22 research outputs found
Pengaruh Penambahan Kalsium Terhadap Struktur Mikro, Sifat Mekanik, dan Ketahanan Termal Paduan Mg6Zn Sebagai Aplikasi Engine Block
Paduan magnesium banyak diaplikasikan pada dunia otomotif mobil atau motor dan mesin pesawat terbang. Haq al ini dikarenakan berat dari magnesium sendiri yang sangat ringan dan memiliki kekuatan tinggi. Serta paduan magnesium memiliki konduktifitas termal yang baik, modulus elastisitas yang tinggi dan memiliki sifat mekanik yang baik. Magnesium dalam aplikasi teknik biasanya di padukan dengan unsur seperti Al, Ag, Mn, Zn, Si, Zr dan RE (rare element). Pada penelitian ini telah dilakukan proses pemaduan sistem Mg-Zn-Ca dengan menggunakan variabel komposisi Ca yaitu 0 wt.%; 0,5 wt.%; 1,5 wt.%; dan 3 wt.%Ca terhadap paduan awal Mg-6Zn. Hasil penelitian menunjukkan struktur mikro yang terbentuk adalah αMg, MgZn, Mg2Ca, dan Mg6Zn3Ca2. Penambahan 3 wt.% Ca menghasilkan paduan paling stabil pada temperatur tinggi. Adanya fasa Mg6Zn3Ca2menaikkan nilai kekerasan menjadi 74,05 BH
Pengaruh Temperatur Aging dan Waktu Holding Aging Presipitasi Hardening Pada Struktur Mikro dan Sifat Mekanik Paduan Mg-5Al-1%Y untuk Aplikasi Komponen Otomotif Temperatur Tinggi
Paduan magnesium banyak diaplikasikan pada dunia otomotif mobil atau motor dan mesin pesawat terbang. Hal ini dikarenakan berat dari magnesium sendiri yang sangat ringan dan memiliki kekuatan tinggi. Serta paduan magnesium memiliki konduktifitas termal yang baik, modulus elastisitas yang tinggi dan memiliki sifat mekanik yang baik. Pada penelitian ini menggunakan paduan Mg 5Al 1%Y proses conventional melting pada temperatur 7200C waktu holding 1 jam dan didinginkan secara lambat. Variasi temperatur aging adalah 1500C, 2000C dan 2500C dan waktu holding aging 8 jam, 16 jam dan 24 jam. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh temperatur dan waktu holding aging terhadap mikro struktur, kekerasan dan stabilitas termal. Hasil pengujian karakterisasi yang menggunakan alat uji XRD yang menunjukkan adanya fasa α-Mg, β-Mg17Al12 dan Al2Y. Hasil pengujian kekerasan yang bersesuaian dengan aplikasi engine block adalah ketika paduan diberikan perlakuan panas 200°C waktu holding 16 jam yang memilki nilai kekerasan sebesar 81.40 HB. Hasil koefisien termal yang sesuai dengan aplikasinya adalah ketika temperatur aging 2000C waktu holding 16 jam dengan nilai koefisien termal sebesar 26.73 ppm0C-1
PengaruhTemperatur dan Waktu Tahan Aging Presipitasi Hardening terhadap Struktur Mikro dan Sifat Mekanik Paduan Mg-6Zn-1Y
Paduan magnesium merupakan paduan yang banyak diaplikasikan pada komponen otomotif yang memerlukan sifat ringan dan mampu tahan pada temperatur kerja otomotif. Pada penelitian ini akan dilakukan penelitian pengerasan persipitasi paduan Mg-6Zn-1Y dengan menggunakan variabel temperatur 1500C , 175 0C dan 200 0C dengan waktu tahan 4 jam, 8 jam dan 24 jam. Setelah pengerasan presipitasi paduan Mg-6Zn-1Y dilakukan pengujian metalografi, pengujian XRD, pengujian kekerasan dan pengujian TMA. Dari hasil pengujian didapatkan bahwa fasa yang terbentuk adalah αMg, Mg3 Y2 Zn3 dan Mg3 Y Zn6. Sedangkan microstructure yang didapatkan bererbentuk lamelar, Mg3 Y Zn6 dan αMg. Lamelar terbentuk dari fasa αMg+Mg3 Y2 Zn3. Sedangkan nilai kekerasan pada sampel aging 150ºC dengan waktu tahan 4, 8 dan 24 jam adalah 75.4, 80.93 dan 84.6 BHN
Pengaruh Temperatur Solution Treatment dan Aging terhadap Struktur Mikro dan Kekerasan Copperized-AISI 1006
