Agrikultura
Not a member yet
    249 research outputs found

    Pertumbuhan Porang (Amorphophalus muelleri Blume) sebagai Tanaman Sela di Antara Pohon Karet

    Full text link
    Tantangan utama dalam budidaya porang adalah meningkatkan kemampuan adaptasi tanaman terhadap naungan, sehingga porang dapat tumbuh dengan baik di bawah kanopi pohon perkebunan. Percobaan ini bertujuan untuk mengkaji pertumbuhan siklus hidup pertama tanaman porang yang berasal dari ukuran bulbil yang berbeda pada tanaman sela di antara pohon karet. Percobaan ini dilaksanakan di kebun karet rakyat yang telah berumur 20 tahun, pada bulan Agustus 2021 - Januari 2022, di Desa Lubuk Batang Kabupaten Ogan Komering Ulu Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Spilt-Split Plot dengan 3 faktor. Petak utama terdiri atas perlakuan naungan yaitu tanpa naungan (N0) dan ditanam di antara pohon karet (N1), dan anak petak  yang terdiri dari perlakuan berat bulbil yaitu bulbil  2 g - 3,9 g (B1), bulbil 4 g - 5,9 g (B2), dan bulbil 10 g -15,9 g (B3); anak-anak petak terdiri atas  morfologi bulbil yaitu tanpa turberkel (D0) dan tuberkel menonjol (D1). Hasil percobaan menunjukkan porang yang ditanam di antara tanaman karet lebih cepat muncul tunas dan mempercepat pecah selubung pertiole 33 HST dan 43,94 HST. Selain itu, tuberkel yang menonjol juga mempersingkat waktu kemunculan tunas selama 45,52 hari. Selanjutnya berat bulbil yang lebih tinggi yakni 10 g – 15,9 g  juga memengaruhi morfologi tanaman porang di antara panjang midrib 14,17 cm, lebar anak daun 5,61 cm,  serta luas daun 212,81 cm. Naungan menjaga kelembapan substrat namun sedikit memperlambat kemunculan tunas dan membuat tunas lebih pendek, namun memperpanjang tangkai daun, meningkatkan luas daun, serta mengurangi ketebalan daun. Selain itu, semakin besar bobot bulbil, semakin cepat pertumbuhan tunas dan tanaman porang. Kondisi bulbil dengan tuberkel menonjol mempercepat kemunculan tunas di atas permukaan tanah dibandingkan dengan bulbil yang masih dalam kondisi tanpa turberkel

    Evaluasi Sensitivitas Colletotrichum sp. Penyebab Penyakit Antraknosa pada Cabai di Lampung terhadap beberapa Fungisida

    Full text link
    Anthracnose is a major disease of chili peppers caused by complex of Colletotrichum species. Intensive application of fungicides is the main choice for control anthracnose. This study aimed to evaluate the sensitivity of Colletotrichum spp. to fungicides and determine the effective concentration to control Colletotrichum spp. This study was conducted from March to July 2024 at the Plant Disease Laboratory, Faculty of Agriculture, Lampung University. Anthracnose pathogens were isolated from Tegineneng District, Pesawaran Regency, Lampung Province. Sensitivity tests were conducted using the recommended concentration with poisoned food techniques. The effective concentration determination test was carried out only on fungicides that showed a resistance response using the poisoned food technique. The fungicides tested were those used by farmers in the location where the samples were taken. The sensitivity test results showed that the fungus Colletotrichum spp. from Tegineneng District was highly resistant to propineb. Colletotrichum spp. from locations 3 and 4 are still sensitive to carbendazim, but from locations 1 and 2 are resistant. Colletotrichum spp. from locations 2, 3, and 4 were still very sensitive to mankozeb, while those from location 1 were moderately resistant. The effective concentration of propineb for locations 1, 3, and 4 was 5x the recommended concentration, and for location 2 was 4x the recommended concentration. The effective concentration of carbendazim for location 1 was 5x the recommended concentration, and for location 2 was 2x the recommended concentration. The effective concentration of mancozeb fungicide at location 1 was 2x the recommended concentration

    Eksplorasi Jamur Entomopatogen Lalat Buah (Bactrocera spp.) pada Tanaman Jambu Kristal di Berbagai Ketinggian Tempat di Jawa Barat

