Agrikultura
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
Evaluasi Status Hara Makro Nitrogen, Fosfor dan Kalium di Lahan Sawah Irigasi Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara
Evaluasi dan identifikasi unsur hara tanah sawah untuk mengetahui status hara baik secara kualitatif maupun kuantitatif penting untuk dilakukan. Proses identifikasi diharapkan mudah, murah, cepat dan aplikatif bagi petani. Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) merupakan suatu teknologi yang dirancang untuk mengidentifikasi status hara tanah dan juga memberikan rekomendasi pemupukan khususnya untuk padi sawah. Penelitian ini dilaksanakan pada dua wilayah lahan sawah irigasi di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara tepatnya di Desa Pasar Miring, Kecamatan Pagar Merbau dan Desa Kramat Gajah, Kecamatan Galang. Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Mei 2023 ini bertujuan untuk mengidentifikasi status hara makro primer yaitu nitrogen, fosfor, dan kalium di lahan sawah irigasi dengan beberapa pola tanam berbeda. Penelitian ini menggunakan metode survei lapangan dan uji tanah langsung di lapangan dengan menggunakan PUTS. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesuburan tanah pada dua wilayah penelitian termasuk sedang. Secara umum, status hara nitrogen tergolong rendah sedangkan fosfor dan kalium tergolong tinggi. Merujuk pada perbandingan dosis pupuk antara rekomendasi PUTS dan aplikasi petani secara umum di lokasi penelitian diketahui bahwa dosis aplikasi pupuk oleh petani belum sesuai. Pada lahan berstatus N rendah dan sedang perlu penambahan pupuk urea sebanyak 4-27 kg/ha sedangkan untuk lahan berstatus N tinggi dan sangat tinggi perlu pengurangan 40-90 kg/ha. Pupuk SP-36 pada status P rendah, sedang, dan tinggi perlu penambahan 15-65 kg/ha sementara pupuk KCl dapat dikurangi atau ditambahkan 25 kg/ha tergantung perlakuan jerami dari musim tanam sebelumnya
Aplikasi Pupuk S Elemen pada Budidaya Tiga Varietas Bawang Merah (Allium cepa L.)
Teknologi varietas dan pemupukan sulfur telah banyak diterapkan untuk meningkatkan pertumbuhan, produksi dan kualitas bawang merah. Secara global, defisiensi sulfur telah dilaporkan terjadi pada lahan-lahan subur pertanian sedangkan tanaman bawang merah membutuhkan sulfur dalam jumlah relatif banyak untuk mendukung pertumbuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan sulfur terhadap pertumbuhan, produksi, dan kualitas bawang merah serta perubahan karakteristik tanah. Penelitian dilakukan di UPTD Balai Benih Induk Palawija, Tanjung Slamat, Kabupaten Deli Serdang dari September hingga Desember 2022. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor meliputi varietas bawang merah (V) dan dosis S elemen (S). Varietas terdiri dari Kramat 1 (V1), Maja Cipanas (V2) dan Batu Ijo (V3), sedangkan dosis S elemen terbagi atas empat taraf yaitu 0 (S0), 35 (S1),70 (S2), dan 100 (S3) kg/ha. Berdasarkan taraf setiap faktor, terdapat dua belas perlakuan interaksi yang diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, jumlah anakan, berat brangkasan, ruang warna L* dan a* kulit, kandungan antosianin dan serapan S umbi. Jumlah daun dan anakan varietas Batu Ijo paling sedikit tetapi mampu menghasilkan berat brangkasan tertinggi dan berat basah umbi yang tidak berbeda nyata dengan dua varietas lainnya. Dosis sulfur tidak berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter sedangkan interaksi varietas dan dosis sulfur berpengaruh nyata terhadap serapan S umbi. Serapan S umbi tertinggi sebesar 5,98 mg/tanaman dihasilkan pada perlakuan varietas Batu Ijo dengan dosis S elemen 100 kg/ha. Ketidakefektifan S elemen yang diaplikasikan diduga berkaitan dengan bentuknya yang tidak dapat langsung diserap oleh tanaman dan sangat rendahnya C-organik tanah yang tidak mendukung berjalannya proses oksidasinya
