1,724,022 research outputs found

    Yes, Imperialism Is Still Relevant, and the Struggles Against It Will Continue - An Interview with Intan Suwandi

    Full text link
    Raju Das and Robert Latham interview Intan Suwandi about her work and how it relates to the struggle against capitalism

    ANALISIS SEMIOTIKA PERMINTAAN MAAF HARI SUWANDI(KORBAN LUMPUR PANAS LAPINDO)

    Full text link
    Abstrak Berawal dari fenomena luapan lumpur Lapindo yang belum selesai, menyebabkan berbagai gejala sosial muncul. Salah satu hal yang menarik dari serangkaian kasus luapan lumpur Lapindo adalah kehidupan masyarakat yang selalu dinamis. Individu sebagai bagian dari masyarakat selalu membangun tanda (sign) untuk dapat diterima. Hari Suwandi adalah seorang yang mengaku korban lumpur Lapindo, yang aktif dalam menuntut pelunasan kepada pihak Lapindo. Aksi terakhirnya adalah jalan kaki dari Porong Sidoarjo ke Jakarta. Dengan berjalanya waktu ketika sampai ke Jakarta tiba-tiba Hari Suwandi berubah sikap dan meminta maaf atas aksi yang selama ini dilakukanya. Penelitian ini menggunakan teori dan pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure serta pemikiran George H. Mead tentang simbol dan isyarat (gesture). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan Hari Suwandi selama perjalanan menggunakan simbol dan gesture yang bermakna dengan tidak meninggalkan konteks sosial yang ada. Realitas tanda yang di bentuk Hari Suwandi membentuk parole dengan menyampaikan tanda-tanda selama perjalanan dan menjadi realitas langue ketika Hari Suwandi melakukan rekonsiliasi kepada Aburizal Bakrie.Kata kunci: Tanda (sign), Semiotika, Simbol dan isyarat (gesture). Abstact Started from Lapindo mudflow phenomenon that has not been stopped, causing a variety of social phenomena emerge. One of the highlights of Lapindo mudflow social case series is that it is always dynamic. Individual as part of society always build a sign in order to be accepted. Hari Suwandi is a man who claimed to be Lapindo mudflow victim, who is active in demanding repayment to the Lapindo. His final action is walking from Porong Sidoarjo to Jakarta. As time goes by when he finally arrives at Jakarta, suddenly Hari Suwandi changed and apologize for his action. This study uses Ferdinand de Saussure's semiotics theory and approach and also George H. Mead’s thought about symbols and gestures. The result of the study showed that Hari Suwandi used symbols and meaningful gesture during his action by not leaving the social context. The reality of sign by Hari Suwandi creating parole by submitting form signs during the trip and become reality langue when Hari Suwandi does reconcile to Aburizal Bakrie.Keywords: Sign, Semiotics, Symbols and Gestures

