Agrikultura
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
Strategi Pendistribusian Pupuk Bersubsidi di Kecamatan Walenrang Timur Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan
Pupuk merupakan komponen vital dalam mendukung produktivitas pertanian. Kebijakan subsidi pupuk oleh pemerintah ditetapkan untuk mendukung akses petani terhadap ketersediaan pupuk. Namun, dalam pelaksanaannya masih menghadapi berbagai permasalahan dalam sistem distribusi pupuk bersubsidi ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pendistribusian pupuk bersubsidi di Kecamatan Walenrang Timur, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Penelitian dilakukan dari Desember 2023 hingga Januari 2024 menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal, serta pendekatan kualitatif untuk merumuskan kebijakan strategi pendistribusian pupuk bersubsidi. Responden terdiri dari dua katagori yaitu petani dan pakar. Responden petani dipilih menggunakan metode cluster sampling. Metode ini memungkinkan pemilihan sampel representatif melalui pengelompokan berdasarkan kelompok tani di setiap desa, sehingga mencakup berbagai wilayah secara menyeluruh. Sementara itu, responden pakar dipilih secara purposive. Data dianalisis menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan faktor internal kekuatan diperoleh skor sebesar 2,57 dan skor kelemahan sebesar 0,42. Faktor eksternal peluang diperoleh skor sebesar 2,53 dan skor ancaman sebesar 0,40. Posisi strategi pendistribusian pupuk bersubsidi di Kecamatan Walenrang Timur berada pada Kuadran I yakni strategi agresif. Strategi ini menekankan bahwa upaya peningkatan strategi difokuskan dengan menggunakan berbagai kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang diterapkan adalah melakukan peningkatan koordinasi lintas sektor, pusat dan daerah terkait alokasi pupuk bersubsidi, keefektifan penyaluran pupuk dan implementasi pemupukan. Melakukan akurasi pendataan lahan dan pengimputan pada aplikasi sesuai luas lahan yang di kelola petani, dan memperkuat kemampuan penyaluran pupuk bersubsidi sampai ke petani melalui sistem pengawasan dan sanksi untuk setiap pelanggaran penyaluran pupuk hal ini sangat penting untuk bisa menjamin pendistribusian pupuk subsidi optimal
Pengaruh Jangka Panjang Sistem Olah Tanah dan Residu Pupuk Nitrogen terhadap Keanekaragaman Vegetasi dan Simpanan Biji Gulma
Pengendalian gulma secara mekanis melalui sistem olah tanah yang tepat mampu menekan pertumbuhan gulma dan meminimalisir penggunaan herbisida kimiawi. Namun, sistem pengolahan tanah yang tidak tepat dapat menyebabkan terangkatnya biji dan propagul gulma yang sudah lama dorman dalam tanah naik ke atas permukaan tanah, sehingga menjadi viable untuk berkecambah dan memperbanyak diri. Faktor lain pemacu pertumbuhan gulma adalah tersedianya unsur hara yang cukup dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem olah tanah dan residu pupuk N jangka panjang tahun ke-34 setelah 2 tahun pemberaan lahan terhadap keanekaragaman vegetasi dan simpanan biji gulma dalam rangka merumuskan strategi pengendalian gulma. Penelitian dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, terdiri dari dua faktor: sistem olah tanah (olah tanah intensif, olah tanah minimum, dan tanpa olah tanah) dan residu pupuk N (0, 100, dan 200 kg/ha. Pada Tahap 1, analisis difokuskan pada vegetasi gulma di atas permukaan tanah, sedangkan pada Tahap 2, penelitian meneliti simpanan benih gulma pada kedalaman tanah 20 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem olah tanah minimum tanpa residu pupuk nitrogen dan tanpa olah tanah dengan residu N 100 kg/ha pada tahun 2021, mampu menekan pertumbuhan gulma hingga tahun 2024. Residu pupuk N pada lahan yang telah diberakan selama dua tahun tidak berpengaruh terhadap keanekaragaman vegetasi gulma. Integrasi berbagai strategi pengelolaan gulma dapat mengurangi dampak negatif kehadiran gulma di pertanian. Petani dapat mengadopsi teknologi pengolahan tanah konservasi dan pertanian presisi untuk meningkatkan keberlanjutan dan efisiensi
Faktor Sosial Ekonomi yang Mempengaruhi Pengelolaan Risiko pada Usaha Agribisnis Jamur Merang
