Agrikultura
Not a member yet
    249 research outputs found

    Keefektifan Ekstrak Metanol Daun dan Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dalam Menekan Populasi Kutukebul (Bemisia tabaci Genn.) pada Tanaman Tomat

    No full text
    Kutukebul (Bemisia tabaci Genn.) merupakan salah satu hama utama pada tanaman tomat. Pengendalian hama ini umumnya masih mengandalkan penggunaan pestisida sintetik. Namun, sebagai upaya pengendalian yang lebih ramah lingkungan, pestisida nabati kini semakin banyak mendapat perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak metanol daun dan buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) yang tepat dalam menekan populasi kutukebul pada tanaman tomat. Percobaan ini dilakukan di laboratorium Pestisida dan Toksikologi Lingkungan, dan di rumah kaca Ciparanje Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran sejak bulan Juli hingga September 2024. Penelitian dilaksanakan dengan dua tahap pengujian yaitu uji toksisitas dan uji keefektifan. Penelitian ini menggunakan metode percobaan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas sembilan perlakuan dan tiga ulangan, yaitu P1 (kontrol), P2 (LC50 daun belimbing wuluh), P3 (LC95 daun belimbing wuluh), P4 (2 × LC95 daun belimbing wuluh), P5 (3 × LC95 daun belimbing wuluh), P6 (LC50 buah belimbing wuluh), P7 (LC95 buah belimbing wuluh), P8 (2 × LC95 buah belimbing wuluh), P9 (3 × LC95 buah belimbing wuluh). Hasil penelitian didapatkan bahwa ekstrak metanol daun dan buah belimbing wuluh pada masing-masing konsentrasi terendah 3,2 g/L dan 3,4 g/L efektif dalam menekan kutukebul pada tanaman tomat dan menghasilkan panen yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol

    Sustainable Palm Oil (Elaeis guineensis Jacq.) Agribusiness Development in Indonesia: An Integrated Model

    Full text link
    The sustainability of palm oil agribusiness was a strategic issue that connected economic, social, and environmental aspects in its management. Plantation practices and the palm oil industry contributed significantly to national economic growth and farmer welfare, but in reality, this activity was often associated with deforestation, land degradation, and social conflict. The importance of integrating various aspects of sustainability with agribusiness as a system from farmer perceptions produced priority elements that needed to be prioritized. The purpose of this study was to analyze the determinants of sustainable palm oil agribusiness development. This study was designed using a quantitative method with a survey approach. The sampling technique used proportionate stratified random sampling with a total of 249 smallholder palm oil farmers as respondents. Data processing was carried out using the Partial Least Square (PLS) analysis tool approach. The results of the study showed that the evaluation of modeling findings highlighted a significant influence of farmer rationality on the performance of the agribusiness system and sustainable palm oil agribusiness, as well as a significant influence of the performance of the palm oil agribusiness system on sustainable palm oil agribusiness. Meanwhile, in reality, the test results showed that farmer characteristics did not have a significant influence on any variable. Furthermore, the level of sustainability of palm oil agribusiness was perceived by farmers as more important in order from the social, environmental, technological, and economic dimensions. There was a need for cooperation and support from various parties to achieve and improve the sustainability of palm oil agribusiness, both from the fulfillment of input, production, handling of results, marketing, and supporting services to ensure its sustainability

    Evaluasi Mutu Fisikokimia dan Viskoamilografi Lima Varietas Padi dengan Pupuk Organik Diperkaya Mikroba

    Full text link
    Meningkatnya kesadaran konsumen terhadap aspek kesehatan dan keamanan pangan telah mendorong peningkatan permintaan beras organik. Salah satu pendekatan untuk menghasilkan beras organik yaitu manajemen budidaya salah satunya penggunaan pupuk organik diperkaya mikroba. Sebagian besar evaluasi hanya sampai tahap hasil pertumbuhan namun evaluasi terkait mutu beras, karakter pemasakan, dan profil viskoamilografi dari penggunaan pupuk organik diperkaya mikroba masih belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi mutu fisikokimia, sifat pemasakan, dan profil viskoamilografi pada lima varietas padi, yaitu IPB 3S, Inpari 24, Hipa 18, Inpari 32, dan Tarabas yang dibudidayakan dengan aplikasi pupuk organik diperkaya mikroba pada dosis 0, 10, 20, dan 30 ton/ha. Variabel yang diamati meliputi rendemen beras, mutu fisik beras, kadar air beras, kadar amilosa, konsistensi gel, nisbah penyerapan air, dan profil viskositas pati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk organik diperkaya mikroba tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap rendemen, bentuk beras, densitas, dan porositas. Variasi karakteristik mutu lebih banyak ditentukan oleh faktor genetik masing-masing varietas. Temuan ini menegaskan bahwa karakter varietas berperan dominan dalam menentukan mutu beras, terlepas dari perlakuan pemupukan organik yang diberikan. Secara keseluruhan, kelima varietas yang diuji belum sepenuhnya memenuhi standar SNI 6128:2020 untuk parameter mutu beras yang diamati setelah perlakuan pupuk organik diperkaya mikroba

