Agrikultura
Not a member yet
    249 research outputs found

    Keefektivan Campuran Kitosan Nano dan Silika Nano dalam Menekan Alternaria porri dan Penyakit Bercak Ungu pada Tanaman Bawang Merah

    Full text link
    Alternaria porri merupakan jamur penyebab penyakit bercak ungu pada tanaman bawang merah. Penyakit ini mengakibatkan kerugian lebih dari 57%.  Kitosan dan silika merupakan bahan alami yang dapat digunakan sebagai fungisida bahan alam. Pemanfaatan teknologi nano dalam mengembangkan fungisida bahan alam bertujuan untuk memperkecil ukuran partikel bahan tersebut, agar lebih mudah diserap oleh tanaman sehingga lebih efisien dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kosentrasi campuran kitosan nano dan silika nano yang efektif dalam menekan jamur A. porri (in vitro) dan menekan penyakit bercak ungu pada tanaman bawang merah (in vivo).  Uji in vitro menggunakan Rancangan Acak Lengkap dan uji in vivo menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Perlakuan yang diuji dalam percobaan meliputi aplikasi campuran bahan nano dalam perbandingan 1:1 serta kontrol dan pembanding meliputi kitosan nano 100 ppm, silika nano 100 ppm, campuran kitosan nano dan silika nano pada empat tingkat konsentrasi (50 ppm, 100 ppm, 200 ppm, dan 300 ppm), asam asetat 1%, fungisida mankozeb 80%, serta kontrol akuades. Setiap perlakuan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran kitosan nano 300 ppm dan silika nano 300 ppm mampu menyebabkan penekanan tertinggi terhadap pertumbuhan koloni A. porri sebesar 94,44% dan perkecambahan konidia sebesar 85%, serta paling efektif menekan penyakit bercak ungu pada tanaman bawang merah sebesar 73%

    Potensi Bacillus spp. sebagai Agens Biokontrol Pengendali Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum f. sp. cepae) dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)

    Full text link
    Penyakit layu fusarium pada tanaman bawang merah disebabkan oleh Fusarium oxysporum    f.sp. cepae (FOC). Penyakit ini tergolong penyakit penting pada tanaman bawang merah yang dapat menimbulkan kerugian hingga 50% atau bahkan menyebabkan gagal panen. Alternatif pengendalian penyakit layu fusarium bisa dilakukan dengan memanfaatkan bakteri Bacillus spp. Penelitian ini bertujuan untuk menguji bakteri Bacillus spp. sebagai agens biokontrol untuk menekan perkembangan penyakit layu fusarium dan meningkatkan pertumbuhan serta hasil tanaman bawang merah.  Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan Laboratorium Fitopatologi Departemen Proteksi Tanaman serta di Kebun Percobaan, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang pada bulan April sampai September 2023. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 8 perlakuan (6 galur bakteri Bacillus spp., kontrol positif, dan kontrol negatif) yang diulang sebanyak 6 kali. Bakteri Bacillus spp. yang digunakan adalah B. waihenstephanensis galur RBTLL 3.2, B. cereus galur MRDKBTE 1.3, B. thuringiensis galur MRSNRZ 3.1, B. mycoides galur MRSNUMBE 2.2, B. mycoides galur MRBPBT 2.1, dan B. cereus galur MRPLUMBE 1.3.  Bakteri Bacillus spp., diintroduksi pada umbi bawang merah dengan merendam umbi sebelum ditanam dan inokulasi FOC di sekitar perakaran pada umur tanaman 4 minggu. Variabel yang diamati yaitu perkembangan penyakit (masa inkubasi, kejadian penyakit dan keparahan penyakit) dan pertumbuhan bawang merah (tinggi, jumlah daun, berat basah, dan berat kering umbi). Perlakuan B. cereus galur MRPLUMBE 1.3 menunjukkan kemampuan terbaik menghambat perkembangan penyakit layu fusarium, sedangkan B. mycoides galur MRBPBT 2.1 memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman bawang merah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Bacillus spp. memiliki potensi untuk menekan perkembangan penyakit layu fusarium dan meningkatkan pertumbuhan tanaman bawang merah