Budidaya jamur merang di Kabupaten Karawang memiliki potensi pasar yang kuat, namun dihadapkan pada risiko produksi dan ketidakstabilan rantai pasok. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh faktor sosial ekonomi terhadap strategi mitigasi risiko yang diterapkan oleh petani jamur merang. Penelitian dilakukan di Kecamatan Cilamaya Kulon dengan pendekatan kuantitatif melalui survei deskriptif terhadap 33 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling, berdasarkan kategori pengalaman berusahatani dari populasi sebanyak 62 petani. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan regresi logistik biner. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas petani berusia lanjut, berpendidikan rendah, memiliki 3–5 anggota keluarga, pengalaman bertani luas, dan pendapatan di bawah upah minimum. Karakteristik ini berkontribusi terhadap pemilihan strategi mitigasi; misalnya, petani berpengalaman lebih memilih reduksi risiko, sementara yang berpendapatan rendah cenderung melakukan retensi risiko. Variabel pendidikan, pengalaman bertani, pendapatan, dan jumlah anggota keluarga berpengaruh signifikan terhadap strategi mitigasi, sedangkan usia tidak signifikan. Temuan ini menegaskan perlunya pengembangan program pelatihan budidaya dan manajemen risiko berbasis latar belakang sosial ekonomi, penyediaan akses bibit unggul dan input berkualitas, serta kebijakan insentif seperti subsidi input dan asuransi pertanian. Selain itu, penguatan kelembagaan petani dan pemanfaatan modal sosial seperti jaringan kepercayaan dan kerja sama antarpetani penting untuk meningkatkan resiliensi kolektif menghadapi risiko dan mendukung keberlanjutan agribisnis jamur merang di wilayah tersebut
Kajian Komponen Produksi Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) yang diberi Pupuk Boron dan NPK
Rendahnya produktivitas tanaman kelapa sawit merupakan permasalahan yang harus diatasi pada pola perkebunan rakyat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek pemberian pupuk boron dan NPK terhadap peningkatan komponen produksi tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) serta untuk mendapatkan kombinasi perlakuan yang terbaik. Penelitian dilaksanakan di Desa Bencah Kelubi, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar dari bulan Mei sampai November 2023. Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu pupuk boron dan NPK. Faktor pertama adalah dosis pupuk boron dengan taraf tiga, terdiri dari B0 : Kontrol, B1 : 75 g per tanaman dan B2 : 150 g per tanaman. Faktor kedua adalah dosis pupuk NPK dengan tiga taraf, yaitu P1 : 1,50 kg per tanaman, P2 : 2,50 kg per tanaman dan P3 : 3,50 kg per tanaman. Parameter yang diamati adalah jumlah tandan bunga betina dan bunga jantan, sex ratio, jumlah dan bobot tandan buah, berat dan volume buah segar serta ketebalan mesocarp. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan analisis ragam dan diuji lebih lanjut dengan uji DNMRT pada taraf 5% menggunakan aplikasi SAS versi 9.0. Pemberian pupuk NPK 3,5 kg per tanaman meningkatkan bobot tandan buah segar, bobot buah segar, volume buah segar, dan ketebalan mesocarp. Pemberian pupuk boron tidak berpengaruh terhadap semua parameter pengamatan. Aplikasi pupuk NPK 3,5 kg per tanaman memberikan hasil yang lebih baik yang berbeda secara signifikan dibandingkan perlakuan pupuk NPK 1,5 kg per tanaman, menghasilkan 11,70 kg bobot tandan buah segar, 11,19 g bobot buah segar, 10,08 mL volume buah segar, dan 3,98 mm ketebalan mesocarp
Evaluasi Manajemen dan Finansial Berbasis Implementasi Rancang Bangun Irigasi Tetes sebagai Strategi Adaptasi Perubahan Iklim (Studi pada Petani Jeruk Siam)
Perubahan iklim global meningkatkan kebutuhan akan solusi pertanian yang adaptif terhadap permasalahan yang ditimbulkan perubahan iklim tersebut. Penelitian ini mengevaluasi irigasi tetes untuk budidaya jeruk siam di Desa Pandansari, Kabupaten Malang. Tujuannya adalah untuk menganalisis rancangan dan kinerja teknologi irigasi, menilai aspek ekonomisnya, dan merumuskan strategi pengembangan. Metode deskriptif kuantitatif dan alat pengujian dengan uji-t digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi irigasi tetes menghasilkan berat buah jeruk siam yang secara signifikan lebih berat dibandingkan dengan metode penyiraman manual. Secara ekonomis, penggunaan irigasi tetes ini menghasilkan keuntungan yang cukup tinggi, dengan nilai R/C Ratio yang menguntungkan dalam jangka waktu 5 tahun. Strategi pengembangan meliputi pelatihan dan edukasi masyarakat, kolaborasi dengan pihak terkait, dan penelitian lebih lanjut untuk mengurangi biaya. Dengan implementasi yang baik, teknologi ini diharapkan memberikan manfaat yang signifikan bagi petani jeruk siam dan sektor pertanian secara keseluruhan di masa depan
Penggunaan Sistem Pemberian Air dan Jenis Mulsa untuk Peningkatan Efisiensi Konversi Energi pada Tanaman Padi Gogo (Oryza sativa L.)