    Full text link
    Jambu kristal merupakan salah satu komoditas hortikultura yang diminati masyarakat Indonesia. Salah satu kendala yang ditemui pada budidaya jambu kristal ialah adanya serangan lalat buah (Bactrocera spp.). Alternatif pengendalian lalat buah yang ramah lingkungan salah satunya dengan pemanfaatan agen hayati seperti jamur entomopatogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi jamur entomopatogen yang menyerang lalat buah (Bactrocera spp.) pada tanaman jambu kristal di berbagai ketinggian tempat di Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2024 hingga Februari 2025 di tiga lokasi dengan ketinggian berbeda, yaitu: Desa Karyamukti Kabupaten Sumedang (dataran rendah, 63 mdpl), Desa Cikadu Kabupaten Subang (dataran sedang, 547 mdpl) dan Desa Cimaung Kabupaten Bandung (dataran tinggi, 873 mdpl). Isolasi jamur entomopatogen dilakukan di Laboratorium Pestisida Mikroba menggunakan metode umpan dengan ulat hongkong (Tenebrio molitor). Hasil penelitian menunjukkan adanya dua spesies jamur entomopatogen, yaitu Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana. Indeks keanekaragaman berkisar 0,17-0,42 (rendah) dengan nilai keanekaragaman paling rendah di dataran tinggi, Indeks dominansi berkisar 0,37-0,64 (rendah-sedang) dengan dominansi paling tinggi di dataran sedang oleh B. bassiana, indeks kemerataan 0,25-0,60 (rendah-sedang) dan indeks kekayaan 0,37-0,59 (rendah). Temuan ini menunjukkan faktor lingkungan dan praktik budidaya memengaruhi indeks ekologi pada lokasi dengan ketinggian berbeda yang dapat menjadi pertimbangan dalam pengembangan pengendalian hayati lalat buah

    Studi Komparatif Cara Aplikasi Bakteri Endofit untuk Menghambat Perkembangan Penyakit Hawar Pelepah Daun Padi (Rhizoctonia solani)

    Full text link
    Penyakit hawar pelepah daun pada tanaman padi yang disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani merupakan salah satu penyakit utama yang menyebabkan kerugian signifikan dalam budidaya padi, sehingga perlu diterapkan strategi pengendalian yang efektif. Penggunaan bakteri endofit sebagai agens biokontrol untuk mengendalikan penyakit tanaman menjadi salah satu pendekatan alternatif yang cukup menjanjikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi berbagai metode aplikasi bakteri endofit dalam mengendalikan hawar pelepah daun. Bakteri endofit yang digunakan dalam penelitian ini adalah bakteri endofit Os1, Os6, dan Os7 yang memiliki aktivitas antagonis. Metode aplikasi yang diuji meliputi perendaman benih, penyemprotan ke daun, penyiraman suspensi ke tanah, serta kombinasi dari ketiganya. Percobaan dilakukan menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 14 perlakuan aplikasi bakteri endofit yang masing-masing diulang tiga kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi perendaman benih, penyemprotan daun, dan penyiraman tanah dengan suspensi bakteri endofit Os6 memberikan hasil paling efektif dalam menekan perkembangan hawar pelepah, dengan nilai relative lesion height (RLH) sebesar 11,16% dan intensitas penyakit sebesar 7,41%. Penyakit hawar pelapah daun menyebar terutama melalui anakan yang terinfeksi, dan perlakuan kombinasi aplikasi Os6 juga terbukti paling efektif dalam menekan persentase anakan terinfeksi yang ditunjukkan dengan persentase anakan terserang sebesar 7,68% dan menghasilkan nilai THR (tingkat hambat relatif) sebesar 88,23%. Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi cara aplikasi bakteri endofit yang berpotensi sebagai agens biokontrol (Os6) memberikan perlindungan pada tanaman padi terhadap penyakit hawar pelepah daun

    Eksplorasi Bakteri Potensial sebagai Agens Pengendali Hayati dan Uji Antagonistiknya terhadap Colletotrichum acutatum J.H. Simmonds Penyebab Penyakit Gugur Daun Karet

    Full text link
    Karet (Hevea brasiliensis (Willd. ex A.Juss.) Müll.Arg.) adalah tanaman perkebunan yang masuk dalam famili Euphorbiaceae dan berasal dari Brazil. Karet merupakan salah satu komoditas penting bagi sektor perkebunan di Indonesia. Sebagai negara yang memiliki luas lahan karet terluas di dunia, produktivitas perkebunan karet di Indonesia masih rendah apabila dibandingkan dengan Thailand. Penyakit gugur daun merupakan salah satu masalah dalam budidaya tanaman karet di Indonesia karena mengakibatkan kerugian hasil yang tinggi. Patogen penyebab penyakit gugur daun juga mengganggu produksi perkebunan karet swasta di Kabupaten Kutai Timur. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan eksplorasi bakteri agens pengendali hayati dan menguji daya antagonisnya terhadap jamur patogen penyebab penyakit gugur daun. Pengambilan sampel dilakukan di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur sementara percobaan laboratorium dilaksanakan di Gedung Genomik dan Gedung InaCC – BRIN, Cibinong pada bulan September 2023 hingga Juni 2024. Hasil uji daya antagonis memperoleh tiga isolat bakteri— F1.4, E1.3, dan E5.2—yang berpotensi sebagai agens pengendali hayati. Tiga isolat bakteri tersebut merupakan bakteri Gram negatif. Isolat bakteri F1.4 dan E1.3 mampu menghasilkan enzim kitinase secara kualitatif. Hasil uji hemolisis dan hipersensitivitas menunjukkan gejala negatif untuk ketiga isolat bakteri tersebut. Penelitan ini diharapkan mampu memberikan gambaran mengenai potensi agens pengendali hayati dalam mendukung pertanian berkelanjutan untuk tanaman karet

