63 research outputs found

    PENGARUH BERBAGAI KOMPOSISI DOSIS KOMPOS UNPAD DAN PUPUK BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata L.) VARIETAS BONANZA

    No full text
    Penelitian bertujuan untuk mengetahui komposisi dosis pupuk kompos UNPAD dan pupuk buatan terhadap pertumbuhan dan hasil Jagung manis. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan terdiri dari tujuh perlakuan, yaitu : A = 10 kg/ha kompos + 5 cc/L POC + pupuk buatan (0 kg/ha Urea, 0 kg/ha SP-36, 0 kg/ha KCl), B = 8 kg/ha kompos + 5 cc/L POC + pupuk buatan (60 kg/ha Urea, 20 kg/ha SP-36, 20 kg/ha KCl), C = 6 kg/ha kompos + 5 cc/L POC +pupuk buatan (120 kg/ha Urea, 40 kg/ha SP-36, 40 kg/ha KCl), D = 4 kg/ha kompos + 5 cc/L POC + pupuk buatan (180 kg/ha Urea, 60 kg/ha SP-36, 60 kg/ha KCl), E = 2 kg/ha kompos + 5 cc/L POC + pupuk buatan (240 kg/ha Urea, 80 kg/ha SP-36, 80 kg/ha KCl), F = 0 kg/ha kompos + 5 cc/L POC + pupuk buatan (300 kg/ha Urea, 100 kg/ha SP-36, 100 kg/ha KCl), dan G = 0 kg/ha kompos + 0 cc/L POC + pupuk buatan (300 kg/ha Urea, 100 kgs/ha SP-36, 100 kg/ha KCl). Hasil percobaan menunjukkan komposisi dosis kompos UNPAD dan pupuk buatan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis (Zea mays saccharata l.) varietas Bonanza. Komposisi dosis Perlakuan 4 ton kompos/ha + 5 cc/l POC + 180 kg Urea/ha, 60 kg SP-36/ha, 60 kg KCl/ha 3 berpengaruh paling baik terhadap tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun per tanaman, panjang tongkol, diameter tongkol, bobot tongkol berkelobot, bobot tongkol tanpa kelobot, dan hasil tongkol per plot. Kata kunci : kompos UNPAD, pupuk buatan, jagung mani

    Pengaruh Dosis Herbisida Campuran Penoksulam Dan Pretilaklor Terhadap Gulma, Pertumbuhan Dan Hasil Padi Sawah

    Full text link
    Gulma adalah kendala biotik utama yang dapat mengakibatkan penurunan hasil gabah pada padi sawah. Teknik pengendalian secara kimia memberikan pengaruh yang cepat serta biaya yang lebih rendah sehingga lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mencari dosis herbisida campuran yang efektif dalam menekan pertumbuhan gulma sehingga meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi sawah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus-Desember 2021 di Desa Ciluncat, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari; 5 dosis herbisida campuran Penoksulam 15 g/l + Pretilaklor 385 g/l (dengan dosis 1,00 l/ha, 1,50 l/ha, 2,00 l/ha, 2,50 l/ha, 3,00 l/ha), penyiangan manual, dan kontrol (tanpa penyiangan dan tanpa herbisida). Hasil penelitian menunjukkan bahwa herbisida campuran Penoksulam 15 g/l + Pretilaklor 385 g/l pada dosis 1,00 l/ha sampai dengan 3,00 l/ha efektif dalam menekan pertumbuhan gulma dominan Ludwigia octovalvis, Cyperus difformis, Fimbristylis miliacea, Ammania coccinea, Monochoria vaginalis, gulma lain, dan gulma total hingga 6 MSA serta tidak meracuni tanaman padi sawah. Seluruh dosis herbisida campuran menunjukkan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada 3 MSA, jumlah anakan pada 3 MSA dan 6 MSA, jumlah malai per rumpun, dan berat gabah kering giling sedangkan tinggi tanaman pada 6 MSA, jumlah bulir per malai, serta bobot 1000 butir tidak menunjukkan pengaruh yang nyata

    KEANEKARAGAMAN GULMA DOMINAN PADA PERTANAMAN TOMAT (Lycopersicum esculentum Mill) DI KABUPATEN GARUT