    Analisis Efisiensi Produksi Usahatani Jagung di Desa Kertagena Tengah, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan

    Full text link
    Produksi jagung dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional, sehingga Indonesia masih bergantung pada impor. Desa Kertagena Tengah memiliki potensi pertanian jagung, namun hasil produksinya masih rendah akibat dari penggunaan input yang belum optimal serta keterbatasan sistem irigasi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi jagung, mengetahui tingkat efisiensi teknis petani dan menganalisis sumber inefisiensi pada usahatani jagung. Penelitian ini melibatkan 92 responden, dan data dianalisis menggunakan pendekatan Stochastic Frontier Analysis (SFA). Hasil penelitian menjelaskan bahwa luas lahan, benih, pupuk urea, pupuk phonska, pupuk kandang, dan pestisida berpengaruh terhadap produksi, sedangkan tenaga kerja tidak berpengaruh. Nilai rata-rata efisiensi teknis yang diperoleh sebesar 0,80 dengan 63 petani telah mencapai efisiensi teknis, sementara 29 petani masih berupaya meningkatkan produksi. Sumber inefisiensi yang berpengaruh terhadap produksi jagung meliputi pekerjaan sampingan, varietas benih hibrida, dan tipe irigasi, sedangkan umur, pendidikan, dan pengalaman bertani tidak berpengaruh. Untuk meningkatkan produksi, petani perlu mengoptimalkan penggunaan input sesuai dengan dosis anjuran, mempertimbangkan penggunaan irigasi pompa air, serta mengelola waktu dengan lebih baik agar usahatani tetap terfokus dan berkelanjutan

    Inovasi Teknologi Pengendalian Rayap Tanah Perkebunan Kelapa Sawit: Kajian Pemanfaatan Nematoda Patogen Serangga di Kalimantan Barat

    Full text link
    Kalimantan Barat memiliki potensi besar dalam budidaya kelapa sawit, namun petani sering menghadapi tantangan akibat serangan hama, terutama rayap. Kondisi lahan gambut dan iklim setempat memengaruhi biota lokal. Penggunaan nematoda patogen serangga (NPS) sebagai agens pengendalian hayati muncul sebagai solusi inovatif untuk mengatasi infestasi rayap dan meningkatkan produksi secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi, mengidentifikasi, mengisolasi, dan menguji patogenisitas NPS indigenous dari perkebunan kelapa sawit terhadap rayap tanah (Captotermes curvignathus). Nematoda patogen serangga dikoleksi dari rhizosfer tanaman kelapa sawit di Kalimantan Barat. Isolasi, identifikasi dan uji patogenesitas NPS terhadap hama rayap tanah dilakukan di Laboratorium Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Panca Bhakti Pontianak, sedangkan analisis tanah dilakukan di Laboratorium Fisika dan Konservasi Tanah Universitas Tanjungpura Pontianak. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni hingga Oktober 2024. Penentuan lokasi pengambilan sampel tanah menggunakan teknik stratified sampling dan isolasi NPS dari tanah rhizosfer kelapa sawit menggunakan metode baiting menggunakan larva Tenebrio molitor. Uji patogenesitas NPS terhadap hama rayap tanah menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) nonfaktorial dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Hasil eksplorasi menemukan NPS dengan kepadatan populasi bervariasi. Tingkat mortalitas  larva T. molitor tertinggi ditemukan di tanah gambut Kabupaten Kubu Raya. Nematoda yang diidentifikasi adalah Steinernema sp., dengan bakteri simbion Xenorabdhus sp. Uji patogenisitas menunjukkan nematoda Steinernema sp. dari Kubu Raya efektif melawan rayap, dengan mortalitas 97,5% pada dosis 400 JI-3/ml. Hasil tersebut hampir setara dengan insektisida fipronil konsentrasi 2 ml/l yang mencapai 100% mortalitas dalam waktu kurang dari 12 jam setelah aplikasi. Gejala infeksi pada rayap ditandai dengan perubahan warna tubuh, pembengkakan abdomen, dan hancurnya tubuh

