396 research outputs found

    Pelatihan dan Peningkatan Kompetensi Pembelajaran IPA yang Berbasis Komputer (ICT) bagi Guru IPA SMP di Surakarta

    Full text link
    Kata kunci: Pelatihan dan peningkatan kompetensi. Guru IPA, Pembelaran Sains berbasis ICT Kemajuan di bidang teknologi informasi memberikan dampak pada pembelajaran sains di sekolah. Guru sains dituntut mampu melakukan pembelajaran yang berbasis ICT. Bagi guru sains khususnya fisika perlu ditingkatkan kompetentensinya dalam pembelajaran fisika yang berbasis ICT. Pada kenyataannya para guru IPA belum semuanya memiliki kompetensi dalam kegiatan pembelajaran yang berbasis ICT, maka diperlukan pelatihan secara kontinyu. Tujuan Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah: 1. Meningkatkan profesionalisme guru sains untuk mengembangkan pembelajaran yang inovatif berbasis computer (ICT). 2. Meningkatkan kemampuan guru IPA SMP menyusun dan membuat media pembelajaran yang inovatif dan berbasis computer (ICT). 4. Meningkatkan ketrampilan guru sains SMP dalam implementasi model pembelajaran yang inovatif dan berbasis komputer (ICT) di kelas. Pelatihan dilaksanakan dengan menggunakan beberapa langkah: 1. Penyiapan Materi, 2. Penyajian Materi, 3. Pelatihan dan Praktek 4. Praktek peer teaching, 5. Implementasi di Kelas, 6. Observasi, Supervisi, dan Evaluasi pembelajaran di kelas. Kegiatan pelatihan dilakukan pada setiap hari Sabtu, dalam kegiatan MGMP bagi Guru-guru Sains di Solo Raya. Peer teaching dilakukan di ruangan dalam tempat yang sama dengan pelatihan. Hasil pelatihan diimplementasikan di sekolah sesuai dengan jadwal mengajarnya. Evaluasi dan praktek pembelajaran dimplementasikan di sekolah masing-masing. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berupa: 1. Artikel yang dimuat di Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika di FKIP, yang dilaksanakan pada hari Sabtu 15 September 2012. 2. Artikel yang dimuat di Jurnal Ilmiah ber ISSN: SAINMAT. 3. Modul Pelatihan Pembelajaran Sains berbasis Komputer (ICT). 4. Buku Pedoman Pembuatan dan Penyusunan Pembelajaran Sains menggunakan macromedia flash. 5 Soft ware Model Pembelaran Animasi Simulasi berbasis komputer. Pengabdian masyarakat ini memberikan kesimpulan bahwa pelatihan dan peningkatan kemampuan di bidang pembelajaran sais sangat dibutukan oleh para guru IPA. Dari 30 guru yang mengikuti pelatihan, hampir 90 % kompetensinya meningkat secara signifikan. Kegiatan pelatihan sebaiknya dilakukan secara kontnyu dan tidak mengganggu tugas rutin guru sehari-hari

    PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN FISIKA YANGMENARIKDAN MENANTANG DI SEKOLAH AKSELERASI

    Full text link
    Kurikulum Pembelajaran Fisika di sekolah akselerasi ditengarai sama dengan kurikulum sekolah regular hanya dilakukan penambahan jumlah jam pelajaran khususnya pelajaran MIPA, sehingga satu satuan jenjang pendidikan yang seharusnya tiga tahun dapat ditempuh hanya dua tahun. Ini mengakibatkan siswa akselerasi sangat disibukkan dengan tugas-tugas dari semua mata pelajaran.Penyelenggaraan Sekolah Akselerasi sebaiknya disesuaikan dengan  karakteristik siswa, guru, kurikulum dan sistem pembelajaran fisika yang disajikan. Sekolah Akselerasi perlu mengembangakan model pembelajaran dan media pembelajaran fisika yang sesuai dengan kebutuhan. Di Sekolah Akselerasi perlu dikembangkan model pembelajaran fisika yang menarik dan menantang bagi siswa maupun bagi guru sebagai pasilitatornya. Hal ini dimaksudkan  agar para siswa selalu bergairah dalam melakukan pembelajaran Fisika baik di sekolah maupun di rumah. Kajian ini dilakuakan secara deskriptif kualitatif, dan dilakukan atau berlaku bagi SMA yang menyelenggarakan akselerasi. Keluaran yang dihasilkan dapat berupa model dan media pembelajaran fisika yang sesuai dengan siswa akselerasi

    PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN IPA YANG BERBASIS KOMPUTER (ICT) BAGI GURU IPA SMP

    Full text link
    Pembelajaran fisika perlu diupayakan agar menjadi menarik dan menantang bagi para siwa. Dalam kenyataannya pelajaran fisika disekolah menjadi momok bagi para siswa, karena dipandang sulit dan membosankan. Anggapan yang demikian ini perlu dirubah, dengan cara penyajian pelajaran fisika jangan terlalu banyak matematiknya, perlu dikemukakan dengan landasan penggunaan logika. Pembelajaran fisika dalam bentuk animasi simulasi dengan bantuan computer perlu dikembangkan.Bagi guru IPA khususnya fisika perlu ditingkatkan dalam kompetentensi pembelajaran fisika yang berbasis ICT. Pada kenyataannya para guru IPA belum semuanya memiliki kompetensi dalam penyusunan pembelajaran yang berbasis ICT. OLeh karena itu perlu diadadakan pelatihan-pelatihan secara kontinyu. Program pelatihan dapat dilaksanakan pada setiap hari Sabtu bertepatan dengan kegiatan MGMP bagi para guru fisika SMP di daerah Solo Raya. Instruktur atau tutornya dari para dosen fisika dalam rangka Pelaksanaan Tri Dharma PT, khusunya dalam Dharma Pengbdian Kepada Masyarakat

    PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN FISIKA DI SEKOLAH AKSELERASI

    No full text
    Kata kuci: siswa akselerasi, kelas akselerasi, model pembelajaran, modul pembelajran Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. Mengidentifikasi karakteristik siswa, guru, dan sistem pembelajaran fisika di sekolah akselerasi. 2. Mengidentifikasi model pembelajaran dan media pembelajaran fisika di sekolah akselerasi. 3. Menganalisis implementasi model dan media pembelajaran fisika di sekolah akselerasi. Penyelidikan ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan penelitian pengembangan. Subyek penelitiannya adalah sekolah akselerasi yang ada di Surakarta. Peneliti ke lapangan, penemuan dilakukan secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan, melaporkan, dan menarik kesimpulan. Kualitatif studi ini merupakan pendekatan metodologisnya. Teknik Pengumpulan Datanya, menggunakan: observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi. Metode Observasi digunakan untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, tempat atau lokasi dan benda serta rekaman gambar. Dalam observasi ini mengamati subyek yang sesuai kenyataannya. Metode angket digunakan untuk pengumpulan data melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan tertulis kepada subyek, dan responden. Angket diberikan kepada kepala sekolah, guru dan siswa kelas akselerasi. Wawancara dilakukan secara semi terstruktur untuk mengumpulkan beberapa data yang relevan. Instrumen pengumpulan datanya berupa: lembar observasi, lembar dokumentasi, pedoman wawancara, dan angket. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dalam 2 (dua) tahap, yaitu analisis data selama di lapangan dan analisis data setelah data terkumpul. Hasil penelitian tahun pertama adalah: 1. Siswa-siswa di sekolah akselerasi mempunyai IQ antara 125 sampai dengan 128, tetapi di sekolah vaporit di kota Solo para siswa mempunyai IQ > 130. 2. Kemampuan dan kreativitas Guru Fisika di kelas akselerasi masih bervariasi, pada umumnya sama dengan kelas biasa. 3. Kurikulum diferensiasi di kelas akselerasi berbeda dengan kelas regular. 4. Waktu studi di kelas akselerasi ditempuh selama 2 tahun, maka setiap semester diselesaikan selama 4 bulan. 5. Di kelas akselerasi menggunakan media pembelajaran yang berbasis ICT. 6. Untuk pembelajaran di kelas akselerasi tidak tersedia modul-modul khusus pembelajaran fisika. 7. Modul pembelajaran Fisika sangat perlu untuk dikembangkan di kelas akselerasi. Output dari penelitian ini adalah model pembelajaran yang berbasis ICT, dan modul pembelajaran fisika di kelas akselerasi

    PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF MELALUI METODE PROBLEM SOLVING DAN PEMBERIAN TUGAS DITINJAU DARI KREATIVITAS SISWA