Model Perencanaan Kebijakan dalam Peningkatan Produktivitas Tembakau Besuki Na-Oogst di Kabupaten Jember (Mactor Analysis)
Tembakau merupakan salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Jember dimana 90% produksinya dikirim untuk ekspor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi peningkatan produktivitas tembakau Besuki Na-Oogst dengan melihat peran aktor dan hubungan antar aktor terhadap pengembangan tembakau Besuki Na-Oogst di Kabupaten Jember. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur sebagai produsen tembakau nomor satu di Jawa Timur. Penelitan ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Metode penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, sementara itu metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Mactor (Matrix of Alliances and Conflicts: Tactics, Objectives and Recommendations). Data penelitian merupakan data primer yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan kuesioner. Wawancara dilakukan kepada 25 orang sebagai responden meliputi petani tembakau, bea cukai, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, perusahaan tembakau, perokok aktif dan pasif, perguruan tinggi, dan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) yang diambil acak dikarenakan sudah dapat mewakili seluruh populasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Bea Cukai memiliki peranan tinggi dengan ketergantungan yang tinggi yang berarti aktor Bea Cukai merupakan aktor utama yang sangat memengaruhi pengembangan produktivitas perkebunan tembakau namun tidak memiliki akses secara langsung untuk mengembangkan perkebunan tembakau. Aktor petani tembakau dan APTI memiliki peranan tinggi dengan ketergantungan rendah yang artinya aktor ini bisa memengaruhi pengembangan produktivitas perkebunan tembakau dan memiliki akses secara langsung untuk mengembangkan perkebunan tembakau. Oleh karena itu, diperoleh strategi termasuk peningkatan produktivitas tembakau, peningkatkan permintaan tembakau, melakukan peningkatan infrastruktur, melakukan pengembangan dalam penerapan teknologi, peningkatan lapangan pekerjaan, peningkatan persediaan pupuk subsidi; dan pengembangan pasar yang lebih luas atau peluang ekspor
Pengaruh Kultivar dan Berbagai Konsentrasi Rootone F terhadap Keberhasilan Setek Batang Bambu Jepang (Dracaena surculosa)
Bambu jepang (Dracaena surculosa) adalah tanaman hias dengan bentuk batang seperti bambu dan memiliki corak daun indah yang umumnya diperbanyak melalui setek. Keberhasilan setek dapat didukung dengan pengaplikasian zat pengatur tumbuh (ZPT). Akan tetapi, perbedaan varietas tanaman seringkali memberikan respon berbeda terhadap ZPT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kultivar dan berbagai konsentrasi Rootone F terhadap pertumbuhan setek batang bambu jepang (D. surculosa). Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial yang terdiri atas dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu kultivar bambu jepang yang terdiri dari Godseffiana dan Florida beauty. Faktor kedua adalah konsentrasi Rootone F terdiri atas 4 taraf yaitu 0 mg/l, 200 mg/l, 400 mg/l, dan 600 mg/l. Hasilnya menunjukkan kultivar tanaman bambu jepang godseffina memberikan hasil pertumbuhan yang lebih baik pada semua peubah dibandingkan Florida beauty. Konsentrasi Rootone F 200 mg/l memberikan hasil lebih baik pada parameter persentase setek hidup, persentase setek bertunas, jumlah akar, panjang tunas, jumlah tunas, dan waktu muncul tunas tetapi tidak berbeda dengan konsentrasi Rootone F 400 mg/l dan 600 mg/l. Lebih lanjut terdapat interaksi antara jenis kultivar dan konsentrasi Rootone F pada parameter jumlah tunas