    Pendugaan Umur Simpan Biji Kopi Arabika Menggunakan Metode Accelerated Shelf-Life Test (ASLT) Model Arrhenius Berdasarkan Parameter Kadar Air

    Full text link
    Peningkatan produksi kopi harus disertai dengan pemeliharaan mutu biji kopi yaitu dengan cara penyimpanan dan pemilihan jenis kemasan yang tepat sehingga dapat mempertahankan mutu biji kopi. Penurunan mutu biji kopi dapat berakibat pada penurunan umur simpannya. Umur simpan biji kopi dapat ditentukan berdasarkan perubahan yang terjadi pada mutu biji kopi selama penyimpanan yaitu dapat dilakukan dengan menggunakan metode Accelerated Shelf-Life Test (ASLT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dugaan umur simpan biji kopi arabika dari Sidikalang dengan menggunakan metode ASLT model Arrhenius berdasarkan parameter kadar air. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan empat jenis kemasan, yaitu aluminium foil, Grainpro, kertas, dan goni rami dengan tiga suhu penyimpanan, yaitu 30 °C, 40 °C, dan 50 °C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur simpan biji kopi dengan kemasan kantong aluminium foil, kantong Grainpro, kantong kertas, dan karung goni adalah 42 hari, 46 hari, 29 hari, dan 28 hari pada suhu 30°C; 20 hari, 21 hari, 15 hari, dan 13 hari pada suhu 40°C; dan 10 hari, 11 hari, 8 hari, dan 6 hari pada suhu 50°C

    Eksplorasi Jamur Entomopatogen sebagai Agen Biokontrol Lalat Buah Bactrocera spp. pada Berbagai Varietas Jeruk di Kabupaten Garut

    Full text link
    Bactrocera spp. merupakan salah satu hama utama pada buah jeruk yang menyebabkan kerugian hasil yang signifikan. Pengendalian ramah lingkungan diperlukan untuk mengatasi kerugian akibat serangannya. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi keberadaan jamur entomopatogen yang menginfeksi Bactrocera spp. serta menganalisis indeks keanekaragaman, kekayaan, kemerataan, dan dominansi entomopatogen pada tiga varietas jeruk di Kabupaten Garut. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni hingga Oktober 2024 di tiga lokasi, jeruk Siam di Desa Neglasari, jeruk Keprok Terigas di Desa Kadungora, dan jeruk Lemon di Desa Sukatani. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode sistematis pada area seluas 2500 m², dengan lima titik sampling yang ditentukan secara diagonal. Sampel tanah diambil dari 20 pohon pada kedalaman 0–10 cm dan disimpan dalam kondisi gelap pada suhu 4°C sebelum dianalisis. Metode yang digunakan yaitu umpan serangga menggunakan larva Tenebrio molitor. Jamur yang menyelubungi tubuh larva yang terinfeksi diisolasi dan diidentifikasi. Pada varietas Lemon didapatkan 7 isolat (4 B. bassiana, 3 M. anisopliae), varietas Siam 4 isolat (3 B. bassiana, 1 M. anisopliae), dan varietas Terigas 3 isolat (2 B. bassiana, 1 M. anisopliae). Penemuan jamur entomopatogen ini menunjukkan potensi keberadaan agen hayati untuk pengendalian Bactrocera spp. Indeks keanekaragaman (H’) rendah (0,56-0,68), indeks kekayaan (DMg) rendah (0,51-0,91), indeks kemerataan (E) tinggi (0,81-0,99), dan indeks dominansi (C) sedang (0,51-0,63). Meskipun indeks keanekaragaman dan kekayaan rendah, namun tingginya nilai kemerataan menunjukkan distribusi yang merata di dalam habitatnya. Penelitian ini menjadi dasar strategi konservasi, pengelolaan hayati, dan pemilihan isolat unggul untuk pengendalian Bactrocera spp. pada berbagai varietas jeruk

    Identifikasi Molekuler Isolat Bakteri Entomopatogen, Uji Keamanan Hayati serta Potensinya untuk Pengendalian Serangga Hama

