271 research outputs found

    Indonesia ditengah transisi/ Suwarso

    No full text
    xxxvii, 224 hal.: ilus.; 21 cm

    Cokrodiharjo dan Sunarto Cipto Suwarso Pengrawit Unggulan Luar Tembok Keraton

    No full text
    Penulis yang berprofesi sebagai seniman sekaligus akademikus telah memulai dengan baik mengorbitkan tokoh seniman dari luar lingkungan keraton. Kedua tokoh tersebut adalah Cokrodiharjo dan Sunarto Cipto Suwarso yang merupakan seniman Pengrawit. Upaya tersebut dengan menuliskan biografi mereka secara rinci, pilah dan urut. Dua tokoh ini dianggapnya telah memiliki andil yang luar biasa dalam mengembangkan dan memberi warna kehidupan karawitan di Jawa atau Indonesia pada umumnya

    PERKEMBANGAN KEMATANGAN GONAD IKAN BENTONG, Selar crumenophtalmus (CARANGIDAE) DI LAUT JAWA

    No full text
    Kajian mengenai perkembangan karakteristik kematangan gonad ikan bentong(S.crumenophtalmus) didasarkan pada hasil pengamatan mikroskopis dan visual terhadaf gonad (ovarium) serta pengukuran nilai indcks gonad telah dilakukan

    PERIKANAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) DI PERAIRAN MARISA. TELUK TOMINI

    No full text
    Eksploilasi sumber daya tuna di perairan Teluk Tomini telah berlangsung lama dan cukup intensif dengan menggunakan  kapal-kapal yang bersifat tradisionar. Jenis ikan utama yang dieksploitasi di Teluk Tomini adalah madidihang atau tuna sirip kuning alau yellowfin tuna (Thunnus albacares). Tulisan ini berisi tentang perikanan tuna yang ditangkap oleh pancing ulur, antara lain mengenai aspek operasional, akivitas penangkapan, dan hasil tangkapan, berdasarkan pada data dan informasi yang terkumpul di Marisa (Propinsi Gorontalo)

    Sensitivitas rapid test untuk mendeteksi hepatitis surface antigen (HBsAg) pada penderita hepatitis-B

    No full text
    A new rapid-test, sandwich immunochromatography assay technique has been recently introduced for the routine, rapid, qualitative detection of the presence hepatitis-B surface antigen (HBsAgl. To evaluate the sensitivity of rapid test, we studied 39 sera positive and one sera negative for HBsAg with conventional ELISA method. The study found that the minimal detectable level of HBsAg with rapid test was 4.03 ng/ml (range 3,25-4,03 ng/ml), it was 8 times less sensitive than conventional ELISA method (4,03 vs 0,47 ng/m1)• Many factors such as "eddy diffusion" and structure of HBsAg, humidity, direct contact with sunlight and sera of borderline-low level of HBsAg with conventional ELISA had a potency for lower sensitivity of rapid test; conversely, technical factors such as adhesion, migration and viscosity of the samples do not.Key words : rapid test - dry chemistry hepatitis surface antigen (HBsAg) - sensitivity - ELISA

    Hepatitis-C virus (HCV)

    No full text
    A new problem on hepatitis for Indonesian is hepatitis-C virus (HCV). This infection is endemic, majority sub-clinic and progressive in chronic. Viral transmission is primarily via a parenteral route, while other routes are still in debate.Diagnostic approach should be focused on how this virus developed.KeyWords: hepatitis-C virus molecular biology Westem-blot-HCV blood transfusion epidemiolog

    PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) ANTARA GAPOKTAN DAN KELOMPOK TANI DI KABUPATEN TEGAL

    No full text
    Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) merupakan salah satu kegiatan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-M) yang dilaksanakan oleh Departemen Pertanian, yang merupakan bentuk fasilitasi bantuan modal usaha untuk petani anggota, baik petani pemilik, petani penggarap, buruh tani maupun rumah tangga tani yang pengelolaannya didampingi oleh tenaga penyuluh pendamping dan Penyelia Mitra Tani (PMT). Dengan tujuan untuk mempercepat tumbuh dan berkembangnya usaha agribisnis dengan sasaran mengurangi kemiskinan dan pengangguran di perdesaan. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah bagiamana pelaksanaan perjanjian kredit PUAP antara Gapoktan dan kelompok tani di Kabupaten Tegal serta apa yang menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaan perjanjian kredit PUAP antara Gapoktan dan masyrakat miskin di Kabupaten Tegal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan yuridis empiris yang bersumber dari pengumpulan data yang diperoleh dari data primer dan data sekunder, kemudian dianalisis dengan metode analisis kualitatif. Hasil penelitian ini pada akhirnya memberikan jawaban bahwa pelaksanaan perjanjian kredit PUAP antara Gapoktan dan kelompok tani di Kabupaten Tegal meliputi tahap sosialisasi dan pengajuan RUA (Rencana Usaha Anggota). RUA berisi tentang identitas peminjam, jenis usaha produktif yang diajukan serta berapa modal yang dibutuhkan. Form tersebut diserahkan kepada ketua kelompok tani setempat. Ketua Poktan berdasarkan persetujuan anggota menyeleksi anggota peminjam dana PUAP, kriteria seleksi selain peminjam harus mempunyai usaha produktif mereka harus dapat dipercaya dan bertanggung-jawab untuk mengembalikan pinjaman, terkait yang menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaan perjanjian kredit PUAP antara Gapoktan dan masyrakat miskin di Kabupaten Tegal adalah seperti dana pengembalian Program PUAP yang di pinjam masyarakat sering menungggak dan bermasalah dengan para pengurus Gapoktan dalam hal pengembaliannya, selain itu gagal panen (puso) menjadi problematika overmacht/keadaan memaksa yang paling meresahkan masyarakat dalam kaitannya dengan pengembalian dana PUAP tersebut. Saran dari penelitian ini adalah kepada pihak penyelenggara PUAP di Desa Wangandawa, Kecamatan Talanh, Kabupaten Tegal agar agar didalam melakukan analisa kredit hendaknya harus benar-benar melakukan ketelitian dan kehati-hatian terhadap anggota yang mengajukan permohonan kredit

    SEBARAN UNIT STOK IKAN LAYANG (Decapterus spp.) DAN RISIKO PENGELOLAAN IKAN PELAGIS KECIL DI LAUT JAWA

    Get PDF
    Ikan layang (Decapterus russelli dan D. macrosoma, Fam. CARANGIDAE) merupakan komponen utama dari sumberdaya ikan pelagis kecil di perairan sekitar Laut Jawa-Selat Makassar. Peningkatan upaya secara tak terkontrol pada perikanan purse seine telah mengakibatkan penyusutan biomassa yang berdampak pada penurunan hasil tangkapan, sehingga tujuan pengelolaan yang berkelanjutan tak tercapai; ditambah lagi pengetahuan tentang karakter biologi dan keterkaitan diantara stok di sekitar zona utama belum diketahui secara jelas. Paper ini membahas dugaan sebaran stok dan risiko pengelolaannya berdasarkan data penstrukturan populasi dua species ikan layang (D. russelli dan D. macrosoma) dan aspek perikanan tangkap (komposisi jenis, sebaran fishing ground). Data struktur populasi diperoleh dari hasil analisis genetik terhadap marker DNA mitochondria (metode RFLP) yang telah dilaporkan sebelumnya; sedang data aspek penangkapan diperoleh dari tempat pendaratan utama di Pekalongan, Samarinda, Mamuju dan sekitarnya. Hasil menunjukkan kedua species layang memiliki masing-masing dua sub populasi (2 unit stok). D. russelli, tersebar di Laut Jawa bagian timur, Laut Flores bagian selatan dan Laut Banda bagian barat (sub populasi atau unit stok 1), sedang unit stok 2 tersebar di Selat Makassar laut dangkal di timur Kalimantan. Sedangkan pada D. macrosoma, unit stok Laut Banda (unit stok 1) terpisah (berbeda) dengan unit stok lain yang tersebar di Laut Flores zona pantai, Laut Jawa bagian timur dan Selat Makassar laut dangkal. Dari hal tersebut pengelolaan ikan pelagis kecil di Laut Jawa (WPP 712) dan Selat Makasar laut dangkal (WPP 713) sebaiknya disatukan sebagai satu unit stok dan satu unit managemen. Di pihak lain, perikanan pelagis di Selat Makasar laut dalam di perairan barat Sulawesi disarankan dikelola dalam konteks penstrukturan populasi ikan pelagis kecil lautdalam di sekitar Sulawesi (malalugis, D. macarellus). Pola migrasi ikan layang/pelagis dalam arah Laut Jawa – Selat Makasar dan sebaliknya dimungkinkan juga terkait dengan penstrukturan populasi layang tersebut.Layang scad (Decapterus russelli) and round scad (D. macrosoma) was a main component of small pelagic fishes around Java Sea-Makasar Strait. Increasing of uncontrolled effort of purse seine had caused a biomass decrease and clearly impact to the lower catch, so that a goal of sustainable fishery was difficult to reach; in addition, knowledge on biological characteristics and inter-relationship within the stock unit in the main zone was not understood yet. Study on stock distribution and its management impacts was conducted based on the population structuring of the two scads species exist (D. russelli and D. macrosoma) which was observed fromthe genetic analyses of the mitochondria DNA marker (RFLP method), and the capture fishery data (species composition, distribution of fishing ground) from some main landing sites such as Pekalongan, Samarinda, Mamuju, and Bone. Results showed the two species of scads had two sub population (stock unit) respectively. D. russelli distribute in the eastern part of Java Sea, southern Flores Sea, and western Banda Sea exist as a sub population or stock unit 1, while a stock unit 2 was distributed around the coastal waters of Makasar Strait in eastern Kalimantan. However, stock unit 1 of D. macrosoma that distribute in Banda Sea was separated (clearly different) from the stock unit 2 that was distributed in the coastal habitat of Flores Sea, eastern Java Sea, and the coastal area of Makasar Strait (east Kalimantan). Thus, a sustainable management of small pelagic fish in the areas of Java Sea (FMA 712) and Makasar Strait (FMA 713) have to be managed as a one stock unit (sub population) and one management unit. On the other hand, we would like to propose that for a small pelagic fish that was distributed in the oceanic habitat of Makasar Strait (western Sulawesi) should be managed in the context of population structuring of scad mackerel/malalugis (D. macarellus) as the main oceanic species of small pelagic fish around Sulawesi. Migration pattern of that two scads (D. russelli and D. macrosoma) along the Java Sea and Makasar Strait and vise versa may be related to that proposed population structuring of scads