Populasi, Serangan dan Pola Distribusi Hypothenemus hampei Ferr. pada Kopi Arabika Gayo Berdasarkan Zona Elevasi
Provinsi Aceh sebagai sentral penghasil kopi arabika berada di Dataran Tinggi Gayo yaitu Kabupaten Bener Meriah. Faktor yang menyebabkan produksi kopi arabika tergolong rendah yaitu serangan hama penggerek buah kopi, Hypothenemus hampei Ferr. Hama ini termasuk hama utama yang paling merugikan yang menyebabkan kerugian kuantitatif dan kualitatif pada kopi arabika dan robusta. Pola sebaran H. hampei dipengaruhi oleh zona elevasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pola sebaran hama H. hampei pada kopi arabika Gayo berdasarkan elevasi. Lokasi penelitian mencakup wilayah perkebunan kopi arabika milik petani di Kecamatan Bukit, Timang Gajah, dan Pintu Rime Gayo di Kabupaten Bener Meriah Provinsi Aceh dengan waktu penelitian dari bulan Juli sampai dengan Desember 2021. Lokasi yang dipilih sebagai tempat pengamatan dan pengambilan sampel yaitu perkebunan kopi rakyat dengan variasi zona elevasi. Setiap wilayah ditentukan dua titik lokasi pengamatan dan pengambilan sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi dan serangan hama H. hampei pada kelompok zona elevasi rendah (700 mdpl–1000 mdpl) tergolong tinggi dibandingkan kelompok ketinggian medium (1000–1250 mdpl) dan tinggi (1250–1500 mdpl). Pola sebaran hama H. hampei pada kopi arabika Gayo pada parameter populasi dan serangan mengikuti pola mengelompok berdasarkan perbedaan zona elevasi. Tindakan monitoring populasi dan serangan hama H. hampei diperlukan untuk mengurangi penurunan produksi kopi arabika Gayo terutama di daerah dengan zona elevasi antara 700–1000 mdpl
Kompatibilitas dan Efektivitas Azospirillum dan Streptomyces untuk Mengendalikan Penyakit Moler pada Bawang Merah di Alfisol Jumantono
Pengaruh Azospirillum sp. dan Streptomyces sp. secara terpisah sebagai perlakuan tunggal pada kegiatan budidaya tanaman telah banyak dilaporkan pada penelitian sebelumnya, tetapi sebagai perlakuan kombinasi sebagai agens hayati masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kompatibilitas dan efektivitas Azospirillum sp. dan Streptomyces sp. untuk pengendalian penyakit moler yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f. sp. cepae (FOCe) dan pertumbuhan bawang merah di tanah Alfisol Jumantono. Penelitian terdiri dari uji in vitro (uji antagonisme dan uji kompatibilitas) dan uji in vivo (penanaman pada polybag di screen house). Uji in vitro dilakukan dengan metode dual culture sementara uji in vivo dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang terdiri dari lima perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan terdiri dari perlakuan tanpa agens pengendali hayati, aplikasi fungisida, Azospirillum sp., Streptomyces sp., dan kombinasi Azospirillum sp. dengan Streptomyces sp. semua perlakuan diinkulasikan dengan FOCe.Variabel yang diamati pada uji in vitro yaitu kompatibilitas dan penghambatan pertumbuhan koloni FOCe, sementara pada uji in vivo variabel yang diamati adalah penghambatan terhadap intensitase penyakit serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan bawang merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara in vitro Azospirillum sp. dan Streptomyces sp. kompatibel satu sama lain. Streptomyces sp. menekan pertumbuhan FOCe sebesar 52.96% lebih baik daripada Azospirillum sp. Akan tetapi, hasil uji in vivo menunjukkan Azospirillum sp. dan Streptomyces sp., baik secara individu maupun bersama-sama, belum berhasil memberikan pengendalian yang optimal terhadap penyakit moler pada bawang merah yang ditanam di tanah Alfisols Jumantono. Meskipun aplikasinya mampu mengurangi intensitas penyakit moler, tingkat efektivitasnya termasuk dalam kategori kurang. Selain itu, dampaknya terhadap parameter pertumbuhan bawang merah juga belum hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan dalam metode aplikasi agens pengendali hayati guna mencapai hasil yang diinginkan
