43 research outputs found
Perlakuan InvigorasiuntukMeningkatkanViabilitas, Pertumbuhan Tanaman dan Hasil Padi Gogo (Oryza sativa L.)
The objective of this research was to study the effects of invigoration treatments, seeds viability and varieties on seed vigor, plant growth and yield of upland rice (Oryza sativa L.). The research was carried out in the seed Science and Technology Laboratory, Bogor Agricultural University, and the Makariki field station, Central of Maluku District, Acessement Institute of Agricultural Technology Maluku. The research consisted of Laboratory and field experiments, both were arranged in a Randomized block design with three treatment factors, invigoration, viabilities, and varieties, and three replications. The result showed that the invigoration treatment with GA3 and young coconut water increased seed viability from 58.0-61.3 to 85.3-96.7% and vigor index from 19.1-44.9 to 42.5- 89.2%. The treatment also improved plant performance in the field indicated by more plants and higher grain yield of the treated plots than those of the untreated. There were 234.9-245.1 plants/plot yielded 4.96-6.22 t/ha, in the treated plots compared to 205.9-213.3 plants/plot yielded 3.41-3.83 t/ha in the untreated plots.Hal inidisebabkanolehrendahnyaproduktifitaspadigogo yang barumencapai 2,97 ton/ha, sementaraproduktifitaspadisawahsudahmencapai 5,0 ton/ha. Disampingituluas areal penanamanpadigogolebihkecil (1,1juta ha) dibandingluas areal padisawah yang mencapai 11,8 juta ha. Penggunaanbenih yang mutunyarendah, merupakansalahsatupenyebabrendanyaproduktifitaspadigogo, ditambahdengankompleksnyapembataspertumbuhantanaman di lahankeringdibandinglahansawah.Invigorasibenihmerupakansalahsatumetodeuntu kmeningkatkanviabilitasbenih.Gibelerat, sitokinindan air kelapamudadapatdigunakanuntukmenginvigorasibenihpadigogo. Penelitianbertujuanuntuk: 1) mempelajaripengaruhperlakuaninvigorasibenihdantingkatviabilitaspadaberbagaiva rietaspadigogoterhadappeningkatanviabilitas, pertumbuhantanamandanhasil di laboratoriumdanlapang. 2) mempelajarikorelasiantaravariabelpengujian di laboratoriumdanpengujian di lapang. Penelitiandilaksanakandalamtigatahapyakni; prapenelitian, penelitianlaboratoriumdanpenelitianlapang.Prapenelitiandanpenelitianlaboratoriu mdilaksanakanmulaibulanOktober - Desember 2010 di laboratoriumIlmudanTeknologiBenih IPB.PenelitianlapangdilaksanakanpadabulanDesember 2010 sampaidenganbulan Mei 2011.Prapenelitiandilaksanakandenganmenggunakanmetodepengusangancepatfisi kuntukmemperolehtingkatvibilitasbenihdengandayaberkecambah (DB) ±80% dan±60%.Benihdidera/diusangkanpadasuhu 43-45 0C dan RH 100%.Penelitianlaboratoriumdanlapangmenggunakanrancanganacakkelompokpol afaktorial (tigafaktor) dengantigaulangan.Faktorpertamaadalahperlakuaninvigorasibenih(penelitian laboratorium10 tarafdanpenelitianlapang 5 taraf).Perlakuan invigorasi di lapangmerupakanperlakuanterpilihdarihasilpenelitianlaboratorium.Faktorkeduaad alahtingkatviabilitasbenihsebanyaktigatarafyaitu: tingakatviabilitastinggi (DB ±100%), tingkatviabilitassedang (DB ±80%) dantingkatviabilitasrendah(DB ±60%). Faktorketigaadalahvarietas (Situpatenggang, LimbotodanBatutegi)
Penyimpanan Benih Empat Varietas Kedelai (Glycine Max (L.) Merr) Pada Berbagai Tingkat Vigor Awal
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh vigor awal simpan
pada beberapa varietas benih kedelai terhadap viabilitas dan aktivitas respirasi
selama masa penyimpanan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium
