1,720,959 research outputs found
Peran Penambahan Enzim dalam Pakan Buatan untuk Pertumbuhan Larva Ikan Lele Afrika Clarias gariepinus
Salah satu faktor kunci keberhasilan dalam kegiatan budidaya ikan lele
adalah kualitas benih yang baik. Dalam proses produksi benih ikan lele Afrika
(Clarias gariepinus) ini, memerlukan cacing sutra (Tubifex sp.) sebagai pakan
awal untuk larva sampai dengan ukuran benih. Cacing sutra dapat menjadi faktor
pembatas bagi kegiatan produksi benih ikan lele. Cacing sutra tidak tersedia
sepanjang tahun, terutama pada musim penghujan dimana ketersediaan di alam
berkurang. Kurangnya cacing sutra akan meningkatkan harga dan akan menjadi
sangat penting bagi daerah-daerah yang ketersediaan cacing sutranya terbatas.
Upaya untuk mengatasi ketersediaan cacing sutra sebagai pakan alami adalah
dengan memberikan pakan buatan yang ditambahkan dengan multienzim dengan
nama komersial Superzyme dari PT. Bright International agar nutrien dalam
pakan dapat dimanfaatkan oleh ikan secara maksimal. Oleh karena itu, penelitian
ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis efektivitas penambahan enzim
pada pakan buatan terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup larva
ikan lele Afrika.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – April di BBPBAT
Sukabumi, dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap, terdiri dari
empat perlakuan dan empat kali ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah
pemberian pakan pada larva ikan lele dengan cacing (K), pakan tanpa enzim
(ME0), pakan dengan penambahan enzim dosis 1 g kg-1 (ME1) dan pakan dengan
penambahan enzim dosis 2 g kg-1 (ME2) dengan metode coating. Larva ikan lele
berumur 3 hari ditebar pada akuarium kaca ukuran 80x60x40 cm yang diisi air
150 L dan diberi aerasi. Kepadatan larva 9 ekor L-1. Cacing sutra dan pakan
buatan diberikan sebanyak 4 kali sehari, pada pukul 07.00, 12.00, 17.00 dan 22.00
WIB selama 12 hari. Parameter uji yang dievaluasi dalam penelitian ini adalah
bobot tubuh akhir, panjang tubuh akhir, tingkat kelangsungan hidup, distribusi
ukuran panen, jumlah konsumsi pakan, efisiensi pakan, rasio efisiensi protein,
faktor kondisi, aktivitas enzim (amilase, protease, tripsin, kimotripsin) dan
panjang vili usus.
Akhir penelitian ini menunjukkan data pertumbuhan panjang dan bobot
akhir ikan yang diperoleh, secara signifikan nilai tertinggi yaitu pada pakan
perlakuan cacing dibandingkan perlakuan lainnya, sedangkan pada perlakuan
pakan ME0, ME1, dan ME2 tidak berbeda nyata. Pertumbuhan ikan lele pada
perlakuan cacing berdampak pada distribusi ukuran panen yang hanya memiliki
dua ukuran, yakni ukuran sedang (70.47%) dan besar (29.53%), sedangkan pada
perlakuan pakan buatan, ikan terdistribusi di ukuran kecil, sedang dan besar,
dengan mayoritas di ukuran sedang (98.25-99.52%). Ikan pada perlakuan cacing,
mengkonsumsi pakan 13 kali lebih banyak dari perlakuan pakan buatan. Di sisi
lain, pemberian pakan buatan memberikan nilai efisiensi pakan yang lebih baik
dari perlakuan cacing. Efisiensi pakan pada setiap perlakuan pakan buatan
nilainya tidak berbeda nyata. Parameter rasio efisensi protein tidak berbeda nyata
antara perlakuan cacing dan ME0, namun kedua perlakuan tersebut berbeda nyata
dengan perlakuan ME1 dan ME2. Untuk parameter tingkat kelangsungan hidup
dan faktor kondisi dari masing-masing perlakuan tidak menunjukkan hasil yang
berbeda nyata. Pada pengukuran aktivitas enzim pada hari ke-18 setelah menetas,
aktivitas enzim amilase dan kimotripsin rata-rata meningkat, sedangkan aktivitas
enzim protease dan tripsin rata-rata menurun jika dibandingkan dengan aktivitas
enzim pada larva hari ke-4 setelah menetas (sebelum diberi perlakuan). Perbedaan
penambahan dosis pada pakan memberikan pengaruh yang berbeda pada panjang
villi usus ikan lele. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan benih ikan lele yang
diberi pakan cacing, sedangkan nilai yang terendah ada pada perlakuan ME0.
Peningkatan enzim pada pakan, dapat meningkatkan panjang vili usus (ME1 dan
ME2).