    Volatile Compound Detection of Banana Anthracnose Caused by Colletotrichum musae using Electronic Nose

    Full text link
    Food rotting is one of the many research topics that electronic nose technology can be used to target. This study examined the electronic nose capacity to detect the presence of Colletotrichum musae, the causative agent of anthracnose fruit rots on bananas using gas sensors by detecting the concentration of volatile compound. C. musae was identified visually and microscopically. Detached-fruit assay method was used in this experiment. A conidial fungal suspension at a concentration of 2.5 × 106 conidia/ml was injected into nine replication of homogenous banana samples, while nine other samples were injected with sterile aquadest served as negative controls. The information obtained from the electronic nose was analyzed using principal component analysis (PCA). The results showed that from six gas sensors used in the electronic nose, MQ-4, MQ-5, and MQ-8 were the gas sensors that have detected significant difference between the infected banana and the control with a concentration value of 166.83, 173.02, and 87.40 ppm in banana infected with C. musae and 20.90, 0.01, and 44.97 ppm in controls. Therefore, this three sensor can be used as a reference for detecting anthracnose disease in bananas

    Assessment of Land Suitability in Highly Area of Ende, East Nusa Tenggara, Indonesia, as a Basic Strategy for Growing Coffee (Coffea arabica)

    No full text
    Ende Sub-District, East Nusa Tenggara, has various topographies with an altitude of 0-1,100 m asl that can potentially grow Arabica coffee. Still, there is no information available regarding the suitability of the land. This study aims to evaluate the actual land suitability of Arabica coffee based on soil and environmental characteristics. The research method is descriptive explorative through a field survey approach supported by laboratory analysis. Determination of SMU (soil map unit) was carried out by purposive sampling through boring at 31 points, then classified based on soil type to obtain five pedons that represent SMU in Ende Sub-District. Soil sampling was carried out on each layer of each pedon. Data analysis used ANOVA and Pearson correlation tests to determine the determining factors that influence the land suitability class of Arabica coffee. The evaluation results showed that the actual land suitability for Arabica coffee was marginally suitable (S3) and unsuitable (N) classes, with limiting factors, i.e. average temperature, altitude, length of dry period, drainage, base saturation, available P, slope, and erosion hazard. The results of the ANOVA test showed that altitude significantly affected the land suitability class for Arabica coffee, with the best land suitability class at an altitude of 800-1,100 masl. Based on the correlation between land suitability class and land characteristic parameters, the determining factors for land suitability class include average temperature, humidity, drainage, texture, coarse material, total N, available K, erosion hazard, surface rocks, and rock outcrops. Land improvement recommendations are based on making an irrigation system, providing shade plants, N fertilization (urea fertilizer), K fertilization (KCl fertilizer), and terracing

    Kombinasi Mikrob Antagonis dan Air Rendaman Kompos untuk Menekan Penyakit Bercak Cokelat pada Daun Tomat