Penyimpanan Benih dan Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan
Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada bulan Agustus
2014 hingga bulan Februari 2015. Rancangan penelitian yang digunakan adalah
rancangan acak lengkap (RAL) 2 faktor. Faktor pertama varietas yang terdiri atas
4 taraf, yaitu varietas Dering-1, Gepak Kuning, Detam-2, dan Mallika. Faktor
kedua adalah vigor awal yang terdiri atas 3 taraf, yaitu 65%–75%, 76%–85%, dan
86%–95%. Benih disimpan dengan teknik penyimpanan terkontrol pada suhu
19°C–22°C dan RH 64%–67% selama 6 bulan dan dievaluasi setiap bulan dengan
peubah viabilitas, seperti; daya berkecambah (%), indeks vigor (%), kadar air (%),
daya hantar listrik (μmhos (cm∙g)-1), dan laju respirasi (mg CO2 kg-1 jam-1). Benih
dari semua varietas dengan vigor awal 86–95% dapat mempertahankan daya
berkecambahnya diatas 80% selama 6 bulan di penyimpanan, kecuali varietas
Mallika. Tidak ada satu varietas pun dari tingkat vigor awal 65–75% yang dapat
mempertahankan viabilitasnya selama disimpan, semuanya sudah menurun di
periode simpan 2 bulan. Laju respirasi benih selama periode simpan tidak
dipengaruhi oleh tingkat vigor awal pada semua varietas, kecuali Gepak Kuning.
Pengamatan respirasi selama periode simpan menunjukkan bahwa benih dengan
tingkat vigor 86–95% memiliki laju respirasi yang rendah dibandingkan dengan
benih tingkat vigor lainnya
Penggunaaan Zeolit Untuk Mempertahankan Viabilitas Benih Pala (Myristica Fragrans Houtt) Selama Di Penyimpanan
Benih pala termasuk kelompok benih rekalsitran yang membutuhkan kondisi lembab selama penyimpanan. Zeolit adalah endapan vulkanik yang dimanfaatkan sebagai bahan pelembab. Kondisi lingkungan periode penyimpanan merupakan faktor penting yang mempengaruhi viabilitas benih. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan zeolit dalam mempertahankan viabilitas benih pala selama di penyimpanan. Percobaan disusun dalam Split Plot dengan Rancangan Acak Lengkap menggunakan tiga ulangan. Petak utama adalah kondisi simpan yaitu H0 = kondisi kering (tanpa zeolit) dan H1 = kondisi lembab (dengan zeolit). Anak petak adalah periode simpan (P) terdiri dari enam taraf: P0 = tanpa penyimpanan (0 hari), P1 = penyimpanan 3 hari, P2 = penyimpanan 6 hari, P3 = penyimpanan 9 hari, P4 = penyimpanan 12 hari, P5 = penyimpanan 15 hari. Tiga puluh benih digunakan untuk setiap perlakuan dan ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi simpan dengan zeolit lebih baik dibandingkan dengan kondisi simpan tanpa zeolit dalam mempertahankan viabilitas benih pala. Kondisi simpan dan periode simpan terbukti berpengaruh nyata terhadap parameter viabilitas potensial dengan tolok ukur daya berkecambah, viabilitas total dengan tolok ukur potensi tumbuh maksimum, serta vigor benih dengan tolok ukur kecepatan tumbuh dan indeks vigor. Penyimpanan dengan zeolit meningkatkan kadar air benih dari 34.61% menjadi 39.69%, sedangkan penyimpanan tanpa zeolit mempertahankan kadar air benih dari 27.83% menjadi 22.86%. Kondisi kadar air yang tinggi dapat mempertahankan viabilitas tetap tinggi yang ditunjukkan pada viabilitas benih tetap tinggi hingga periode simpan hari-15
Metode Ekstraksi Dan Media Perkecambahan Serta Media Pembibitan Pada Benih Markisa Ungu (Passiflora Edulis Sim.)
Perbanyakan secara generatif markisa ungu memiliki hambatan karena
rendahnya viabilitas benih akibat adanya aril pada testa benih. Penelitian ini
bertujuan untuk menemukan metode yang tepat untuk menghilangkan aril dan
media yang optimum untuk perkecambahan serta media pembibitan markisa ungu.