    Full text link
    “Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Melalui Metode Problem Solving dan Pemberian Tugas ditinjau dari Kreativitas Siswa.”(Studi Kasus Pembelajaran Fisika Pada Pokok Bahasan Gravitasi Bumi Siswa kelas XI IPA Semester 1 Tahun Pelajaran 2008/2009 SMA Taruna Nusantara ). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) apakah ada pengaruh pembelajaran fisika dengan pembelajaran kooperatif melalui metode problem solving dan metode pemberian tugas terhadap prestasi belajar Fisika siswa pada kompetensi dasar gravitasi bumi. 2)  Apakah ada pengaruh siswa yang mempunyai kreativitas tinggi, sedang, dan siswa yang mempunyai kreativitasnya rendah terhadap prestasi belajar fisika siswa pada kompetensi dasar gravitasi bumi. 3)  Apakah ada interaksi antara metode problem solving dan metode pemberian tugas dengan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar fisika pada kompetensi dasar gravitasi bumi.Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus 2008 sampai dengan bulan Januari 2009. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI-IA SMA Taruna Nusantara tahun pelajaran 2008/2009 yang terdiri dari 8 kelas dengan jumlah siswa 245 siswa. Sampel berjumlah 122 siswa. Pengambilan sampel menggunakan teknik uji matcing kelas mulai dari kelas XI-IA-1 sampai dengan XI-IA-8. Sebagai variabel bebas dalam penelitian ini adalah pendekatan pembelajaran (pembelajaran kooperatif melalui metode problem solving dan pemberian tugas). Untuk variabel atribut adalah kreativitas siswa. Variabel terikatnya adalah prestasi belajar fisika pada ranah kognitif dan afektif. Data penelitian untuk prestasi belajar kognitif diperoleh dengan menggunakan metode tes setelah siswa mengikuti pembelajaran dalammkompetensi dasar Gravitasi Bumi. Ranah afektif diperoleh dengan mengobservasi sikap siswa dalam mengikuti pelaaran di kelas serta kreativitas diperoleh dengan memberikan angket.Analisis data menggunakan teknik Analysis of Varian (Anava). Dari hasil analisis data didapat : 1)  Terdapat perbedaan pengaruh pembelajaran kooperatif yang menggunakan metode problem solving dan pembelajaran kooperatif dengan metode pemberian tugas terhadap prestasi belajar fisika pada pengajaran gravitasi bumi yang memiliki taraf signifikansi 0,05 (p = 0,085).  2)  Tidak terdapat perbedaan pengaruh tingkat kreativitas siswa tinggi, sedang dan kreativitas rendah terhadap prestasi belajar fisika. Hal ini dapat diamati melalui tes normalitas Anderson-Darling didapat masing-masing p-value diatas dari taraf signifikansi (p > 0,05) baik metode problem solving maupun metode pemberian tugas untuk masing-masing tingkat kreativitasnya. 3)  Tidak terdapat interaksi antara metode problem solving dan metode pemberian tugas dengan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar fisika pada  kompetensi dasar gravitasi bumi pada taraf signifikansi 0,05. Kata Kunci : pembelajaran kooperatif, metode problem solving, metode pemberian tugas,kreativitas siswa

    PEMBELAJARAN BIOLOGI MENGGUNAKAN PENDEKATAN METAKOGNITIF MELALUI MODEL RECIPROCAL LEARNING DAN PROBLEM BASED LEARNINGDITINJAU DARI KEMANDIRIAN BELAJAR DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendekatan metakognitif model Reciprocal Learning (RL) dan Problem Based Learning(PBL), kemandirian belajar dan kemampuan berpikir kritis serta interaksinya terhadap prestasi belajar mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental faktorial 2x2x2 dengan subjek penelitian seluruh mahasiswa P.MIPA yang mengambil mata kuliah Biologi Umum tahun ajaran 2011/2012. Hasil penelitian menunjukkan: (1) pembelajaran dengan pendekatan metakognitif model PBL secara signifikan lebih baik dibandingkan model RL terhadap prestasi belajar mahasiswa; (2) kemandirian belajar tinggi secara signifikan lebih baik dibandingkan kemandirian belajar rendah terhadapprestasi belajar mahasiswa; (3) kemampuan berpikir kritis tinggi secara signifikan lebih baik dibandingkan kemampuan berpikir kritis tinggi terhadap prestasi belajar mahasiswa; (4) interaksi antara model pembelajaran dengan kemandirian belajar secara signifikan mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa;(5) interaksi antara model pembelajaran dengan kemampuan berpikir kritis belajar secara signifikan mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa; (6) tidak terdapat interaksi antara kemandirian belajar dan kemampuan berpikir kritis terhadap prestasi belajar mahasiswa; (7) tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan kemandirian belajar dan kemampuan berpikir kritis terhadap prestasi belajar mahasiswa. Kata kunci : Metakognitif, PBL, RL, Kemandirian Belajar, Kemampuan Berpikir Kriti