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penambahan enzim
dengan dosis sampai 2 g kg-1 pakan dapat meningkatkan panjang villi usus,
namun belum mampu meningkatkan pertumbuhan ikan sebagaimana penggunaan
cacing. Saran yang dapat disampaikan adalah perlu dilakukan evaluasi lanjutan
terkait peningkatan jumlah pemberian pakan harian melalui peningkatan frekuensi
pemberian pakan agar jumlah konsumsi pakan buatan setara dengan cacing
Hibridisasi Interpopulasi Ikan Lele Afrika Clarias Gariepinus Yang Diintroduksi Di Indonesia
Indonesia adalah produsen terbesar ikan genus Clarias di dunia dengan produksi hingga 678 000 ton pada tahun 2014. Seluruh produksi ikan Clarias adalah ikan lele Afrika yang diintroduksi ke Indonesia. Saat ini, terdapat lima populasi ikan lele Afrika introduksi, yaitu populasi Taiwan yang diintroduksi tahun 1985 (selanjutnya disebut populasi Sangkuriang), populasi Thailand tahun 2002 dan 2008, populasi Mesir tahun 2005, populasi Kenya tahun 2011 dan populasi Belanda tahun 2011. Tiga tahapan penelitian dirancang untuk mengevaluasi performa genotipe dan fenotipe kelima populasi ikan lele tersebut.
Penelitian pertama bertujuan untuk menentukan status ikan lele Afrika yang diintroduksi ke Indonesia. Karakter genotipe dan fenotipe kelima populasi ikan diuji dengan menggunakan analisis PCR-RFLP DNA mitokondria lokus ND5/6, analisis truss-morfometri pada 10 karakter morfometri dan analisis performa reproduksi pada induk jantan dan betina dan persilangan antar populasi. Hasil penelitian menunjukkan keragaman haplotipe dan jarak genetik pada ikan lele Afrika yang diintroduksi ke Indonesia relatif tinggi, yaitu masing-masing 0.611-0.695 dan 0.118-0.582. Analisis morfometri tidak menunjukkan adanya karakter morfometri yang yang dapat menjadi indikasi adanya persilangan antar populasi ikan lele sebelumnya. Analisis performa reproduksi menunjukkan bahwa karakter reproduksi pada jantan dan betina relatif sebanding dengan populasi ikan lele Afrika di alam. Persilangan antar populasi ikan lele introduksi juga berhasil dilakukan dan mendapatkan tingkat pembuahan dan penetasan telur yang tinggi. Berdasarkan hasil-hasil tersebut, kelima populasi yang digunakan pada penelitian ini dapat dipastikan merupakan spesies ikan lele Afrika C. gariepinus.
Penelitian tahap kedua dilakukan untuk melakukan evaluasi performa ikan hasil persilangan interpopulasi hingga umur 81 hari (tahap pembenihan). Lima populasi ikan lele digunakan untuk membentuk lima populasi galur murni dan 20 populasi persilangan. Hasil penelitian menunjukkan persilangan Mesir betina x Belanda jantan (MB) menunjukkan performa terbaik yaitu laju pertumbuhan (SGR), kelangsungan hidup (SR) dan jumlah ikan over-size (OS) masing-masing 9.69±0.03%, 83.49±6.72% and 0.22±0.04%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara OS dengan SR, makin tinggi OS, makin rendah SR. Korelasi ini cenderung makin menurun pada pemeliharaan ikan yang semakin besar. Namun demikian, secara umum, performa SGR, SR dan OS antar silangan relatif rendah atau tidak berbeda.
Penelitian tahap ketiga dilakukan untuk mengevaluasi persilangan interpopulasi lima populasi ikan lele Afrika pada tahap pembesaran (13 minggu). Performa dan heterosis dihitung pada bobot tubuh, kelangsungan hidup, biomassa, konversi pakan dan laju pertumbuhan. Persilangan Belanda betina x Thailand jantan (BT) menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan populasi lainnya, yaitu bobot tubuh (241.39 g) dan kelangsungan hidup (93.67%), biomassa (22.59 kg), konversi pakan (1.01) dan laju pertumbuhan (3.56%). Di antara 20 populasi silangan, hanya populasi BT yang menghasilkan mid-parent dan best-parent
heterosis positif pada semua karakter yang diamat. Dibandingkan dengan menggunakan populasi galur murni yang terbaik, populasi BT dapat meningkatkan produksi biomassa hingga 36% dan menurunkan konversi pakan hingga 10% dan 202% dan 5.5% bila dibandingkan dengan menggunakan ikan lele populasi Sangkuriang. Dari hasil ini menunjukkan potensi pemanfaatan populasi BT dalam produksi akuakultu
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.</p
- …
