1,720,977 research outputs found

    KAJIAN KONSERVASI DAERAH ALIRAN SUNGAI DELI DALAM UPAYA PENGENDALIAN BANJIR DI KOTA MEDAN

    No full text
    Daerah Aliran Sungai Deli merupakan salah satu DAS kritis di Sumatera Utara yang memerlukan prioritas penanganan sebagai lokasi sasaran rehabilitasi. Oleh karena itu, perlu adanya arahan konservasi dan penggunaan lahan di seluruh Sub DAS Deli agar kekritisan/ kerusakan lahan dapat dikurangi dan bencana banjir yang selama ini selalu melanda Kota Medan sebagai daerah yang berada di bagian hilir DAS Deli dan merupakan ibukota provinsi Sumatera Utara dapat dimitigasi. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengkaji karakteristik biofisik masing-masing Sub DAS Deli sebagai penyebab kerusakan lahan DAS Deli yang dapat menjadi salah satu penyebab banjir di Kota Medan, 2) mengkaji kerusakan lahan DAS Deli berdasarkan prediksi erosi dan tingkat bahaya erosi, kekritisan lahan, dan kemampuan penggunaan lahan masing-masing Sub DAS Deli, 3) merancang arahan penanganan konservasi dan penggunaan lahan masing-masing Sub DAS Deli untuk mengurangi kerusakan lahan DAS Deli dan menurunkan debit maksimum dan volume banjir masing-masing Sub DAS Deli sebagai upaya mitigasi banjir di Kota Medan. Penelitian ini menggunakan metode survei lapangan, kegiatan survei berupa identifikasi biofisik. Data hasil survei digunakan untuk mengkaji kerusakan lahan. Kajian kerusakan lahan didasarkan pada prediksi erosi dan tingkat bahaya erosi, klasifikasi tingkat kekritisan lahan, klasifikasi kemampuan penggunaan lahan, analisis banjir, kajian konservasi DAS Deli, kemudian dilanjutkan dengan analisis dampak arahan konservasi terhadap penurunan debit banjir dan volume banjir masing-masing Sub DAS Deli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan lahan DAS Deli disebabkan faktor-faktor biofisik DAS Deli terutama, perubahan penggunaan lahan, lereng dan bentuk lahan serta curah hujan. Kerusakan lahan DAS Deli berdasarkan potensi erosi setiap tahun mencapai 1.293.764,9 ton dengan rata rata erosi 27,08 ton/ha/tahun, besarnya erosi tiap Sub DAS berturut-turut dari Sub DAS Petani sebesar 780.736,7 ton (rata-rata erosi 60,9 ton/ha/tahun

    Pemanfaatan Biochar dari Kendaga dan Cangkang Biji Karet Sebagai Bahan Ameliorasi Organik pada Lahan Hortikultura Di Kabupaten Karo Sumatera Utara

    No full text
    Kabupaten Karo sebagai daerah penghasil komoditi hortikultura dan pengguna pestisida terbanyak di Sumatera Utara. Oleh sebab itu diperlukan bahan ameliorasi organik sebagai absorben residu pestisida, pada lahan yang sudah tercemar pestisida. Sehingga dampak pestisida yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat yang mengkonsumsi berbagai komoditi hotikultura dapat dikurangi. Dengan penelitian ini akan diperoleh bahan ameliorasi organik yakni biochar yang berasal dari kendaga dan cangkang biji karet (kecabik) yang efektif untuk mengendalikan residu pestisida di lahan hortikultura. Tujuan jangka pendek dan menengah dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi dan karakteristik biochar dari kendaga dan cangkang biji karet yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan amelioran organik pada lahan hortikultura yang tercemar residu pestisida. Selain itu, untuk mengetahui dosis aplikasi yang digunakan sebagai pengendali residu pestisida dalam upaya menunjang pembangunan industri pertanian yang ramah lingkungan. Metode yang digunakan melalui pengujian laboratorium dan pengujian lapangan. Penelitian tahun pertama terdiri dari dua tahap kegiatan, yaitu pembuatan biochar kecabik serta uji karakteristiknya, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor, yakni aktivasi biochar dengan perendaman HCl konsentrasi (0%, 5%, 10%, 15%, 20%) dan suhu aktivasi (600, 700 dan 800 oC). Parameter yang dianalisis adalah kadar abu, kadar air, kadar zat menguap, kadar karbon terikat, daya serap iodine dan benzene. Tahap kedua, biochar dengan karakteristik terbaik diaplikasi sebagai bahan ameliorasi organik pada lahan hortikultura di Berastagi Kabupaten Karo yang memiliki tingkat residu pestisida tinggi, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor. Faktor perlakuan pertama jenis hortikultura, yaitu cabai (kelompok buah), sawi/caisim (kelompok sayuran), dan kentang (kelompok umbi) dan faktor perlakuan kedua adalah tingkat dosis biochar yang diaplikasi A0: kontrol, A1: arang aktif (100%), A2: arang + pupuk kandang (90% : 10%), A3: arang aktif + pupuk kandang (80% : 20%), A4: arang aktif + pupuk kandang (70% : 30%), A5: arang aktif + pupuk kandang (60% : 40%). Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, berat kering dan berat basah tanaman, dan analisa kandungan hara tanah (N,P,K, Ca, Mg, KTK, KB dan pH). Hasil penelitian menunjukkan kondisi optimum yang dihasilkan untuk menghasilkan biochar teraktivasi dari kecabik adalah pada perendaman dalam larutan HCl 15% dan suhu aktivasi 800 oC dengan hasil karakteristik terbaik, yaitu kadar air 3.97%; kadar abu 3.78%; kadar zat menguap 30.91%; kadar karbon terikat 65.27%; daya serap iodine 875.97 mg g-1 dan daya serap benzene 25,94%. Biochar dengan karakteristik terbaik diaplikasi sebagai absorben residu pestisida pada tanaman hortikultura yaitu cabai, sawi/caisim dan kentang di Berastagi Kabupaten Karo Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan biochar tidak memberi respon yang signifikan pada pertumbuhan dan produksi tanaman sawi. Akan tetapi memberi respon yang signifikan pada pertumbuhan vegetatif tanaman cabai yakni pada perlakuan A3 (80 % arang aktif + 20% pupuk kandang). Sedangkan pengaruh biochar kecabik terhadap produksi cabai tidak memberi pengaruh yang signifikan, Aplikasi kecabik untuk pertumbuhan vegetatif dan produksi tanaman kentang memberi pengaruh yang signifikan pada perlakuan A5 arang aktif 60 % dan 40 % pupuk kandang

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Get PDF
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist

    No full text
    We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
    corecore