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk membuat pemetaan gulma-gulma pada pertanaman tomat di Kabupaten Garut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif, melalui metode survey. Setiap komoditas pertanaman diteliti pada 4 areal yang menyebar di berbagai kondisi lingkungan yang berbeda dengan umur tanaman berkisar 25 sampai 40 hari. Setelah didapatkan jumlah petak-contoh yang diperlukan maka dilakukan analisis vegetasi. Setiap analisis vegetasi ditentukan : spesies gulma, kerapatan gulma, frekuensi gulma, dominasi gulma, SDR, koefisien komunitas, bobot kering gulma. Kuesioner diberikan kepada petani untuk mengetahui sejarah daerah penelitian, seperti varietas tanam yang digunakan, pola tanam yang digunakan, jenis pupuk yang digunakan, teknik pengendalian gulma, dan usia tanaman. Hasil penelitian menunjukkan gulma dominan yang ditemukan di areal tanaman tomat 16 spesies gulma. Tercatat 11 spesies gulma daun lebar, yaitu : Alteranthera sessilis, Oxalis latifolia, Portulaca oleraceae, Erechtites valerianifolia, Drymaria villosa, Amaranthus spinonsus, Galinsoga parviflora, Erigeron sumatrensis, Oxalis corniculata, Ageratum conyzoides, dan Richardia brasiliensis. Tercatat 4 spesies gulma rumput, yaitu: Digitaria cilaris, Eulesine indica, Cynodone dactilone, dan Leptochloa chinensis. Terdapat 1 spesies gulma teki, yaitu: Cyperus rotundus. Kata Kunci : Keanekaragaman, Gulma, Toma

    Pengaruh Herbisida Parakuat Diklorida 135 G/L Terhadap Penekanan Gulma Pada Budidaya Kelapa Sawit Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)

    Full text link
    Kehadiran gulma pada pertanaman kelapa sawit merupakan salah satu kendala yang dapat mengurangi hasil panen, hal tersebut akibat adanya persaingan dalam pengambilan unsure hara, cahaya, ruang tumbuh, dan air.  Selain gulma dapat berkompetisi secara fisik, gulma juga mampu berkompetisi secara kimia dengan dikeluarkannya zat alelopati. Sehubungan adanya kerugian langsung maupun tidak langsung akibat kehadiran gulma pada pertanaman budidaya, maka pengendalian gulma mutlak diperlukan.  Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu secara mekanis, kultur teknis, biologis, kimia dengan penggunaan herbisida, atau secara terpadu.  Diantara berbagai macam cara pengendalian gulma yang paling banyak dilakukan dengan penggunaan herbisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan herbisida Parakuat diklorida 135 g/l untuk pengendalian gulma umum pada tanaman kelapa sawit TBM. Penelitian dilaksanakan di Perkebunan Kelapa Sawit di Cikelet, Garut Selatan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Percobaan menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari Parakuat diklorida 135 g/l dengan dosis 405 g/ha;  540 g/ha; 675 g/ha; 810 g/ha; 945 g/ha; penyiangan secara manual dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa herbisida parakuat diklorida 135 g/l dosis 405-945 g/ha terbukti berpengaruh sangat baik dan efektif dalam mengendalikan gulma golongan daun lebar seperti Ageratum conyzoides, Galinsoga parviflora, Richardia brasiliensis, Borreria alata, dan gulma lainnya. Herbisida parakuat diklorida 135 g/l dosis 405-945 g/ha pada semua dosis yang diujikan tidak memperlihatkan gejala keracunan pada tanaman kelapa sawit belum menghasilkan

    KEEFEKTIFAN HERBISIDA METSULFURON METIL PADA PERTANAMAN PADI SAWAH YANG DIBERI BAHAN ORGANIK

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian herbisida metsulfuron metil terhadap gulma pada pertanaman padi sawah yang diberi bahan organik. Percobaan dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran.Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok pola faktorial dua faktor, faktor pertama adalah dosis bahan organik dan faktor kedua adalah dosis herbisida Metsulfuron metil. Perlakuan pertama terdiri dari 3 taraf C-Organik yaitu 1,5 %, 2,5 %, dan 3,5 %. Perlakuan kedua terdiri dari 7 taraf yaitu 0; 0,002; 0,004; 0,006; 0,008; 0,010; 0,012 kg/ha. Peubah yang diamati adalah karakteristik gulma, keracunan tanaman, pertumbuhan dan hasil tanaman padi sawah. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya interaksi antara pemberian bahan organik dengan pemberian herbisida terhadap bobot kering gulma, tinggi tanaman padi, dan hasil panen tanaman padi. Perlakuan kandungan C-organik tinggi (3,5%) menunukkan hasil tertinggi terhadap hasil gabah kering panen (GKP) dan gabah kering giling (GKG). Pemberian semua dosis herbisida Metsulfuron metil menunjukkan perbedaan nyata terhadap bobot kering gulma Monochoria vaginalis dibandingkan perlakuan tanpa herbisida, tetapi tidak menimbulkan gejala keracunan pada tanaman padi sawa

    Data normalization and clustering for big and small data and an application to clinical trials