    Efektivitas Ekstrak Air Daun Gulma Anting-anting (Acalypha indica L.) dalam Menekan Jumlah Gall Akibat Infeksi Meloidogyne spp. pada Tanaman Tomat

    No full text
    Penyakit bengkak akar yang disebabkan oleh Meloidogyne spp. merupakan penyakit penting pada tanaman tomat serta dapat menurunkan kualitas dan kehilangan hasil hingga 68%. Ekstrak air daun gulma anting-anting memiliki senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai alternatif pengendalian yang ramah lingkungan. Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak air daun gulma anting-anting (Acalypha indica L.) yang efektif dalam menekan infeksi Meloidogyne spp. pada tanaman tomat. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi, Divisi Laboratorium Nematologi Tumbuhan, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, dan rumah kaca, Kebun Percobaan, Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas 7 perlakuan dan 4 ulangan. Percobaan terdiri atas kontrol, ekstrak air daun gulma anting-anting 2%, 4%, 6%, 8%, 10%, dan karbofuran 2 g/tanaman. Hasil percobaan menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak air daun gulma anting-anting menekan jumlah gall pada akar tanaman tomat dibandingkan dengan kontrol, namun tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman, terhadap bobot segar bagian atas tanaman dan terhadap bobot segar akar tanaman. Konsentrasi ekstrak air daun gulma anting-anting 10% efektif menekan jumlah gall pada tanaman tomat sebesar 88,79%

    Strategi Pengembangan dan Peningkatan Produksi Sektor Basis pada Tanaman Hortikultura di Kabupaten Sidenreng Rappang

    Full text link
    Kabupaten Sidenreng Rappang memiliki potensi pertanian lain selain tanaman pangan yang memerlukan upaya optimalisasi untuk meningkatkan produksi pertanian pada sektor hortikultura. Komoditas hortikultura yang sedang dikembangkan di Kabupaten Sidenreng Rappang yaitu cabai besar, sawi, tomat, kacang panjang, terung, mentimun, kangkung, bayam dan cabai rawit. Penentuan komoditas sektor basis khususnya di sektor hortikultura belum dilakukan secara mendalam sehingga belum diketahui komoditi yang menjadi basis untuk difokuskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sektor basis tanaman hortikultura serta merumuskan strategi yang dapat diterapkan untuk mengembangkan dan meningkatkan produksi sektor basis tersebut di Kabupaten Sidenreng Rappang. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2024 di Kabupaten Sidenreng Rappang. Metode analisis data yang digunakan ada dua yaitu analisis Location Quotient (LQ) dan analisis Interpretive Structural Modeling (ISM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas hortikultura yang menjadi sektor basis yaitu cabai rawit dan kacang panjang. Komoditas yang menjadi fokus pada strategi pengembangan adalah cabai rawit karena memiliki nilai LQ lebih besar dari pada komoditi kacang panjang meskipun sama-sama berada pada sektor basis yaitu 2,87 dan 2,76. Strategi pengembangan dan peningkatan produksi komoditas cabai rawit berdasarkan hasil analisis ISM  menghasilkan rekomendasi praktis yang sesuai dengan kondisi lokal yaitu pendidikan dan pelatihan penyuluh pertanian, pembinaan kelompok tani, pelatihan petani, dan penggunaan benih bermutu. Penelitian memberikan solusi spesifik pengembangan ekonomi di Kabupaten Sidenreng Rappang dengan menyesuaikan strategi berdasarkan kondisi geografis, sumber daya, dan permintaan lokal serta internasional

    Risk Mitigation for Cattle - Oil Palm Integration Farming (SISKA) in West Kalimantan Province

