1,721,004 research outputs found
Pelaksanaan Aqad Muzaraah di Desa Haurpugur Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung
Salah satu karakteristik perekonomian Islam adalah dengan menggunakan sistem bagi hasil dan sistem ini diimplementasikan dimasyarakat dengan berbagai macam kerjasama yang salah satunya adalah muzara'ah yang dalam kebiasaan masyarakat Indonesia disebut dengan paroan sawah yakni kerjasama antara pemilik lahan dan penggarap lahan dibidang pertanian yaitu dalam pengolahan sawah. Dalam pelaksanaannya aqad muzara'ah yang teijadi didesa Haurpugur masih jauh dari kesempumaan dan ketentuan syariat hal ini dibuktikan dengan adanya salah satu rukun dan syarat yangtidak terpenuhi yang salah satunya adalah dalam pembagian hasil yang tidak berbentuk prosentase melainkan ditentukan pada awal terjadinya aqad dengan jumlah tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dasar yang digunakan untuk sistem bagi hasil di Desa Haurpugur, kemudian ditujukan pula untuk mengetahui mashlahat dan madharat yang terdapat dalam sistem bagi hasil panen di desa Haurpugur sekaligus penelitian ini juga ditujukan untuk mengetahui relevansi antara aqad muzara'ah dalam fiqih mu'amalah dengan sistem bagi hasil yang terjadi didesa Haurpugur. Penelitian ini bertolak dari sumber hukum islam yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadits. Diman manusia dalam memperoleh harta dapat ditempuh dengan berbagai cara dengan tetap berpijak pada rel-rel syariah yaitu dengan prinsip sukarela, menarik manfaat dan menghilangkan madharat bagi manusia, memelihara nilai-nilai keadilan dan tolong menolong serta dalam batas-batas yang diizinkan oleh syara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriftif. Sedang dalam pengumpulan data, penulis melakukan dengan tekhnik observasi, wawancara dengan beberapa pelaku aqad muzara'ah di Desa Haurpugur. Sedangkan dalam mengumpulkan data teoritis dilakukan melalui kajian pustaka yang ada relevansinya dengan masalah yang diteliti. Hasil penelitian ini dapat dikemukakan bahwa 1). Dasar yang digunakan untuk bagi hasil panen didesa Haurpugur adalah bahwa pemilik tanah berasumsi sistem nengah dengan anggapan modal yang dikeluarkan untuk pertumbak sawahnya adalah lkg sementara rata-rata hasil panen pertumbaknya adalah 8 kg, jadi hasil kotor dikurangi modal adalah 7 kg dan hasil ini di bagi dua. Kemudian hal ini didasarkan untuk menanamkan rasa tanggung jawab penggarap kepada pemilik lahan serta untuk memotivasi penggarap agar mampu memperoleh hasil panen sesuai dengan target. 2) dilihat dari segi maslahat dan mafsadatnya kerjasama di desa haurpugur lebih banyak mafsadatnya kepada para pelaku .3) Relevansi antara aqad muzara'ah dalam fiqih mu'amalah dengan sistem bagi hasil yang terjadi di desa Haurpugur adalah adanya salah satu syarat yang tidak terpenuhi dalam hal pembagian hasil, yaitu ditentukan dalam jumlah tertentu bukan dalam jumlah persentase. Akhimya dapat diambil kesimpulan, bahwa pelaksanaan aqad muzara'ah didesa Haurpugur tidak dibenarkan dan tidak sah secara hukum sebab tidak terpenuhinya salah satu syarat dari aqad muzaraah tersebut yakni dalam hal pembagian hasil panen yang tidak ditentukan dengan prosentase sementara sahnya suatu hukum adalah terpenuhi semua syarat dan rukunnya
Pelaksanaan Aqad Muzara'ah di Desa Haurpugur Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung
Salah satu karakteristik perekonomian Islam adalah dengan menggunakan sistem bagi hasil dan sistem ini diimplementasikan dimasyarakat dengan berbagai macam kerjasama yang salah satunya adalah muzara'ah yang dalam kebiasaan masyarakat Indonesia disebut dengan paroan sawah yakni kerjasama antara pemilik lahan dan penggarap lahan dibidang pertanian yaitu dalam pengolahan sawah. Dalam pelaksanaannya aqad muzara'ah yang terjadi didesa Haurpugur masih jauh dari kesempumaan dan ketentuan syariat hal ini dibuktikan dengan adanya salah satu rukun dan syarat yang tidak terpenuhi yang salah satunya adalah dalam pembagian hasil yang tidak berbentuk prosentase melainkan ditentukan pada awal teijadinya aqad dengan jumlah tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dasar yang digunakan untuk sistem bagi hasil di Desa Haurpugur, kemudian ditujukan pula untuk mengetahui mashlahat dan madharat yang terdapat dalam sistem bagi hasil panen di desa Haurpugur sekaligus penelitian ini juga ditujukan untuk mengetahui relevansi antara aqad muzara'ah dalam fiqih mu'amalah dengan sistem bagi hasil yang terjadi didesa Haurpugur. Penelitian ini bertolak dari sumber hukum islam yaitu Al-Qur'an dan Al- Hadits. Diman manusia dalam memperoleh harta dapat ditempuh dengan berbagai cara dengan tetap berpijak pada rel-rel syariah yaitu dengan prinsip sukarela, menarik manfaat dan menghilangkan madharat bagi manusia, memelihara nilai-nilai keadilan dan tolong menolong serta dalam batas-batas yang diizinkan oleh syara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriftif. Sedang dalam pengumpulan data, penulis melakukan dengan tekhnik observasi, wawancara dengan beberapa pelaku aqad muzara'ah di Desa Haurpugur. Sedangkan dalam mengumpulkan data teoritis dilakukan melalui kajian pustaka yang ada relevansinya dengan masalah yang diteliti. Hasil penelitian ini dapat dikemukakan bahwa 1). Dasar yang digunakan untuk bagi hasil panen didesa Haurpugur adalah bahwa pemilik tanah berasumsi sistem nengah dengan anggapan modal yang dikeluarkan untuk pertumbak sawahnya adalah lkg sementara rata-rata hasil panen pertumbaknya adalah 8 kg, jadi hasil kotor dikurangi modal adalah 7 kg dan hasil ini di bagi dua. Kemudian hal ini didasarkan untuk menanamkan rasa tanggung jawab penggarap kepada pemilik lahan serta untuk memotivasi penggarap agar mampu memperoleh hasil panen sesua dengan target. 2) dilihat dari segi maslahat dan mafsadatnya kerjasama di desa haurpugur lebih banyak mafsadatnya kepada para pelaku .3) Relevansi antara aqad muzara'ah dalam fiqih mu'amalah dengan sistem bagi hasil yang terjadi di desa Haurpugur adalah adanya salah satu syarat yang tidak terpenuhi dalam hal pembagian hasil, yaitu ditentukan dalam jumlah tertentu bukan dalam jumlah persentase. Akhimya dapat diambil kesimpulan, bahwa pelaksanaan aqad muzara'ah didesa Haurpugur tidak dibenarkan dan tidak sah secara hukum sebab tidak terpenuhinya salah satu syarat dari aqad muzaraah tersebut yakni dalam hal pembagian hasil panen yang tidak ditentukan dengan prosentase sementara sahnya suatu hukum adalah terpenuhi semua syarat dan rukunnya
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
Religious Songs on Youtube: The Impact on Students
Beginning in 2018 Indonesian people are treated to religious songs from Sabyan Gambus group whose vocalist Nissa Sabyan. The songs sung by Nissa Sabyan echoed almost in every layer of the society. One of the media that made it easy for people to enjoy various songs from several Nissa Sabyan albums is YouTube. This paper was aimed to analyze the YouTube's role of students' religious dimension. The method used in this research is a survey with a qualitative approach. The survey was conducted on 147 students. The results of the study prove that YouTube as an Internet-based audio-visual media is an effective medium for spreading religious nuances. The majority of students feel to be religious by listening to Nissa Sabyan's songs, even though they don't understand the contents of the lyrics. Thus, it can be concluded that YouTube has a significant role in fostering a religious sense of students
- …