Padi gogo adalah jenis padi yang ditanam di lahan kering yang selama masa pertumbuhannya tidak terendam air, dan kebutuhan airnya diperoleh dari kelembaban tanah yang berasal dari curah hujan. Teknologi irigasi tetes merupakan salah satu metode irigasi modern untuk menjaga kelembapan zona perakaran tanah. Penggunaan mulsa plastik berwarna dapat meningkatkan persediaan radiasi dan mengurangi kehilangan air tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan cahaya pantul (albedo), efisiensi konversi energi (EKE) pada tanaman serta peningkatan produksi padi gogo. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus hingga Desember 2024 di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya yang berlokasi di Kelurahan Jatimulyo Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur dengan ketinggian ± 500 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan suhu berkisar antara 20-32 °C dan kelembaban udara 74-82%. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Pola Tersarang (Nested Design) dengan dua jenis sistem pemberian air yaitu sistem irigasi penggenangan dan sistem irigasi tetes serta lima jenis mulsa yaitu tanpa mulsa, mulsa jerami, mulsa geowoven, mulsa plastik hitam perak, dan mulsa plastik hitam putih. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan jenis mulsa dapat meningkatkan albedo dan EKE dengan mulsa plastik hitam putih dapat meningkatkan albedo dan EKE secara signifikan. Sementara itu, penggunaan jenis mulsa geowoven dapat meningkatkan 45,80% hasil produksi per hektar tanaman padi gogo dibanding tanpa mulsa terhadap gabah kering giling
Kemampuan Senyawa Volatil Aureobasidium pullulans pada Beberapa Kerapatan Sel dalam Menekan Antraknosa Stroberi
Antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum acutatum menjadi salah satu penyakit utama pada buah stroberi. Pemanfaatan senyawa volatil khamir dapat menjadi salah satu alternatif pengendalian penyakit pascapanen yang aman dan ramah lingkungan. Kerapatan sel khamir dapat berpengaruh terhadap keefektifan cara pengendalian tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan senyawa volatil khamir Aureobasidium pullulans Dmg 11 DEP pada beberapa kerapatan sel dalam menghambat pertumbuhan C. acutatum dan menekan penyakit antraknosa pada buah stroberi, serta untuk mendapatkan kerapatan sel khamir yang mampu menghasilkan penekanan tertinggi terhadap penyakit antraknosa pada buah stroberi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang dilakukan secara in vitro dan in vivo. Perlakuan terdiri atas kerapatan sel khamir A. pullulans Dmg 11 DEP yaitu 106 sel/ml, 107 sel/ml, 108 sel/ml, 109 sel/ml, dan kontrol. Pengujian in vitro dilakukan dengan metode double dishes system pada media PDA. Pengujian in vivo dilakukan pada buah stroberi varietas Mencir dengan menempatkan khamir tanpa kontak fisik dengan buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa volatil khamir A. pullulans Dmg 11 DEP pada beberapa kerapatan sel mampu menghambat pertumbuhan C. acutatum secara in vitro sebesar 34,98% - 42,64% dan mampu menekan penyakit antraknosa pada buah stroberi sebesar 18,27% - 36,46%. Kerapatan sel 108 sel/ml menunjukkan persentase penekanan penyakit antraknosa tertinggi pada buah stroberi
Perubahan Karakteristik Kimia Tanah Aluvial Akibat Pemberian Biochar Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Fly Ash Batu Bara
Tanah aluvial dalam bidang pertanian memiliki kekurangan seperti nilai pH yang rendah, struktur tanah yang jelek, kapasitas tukar kation dan permeabilitas tanah yang rendah. Upaya mengatasi kendala pada tanah aluvial tersebut salah satunya dapat dilakukan dengan penerapan ameliorasi. Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai sumber ameliorasi yaitu biochar tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan fly ash batu bara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian biochar TKKS dan fly ash batu bara terhadap sifat kimia tanah aluvial. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 3 ulangan yang terdiri dari 2 faktor yakni penggunaan fly ash (a0 =tanpa fly ash, a1=fly ash 25% dan a3=fly ash 50%) dan pemberian biochar (b0=tanpa biochar, b1= biochar 5% dan b2= biochar 10%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara perlakuan fly ash dan pemberian biochar. Interaksi fly ash 50% dan biochar TKKS 10% memberikan perubahan sifat kimia tanah yang paling baik yakni dapat meningkatkan pH tanah (6,76), meningkatkan kandungan P2O5 (38,29 mg/kg), meningkatkan KTK tanah (23,65 cmol/kg) dan menurunkan kandungan Cu (0,21%). Penambahan ameliorasi biochar TKKS dan fly ash batubara terbukti dapat memperbaiki kualitas tanah aluvial sehingga dapat digunakan untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal
Pengaruh Fluktuasi Unsur Iklim Tahunan terhadap Produksi Padi: Studi Empiris Berdasarkan Data Historis
Produksi padi sebagai komoditas strategis nasional sangat dipengaruhi oleh dinamika iklim, terutama di wilayah agraris seperti Kabupaten Bojonegoro. Wilayah ini dipilih karena merupakan salah satu lumbung padi utama di Jawa Timur dan menunjukkan fluktuasi hasil panen yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan iklim telah menyebabkan fluktuasi suhu, curah hujan, dan faktor cuaca lainnya yang berdampak pada penurunan hasil panen. Penelitian ini menggunakan data iklim tahunan dari tahun 2016 hingga 2024 untuk menganalisis variabilitas iklim jangka pendek serta hubungannya dengan produksi padi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui analisis korelasi dan pemodelan regresi linier berganda. Variabel iklim yang dianalisis meliputi suhu rata-rata, suhu maksimum, suhu minimum, curah hujan, radiasi matahari, dan kecepatan angin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu minimum memiliki korelasi positif yang sangat kuat terhadap produksi padi, sementara kecepatan angin menunjukkan korelasi negatif yang signifikan. Model regresi menghasilkan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,99, yang menunjukkan bahwa hampir seluruh variasi produksi padi dapat dijelaskan oleh unsur-unsur iklim seperti suhu, curah hujan, radiasi matahari, dan kecepatan angin. Uji signifikansi juga menunjukkan bahwa curah hujan memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap hasil panen (p < 0,05). Temuan ini menegaskan pentingnya strategi adaptasi iklim berbasis data lokal untuk menjaga stabilitas produksi padi dan mendukung ketahanan pangan di tingkat daerah
Perbandingan Skala Usahatani Padi Rawa Lebak: Luas Lahan Minimal untuk Pemenuhan Kesejahteraan Petani
Sebagian besar petani di Indonesia termasuk di Sumatera Selatan, adalah petani gurem dengan luas lahan kurang dari satu hektar. Hal ini menyebabkan usahatani menjadi kurang efisien dengan hasil produksi sedikit dan pendapatan rendah. Lahan sawah di Sumatera Selatan agak berbeda dengan lahan sawah pada provinsi-provinsi di Pulau Jawa. Lahan sawah di Sumatera Selatan didominasi oleh empat tipologi lahan yaitu lahan sawah rawa lebak, pasang surut, tadah hujan, dan irigasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan pendapatan usahatani padi berdasarkan skala usaha dan menghitung kebutuhan luas lahan minimal yang layak diusahakan untuk pemenuhan kesejahteraan petani padi pada tipologi lahan rawa lebak di Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan. Metode penelitian dilakukan dengan metode survei. Sampel petani yang menjadi responden diambil secara non-probabilitas (Non-probability Sampling) dengan jenis penarikan sampel berkuota (Quota Sampling). Data diolah secara kuantitatif dan dianalisis secara statistik menggunakan uji t sampel bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pendapatan usahatani padi rawa lebak berdasarkan skala usaha. Rata-rata pendapatan petani skala usaha kecil hanya 10,92% dari standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL )yang berlaku, sedangkan rata-rata pendapatan usahani padi yang diperoleh petani skala usaha sedang hanya 20,52% dan petani skala usaha luas hanya 44,37% dari standar KHL yang berlaku. Luas lahan minimal yang dibutuhkan petani padi rawa lebak untuk memenuhi kebutuhan hidup layak rata-rata seluas 2,25 ha