    Full text link
    Cattle-oil palm integration (SISKA) is one strategy that can improve several achievements of the Sustainable Development Goals (SDGs) and reduce the risk of indirect land use change (ILUC). One of the problems with SISKA development is the low interest of cattle farmers in areas surrounding oil palm plantations, which is attributed to a lack of knowledge among cattle farmers regarding risk management. There have been many studies on cattle-oil palm integration systems, but research on risk mitigation has not been comprehensively analyzed. The research was carried out between February and May 2024. The population of this study consisted of the heads and members of four SISKA clusters (Meso Tani, Dekan Jaya, Rimba Makmur, and Subur Kampit) in Sanggau District, West Kalimantan Province, with a sample size of 30 individuals. This study used the House of Risk model to identify and mitigate risks. The research results showed that three of seven risk sources must be prioritized and addressed, namely, weed control using herbicides by the company, cattle entering replanting land, and inbreeding. This study resulted in three strategies for handling risk agents, namely the use of electric fences, the implementation of a rotational grazing system, and the procurement of superior bulls

    Enkapsulasi dan Karakterisasi Urea dengan Penyalut Biokomposit Zeolit Alam-Alginat-Biochar sebagai Pupuk Lepas Lambat

    No full text
    Pupuk urea menjadi salah satu sumber nitrogen bagi pertumbuhan tanaman karena kandungan nitrogen yang tinggi (46%). Namun, efisiensi penggunaan pupuk urea sangat rendah, dengan tingkat kehilangan nitrogen mencapai 40-70% melalui proses volatilisasi amonia, denitrifikasi, dan pencucian nitrat. Pengembangan teknologi pupuk lepas lambat menjadi strategi penting dalam meningkatkan efisiensi pemupukan dan keberlanjutan sistem pertanian. Zeolit alam adalah mineral berpori dengan kemampuan tukar kation tinggi, efektif menahan ion ammonium, dan mendukung pelepasan hara bertahap. Alginat berperan sebagai matriks pengikat dan agen pembentuk gel, membentuk jaringan tiga dimensi yang kuat dan fleksibel untuk menjerat molekul urea. Biochar dapat meningkatkan kapasitas adsorpsi dan retensi air serta hara nitrogen dari urea, sekaligus mendukung pelepasan hara secara bertahap. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis dan mengkarakterisasi biokomposit zeolit alam-alginat-biochar serta menguji efektivitasnya sebagai matriks enkapsulasi pupuk urea lepas lambat. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Panca Bhakti pada bulan Desember 2023 hingga Mei 2024. Metode penelitian yang digunakan yaitu enkapsulasi melalui teknik ionotropic gelation. Karakteristik biokomposit dilakukan analisis menggunakan FTIR, SEM, dan UV-Vis pada pola pelepasan nitrogen. Hasil menunjukkan struktur pupuk urea terenkapsulasi lebih berbentuk bulat. Hasil spektrum FTIR menunjukkan karakteristik pita serapan dari biokomposit zeolit alam-alginat-biochar. Foto SEM menunjukkan morfologi permukaan urea telah dilapisi oleh biokomposit. Uji pelepasan nitrogen menunjukkan perbandingan biokomposit 1:1:1 merupakan yang paling baik dalam menahan rilis nitrogen dari pupuk urea

    Enhancing Tomato (Lycopersicon esculentum Mill.) Growth in a Green House Using NPK Fertilizer Coated with Endospore-Forming Bacillus

    Full text link
    Long-term use of NPK composite fertilizers mixed with biofertilizers, including spore-forming Bacillus rhizobacteria, can improve plant quality and growth. This study aims to analyze Bacillus’s growth and spore production in chemical-liquid growing media and to observe the effects of Bacillus-coated NPK formulas (BCN) on the growth of tomatoes in potted Andisol and the Bacillus population in the rhizosphere. The evaluation of Bacillus growth was conducted in the laboratory whereas the effect of the BCN was conducted as a pot experiment in a Randomized Block Design. The treatments included recommended dosage of NPK 16-16-16, liquid inoculant of Bacillus consortium, BCN-C, and BCN-G formulas with 100%, 75%, and 50% of the recommended dosage, respectively. Control plants were not treated with fertilizer. Laboratory assay verified that Yuniarti’s medium supported Bacillus-consortium growth and produced the highest Bacillus vegetative cells and spores. The BCN application significantly increased plant height, number of leaves, root length, and tomato biomass compared to the control up to 6 weeks after planting. Three-quarters of the dosage of BCN-C and BCN-G gave the best growth of tomatoes. Introducing BCN and conventional NPK did not change the population of Bacillus vegetative and spore form in the rhizosphere. Results indicate that BCN can replace conventional NPK 16-16-16 fertilizer for tomato plants in Andisol soil order

    231

    full texts

    249

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Agrikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