Pengaruh Temperatur Solution Treatment dan Aging terhadap Fasa Dan Kekerasan Copperized-AISI 1006
Sebagai salah satu unsur paduan yang digunakan pada baja karbon rendah, tembaga dapat meningkatkan kekuatan tanpa menurunkan keuletan secara signifikan. Tembaga meningkatkan kekuatan pada baja dengan mekanisme penguatan secara precipitation hardening. Dalam penelitian ini dilakukan pemaduan tembaga dan baja AISI 1006 dengan mencelupkan baja AISI 1006 yang telah di-pre-heat ke dalam tembaga cair. Selanjutnya dilakukan precipitation hardening dengan variasi pada temperatur solution treatment dan aging. Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa temperatur solution treatment tidak mempengaruhi fasa yang terbentuk pada copperized-AISI 1006, yaitu tetap berupa α-ferit. Selain itu kenaikan dari temperatur solution treatment berbanding terbalik dengan nilai kekerasan dan temperatur aging 450oC menghasilkan kekerasan tertinggi dibanding temperatur aging yang lain, yaitu 119, 47 VHN dan 115,75 VHN untuk sampel yang sebelumnya di-solution treatment 800 dan 900oC
Pengaruh Penambahan Yttrium Terhadap Struktur Mikro, Sifat Mekanik Dan Ketahanan Termal Pada Paduan Mg-6zn Sebagai Aplikasi Engine Block
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi penambahan Yttrium (Y) terhadap struktur mikro, kekerasan dan ketahanan termal pada paduan magnesium – zinc. Magnesium (Mg) telah menjadi solusi untuk pengembangan material ringan. Paduan magnesium yang memiliki rasio kekuatan material berbanding massa material yang tinggi membuatnya baik digunakan pada aplikasi otomotif seperti steering wheel, gearbox house, seat frames dan cylinder block. Penelitian ini memadukan magnesium-zinc-yttrium dalam komposisi yang berbeda. Komposisi yttriumnya adalah 0,5% wt ; 2% wt dan 4% wt. Pengecoran yang dilakukan adalah pengecoan konvensional dengan temperatur melting 750°C dengan waktu penahanan 60 menit. Pengujian yang dilakukan yaitu pengujian struktur mikro, identifikasi fasa, komposisi fasa, ketahanan termal dan kekerasan. Berdasarkan pengujian yang dilakukan menunjukkan bahwa yttrium dapat menyebabkan berubahnya struktur mikro dan fasa serta meningkatkan kekerasan dan ketahanan termal pada sampel. Hasil analisa menunjukkan 4 fasa dominan yang muncul pada sampel yaitu α-Mg, MgZn, Mg3YZn6 dan Mg3Y2Zn3. Kekerasan tertinggi adalah 74 BHN pada sampel 4% wt yttrium dan rata-rata sampel dapat digunakan sampai temperatur dibawah 250 ͦC.</p
Synthesis of PLA/PLGA Biocomposite with Variation of Silane Coupling Agent as Reinforcement for Bone Plate Applications
This research investigated the synthesis of polylactic acid (PLA) and poly(lactic co-glycolic acid) (PLGA) bio-composites with nano-hydroxyapatite (nHA) fillers for bone plate applications, focusing on the effects of different silane coupling agents and polymer ratios. The research analyzed how various silane coupling agents (3-MPS, APTES, Vinyl Silane) and PLA compositions influenced structural, morphological, mechanical, biodegradation, and biocompatibility properties. Materials were characterized using FTIR, SEM, tensile and compression testing, weight loss analysis, and MTT assay. FTIR confirmed successful nHA surface modification with silane agents through the presence of Si-O-Si and NH2 functional groups. SEM revealed that Vinyl Silane produced samples with fewer voids and better filler distribution, while increased PLGA content resulted in more homogeneous structures. Mechanical testing demonstrated that composites with Vinyl Silane exhibited