteristics of Islamic education stressed that he was the only special education, education that he has a special character that is not possible compared to other education-education that appear to have similarities in some of the characters, just different in each emphasis contents. Specificity and this privilege is clear as mentioned. The meaning of education is characteristic traits, traits that distinguish with any other education. These characteristics are sometimes partly the same as between one another in some educational establishments. However, the characteristics that should be portrayed with a true depiction again be giving the view that education and teaching
Pendidikan intelektual muslim menurut Muhammad al-Shawkani
Dari hasil penelitian tentang pemikiran Muhammad al-Shawka>ni> mengenai pengembangan intelektual Muslim dengan sumber primernya buku �Adab al-T}alab wa Muntaha al-Arab� karangan al-Shawka>ni> dan buku-buku lain baik tulisan al-Shawka>ni> ataupun orang lain, penulis menyimpulkan bahwa intelektual Muslim menurut Muhammad al-Shawka>ni> dapat dikembangkan dengan pendidikan Islam, yang terkandung dasar keikhlasan dan ins}a>f. pengembangan intelektual Muslim harus memperhatikan rambu-rambu. Rambu-rambu pengembangan intelektual Muslim menurut al-Shawka>ni> merujuk pada sumber ilmu dalam Islam dan etika berpendapat, serta maqa>s}id al-Shari>�ah al-Islamiyah. Sumber ilmu dalam Islam adalah Alquran dan Hadis, dengan hal itu seorang Muslim dapat menjalani kehidupan ini sesuai petunjuk kehidupan secara mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Akal manusia yang dianugerahkan Allah swt kepada manusia sebagai sarana penting untuk memahami Alquran dan hadis, sehingga setiap manusia wajib mempelajari ilmu-ilmu Alquran dan hadis sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Sebaliknya orang yang tidak menggunakan akalnya untuk berijtihad memahami ayat-ayat dan hadis-hadis adalah sebuah pengingkaran dan kekufuran atas nikmat yang besar ini, karena banyak ayat Alquran yang memerintahkan manusia untuk berfikir, bertadabbur, dan meneliti, tidak menggunakan akal sama saja tidak mengindahkan ayat Alquran dan mengingkarinya. Sehingga pendidikan Agama Islam bagi kaum Muslimin sebagai kewajiban bagi setiap orangnya. Tidak ada pengecualian melainkan bagi manusia yang tidak memiliki akal. Pendidikan yang ideal bagi kaum Muslimin, pendidikan yang berasaskan pada ikhlas dan ins}a>f, kedua asas ini dapat mengarahkan Muslim fokus pada jalur yang benar dan menghindarkan dari kepentingan duniawi yang menggangu pada proses pendidikan, seperti jabatan, kemasyhuran, kekayaan dan lain-lain. Untuk menguatkan dasar ins}a>f, maka Muhammad al-Shawka>ni> menekankan pada para Muslim agar bersikap dan berperilaku baik jauh dari sifat-sifat tercela. yakni seperti tidak suka berdebat, tidak fanatik, tidak egois dan lainnya. Selain asas pendidikan yang kuat, kurikulum memberikan andil besar dalam kepraktisan dan efesien masa pembelajaran. Muhammad al-Shawka>ni> memulai pendidikan pada sisi bahasa, yakni bahasa Arab karena syariat Islam turun dengan menggunakan bahasa Arab. Muslim dituntut menguasai bahasa Arab di awal pendidikannya dengan baik dan benar, karena untuk Pengembangan intelektual Muslim yang ideal menurut al-Shawka>ni> adalah pendidikan yang dapat mengantarkan Muslim pada pemahaman ajaran agama Islam yang menyeluruh dan mendalam, sehingga ilmunya bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat secara umum, bahkan manfaatnya dapat dirasakan oleh ikan yang berada di lauta
Relasi Orang Tua dan Lembaga Pendidikan (Kajian atas Peran Paguyuban Kelas dalam Peningkatan Mutu Pembelajaran di SD Kemala Bhayangkari 5 Lamongan)
Banyaknya orang tua yang memandang sebelah mata tentang kelas masyarakat yang ada di sebuah sekolah. Ini hanya sebatas mereka tahu bahwa masyarakat hanyalah alat penghimpun dana dan tidak berpengaruh bagi pendidikan anak. Nyatanya banyak di sekolah yang mempunyai struktur kemasyarakatan tetapi hanya untuk formalitas saja. Mereka akan pindah saat ada kunjungan. Oleh karena itu penulis mengangkat judul ini untuk mengetahui bagaimana sebenarnya peran masyarakat. Hasil penelitian dapat disimpulkan menjadi tiga hal, yaitu: (1) asosiasi kelas berperan sangat penting dalam prestasi belajar siswa. Peran masyarakat tersebut antara lain: kegiatan tahunan setahun dua kali, kegiatan sehari-hari dalam memantau pembelajaran di sekolah, kegiatan kelompok kelas dalam mengikuti kegiatan di sekolah dan kegiatan sosial. (2) Faktor pendukung terbentuknya perkumpulan kelas meliputi keterbukaan guru dalam menghadapi keluhan wali tentang pembelajaran anak, adanya motivasi dari komite sekolah, besarnya keinginan wali sendiri dan menghindari kesalahpahaman antara guru dan orang tua. (3) Bagaimana mengatasi faktor penghambat pergaulan dengan kegigihan guru dan ketua masyarakat memberikan motivasi dan dorongan akan pentingnya peran orang tua dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.The number of parents looking one eye about the class of society that exist in a school. This is only to the extent that they know that the community is only a means of collecting funds and there is no effect for children’s education. In fact many in schools that have the structure of the community but just for formality only. They will