    No full text
    The purpose of this thesis is to propose new methodology for data normalization and cluster prediction in order to help us unravel the structure of a data set. Such data may come from many different areas, for example clinical responses, genomic multivariate data such as microarray, educational test scores, and so on. In addition and more specifically for clinical trials this thesis proposes a new cohort size adaptive design method that will adapt cohort size eventually and finally will save time and cost while still keep the accuracy to find the target maximum tolerate dose. The new normalization method is called Fishe-Yates normalization and it has the advantage of being computationally superior than the standard quantile normalization and it improved the power of the following statistical analysis. Once the data has been normalized the observations are clustered by their pattern of response and cluster prediction is used to validate the findings. We propose a new method for cluster prediction which is a natural way to predict for hierarchical clustering. Our prediction method using nonlinear boundaries between clusters. Normalization method and clustering prediction method can help to identify subgroups of patients which has positive treatment effect. For clinical trial study, this thesis also proposes a new adaptive design which will adapt cohort size thus save time and cost to locate the target maximum tolerated dose.Ph.D.Includes bibliographical referencesby Yayan Zhan

    Sinergisme Campuran Herbisida Berbahan Aktif IPA Glifosat 240 g/L dan 2,4 D AminA 120 g/L dalam Mengendalikan Beberapa Jenis Gulma

    Full text link
    ABSTRACT Synergism of herbicide mixture of Glyphosate IPA 240 g/L and 2,4 D Amines 120 g/L in controlling various types of weeds Mixture of herbicides with two or more types of active ingredients will show an interaction of the ingredients. These interactions could be synergistic, additive, or antagonistic. The purpose of this research was to investigate the herbicide mixture of Glyphosate IPA 240 g/L and 2,4 D Amines 120 g/L to control various types of broadleaf weeds and grass weeds. The research was conducted from March until May 2019, at the green house of the Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran at Jatinangor Sumedang. The treatment consisted of three types of herbicides with different dosages, namely mixture of glyphosate IPA 240 g/L and 2.4 D Amine 120 g/L (2,880, 1,440, 720, 360, 180, and 0 g/ha), glyphosate IPA 240 g/L (1,920, 960, 480, 240, 120, and 0 g/ha), and 2,4 D Amine 120 g/L (960, 480, 240, 120, 60, and 0 g/ha) with five replications. The target weeds were Ageratum conyzoides, Synedrella nodiflora, Borreria alata, Ischaemun timorense, and Otochloa nodosa.  Data were analyzed using analysis of linear regression and MSM method to determine LD95 treatment and LD95 expectation. The result showed that mixture of herbicides glyphosate IPA and 2.4 D Amine had LD95 treatment value (3992,91 g/ha) and smaller than LD95 expectation value (4180,81 g/ha), so the herbicide mixture was synergistic. Keywords: Mixed herbicide, IPA Glyphosate, 2,4 D Amine, LD95, MSM method ABSTRAK Herbisida campuran dengan dua atau lebih jenis bahan aktif akan menunjukkan interaksi satu bahan dengan bahan yang lain. Interaksi tersebut dapat bersifat sinergis, aditif dan antagonis. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui interaksi herbisida campuran berbahan aktif IPA Glifosat 240 g/L dan 2,4 Amina 120 g/L terhadap pengendalian gulma berdaun lebar dan gulma rumput. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2019, di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Ciparanje, Jatinangor. Perlakuan terdiri dari tiga jenis herbisida dengan dosis yang berbeda yaitu herbisida campuran IPA Glifosat 240 g/L dan 2,4 D Amina 120 g/L (2.880, 1.440, 720, 360, 180, 0 g/ha), herbisida tunggal IPA Glifosat 240 g/L (1.920, 960, 480, 240, 120, 0 g/ha), dan herbisida tunggal 2,4 D Amina 120 g/L (960, 480, 240, 120, 60, 0 g/ha) dengan lima ulangan. Gulma sasaran pada penelitian ini di antaranya yaitu Ageratum conyzoides, Synedrella nodiflora, Borreria alata, Ischaemun timorense, dan Otochloa nodosa. Analisis data menggunakan analisis regresi linear dan metode MSM untuk menentukan LD95 perlakuan dan LD95 harapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencampuran herbisida berbahan aktif IPA Glifosat dan 2,4 D Amina memiliki nilai LD95 perlakuan (3992,91 g/ha) lebih kecil dari nilai LD95 harapan (4180,81 g/ha) sehingga campuran herbisida tersebut bersifat sinergis. Kata Kunci: Herbisida campuran, IPA Glifosat, 2,4 D Amina, LD95, Metode MS

    Effect of Using Herbicide 10% Ethyl pyrazosulfuron on Growth of Rojolele Srinuk Variety (Oryza sativa L. Var. Rojolele Srinuk) in Langensari Village Subdistrict Tarogong Kaler