Dua percobaan tersebut dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih dan rumah
kasa Leuwikopo, dari bulan Juli sampai Oktober 2015. Percobaan pertama adalah
pengaruh metode ekstraksi dan media perkecambahan terhadap viabilitas benih.
Benih markisa ungu dengan aril diberi perlakuan dengan bahan yang berbeda
untuk menghilangkan aril diantaranya kontrol, abu gosok, HCl 10%, dan CaO
yang dikecambahkan pada media perkecambahan yang berbeda terdiri atas pasir,
arang sekam, dan kombinasi tanah:pasir (1:1). Variabel yang diamati yaitu daya
berkecambah, potensi tumbuh maksimum, kecepatan tumbuh, dan indeks vigor.
Percobaan kedua adalah pengaruh media pembibitan terhadap pertumbuhan bibit
markisa ungu. Media pembibitan yang digunakan yaitu kombinasi dari tanah :
arang sekam (1:1), tanah : arang sekam : kompos (1:1:1), dan tanah : arang
sekam : pupuk kandang (1:1:1). Peubah yang diamati terdiri atas tinggi bibit,
jumlah daun, diameter batang, dan panjang akar. Kedua percobaan menggunakan
rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT). Hasil percobaan pertama
menunjukkan bahwa perlakuan terbaik untuk menghilangkan aril benih markisa
ungu adalah CaO dengan media perkecambahan arang sekam. Perlakuan tersebut
menghasilkan daya berkecambah 60.83%, kecepatan tumbuh 4.127% etmal-1, dan
indeks vigor 53.67%. Percobaan kedua menunjukkan bahwa tanah dan arang
sekam merupakan media pembibitan terbaik untuk bibit markisa ungu dengan
tinggi 29.47 cm, diameter batang 0.28 mm, dan jumlah daun 12 helai. Media
kombinasi tanah, arang sekam, dan pupuk kandang adalah media pembibitan
terbaik untuk peubah panjang akar yang mencapai 18.29 cm
Viabilitas Benih Melon (Cucumis Melo L.) pada Kondisi Optimum dan Sub-optimum Setelah diberi Perlakuan Invigorasi
The purpose of this research was to find out the effect of invigoration treatments using GA3 and coconut water on viability of high and low quality melon seeds in optimum and sub-optimum (drought) conditions. The research was conducted in Seed Science and Technology Laboratory, Bogor Agricultural University, from February until December 2012. The research was consist of two experiments, invigoration in optimum condition and sub-optimum (drought) condition. Results of the experiment showed that in optimum condition all of invigoration treatment could increase vigor index from 16.67% to 30.67%-48% except GA3 100 ppm treatment. Coconut water treatment could increase germination percentage of low quality melon seed from 72% to 85.33%-88%. In suboptimum condition there were no invigoration treatment could increase viability of melon seeds
Peningkatan Produksi Benih Jagung Hibrida melalui Optimalisasi Populasi dan Rasio Tetua Jantan Betina
Attempts to increase seed yield of hybrid corn has been done, but the results have not been satisfactorily achieved. Researches should be done in various aspects such as row ratio of parents, planting density, optimum days to harvest and influence of climatic factors (sunlight and rainfall), season and agroecology. The aim of study are to obtain optimum plant population and rasio of male to female parents for increasing seed yield of hybrid corn and to study seed quality of Bima 3 and STJ-01 varieties. The seeds used in the research were parents of Bima 3 (Nei90008 line as female, Mr14 line as male) and STJ-01 (Bima 5 variety as female, Nei9008 line as male). The experiment was arranged in a randomized complete block design with two factors and three replications (replications was nested in factor of parent ratio). The first factor was male to female parent ratio (1:4, 1:5 and 2:6) and the second factor was plant