1,721,790 research outputs found
BAHASA INDONESIA untuk Perguruan Tinggi
BAB 1
PENDAHULUAN
Kompetensi Dasar
Mahasiswa mempunyai kemampuan untuk menjelaskan pentingnya bahasa Indonesia sebagai alat pengembangan kepribadian dan mempraktikkan bahasa tersebut baik dalam kegiatan ilmiah maupun nonilmiah.
1.1 Pengantar
Bahasa Indonesia (BI) merupakan mata pelajaran yang sudah tercantum dalam kurikulum SD, SMTP, dan SMTA. Semestinya, kemampuan berbahasa Indonesia para lulusan SMTA itu sudah memadai. Pada kenyataanya, kemampuan berbahasa Indonesia para mahasiswa, rata-rata kurang memuaskan. Kekurangan yang relatif menonjol ialah kemampuan berbahasa Indonesia secara tertulis. Oleh karena itulah pada kurikulum di Perguruan Tinggi, mata kuliah bahasa Indonesia masih perlu dicantumkan. Mata kuliah bahasa Indonesia yang dalam kurikulum lama termasuk dalam kelompok Mata Kuliah Dasar Umum, dalam kurikulum baru (2006) termasuk dalam Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) (SK Dirjen Dikti Depdiknas RI No. 43/DIKTI/Kep/2006). Dengan demikian, pencantuman matakuliah bahasa Indonesia dalam kurikulum Perguruan Tinggi itu dimaksudkan sebagai: (1) media pembelajaran kemampuan berbahasa Indonesia para mahasiswa, dan (2) salah satu sarana pengembangan kepribadian para mahasiswa.
1.2 Bahasa Indonesia dan Kepribadian Bangsa
Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang sudah terbentuk dalam kurun waktu kurang lebih satu abad. Dalam perjalanan sejarah itu, seluruh akal budi, pegalaman batin manusia Indonesia terdokumentasikan dalam bahasa Indonesia. Di antara yang terdokumentasikan itu ialah nilai-nilai luhur yang khas hanya dimiliki orang Indonesia. Misalnya: bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh; berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Dari ungkapan itu dapat diketahui bangsa Indonesia sebagaimana tercermin dalam bahasa Indonesia menjunjung nilai-nilai persatuan, kebersamaan, dan kesetaraan. Nilai-nilai luhur yang khas milik bangsa Indonesia itulah kepribadian Indonesia.
Sebagaimana keadaan bahasa Indonesia, kepribadian itu pun senantiasa bergerak secara dinamis. Meski demikian, dinamika itu hendaknya diarahkan jangan sampai mengikis jati diri bangsa. Kiranya mudah dipahami kalau dalam pelafalan kata pinjaman disesuaikan dengan sistem pelafalan bahasa Indonesia, misalnya kata publik, bungker; huruf [u] dilafalkan /U/; demikian pula sebaliknya, kata pinjaman yang dilafalkan /j/ yang dalam ejaan aslinya ditulis dengan huruf [g] dalam bahasa Indonesia ditulis dengan huruf [j], misalnya manajer, merjer.Dalam era globalisasi, pengaruh asing tidak mungkin dihindari, namun perlu di arahkan, dipilah dan dipilih mana yang bernilai positif bagi bangsa Indonesia.
Dari uraian di atas mungkin timbul pertanyaan, “Mengapa para mahasiswa masih harus mencermati masalah-masalah kebahasaan?” Dalam mencermati aspek kebahasaan, khususnya pada ragam bahasa ilmiah, seorang penulis akan dihadapkan pada masalah-masalah yang renik-renik. Misalnya masalah ketepatan ejaan: asas, kualitas, efektivitas, jadwal bukan azas, kwalitas, efektifitas, jadual, atau ketepatan tanda baca: Rumah itu kecil, tetapi indah; Meskipun di pinggiran kota, lokasinya bebas banjir, bukan Rumah itu kecil tapi indah; Meskipun di pinggiran kota, namun lokasinya bebas banjir. Sebagaimana telah diketahui, karya ilmiah berhubungan terutama dengan bahasa tulis, dan merupakan hasil olah pikir yang memerlukan kecerdasan dan kecermatan. Kecerdasan dan kecermatan berpikir itu hendaknya juga tercermin dalam pemakaian bahasanya. Dalam proses belajar mengajar bahasa Indonesia, sikap dan perilaku cerdas, cermat, teliti diharapkan tertanam dalam diri para mahasiswa. Perilaku cerdas, cermat dan teliti merupakan salah satu cerminan pribadi manusia profesional yang sangat dibutuhkan dalam era globalisasi dewasa ini.