superior tensile (6.98 MPa) and compressive strength (8.19 MPa), while samples with 20% PLGA content achieved the highest values (7.18 MPa tensile, 8.28 MPa compressive). Biodegradation analysis showed that PPnHA8020-APTS samples achieved optimal degradation time (5.1 months), aligning with bone healing timelines. All bio composites demonstrated cell viability above 80%, exceeding ISO 10993-5 standards, with PPnHA9010-APTS showing the highest biocompatibility (86.76%). The research established that optimized PLA/PLGA/nHA bio composites, particularly with Vinyl Silane coupling agent and 20% PLGA content, offer promising properties for biodegradable bone implant applications, combining adequate mechanical strength with appropriate degradation rates and excellent biocompatibility
Kajian Dan Peningkatan Akurasi Penilaian Risiko Dengan Integrasi Best Worst Method Dalam Risk-Based Inspection Semi-Kuantitatif Pada Sistem Fuel Gas
Integritas aset merupakan aspek krusial dalam industri minyak dan gas untuk menjaga operasi yang aman dan efisien. Salah satu metode efektif dalam pengelolaan risiko adalah Risk-Based Inspection (RBI) yang memprioritaskan inspeksi pada peralatan berisiko tinggi. Namun, pendekatan konvensional berbasis standar API 581 masih mengandalkan judgement subjektif tanpa dukungan framework yang konsisten. Oleh karena itu, penelitian ini mengintegrasikan metode Best-Worst Method (BWM) sebagai pendekatan framework untuk meningkatkan objektivitas dan akurasi penilaian risiko. Studi dilakukan pada sistem fuel gas yang terdiri dari empat peralatan utama. Sistem ini dipilih karena peran vitalnya dalam banyak proses serta terhubung langsung dengan peralatan strategis seperti Gas Turbine Compressor (GTC). Mekanisme kerusakan dominan yang teridentifikasi adalah thinning akibat korosi 〖CO〗_2 serta corrosion under insulation (CUI) akibat akumulasi kelembaban di balik insulasi. BWM digunakan untuk menghasilkan bobot terhadap enam kriteria Probability of Failure (PoF) dan dua kriteria Consequence of Failure (CoF). Hasilnya menunjukkan bahwa inspection factor dan damage factor merupakan faktor dominan dalam PoF. Sedangkan dalam aspek CoF, dampak finansial dinilai lebih dominan dibandingkan dengan penyebaran area kerusakan. Evaluasi PoF dilakukan menggunakan tiga pendekatan yaitu kualitatif, kuantitatif, dan semi-kuantitatif berbasis BWM. Hasil menunjukkan bahwa ketiga peralatan yaitu HP Scrubber dan HP Separator A dan B. memiliki skor PoF sebesar 2 pada pendekatan kualitatif dan kuantitatif, sedangkan LP Separator bernilai 2 untuk kualitatif dan 1 untuk kuantitatif. Selanjutnya, nilai PoF semi-kuantitatif sebesar 2,267 untuk HP Scrubber, 2,231 dan 2,245 untuk HP Separator A dan B, serta 2,152 untuk LP Scrubber. Dalam aspek CoF, pendekatan semi-kuantitatif menunjukkan skor konsekuensi finansial sebesar 2,7166 untuk peralatan tekanan tinggi dan 1,8583 untuk LP Scrubber. Evaluasi risiko menunjukkan bahwa seluruh peralatan berada dalam kategori low hingga low-medium. Jadwal inspeksi internal disusun menggunakan pendekatan load leveling pada tahun 2029 untuk meningkatkan efisiensi shutdown dan konsistensi anggaran. Selain itu, metode inspeksi untuk thinning dan CUI ditingkatkan ke level fairly effective guna memastikan deteksi kerusakan yang lebih optimal. Integrasi BWM dalam RBI terbukti meningkatkan kualitas pengambilan keputusan teknis serta mendukung perencanaan inspeksi berbasis risiko secara lebih adaptif dan proporsional terhadap kondisi aktual sistem.