    EMBELAJARAN FISIKA DENGAN INKUIRI TERBIMBING MELALUI METODE EKSPERIMEN DAN DEMONTRASI DISKUSI DITINJAU DARI KEMAMPUAN MATEMATIK DAN KEMAMPUAN VERBAL SISWA

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembelajaran inkuiri terbimbing dengan menggunakan metode eksperimen dan demonstrasi diskusi, kemampuan matematik, dan kemampuan verbal serta interaksinya terhadap prestasi belajar peserta didik. Populasinya terdiri dari siswa kelas X SMAN 5 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012. Sampel diambil dengan teknik cluster random sampling terdiri 2 kelas yaitu kelas X-3 dan X-4. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode tes untuk prestasi kognitif, kemampuan matematik, dan kemampuan verbal serta dengan pengamatan langsung untuk psikomotorik dan afektif. Data dianalisis menggunakan variansi tiga jalan dengan desain faktorial 2x2x2. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan: 1) ada pengaruh pendekatan inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan demonstrasi diskusi terhadap prestasi kognitif, psikomotorik, dan afektif; 2) ada pengaruh kemampuan matematik tinggi dan rendah terhadap prestasi kognitif, psikomotorik, dan afektif. 3) ada pengaruh kemampuan verbal tinggi dan rendah terhadap prestasi kognitif, psikomotorik, dan afektif 4) tidak ada interaksi pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan demonstrasi diskusi dengan kemampuan matematik terhadap prestasi kognitif, psikomotorik, dan afektif; 5) tidak ada interaksi pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan demonstrasi diskusi dengan kemampuan verbal terhadap prestasi kognitif, psikomotorik, dan afektif; 6) tidak ada interaksi kemampuan matematik dengan kemampuan verbal terhadap prestasi kognitif, psikomotorik, dan afektif; 7) tidak ada interaksi pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terbimbing menggunakan metode eksperimen dan demonstrasi diskusi, kemampuan matematik, kemampuan verbal terhadap prestasi kognitif, psikomotorik, dan afektif

    PEMBELAJARAN BIOLOGI MENGGUNAKAN MODEL SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) BERBASIS PROYEK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN SIKAP PEDULI LINGKUNGAN

    Full text link
    Pembelajaran sains yang diajarkan sesuai dengan hakikat sains yakni proses, produk, sikap, dan teknologi akan menjadi sarana untuk mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan keterampilan proses sains. Berdasarkan hasil observasi, pembelajaran sains selama ini kurang mengajak mahasiswa untuk menemukan dan menyikapi permasalahan yang terjadi di masyarakat, akibatnya sikap peduli lingkungan mahasiswa terhadap lingkungan kurang. Selain itu hasil belajar yang diperoleh mahasiswa juga rendah. Untuk itu digunakan model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) berbasis proyek. Tujuan penelitian ini adalah: 1) mengetahui keterlaksanaan model pembelajaran STM Berbasis Proyekpada mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Semester II tahun akademik 2011/2012 FKIP Universitas Tanjungpura dalam materi pencemaran lingkungan, 2) mengetahui peningkatan hasil belajar dan, 3) mengetahui peningkatan sikap peduli lingkungan.Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Penelitian dilaksanakan dalam 3 siklus yang masing- masing siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Validasi penelitian ini dilakukan dengan metode triangulasi. Teknik pengumpulan data hasil belajar kognitif menggunakan tes,afektif menggunakan lembar observasi dan angket, keterampilan proses sains menggunakan lembar observasi dan tes, serta sikap peduli lingkungan menggunakan angket. Teknik analisis data berupa analisis kualitatif dan inferensial. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: 1) model pembelajaran STM dapat dilaksanakan dengan baik menggunakan 5 tahapan yakni: orientasi pada masalah, pembentukan konsep, aplikasi konsep, pemantapan konsep dan penilaian pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Semester II tahun akademik 2011/2012 FKIP Universitas Tanjungpura materi pencemaran lingkungan, 2) terjadi peningkatan hasil belajar mahasiswa pada aspek kognitif, afektif, dan keterampilan proses sains, 3) terjadi peningkatan sikap peduli lingkunga
    corecore