1.3 Bahasa Indonesia dan Nasionalisme
Bangsa Indonesia sudah selayaknya bersyukur karena sejak sebelum merdeka, para pendahulu kita telah mempersiapkan sebuah bahasa nasional. Para pemuda dari bebagai suku bangsa dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 bersepakat menobatkan bahasa Melayu Tinggi menjadi bahasa Indonesia. Jadi, bangsa Indonesia telah memiliki bahasa Indonesia sejak sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI, yang kemudaian berkedudukan sebagai bahasa nasional. Jika dalam ungkapan lama mengatakan, “Bahasa adalah jiwa bangsa”, dapat pula dikatakan bahwa bahasa merupakan salah satu identitas bangsa pemiliknya. Bahkan kita merasa satu bangsa karena memiliki bahasa yang sama, yaitu bahasa Indonesia. Bagi bangsa Indonesia, bahasa Indonesia merupakan salah satu identitas nasional.
Pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat Perguruan Tinggi di samping dimaksudkan untuk memupuk rasa memiliki, mencitai, dan bangga menggunakannya, juga agar para mahasiswa sampai dengan setelah menjadi sarjana memiliki tanggung jawab untuk terus membina bahasa Indonesiana dan mengembangkan kemampuan dirinya dalam menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini perlu dilakukan karena bahasa Indonesia terus mengalami perkembangan, dan perkembangan yang mencolok ialah dalam bidang kosa kata. Pesatnya pertambahan kosa kata bahasa Indonesia menuntut para pemakainya untuk terus mengikuti perkembangan. Di pihak lain, adanya perkembangan itu menuntut semua pihak, termasuk para akademisi untuk ikut berperan dalam pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Dengan peran para akademisi ini diharapkan arah perkembangan bahasa Indonesia tetap konsisten dengan ciri khas bahasa Indonesia.
Dapat dikatakan pembelajaran bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi, memang difokuskan agar mahasiswa memiliki kemahiran berbahasa Indonesia baik secara tertulis maupun lisan, namun (di masa depan) juga diharapkan adanya kepedulian terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Bangga menggunakan bahasa Indonesia dan peduli terhadap perkembangannya adalah sebagian dari nasionalisme.
1.4 Bahasa Indonesia dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Telah diketahui peran bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Di tingkat Perguruan Tinggi, bahasa Indonesia bukan hanya sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan akademis saja, melainkan juga sebagai alat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks). Dengan peran ini, para akademisi didorong untuk memberdayakan semaksimal mungkin seluruh potensi bahasa Indonesia dalam pergulatannya di dunia ipteks. Di samping itu karena tuntutan perkembangan ipteks, para akademisi diharapkan ikut berperan dalam pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Dengan peran aktif para akademisi itu, pada satu sisi perkembangan ipteks bahasa Indonesiasa berjalan seiring dengan perkembangan bahasa Indonesia; pada sisi yang lain para akademisi sebagai kaum terpelajar benar-benar menjadi panutan, khususnya dalam berbahasa Indonesia.
1.5 Visi dan Misi Pendidikan Bahasa Indonesia
(1) Visi
Menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu instrumen pengembangan kepribadian mahasiswa menuju terbentuknya insan akademis yang mahir berkomunikasi secara tertulis ataupun secara lisan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
(2) Misi
Tercapainya kemahiran mahasiswa berbahasa Indonesia untuk menguasai, menerapkan dan mengembangkan ipteks dengan penuh rasa tanggung jawab dalam kedudukannya sebagai kaum terpelajar dan warga negara Indonesia yang berbudi pekerti mulia.
1.6 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar MK BI
(1) Satandar Kompetensi
Mahasiswa memiliki kemampuan berikut ini.
a. Menggunakan bahasa Indonesia untuk mengungkapkan pikiran, gagasan, dan sikap ilmiah ke dalam karya ilmiah yang berkualitas.
b. Memanfaatkan kemahiran berbahasa Indonesia untuk pengembangan diri sepanjang hayat.
(2) Kompetensi Dasar
Mahasiswa memiliki kemampuan berikut ini.
a. Menunjukkan pengetahuan yang baik tentang sejarah, kedudukan, dan fungsi bahasa Indonesia serta menunjukkan kebanggaan mereka menggunakan bahasa Indonesia.
b. Mengenali dan menjelaskan ciri-ciri bahasa Indonesia ragam ilmiah serta mewujudkannya dalam berbahasa Indonesia secara tertulis ataupun lisan dalam kinerja akademik.
c. Membaca kritis berbagai ragam wacana untuk keperluan menyusun karya ilmiah.
d. Menerapkan kriteria penulisan karya ilmiah dalam menyusun berbagai bentuk karya ilmiah.
e. Mererapkan kriteria penulisan proposal akademik (ilmiah) untuk menghasilkan proposal yang bermutu , lengkap dengan perangkat administratifnya.
f. Mepresentasikan karya ilmiah yang ditulisnya di depan forum diskusi kelas sesuai dengan kriteria presentasi yang baik.
g. Menyusun teks pidato dan menyampaikannya sesuai dengan kriteria teks dan berpidato yang baik.
h. Menyusun teks surat sesuai dengan kriteria surat yang baik.