Deteksi dan Identifikasi Nematoda Radopholus similis Cobb pada Tanaman Hias Anthurium andreanum
Radopholus similis merupakan organisme pengganggu tumbuhan karantina di beberapa negara. Nematoda tersebut menjadi salah satu kendala ekspor tanaman hias dari Indonesia. Laporan mengenai serangan nematoda pada tanaman hias masih sangat terbatas di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengonfirmasi keberadaan nematoda R. similis pada tanaman Anthurium andreanum dengan mengidentifikasinya secara morfologi, morfometri, dan molekuler. Monitoring keberadaan nematoda tersebut dilakukan dengan pengambilan sampel secara acak sebanyak 50 pot di lahan pembibitan A. andreanum Desa Ciherang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Ekstraksi nematoda dilakukan pada sampel akar dengan metode pengkabutan selama 48 jam. Sepuluh ekor nematoda jantan dan betina diidentifikasi secara morfologi dan morfometri dengan pengamatan di bawah mikroskop. DNA satu ekor nematoda betina dewasa diekstraksi dengan DNeasy Blood and Tissue Kit (Qiagen). Identifikasi secara molekuler dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan primer spesifik RsF1/RsR1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies nematoda adalah R. similis berdasarkan karakter morfologi, morfometri, dan molekuler. Amplifikasi DNA menggunakan primer spesifik RsF1/RsR1 berhasil mendapatkan pita DNA berukuran 271 bp. Analisis runutan nukleotida menunjukkan bahwa R. similis asal Indonesia berkerabat dekat dengan spesies yang sama yang berasal China, Malaysia, Belgia, Australia, Taiwan, India, Mexico, Tanzania dan Spanyol dengan tingkat homologi 100%. Terdeteksinya R. similis pada A. andreanum di lapangan dapat menjadi perhatian bagi seluruh stakeholder untuk segera melakukan pengendalian agar dapat meningkatkan ekspor tanaman hias Indonesia
Uji Ekstrak Metanol Biji Kembang Telang (Clitoria ternatea L.) dalam Menghambat Pertumbuhan Koloni serta Produksi dan Perkecambahan Konidia Jamur Fusarium oxysporum f. sp. cepae
Fusarium oxysporum f. sp. cepae (FOC) adalah patogen penyebab penyakit moler pada bawang merah, dan termasuk salah satu patogen yang sulit untuk dikendalikan. Pengendalian menggunakan pestisida sintetik tidak dianjurkan karena mampu membahayakan ekosistem. Salah satu alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk pengendalian adalah dengan menggunakan pestisida nabati. Tanaman kembang telang berpotensi untuk digunakan sebagai bahan pestisida nabati, terutama bagian bijinya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan ekstrak metanol biji kembang telang dalam menghambat pertumbuhan koloni, produksi konidia, serta perkecambahan konidia FOC. Percobaan dilakukan di Laboratorium Fitopatologi Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran pada bulan April sampai dengan September 2023. Percobaan dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas 6 konsentrasi ekstrak (0,1; 1; 2; 3; 4; 5%) dengan 4 ulangan. Pengujian terhadap penghambatan pertumbuhan koloni dilakukan menggunakan metode makanan beracun (poison food), sementara pengujian terhadap penghambatan produksi konidia dilakukan dengan menghitung kerapatan konidia setelah aplikasi ekstrak, dan pengujian terhadap penghambatan perkecambahan dilakukan dengan menghitung jumlah konidia yang berkecambah pada campuran agar-konidia yang telah diaplikasikan ekstrak. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak metanol biji kembang telang mampu menghambat pertumbuhan koloni dan perkecambahan konidia FOC, namun tidak mampu menghambat produksi konidianya. Penghambatan tertinggi terhadap pertumbuhan koloni ditunjukkan oleh konsentrasi 3-5% dengan persentase penghambatan 18,5-25,4%, sementara penghambatan tertinggi terhadap perkecambahan konidia ditunjukkan oleh konsentrasi 5%, dengan persentase penghambatan 18,1%