    Full text link
    Penyakit bercak cokelat yang disebabkan jamur Alternaria solani merupakan salah satu kendala dalam budidaya tanaman tomat. Pengendalian penyakit secara ramah lingkungan dapat dilakukan melalui aplikasi mikrob pengendali penyakit dan penggunaan bahan organik. Artikel ini membahas hasil penelitian yang mengevaluasi efek pencampuran mikrob antagonis (isolat bakteri dan khamir) serta kombinasi mikrob dengan air rendaman kompos terhadap kemampuannya dalam menekan penyakit bercak cokelat pada daun tomat. Selain pengujian pada tanaman tomat, dilakukan juga percobaan secara in vitro untuk mengevaluasi kompatibilitas dan pengaruh campuran mikrob terhadap kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan jamur A. solani. Percobaan secara in vitro menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima ulangan, sedangkan percobaan pada tanaman tomat menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa bakteri isolat KSB4 (Bacilus subtilis) dan khamir isolat KDK11 asal air rendaman kompos bersifat kompatibel dan dapat menghambat pertumbuhan jamur A. solani secara in vitro sebesar 57,50%-65,23%. Kemampuan isolat mikrob secara tunggal atau campurannya tidak berbeda secara nyata. Aplikasi isolat mikrob antagonis secara tunggal, campuran, air rendaman kompos maupun kombinasinya dapat menekan penyakit bercak cokelat pada tanaman tomat sebesar 78,77%-97,12%.  Pencampuran isolat mikrob antagonis atau kombinasi mikrob antagonis dengan air rendaman kompos tidak menghasilkan penekanan penyakit bercak coklat yang lebih baik daripada perlakuan secara tunggalnya

    Deteksi Cerdas Penyakit Tanaman Kopi Robusta Berbasis Deep Learning Menggunakan Variasi YOLO

    Full text link
    Tanaman kopi menjadi populer karena produk minuman kopi yang memiliki aroma dan rasa unik. Ditengah populernya tanaman kopi terdapat permasalahan dalam pengendalian penyakit seperti bercak daun dan karat daun yang berdampak pada produksi tanaman kopi menurun. Sehingga dibutuhkan sistem deteksi cerdas berakurasi tinggi untuk mengidentifikasi jenis penyakit pada tanaman kopi sebagai langkah penanganan dini.Tujuan pada penelitian ini adalah implementasi menggunakan variasi model pralatih YOLO (You Only Look Once) untuk mendeteksi penyakit tanaman kopi robusta berdasarkan citra daun. Penelitian ini menggunakan 3 jenis model pralatih dari YOLO yaitu YOLOv5, YOLOv7 dan YOLOv8 dengan parameter hyperparameter yaitu 150 epoch, batch size 16 dan learning rate 0,001 sedangkan untuk optimizer yang digunakan adalah SGD (Stochastic Gradient Descent). Dataset penelitian adalah citra daun tanaman kopi yang didapatkan dari pengambilan manual menggunakan tools handphone dengan spesifiaksi kamera 20 MP berlokasi di Kebun Percobaan Tegineneng Natar, Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Lampung. Dataset diberi augmentasi berupa shear, blur dan rotation. Berdasarkan hasil kinerja model deteksi objek berbasis YOLO, model terbaik yang didapatkan adalah YOLOv8 dengan nilai mAP@50 sebesar 99,5% dan mAP@50-95 adalah 94,6% dalam waktu training selama 1,748 jam. Testing yang dilakukan menggunakan YOLOv8 menghasilkan nilai evaluasi metrik yaitu nilai akurasi 100%, presisi 100%, recall 100% dan F1 score 100% untuk kelas daun sehat dan daun karat. Sedangkan kelas daun bercak mendapatkan nilai akurasi 94%, presisi 100%, recall 94% dan F1 score 97%

    Karakterisasi Molekuler dan Keragaman Genetik Populasi Padi Generasi F4 Hasil Piramidisasi pada Beberapa Karakter Agronomi

    No full text
    Piramidisasi gen adalah salah satu teknik pemuliaan yang dapat digunakan untuk menggabungkan beberapa gen yang menguntungkan dari banyak tetua ke dalam satu genotipe tanaman. Daya hasil tinggi, tahan terhadap wereng coklat, kandungan amilosa sedang, umur genjah dan aromatik adalah beberapa karakter yang diharapkan untuk digabungkan untuk memenuhi keinginan petani dan konsumen. Penelitian bertujuan memperoleh genotipe yang memiliki marka molekuler yang terkait dengan karakter agronomis, mendapatkan informasi keragaman genetik dan mengetahui hubungan kekerabatan 115 genotipe padi generasi F4 hasil piramidisasi. Penelitian dilaksanakan pada bulan September – November 2021 di Kebun Percobaan Ciparanje dan Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Analisis molekuler dilakukan dengan menggunakan marka Simple Sequence Repeats (SSR) yaitu IFAP/ESP terpaut gen (fgr/fragrance), SSIIa (waxy), RM586 (Bph3 dan bph4), RM8213 (Qbph4 dan bph17(t)), RM259 (qPN1), RM7601 (Hd2/heading date), RM19414 (Hd3/heading), RM3701 (SP1/short panicle), RM3600 (LP1/long panicle), dan RM282 (GW3/grain weight). Data dianalisis dengan menggunakan analisis varians molekuler (AMOVA), sedangkan untuk analisis klaster dilakukan menggunakan Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Averages (UPGMA). Diperoleh sebanyak enam puluh genotipe yang teridentifikasi memiliki marka molekuler terkait beberapa karakter agronomis. Keragaman genetik secara molekuler genotipe hasil piramidisasi didapatkan variasi genetik sebesar 36% di dalam genotipe, 63% antar genotipe dan 1% antar populasi. Berdasarkan analisis cluster dengan 10 marka molekuler menunjukkan 64%  ketidakmiripan antar tetua dan genotipe hasil piramidisasi dan mengelompok dalam dua kelompok. Jauhnya jarak genetik menunjukkan bukti keberhasilan piramidisasi gen, yang ditunjukkan dengan besarnya variasi alel yang berasal dari tetua yang beragam. Genotipe-genotipe yang terpilih akan dievaluasi lebih lanjut karakter agronominya  untuk mengkonfirmasi potensi galur-galur tersebut sebagai galur unggul pada beberapa karakter