move when there is a visit. Therefore the author raised this title to know how the role of the actual community. The results can be concluded into three things, they are: (1)class associations play so important role in student achievement. The role of the community they are: annual activities a year twice, daily activities in monitoring learning in schools, class group activities in following activities at school and social activities. (2) Factor supporting the formation of class associations include teacher opennes in the face of the guardian’s complaints about child’s learning, there is motivation from school committe, the magnitude of the wishes of the guardians themselves and avoiding misunderstandings between teachers and parent. (3) How to overcome the factors inhibiting the association with the persistence of teachers and chairperson of the commounity provide motivation and encouragement of the importance of the role of parents in improving student achievemen
Tafsîr Maudhû’î Perspektif Ibn Al-Qayyim: Studi Komparatif Al-Tafsîr Al-Qayyim, Badâ’i’ Al-Tafsîr, Dan Al-Dhau’ Al-Munir ‘alâ Al-Tafsîr
This research article aims to thematically describe Ibnu Al-Qayyim’s interpretation of the verses and lettres of the Qur’an (maudhu’i) and analyze it from his works. This research uses a qualitative-comparative method with a library study approach and uses a thematic interpretation method (maudhu’i) which is descriptive in nature with data collection techniques using literature and documentation sources, while the analysis technique uses qualitative-interpretative content analysis. By introducing the three collectors’ works, examining Ibnu Al-Qayyim’s interpretation in them, and comparing the three, both in terms, of similarities and differences; It can be concluded that Ibnu Al-Qayyim really proved himself as a commentator who used many thematic interpretation methods (maudhu’i) in his various works. The results of the research in this article also provide implivation for the feasibility of Ibnu Al-Qayyim’s thematic interpretation as an object of scientific research, including through his three collector’s books
Analisis Nilai Pendidikan Keluarga Dalam Kisah Nabi Yusuf di Al-Qur’an
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis nilai-nilai Pendidikan keluarga yang terkandung di dalam surat Yusuf. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan kualitatif sebagai jenis penelitiannya. Sumber data yang dikaji , yaitu; surat Yusuf dalam al-Qur’an al-karim. Untuk mengkaji teks ayat surat Yusuf dan penafsirannya, peneliti menggunakan Content Analysis. Content Analysis merupakan analisis ilmiah tentang isi pesan suatu informasi. Secara teknis, substansi content analysis ruang lingkupnya mencakup; klasifikasi tanda-tanda  yang  digunakan  dalam  informasi dan komunikasi,  menggunakan  kriteria   sebagai  dasar  klasifikasi,  dan menggunakan metode penafsiran maudhui sebagai sarana penjelas kandungan nilai-nilai Pendidikan keluarga dalam surat Yusuf. Hasil penelitian ini  menunjukkan bahwa kisah Nabi Yusuf bersama keluarga dalam Al-Qur’an terkandung nilai-nilai pendidikan keluarga Islami. Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari Surat Yusuf mengenai pendidikan keluarga adalah: pertama, kasih sayang dan perhatian. Kedua, keadilan dalam perlakuan Anak. Ketiga, pendidikan moral. Keempat, keimanan kepada Allah. Kelima, kesabaran. Keenam, Pengampunan dan persaudaraan. Ketujuh, komunikasi terbuka. Kedelapan, Kewaspadaan terhadap Kemungkinan Konflik. Surat Yusuf terkandung kisah yang kaya dengan pelajaran moral dan nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam pendidikan keluarga. Yaitu mengajarkan pentingnya kasih sayang, keadilan, komunikasi terbuka, pendidikan moral, dan keimanan dalam mendidik anak-anak
AGAMA DALAM PERSPEKTIF PERDAMAIAN
The role of religion in shaping and sustaining global peace has become a significant topic of discussion across various interdisciplinary studies, ranging from theology and sociology to international relations. Although often associated with conflict and violence throughout human history, religion inherently contains universal values that promote solidarity, social justice, reconciliation, and nonviolence. This article aims to critically explore the role of religion as an instrument of peace in the contemporary context marked by identity conflicts, social polarization, and structural violence. By examining sacred texts, ethical teachings from major religious traditions, and empirical studies on faith-based peace initiatives, this paper asserts that religion is not merely a cultural construct but a moral and spiritual force capable of strengthening social cohesion and fostering intergroup dialogue. Through a multidisciplinary approach, the author proposes a conceptual framework that positions religion as a normative actor in conflict resolution and the construction of inclusive and sustainable peace. This study concludes that peace rooted in religious values is more likely to take hold within societies because it resonates with the deepest dimensions of personal identity and moral motivation. Therefore, the role of religion in peace processes cannot be overlooked but must be constructively mobilized through education, interfaith dialogue, and cross-sector collaboration