    Full text link
    Weeds are nuisance plants that grow in unwanted areas and inhibit the growth of paddy rice cultivation, which can reduce the quantity of rice yield Therefore, weeds need to be controlled. This study aims to determine : 1) the effect of using 10% Ethyl pyrazosulfuron herbicide on the growth of Rojolele Srinuk variety of paddy rice (Oryza sativa L. var. Rojolele Srinuk) and 2) the correct dose of 10% Ethyl pyrazosulfuron herbicide for the growth of Rojolele Srinuk variety of paddy rice. This research was conducted in Langensari Village, Tarogong Kaler District. The research was conducted from November 2022 to February 2023. This study used a Randomized Group Design (RGD) with seven treatments and four repetitions, including 10% Ethyl pyrazosulfuron herbicide treatment at a dose of 150 g/ha (0.18 g/12 m2 ), 225 g/ha (0.27 g/12 m2 ), 300 g/ha (0.36 g/12 m2 ), 375 g/ha (0.45 g/12 m2 ), 450 g/ha (0.54 g/12 m2 ), manual weeding and control. The results showed that the use of 10% Ethyl pyrazosulfuron herbicide at a dose of 150 g/ha (0.18 g/12 m2 ) - 450 g/ha (0.54 g/12 m2 ) did not cause phytotoxicity or symptoms of poisoning to Rojolele Srinuk variety of paddy rice plants. Then, the use of the herbicide Ethyl pyrazosulfuron 10% affects the number of tillers of rice paddy varieties Rojolele Srinuk. The most effective dose of 10% Ethyl pyrazosulfuron herbicide in the growth of Rojolele Srinuk rice paddy is a dose of 450 g/ha (0.54 g/12 m2 )

    EFEKTIVITAS HERBISIDA PIRAZOSULFURON ETIL TERHADAP GULMA SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI SAWAH (Oryza sativa L.)

    Full text link
    Gulma merupakan salah satu kendala utama dalam produksi padi sawah. Gulma menurunkan kualitas dan kuantitas hasil tanaman padi sawah sehingga gulma harus dikendalikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas herbisida berbahan aktif Etil pirazosulfuron 20% untuk mengendalikan gulma padi sawah. Percobaan dilaksanakan di SPLPP Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Ciparay, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat  pada bulan  November 2018 sampai Maret 2019. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok satu faktor dengan tujuh perlakuan dan empat ulangan. Percobaan terdiri dari lima perlakuan herbisida berbahan aktif Etil pirazosulfuron 20% dengsan dosis 12 g/ha, 16 g/ha, 20 g/ ha, 24 g/ha, pengendalian gulma manual, dan tanpa pengendalian gulma. Hasil menunjukkan bahwa aplikasi herbisida berbahan aktif Etil pirazosulfuron 20% mulai dosis 16-16 g/ha mampu menekan pertumbuhan gulma Ludwigia octovalis, Marsilea crenata, Monochoria vaginali, Sphenoclea zeylanica, Cyperus iria,   gulma species lain dan gulma total, serta menghasilkan produksi padi yang lebih optimal. Kata kunci : herbisida, Etil pirazosulfuron 20%, gulma, padi sawa

    EFEKTIVITAS HERBISIDA PARAQUAT DIKLORIDA 140 G/L TERHADAP PENEKANAN GULMA, PERTUMBUHAN, DAN HASIL JAGUNG (Zea mays L.)

    Full text link
    Maize (Zea mays L.) is one of the cereal group's commodities with high economic value because of its position as the main source of carbohydrates and protein after rice. The problem that often occurs in maize cultivation and greatly affects maize productivity is weeds. Chemical weed control using herbicides in large crop areas can be the right choice because it can save production costs and reduce damage to soil structures. Paraquat dichloride herbicide is a non-selective contact herbicide, which has the characteristic that when exposed to sunlight the herbicide molecules react to produce hydrogen peroxide which damages cell membranes and all plant organs, causing the plant to burn. This herbicide can control grass and broadleaf weeds. The research conduct from March - July 2020 at the Ciparanje experimental field, Faculty of Agriculture, Padjadjaran University. The treatment design used a Randomized Block Design (RBD) with 7 treatments, namely: Paraquat dichloride 140 g/l at a dose  1.00 l/ha; Paraquat dichloride 140 g/l dose 1.25l/ha; Paraquat dichloride 140 g/l dose 1.50 l/ha; Paraquat dichloride 140 g/l dose 1.75 l/ha; Paraquat dichloride 140 g/l at a dose of 2.00 l/ha; Manual Weeding; Control (No Treatment). The difference in trials using the F test and tested using the Duncan test at the 5% real level. The results showed that applying the herbicide Paraquat dichloride 1.00 l/ha - 2.00 l/ha could control weeds in maize cultivation up to 6 weeks after application and positively affect the growth yield of maize
    corecore