Pertumbuhan Tanaman Padi pada Dua Periode Tanam di Tanah Sulfat Masam dengan Perlakuan Biochar Sekam Padi dan Beberapa Amandemen Organik
Pengembangan tanaman padi di tanah sulfat masam membutuhkan perlakuan yang dapat memperbaiki sifat tanah untuk jangka panjang. Hal ini akan berdampak terhadap peningkatan pertumbuhan tanaman padi secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek biochar sekam padi dan beberapa amandemen organik terhadap pertumbuhan tanaman padi pada dua periode tanam di tanah sulfat masam. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Panca Bhakti, Pontianak yang dilakukan dalam dua kali periode tanam yaitu periode tanam kesatu pada bulan Februari-Mei 2022 dan periode tanam kedua pada bulan Mei-Agustus 2023. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 9 perlakuan yaitu kontrol, Chromolaena odorata (10 ton/ha), jerami (10 ton/ha), biochar sekam padi (10 ton/ha), abu sekam padi (10 ton/ha), C. odorata (10 ton/ha) + biochar sekam padi (5 ton/ha), jerami (10 ton/ha) + biochar sekam padi (5 ton/ha), C. odorata (10 ton/ha) + abu sekam padi (5 ton/ha), jerami (10 ton/ha) + abu sekam padi (5 ton/ha) yang diulang 3 kali. Pelaksanaan penelitian dua kali periode tanam ini dilakukan pada unit polibag yang sama. Pengamatan penelitian terdiri dari beberapa variabel pertumbuhan tanaman padi pada kedua periode tanam. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan C. odorata (10 ton/ha) + biochar sekam padi (5 ton/ha) memberikan efek jangka panjang atau efek residu terbaik terhadap pertumbuhan tanaman padi pada periode tanam kedua. Dengan demikian, penggunaan biochar sekam padi secara tunggal maupun yang dicampur dengan amandemen organik dapat direkomendasikan untuk mendukung pertumbuhan tanaman padi berkelanjutan di tanah sulfat masam
Analisis Pendapatan Usahatani Bawang Merah di Dataran Tinggi Kota Batu
Komoditas bawang merah merupakan salah satu komoditas unggulan untuk sayuran dan menjadi target pengembangan agribisnis bagi Pemerintah Kota Batu. Tujuan penelitian adalah untuk (1) menganalisis kelayakan finansial petani yang berusahatani bawang merah, dan (2) mendeskripsikan manajemen usahatani bawang merah di dataran tinggi Kota Batu. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja yakni di Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Metode pengambilan responden usahatani dilakukan dengan pendekatan probability sampling dengan metode rancangan sampel acak sederhana. Metode analisis data yang sesuai untuk penelitian analisis usahatani bawang merah adalah analisis data kuantitatif untuk analisis pendapatan usahatani dan kualitatif untuk deskrispi manajemen usahatani bawang merah. Rata – rata produksi komoditas bawang merah sebesar 14,6 ton/ha, dengan perhitungan total biaya rata – rata usahatani meliputi biaya tetap serta biaya variabel yang dikeluarkan sebesar Rp 54.010.236,2/ha dan penetapan harga jual rata - rata sebesar Rp 7.000. Maka didapatkan perhitungan pendapatan usahatani di daerah penelitian sebesar Rp 47.916.916,2/ha, sehingga data dikatakan usahatani bawang merah menguntungkan. Manajemen usahatani bawang merah di Desa Junrejo Kecamatan Junrejo Kota Batu telah berjalan sesuai dengan pelaksanaan di lapang, namun terdapat beberapa fungsi manajemen yang harus mendapatkan perhatian seperti fungsi controling yang lebih diperhatikan lagi dalam pelaksanaan di lapang terutama berkaitan dengan aplikasi input usahatani