    Full text link
    Bakteri entomopatogen merupakan mikroorganisme dengan potensi besar sebagai sumber toksin dan metabolit yang dapat digunakan dalam program pengendalian serangga hama, salah satunya adalah bakteri Serratia marcescens. Toksin dan enzim degradatif ekstraseluler seperti protease dan kitinase yang disekresi oleh S. marcescens merupakan faktor virulensi, sehingga membuat bakteri ini sangat mematikan bagi serangga. Bakteri entomopatogen sebagai agen pengendali hama harus ramah lingkungan dan tidak berbahaya baik bagi manusia maupun spesies non-target. Pengujian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri entomopatogen secara molekuler dengan target S. marcescens dari berbagai sumber serangga terinfeksi, kemudian dilakukan pengujian terkait potensinya dalam mengendalikan serangga hama dan uji keamanan hayati meliputi uji aktivitas kitinase dan uji aktivitas protease, uji hemolisis darah, uji hipersensitivitas, serta uji resistensi antibiotik. Penelitian dilakukan di Laboratorium Agens Hayati dan Laboratorium Molekuler Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari Karawang pada bulan Oktober 2023-Februari 2024. Hasil identifikasi secara molekuler dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) menunjukkan bahwa dari 12 isolat bakteri kode Sm01-Sm12, 11 isolat teridentifikasi sebagai Serratia marcescens sedangkan isolat Sm03 teridentifikasi sebagai Serratia nematodiphila. Isolat Sm02, Sm07 dan Sm11 memiliki aktivitas kitinolitik dan proteolitik serta tidak menunjukkan reaksi hemolisis darah dan hipersensitif tanaman tembakau. Isolat Sm02 dan Sm07 sensitif terhadap 8 jenis antibiotik yang diujikan, yaitu Chloramphenicol 30 µg, Doxycycline 30 µg, Cefotaxime 30 µg, Sulphamethoxazole 25 µg, Ciprofloxacin 5 µg, Gentamicin 10 µg, Amikacin 30 µg, dan Tetracycline 30 µg, sedangkan Sm11 sensitif terhadap 6 jenis antibiotik yang diujikan selain Doxycycline dan Tetracycline. Dengan demikian, bakteri entomopatogen Serratia marcescens isolat Sm02, Sm07 dan Sm11 merupakan isolat yang berpotensi untuk dimanfaatkan dalam pengendalian serangga hama, serta layak untuk pengujian-pengujian tahap selanjutnya

    Introduksi Varietas Unggul Baru Didukung Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Meningkatkan Produktivitas Padi di Manggarai Barat

    Full text link
    Padi adalah bahan makanan pokok penting di Indonesia, tetapi produktivitasnya di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur masih rendah. Penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) dengan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan salah satu kunci peningkatan produksi padi di NTT. Tujuan penelitian ini adalah menemukan varietas yang beradaptasi baik di Manggarai Barat dengan penerapan PTT untuk direkomendasikan sebagai alternatif pilihan petani. Penelitian dilaksanakan pada Mei-Agustus 2021 di Desa Compang Longgo Kecamatan Komodo Kabupaten Manggarai Barat. Budidaya menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Perlakuannya adalah tiga VUB: Inpari 42 Agritan GSR, Inpari 48 Blas, Inpari IR Nutri zinc, dan satu varietas yang sudah tersebar luas Inpari 32 HDB sebagai pembanding. Semua varietas dibudidayakan dengan menggunakan paket teknologi PTT. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan varietas berpengaruh nyata (P0,05). Hasil VUB yang diuji berkisar antara 6,87-7,28 ton GKG/ha lebih tinggi dibandingkan dengan varietas pembanding Inpari 32 HDB. Lebih lanjut, secara ekonomi penerapan VUB dengan teknologi PTT di Manggarai Barat layak diusahakan (B/C>1). Inpari 42 Agritan GSR, Inpari 48 Blas, Inpari IR Nutri Zinc dengan penerapan PTT mampu beradaptasi baik dan layak diusahakan di Kabupaten Manggarai Barat sebagai alternatif varietas untuk petani

    Peranan Biochar dan Kompos dalam Meningkatkan Retensi Air dan Produksi Jagung Manis (Zea mays L. var. saccharata) pada Tanah Bertekstur Kasar