    PENGEMBANGAN KARIR GURU (Studi Situs SMP Negeri 2 Tawangmangu Kabupaten Karanganyar)

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pengembangan karir guru SMP Negeri 2 Tawangmangu Kabupaten Karangnayrar. Fokus penelitian adalah bagaimana pengembangan guru di SMP Negeri 2 Tawangamangu Kabupaten Karanganyar? Sub fokus penelitian : 1) Bagaimana karakteristik pengembangan karir guru dalam promosi jabatan? 2) Bagaimana karakteristik pengembangan karir guru dalam penghargaan? 3) Bagaimana karakteristik pengembangan karir guru dalam kenaikan pangkat?. Jenis penelitian kualitatif, desain penelitian etnografi, subjek penelitian kepala sekolah dan guru. Teknik analisis data menggunakan trianggulasi. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan karakteristik : 1) Pengembangan karir guru yang berkaitan dengan promosi jabatan ; 2) Pengembangan karir guru yang berkaitan dengan penghargaan ; 3) Pengembangan karir guru yang berkaitan dengan kenaikan pangkat. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : 1) Pengembangan karir guru yang berkaitan dengan promosi khususnya di SMP Negeri 2 Tawangmangu masih banyak mengalami hambatan birokrasi dan politik, birokrasi karena adanya mata rantai organisasi dan mekanisme yang panjang, ada sejumlah guru yang berprestasi dan layak menjadi kepala sekolah pada kenyataannya tidak memperoleh kesempatan menjadi kepala sekolah, sebaliknya yang tidak layak dilantik menjadi kepala sekolah, karena adanya berbagai faktor, seperti faktor politik, kepentingan tertentu, dan sebagainya, karena pemegang policy belum mempertimbangkan optimalisasi mutu sumber daya calon kepala sekolah yang notabene bermutu tidak mendapatkan kesempatyan memimpin dan memajukan pendidikan; 2) Pengembangan karir guru yang berkaitan dengan penghargaan seperti tambahan kesra, tunjangan tugas tambahan, perjalanan dinas, sampai dalam bentuk mental spiritual berupa iklim komunikasi dan kerjasama di SMP Negeri 2 Tawangmangu Kabupaten Karanganyar masih ada kendala dan kesenjangan berupa perlakuan pimpinan terhadap bawahan, meskipun sudah diupayakan berlangsung sebagaimana mestinya, karena mengikuti peraturan otonomi daerah, seperti yang memiliki kinerja yang baik dan optimal diberikan penghargaan oleh kepala sekolah; 3) Pengembangan karir guru yang berkaitan dengan kenaikan pangkat khususnya di bawah IV/a masih berjalan lancar, namun untuk golongan ruang IV/a ke atas masih sangat kesulitan, karena adanya persyaratan dan prosedur yang rumit, misalnya syarat harus mengumpulkan angka kredit 550 dan menyusun karya tulis ilmiah, seperti penelitian tindakan kelas
    corecore