population (66 667 plants/ha, 83 333 plants/ha and 90 000 plants/ha). Combined analysis of variance was performed to understand the effects of both factors and their interactions. The results showed that plant population did not significantly affect plant height of Bima 3 and STJ-01 parents, ear height of Bima 3 and STJ-01 female parents, leaf area index of STJ-01 female parent, number of ear of Bima 3 female parent, ear weight of Bima 3, and seed yield of Bima3 and STJ-01. The effect of parents ratio was significant for seed yield of Bima 3 and STJ-01. The highest seed yield of Bima 3 variety was achieved at parent ratio 1: 5 (1.43 tons/ha) and the highest seed yield of STJ-01 was achieved at parent ratio 1:4 (3 tons/ha). Seed quality of Bima 3 variety was better than that of STJ-01. The seedling growth of Bima 3 was more simultaneous more tolerant to drought based on germination percentage and speed of germination and more tolerant to salinity based on the number of green leaves
Testing of Salinity Tolerance for Rice (Oryza sativa L.) Genotype at Germination Stage
The objective of the research was to find out a simple, fast and inexpensive method for testing salt tolerant of rice genotypes at germination stage. The experiment was conducted at the Laboratory of Seed Science and Technology, Bogor Agricultural University and the Experimental Station of Rice Research at Muara, Bogor from june 2010 until january 2011. Germinating seed on strawpaper in UKDdp method with 4000 ppm NaCl for 2 weeks was the best method for differentiating the tolerant varieties from the susceptible at the laboratory condition. The method is easily applicated, takes a short times and efficient in space. A total 40 rice genotypes were then tested for salinity tolerance by the method and standard method. In the standard method, two week old seedling were transplanted to soil medium salinized with 4000 ppm NaCl for 6 weeks at the greenhouse. Dead leaf percentage variable could differentiate 7 toleran rice genotypes, 19 moderately tolerant genotypes, 14 moderately susceptible genotypes, and 4 susceptible. Lalan was the most tolerant genotype to salin condition, followed consecutively by B11844-MR-23-4-6, B13133-9-MR-3-KY-2, and B13136-3-MR-1-KY-5. Low correlation coefficient between salinity tolerance variable in the laboratory and in the greenhouse, might be caused by different growth stage.Tujuan utama penelitian adalah untuk mendapatkan metode pengujian toleransi tanaman padi pada cekaman salinitas yang cepat dan mudah pada stadia perkecambahan serta menyeleksi genotipe padi yang toleran terhadap salinitas. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Instalasi Penelitian Tanaman Padi Muara, Bogor dan Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor yang berlangsung dari bulan Juni 2010 sampai Januari 2011. Penelitian ini terdiri atas dua percobaan utama, yaitu percobaan di laboratorium dan percobaan di rumah kaca. Percobaan di laboratorium terdiri atas tiga tahap yaitu: (1) uji pendahuluan untuk mendapatkan lima metode yang berpotensi dalam pengujian toleransi salinitas padi, (2) pengujian untuk memilih satu metode uji terbaik diantara lima metode berpotensi dari media kertas dan media padat, (3) pengujian toleransi terhadap salinitas 40 genotipe padi pada satu metode uji yang terpilih. Percobaan (1) dilakukan dengan menggunakan media arang sekam, cocopeat, humus daun bambu, arang sekam + cocopeat, arang sekam + humus daun bambu, cocopeat + humus daun bambu, serta kertas merang. Konsentrasi NaCl yang digunakan sebesar 0, 3 000, 4 000, 5 000, 6 000, 7 000, 8 000, 9 000 dan 10 000 ppm. Lima metode terbaik dipilih berdasarkan hasil uji t dan selisih antara varietas toleran dan peka. Percobaan (2) menggunakan media arang sekam + cocopeat dengan konsentrasi NaCl 4 000 dan 5 000 ppm, arang sekam 9 000 ppm NaCl, cocopeat 3 000 dan 4 000 ppm NaCl serta media kertas merang dengan konsentrasi 4 000, 5 000, 6 000, 7 000 dan 8 000 ppm NaCl. Metode pengujian tersebut merupakan metode terpilih yang dapat membedakan varietas toleran dan peka dari percobaan (1). Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah metode pengujian dan faktor kedua adalah varietas. Varietas toleran yang digunakan adalah Pokali dan Lalan serta IR64 dan Ciherang sebagai varietas peka. Hasil percobaan (2) di laboratorium menunjukkan bahwa metode kertas merang dengan konsentrasi 4 000 ppm NaCl merupakan metode terpilih yang dapat membedakan antara varietas peka dengan varietas toleran. Metode terpilih ini juga mudah dalam aplikasi serta tidak membutuhkan ruang pengujian yang luas. Metode ini selanjutnya digunakan pada percobaan (3) untuk menguji 40 genotipe padi. Rancangan percobaan (3) menggunakan RKLT dengan satu faktor, yaitu genotipe padi. Percobaan di rumah kaca bertujuan untuk mengetahui toleransi salinitas 40 genotipe padi melalui metode standar di rumah kaca pada media tanah dengan menggunakan larutan NaCl dengan konsentrasi 4000 ppm serta untuk melihat korelasinya dengan pengujian di laboratorium. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RKLT dengan satu faktor yaitu genotipe padi. Bibit padi yang digunakan berumur dua minggu dan ditanam di rumah kaca hingga berumur 8 minggu. Penentuan tingkat toleransi genotipe padi didasarkan pada peubah persentase daun mati di rumah kaca. Genotipe padi yang diuji di rumah kaca berdasarkan hasil pengujian terbagi menjadi empat tingkat toleransi yaitu toleran (7 genotipe), cukup toleran (19 genotipe), cukup peka (14 genotipe) dan peka (4 genotipe). Varietas toleran Lalan memiliki nilai persentase daun mati terendah, yaitu sebesar 30.0 %, diikuti oleh genotipe B11844-MR-23-4-6 (34.1 %), B13133-9-MR-3-KY-2 (35.0 %), dan B13136-3-MR-1-KY-5 (38.3 %). Korelasi antara peubah di rumah kaca dengan peubah di laboratorium menunjukkan korelasi yang lemah. Peubah persentase daun mati di rumah kaca mempunyai nilai koefisien korelasi terbesar (-0.307) dengan peubah bobot kering tajuk di laboratorium. Hasil simulasi seleksi antara peubah bobot kering tajuk di laboratorium dengan persentase daun mati di rumah kaca menunjukkan bahwa penggunaan metode kertas merang dengan konsentrasi NaCl 4 000 ppm hanya menghasilkan kesesuaian sebesar 50 % pada intensitas seleksi 45 %
Metode Ekstraksi Dan Media Perkecambahan Serta Media Pembibitan Pada Benih Markisa Ungu (Passiflora Edulis Sim.)
Perbanyakan secara generatif markisa ungu memiliki hambatan karena
rendahnya viabilitas benih akibat adanya aril pada testa benih. Penelitian ini
bertujuan untuk menemukan metode yang tepat untuk menghilangkan aril dan
media yang optimum untuk perkecambahan serta media pembibitan markisa ungu.
Dua percobaan tersebut dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih dan rumah
kasa Leuwikopo, dari bulan Juli sampai Oktober 2015. Percobaan pertama adalah
pengaruh metode ekstraksi dan media perkecambahan terhadap viabilitas benih.
Benih markisa ungu dengan aril diberi perlakuan dengan bahan yang berbeda
untuk menghilangkan aril diantaranya kontrol, abu gosok, HCl 10%, dan CaO
yang dikecambahkan pada media perkecambahan yang berbeda terdiri atas pasir,
arang sekam, dan kombinasi tanah:pasir (1:1). Variabel yang diamati yaitu daya
berkecambah, potensi tumbuh maksimum, kecepatan tumbuh, dan indeks vigor.