    Full text link
    Kemampuan tanah meretensi air akan mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman. Tanah bertekstur kasar mempunyai kemampuan retensi air yang rendah sehingga tidak mampu menopang pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peranan biochar dan kompos dalam meningkatkan retensi air tanah serta produksi jagung manis (Zea mays L. var. saccharata). Penelitian dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Andalas pada November 2022 hingga Juni 2023, dengan mengunakan bahan berupa tanah bertekstur kasar dari ordo Inceptisol yang diambil dari lahan di Nagari Aie Dingin, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, biochar yang berasal dari kulit kopi, dan kompos yang berasal dari jerami jagung. Penelitian ini terdiri dari delapan perlakuan yaitu kombinasi antara biochar dan kompos yaitu A = 0 ton/ha biochar + 0 ton/ha kompos, B = 24 ton/ha biochar + 0 ton/ha kompos, C = 20 ton/ha biochar + 4 ton/ha kompos, D =16 ton/ha biochar + 8 ton/ha kompos, E = 12 ton/ha biochar + 12 ton/ha kompos, F = 8 ton/ha biochar + 16 ton/ha kompos, G = 4 ton/ha biochar + 20 ton/ha kompos, dan H = 0 ton/ha biochar + 24 ton/ha kompos dengan 3 ulangan. Satuan percobaan dialokasikan berdasarkan rancangan acak lengkap (RAL). Parameter yang dianalisis yaitu bahan organik tanah (BOT), berat volume (BV), total ruang pori (TRP), permeabilitas, retensi air, pori air tersedia, serta pertumbuhan dan hasil tanaman jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis terbaik untuk meningkatkan retensi air, pori air tersedia, dan hasil tanaman jagung adalah 24 ton/ha biochar + 0 ton/ha kompos dengan peningkatan berturut-turut sebesar 23,18%, 85,5%, dan 633%. Namun, dosis terbaik untuk perbaikan sifat fisika tanah lainnya adalah 16 ton/h biochar + 8 ton/ha kompos yang ditandai dengan peningkatan BOT (9,2%), TRP (3,2%), permeabilitas (109%), stabilitas agregat (13,9%) dan penurunan BV (9,2%)

    Pengaruh Kombinasi Pupuk Organik dan Anorganik terhadap Sifat Fisik dan Kimia Tanah serta Produksi Padi pada Lahan Kering yang Disawahkan

    Full text link
    Lahan kering yang disawahkan memiliki proses pelumpuran dan penggenangan yang menyebabkan perbedaan kondisi sifat fisik tanah sehingga menurunkan kesuburan tanah, salah satunya yaitu kerusakan struktur tanah. Upaya untuk meningkatkan kesuburan tanah pada lahan tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan C-Organik, salah satunya yaitu aplikasi pupuk organik (asam amino dan asam humat). Aplikasi pupuk organik yang dikombinasikan pupuk anorganik dengan dosis yang tepat juga berpotensi untuk memperoleh produksi tanaman yang optimal. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis perbedaan karakteristik tanah pada lahan kering yang disawahkan serta menganalisis pengaruh pemberian kombinasi pupuk organik dan anorganik terhadap kesuburan tanah dan produksi padi pada lahan kering yang disawahkan. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Jatimulyo, Universitas Brawijaya. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 9 perlakuan dan 3 kali ulangan. Parameter yang diukur yaitu pH, C-Organik, kapasitas tukar kation (KTK), Kdd, kejenuhan basa, berat isi, tekstur, jumlah anakan produktif, dan berat gabah kering panen. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perubahan sifat fisik dan kimia tanah akibat perubahan pengolahan dari lahan kering menjadi lahan sawah. Aplikasi pupuk organik dan anorganik memberikan pengaruh nyata terhadap sifat kimia seperti pH, C-Organik, N-total, P-tersedia, Kdd dan KTK. Aplikasi pupuk organik dan anorganik juga meningkatkan produksi padi sebesar 39-59% dengan perlakuan dosis terbaik yaitu 75% pupuk dasar anorganik + 100% pupuk organik

    231

    full texts

    249

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Agrikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