1.7 Materi, Status Materi, dan Bobot Materi
No Materi Status Bobot
1 Sejarah, kedudukan, dan fungsi bahasa Indonesia Komponen penunjang 7,5%
2 Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah Komponen penunjang 7,5%
3 Membaca kritis untuk menulis Komponen utama 10%
4 Menulis adakemik Komponen utama 30%
5 Menyusun proposal Komponen utama 15%
6 Presentasi ilmiah Komponen utama 10%
7 Berpidato dalam situasi akademik Komponen utama 10%
8 Menulis surat dinas Komponen penunjang 10%
Total 100
SILANG GAYA DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT PURWA LAKON WAHYU WIJAYA KUSUMA SAJIAN SURONO GONDO TARUNO
ABSTRAK
Penelitian berjudul “Silang Gaya Dalam Pertunjukan Wayang Kulit
Purwa Lakon Wahyu Wijaya Kusuma Sajian Surono Gondo Taruno”
bertujuan menjawab permasalahan tentang; (1) Bagaimana unsur garap
pakeliran gaya Surakarta, Jawatimuran (Porongan) dan Yogyakarta
sajian Surono (2) Bagaimana bentuk/wujud silang gaya pakeliran sajian
Surono dalam lakon Wahyu Wijaya Kusuma. (3) Mengapa terjadi silang
gaya pakeliran dalam pertunjukan wayang kulit lakon Wahyu Wijaya
Kusuma sajian Surono. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini
terdiri dari konsep silang gaya yang dikemukakan oleh Sunardi dan Umar
Kayam. Analisis penelitian ini bersifat deskriptif dengan model
analisis kualitatif yang menggunakan teknik pengumpulan data melalui
langkah-langkah observasi, studi pustaka, dan wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur adegan Wahyu Wijaya
Kusuma, wujud silang gaya ditunjukkan dengan adanya unsur garap
pakeliran gaya Surakarta, Jawatimuran (Porongan) dan Yogyakarta.
Silang gaya yang dilakukan Surono dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu
faktor eksternal yang terdiri dari silang gaya pedalangan dalam
perspektif perubahan budaya, pengaruh media massa. Internal terdiri
dari memudarnya lokalitas dalang, kreativitas dalang, pengaruh
pakeliran padat dan faktor penanggap
Surono Seniman Serba Bisa
The process of an artist’s journey through life is closely related to his or her social and cultural environment. Surono is an artist who is highly regarded, especially in the traditional art of wayang orang (a form of traditional Javanese stage show). He is not only skilled in the art of wayang orang but also as a dancer, singer, director, comedian, and Javanese gamelan musician, and is therefore often referred to as a “complete” artist.
Keywords: Artist, all-rounder, creativit
THE EFFECT OF MACRO VARIABLES ON SHARIA STOCK RETURNS
This study aims to analyze whether there is an effect of inflation and exchange rates on Islamic stock returns in the property and real estate sectors listed on ISSI (Indonesian Sharia Shares Index) for the period 2012-2018). The population of this study is all sharia shares in the property and real estate sector registered at ISSI for the period 2012-2018. The type of data used is secondary data obtained through published annual reports which were analyzed using multiple linear regression with the help of the E-Views Program. The results of this study are: inflation and exchange rates partially have no effect on the return of sharia shares in the property and real estate sectors listed on ISSI (Indonesian Sharia Stock Index) for the period 2012-2018. Then inflation and exchange rates simultaneously show that there is no effect on the return of sharia shares in the property and real estate sectors listed on the ISSI (Indonesian Sharia Stock Index) for the period 2012-2018. finally Exchange rate inflation and stock returns in the perspective of Islamic economics will have a good impact when utilizing a certain item to fulfill every need according to the need or portion and not following their desires. Based on the results of this study, it can be concluded that inflation and exchange rates cannot be taken into account in determining stock investment decisions in the Islamic perspective for the period 2012-2018. The Islamic economic perspective views that in terms of both investment and macroeconomics, when carried out with Sharia economic principles, it can benefit anyone and society will prosper
- …