    STRATEGI PRAGMATIK SEBAGAI PENCIPTAAN HUMOR DALAM KANAL YOUTUBE TEGUH SUWANDI

    Full text link
    Kajian pragmatik menitikberatkan kajiannya kepada makna sebuah tuturan dengan memperhatikan konteks atau situasi ujar yang menyertainya. YouTube sebagai salah satu platform yang menyediakan informasi berupa video, memiliki perananan penting dalam penyebaran bahasa. Penelitian ini berfokus untuk mendeskripsikan tuturan video konten reaksi dalam kanal YouTube Teguh Suwandi dengan pendekatan kajian pragmatik. Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan wujud implikatur, prinsip kesantunan, dan teknik penciptaan humor dalam dimensi bahasa pada kanal YouTube Teguh Suwandi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, dengan pendekatan kajian pragmatik yaitu implikatur dan prinsip kesantunan Leech. Teknik pengumpulan data yang dilakukan berupa observasi, teknik simak, teknik catat, dan dokumentasi sebagai pelengkap data. Data yang terkumpul berjumlah 57 tuturan yang kemudian dianalisis menggunakan kartu data. Hasil akhir yang terdapat dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tuturan implikatur yang muncul dalam kanal YouTube Teguh Suwandi didominasi oleh implikatur konvensional. Pelanggaran dan pematuhan terhadap prinsip kerja sama yang banyak terdapat dalam kanal YouTube Teguh Suwandi adalah maksim pujian. Teknik penciptaan humor dalam dimensi bahasa yang sering muncul dalam kanal YouTube Teguh Suwandi adalah teknik sindiran (allusion). Hasil penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara teori implikatur, prinsip kesantunan, dan teknik penciptaan humor. Pemberian makna secara tersirat sebagai tuturan yang tidak terang-terangan dapat menjadi salah satu cara menciptakan humor. Tuturan tak langsung tersebut juga dapat menjadi tolok ukur atas kesopanan seseorang dalam bertutur. Pelanggaran-pelanggaran dalam prinsip kesantunan mungkin saja terjadi secara sengaja dengan tujuan menghibur dan dapat dikaitkan dengan teknik penciptaan humor yang dikemukakan oleh Berger. Pragmatics focuses on analyzing the meaning of utterances while considering the context and situational factors surrounding them. YouTube, as one of the platforms providing information through videos, plays a crucial role in language dissemination. This research aims to describe the utterances in reaction video content on Teguh Suwandi YouTube channel using a pragmatic approach. The specific objectives of this research are to describe the forms of implicatures, politeness principles, and language-based humor creation techniques on Teguh Suwandi YouTube channel. The research method employed in this study is a qualitative descriptive method, utilizing a pragmatic approach involving implicatures and Leech's politeness principles. Data collection techniques include observation, listening technique, note-taking, and documentation as supplementary data. A total of 57 utterances were collected and analyzed using data cards. The final results of this research indicate that implicature utterances appearing on Teguh Suwandi's YouTube channel are predominantly conventional implicatures. Violations and adherence to cooperative principles, mainly revolving around the maxim of praise, are common in Teguh Suwandi YouTube channel. The language-based humor creation technique frequently observed on Teguh Suwandi YouTube channel is the technique of allusion. The research findings highlight the interconnection between implicature theory, politeness principles, and humor creation techniques. Implicit meaning in utterances, delivered indirectly, can be a means of creating humor. These indirect utterances can also serve as a gauge of an individual's politeness in communication. Violations of politeness principles may occur intentionally for the purpose of entertainment and can be linked to humor creation techniques as proposed by Berger

    Produksi konten di selebgram @irene suwandi

    Full text link
    Konten kreator merupakan fenomena yang muncul pada era kemajuan digital saat ini, banyak orang orang yang berlomba lomba memproduksi sebuah konten untuk mendapatkn banyak pengikut pada sosial media mereka. Munculnya konten kreator pada era digital saat ini, membuka peluang usaha baru dimana orang orang mampu menghasilkan uang dari sebuah video yang diunggah pada sosial media. Irene Suwandi merupakan seorang kkonten kreator yang telah aktif dalam berbagai platform media sosial. Namun konten kreator membutuhkan tim dibalik layar untuk mendorong proses produksi agar dapat menyajikan konten yang maksimal. Salah satu tim yang diperlukan adalah videographer dan editor video. Dengan adanya seorang videographer dan editor video, kemudian mampu membantu proses produksi sebuah konten agar dapar tersampaikan kepada penonton dengan baik. Laporan kerja praktik ini akan menjabarkan terkait produksi konten Irene Suwandi

    Seluk liku koperasi di kalangan pemuda/ Suwandi

    No full text
    ix, 95 hal.: bibl. ; ill. ; 21 cm

    Koperasi: Organisasi ekonomi yang berwatak sosial/ Suwandi

    No full text
    ix, 226 hal.: ill.; 21 cm

    Koperasi: Organisasi ekonomi yang berwatak sosial/ Suwandi

    No full text
    ix, 226 hal.: ill.; 21 cm

    Seluk liku koperasi di kalangan pemuda/ Suwandi

    No full text
    ix, 95 hal.: bibl. ; ill. ; 21 cm

    Koperasi: Organisasi ekonomi yang berwatak sosial/ Suwandi

    No full text
    ix, 226 hal.: ill.; 21 cm
    • …
    corecore