==================================================================================================================================
Asset integrity is a crucial aspect in the oil and gas industry to ensure safe and efficient operations. One effective method in risk management is Risk-Based Inspection (RBI), which prioritizes inspections on equipment with the highest risk levels. However, conventional approaches based on API 581 standards often rely on subjective judgment without a consistent supporting framework. Therefore, this study integrates the Best-Worst Method (BWM) as a decision-making framework to enhance the objectivity and accuracy of risk assessments. The study was conducted on a fuel gas system consisting of four main equipment units. This system was selected due to its vital role in supporting turbines and other processing operations, as well as its direct connection to strategic equipment such as the Gas Turbine Compressor (GTC). The dominant failure mechanisms identified include thinning due to CO₂ corrosion and corrosion under insulation (CUI) caused by moisture accumulation beneath the insulation layer. BWM was used to assign weights to six Probability of Failure (PoF) criteria and two Consequence of Failure (CoF) criteria. The results indicate that inspection factor and damage factor are the most influential in PoF assessment, while financial consequence is considered more dominant in the CoF aspect compared to affected area. PoF evaluation was performed using three approaches: qualitative, quantitative, and semi-quantitative based on BWM. The results show that the HP Scrubber and HP Separators A and B scored 2 in both qualitative and quantitative assessments, while the LP Scrubber scored 2 and 1 respectively. In the semi-quantitative approach, PoF values were 2.267 for HP Scrubber, 2.231 and 2.245 for HP Separators A and B, and 2.152 for LP Scrubber. For CoF, the semi-quantitative results show a financial consequence score of 2.7166 for high-pressure equipment and 1.8583 for the LP Fuel Gas Scrubber. Risk evaluation indicates that all equipment falls within the low to low-medium risk categories. Internal inspection schedules were developed using a load leveling approach in 2029 to improve shutdown efficiency and budget consistency. In addition, inspection methods for thinning and CUI were upgraded to the fairly effective level to ensure more optimal damage detection. The integration of BWM into RBI proves to improve the quality of technical decision-making and supports a more adaptive and proportional risk-based inspection planning aligned with the actual conditions of the system
Precipitation Hardening Formation in Mg6Zn0.5Y Alloy as an Engine Block Application
Magnesium alloys have been widely applied in the automotive world cars or motorcycles and aircraft engines. This is because the weight of the magnesium itself is very lightweight and have high strength. And magnesium alloys have good thermal conductivity, high elastic modulus and good mechanical properties. Magnesium in engineering applications is usually in the mix with elements such as Al, Ag, Mn, Zn, Si, Zr and RE (rare element). Magnesium alloys with zinc are mostly found and used. This research has been carried out precipitation hardening treatment-Mg alloy-0.5Y 6Zn using variable temperature 150oC, 175oC and 200oC with a holding time of 12 hours, 24 hours and 36 hours. The results show microstructure formed is αMg, MgZn, and Mg3Zn6Y (i-Phase). The formation of precipitates during the process of aging raise hardness values up to 75.8 BHN. Aging treatment reduces the thermal resistance of the alloy Mg-6Zn-0.5%Y.</jats:p
Pengaruh Penambahan Kalsium Terhadap Struktur Mikro, Sifat Mekanik, dan Ketahanan Termal Paduan Mg6Zn Sebagai Aplikasi Engine Block
Paduan magnesium banyak diaplikasikan pada dunia otomotif mobil atau motor dan mesin pesawat terbang. Haq al ini dikarenakan berat dari magnesium sendiri yang sangat ringan dan memiliki kekuatan tinggi. Serta paduan magnesium memiliki konduktifitas termal yang baik, modulus elastisitas yang tinggi dan memiliki sifat mekanik yang baik. Magnesium dalam aplikasi teknik biasanya di padukan dengan unsur seperti Al, Ag, Mn, Zn, Si, Zr dan RE (rare element). Pada penelitian ini telah dilakukan proses pemaduan sistem Mg-Zn-Ca dengan menggunakan variabel komposisi Ca yaitu 0 wt.%; 0,5 wt.%; 1,5 wt.%; dan 3 wt.%Ca terhadap paduan awal Mg-6Zn. Hasil penelitian menunjukkan struktur mikro yang terbentuk adalah αMg, MgZn, Mg2Ca, dan Mg6Zn3Ca2. Penambahan 3 wt.% Ca menghasilkan paduan paling stabil pada temperatur tinggi. Adanya fasa Mg6Zn3Ca2menaikkan nilai kekerasan menjadi 74,05 BH