    Pengaruh Padat Tebar Terhadap Performa Ikan Koi (Cyprinus rubrofuscus) dan Produktivitas Tanaman Kangkung (Ipomoea reptans) pada Sistem Akuaponik dengan Aplikasi Fine Bubbles (FBs)

    No full text
    Peningkatan produksi ikan koi menuntut sistem produksi yang efisien, ramah lingkungan, serta mampu menjaga kualitas air. Sistem akuaponik yang dikombinasikan teknologi Fine Bubbles (FBs) berpotensi meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut dan menekan akumulasi limbah nitrogen, serta dapat meningkatkan produktivitas tanaman, khususnya pada kondisi padat tebar tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kepadatan optimum ikan yang dapat meningkatkan performa pertumbuhan dan produktivitas tanaman kangkung pada sistem akuaponik menggunakan teknologi FBs. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2024 di greenhouse Ciparanje, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan padat tebar, yaitu 25, 50, 75, dan 100 ekor/200 L air dengan tiga ulangan selama 42 hari pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat tebar 75 ekor/200 L air menghasilkan performa terbaik dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 90,67±5,81%, laju pertumbuhan spesifik 1,54% g/hari, efisiensi pemanfaatan pakan 49,68%, rasio efisiensi protein 1,12±0,13%, serta kondisi hematologi yang relatif optimal. Produktivitas tanaman kangkung tertinggi ditunjukkan oleh tinggi tanaman mencapai 38,7±1,7 cm dan bobot tanaman 11,5±1,0 g. Kualitas air selama penelitian berada pada kisaran yang masih mendukung pertumbuhan ikan dan tanaman. Dengan demikian, perbedaan padat tebar ikan koi pada sistem akuaponik dengan aplikasi FBs berpengaruh nyata terhadap performa pertumbuhan ikan koi, kesehatan ikan koi, dan produktivitas kangkung, dengan padat tebar optimum pada 75 ekor/200 L air

    Hubungan antara Ketahanan Struktural dan Biokimia Enam Varietas Kacang Tanah dengan Keparahan Penyakit Bercak Daun

    Full text link
    Penggunaan varietas tahan merupakan salah satu solusi dalam menghadapi serangan patogen bercak daun Cercospora  pada kacang tanah. Varietas kacang tanah yang memiliki ketahanan struktural dan ketahaman biokimia diharapkan dapat tetap tinggi produktivitasnya. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi hubungan antara ketahanan  struktural dan biokimia lima varietas kacang tanah dengan keparahan penyakit bercak daun Cercospora.    Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan enam varietas kacang tanah sebagai perlakuan, yaitu Kelinci, Bison, Lokal, Katana, Talam 1, dan Tala 3.  Tiap perlakuan diulang 4 kali dengan 2 tanaman per ulangan. Pengamatan dilakukan pada keparahan penyakit bercak daun. jumlah stomata, tingkat kehijauan daun, jumlah trikoma, kandungan asam salisilat, dan kandungan senyawa fenol daun.  Jumlah stomata, kandungan asam salisilat, dan kandungan senyawa fenol berkorelasi positif dengan tingkat keparahan penyakit bercak daun, sedangkan tingkat kehijauan daun dan jumlah trikoma berkorelasi negatif dengan tingkat keparahan penyakit bercak daun

    231

    full texts

    249

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Agrikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