Percobaan kedua adalah pengaruh media pembibitan terhadap pertumbuhan bibit
markisa ungu. Media pembibitan yang digunakan yaitu kombinasi dari tanah :
arang sekam (1:1), tanah : arang sekam : kompos (1:1:1), dan tanah : arang
sekam : pupuk kandang (1:1:1). Peubah yang diamati terdiri atas tinggi bibit,
jumlah daun, diameter batang, dan panjang akar. Kedua percobaan menggunakan
rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT). Hasil percobaan pertama
menunjukkan bahwa perlakuan terbaik untuk menghilangkan aril benih markisa
ungu adalah CaO dengan media perkecambahan arang sekam. Perlakuan tersebut
menghasilkan daya berkecambah 60.83%, kecepatan tumbuh 4.127% etmal-1, dan
indeks vigor 53.67%. Percobaan kedua menunjukkan bahwa tanah dan arang
sekam merupakan media pembibitan terbaik untuk bibit markisa ungu dengan
tinggi 29.47 cm, diameter batang 0.28 mm, dan jumlah daun 12 helai. Media
kombinasi tanah, arang sekam, dan pupuk kandang adalah media pembibitan
terbaik untuk peubah panjang akar yang mencapai 18.29 cm
Deteksi status vigor benih kedelai (Glycine max L. Merr) melalui metoda uji daya hantar listrik
Identity of seed quality written at seed label consisted of data of water content, purity of seed and seed germination (SG). SG is physiological quality data of seed which is obtained by germination test that performed in optimum and controlled condition yields a maximum germination. Practically, cultivation in field scale more often not optimize than in laboratory, so that, high germination seed may perform low seed germination in field scale. Based on this fact, it is required germination test which may detect the ability of seed germination precisely and the correlation with growth in the field. Conductivity Test is one of vigor examination which particularly excellence. This test is vigor examination for pea seed (Pisum sativum). The result of electric conductivity of soybean seed may not accepted as formal method in ISTA Rules, therefore further research is required to prove it scientifically. The experiment was aimed (1) to study the effect of different varieties (large and medium size) on seed conductivity and some parameters of vigor, (2) to study the effect of storage period on conductivity and some parameters of vigor (3) to study the effect of interaction between varieties and seed longevity on seed conductivity and some parameters of vigor, (4) to study the correlation between soybean seed conductivity and some parameters of seed vigor, (5) to study the estimation of seed longevity by using seed conductivity The experiment was conducted in the laboratory of BBPPMBTPH, Cimanggis, Depok from December 2006 up to June 2007. The experiment was arranged in Split Plot Design with two factors. The first factor was variety which was consisted of 6 levels i.e. Panderman, Burangrang, Baluran, Sinabung, Wilis and Kaba. The second factor was storage period which was consisted of 8 levels i.e. 0, 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21 weeks. The observation was done in every 3 weeks. The parameters were seed quality (viability and vigor test) i.e. water content (WC), electric conductivity (EC), seed germination (SG), index vigor (IV), speed of germination (SoG), viability after accelerated ageing (VAA), and field emergence (FE). The result showed that large size soybean variety has WC, FE, and EC which is not significantly different from medium size soybean variety, meanwhile for variable of IV, SoG, and VAA of large size soybean variety has lower value than medium size. Variable of SG and K ion from large size soybean variety has higher value level. The changes in SG, VI, SoG, VAA, FE, EC and K ion during storage period was differ among varieties. Variety of Burangrang is variety which capable to maintain the longest viability and vigor and then followed by variety of Kaba. Regression and correlation analysis showed that the conductivity test closely related to seed vigor, so that the conductivity test could be used for determination of seed vigor. Conductivity test could be used for estimating soybean field emergence and seed storability. The estimation of soybean field emergence could be obtained by equation of y = -0.195X2 + 4.3296X + 80.165. The estimation of large size seed longevity could be determined by equation y = 0.0328X2 + 2.9211X + 63.559, and for medium size, the equation was y = 0.0018X2 - 2.0266X + 60.975. For both large and medium size seed, the equation was y = 0.0434X2 - 3.6431X + 74.78
Perbandingan Norma Produksi Islam dengan Produksi pada Industri Bordir di Kecamatan Bangil (Studi Kasus pada Perusahaan Faiza Bordir)
This research aims to find out how far the implementation of Islamic production norms at Faiza Embroidery Industry in Bangil goes on. Author only implements two of four Islamic production norms, which are: to make working as a main pillar of production and to do production activity in a halal way. It uses qualitative approach by using case study method. Deep interviewand observation to informen, were used in collecting data and they are owner and employees of this industry. Secondary data were derived from journal, text books, and the other literatures. Analysis has been done by seeing a suitability between activity of the production process and Islamic production norms. It is started from finance and then to labor, salary system, and materials used
