Agrikultura
Not a member yet
    249 research outputs found

    Keefektifan Penggunaan Pupuk Anorganik dan Aplikasi Kitosan dalam Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Teh (Camellia sinensis L.)

    Full text link
    Selama lima tahun terakhir, produktivitas teh di Indonesia cenderung fluktuatif dengan tren meningkat. Salah satu langkah untuk meningkatkan produktivitas tanaman teh adalah melalui pemupukan.  Aplikasi pupuk anorganik dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman the. Kitosan merupakan senyawa organik turunan kitin yang berasal dari limbah atau cangkang kepiting dan udang dimana salah satu peran dari  kitosan dapat meningkatkan kandungan klorofil sehingga diharapkan aktivitas fotosintesis tanaman  teh lebih efektif Pemberian pupuk anorganik N, P, K dan kitosan diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pucuk teh sehingga terjadi peningkatan produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons morfologis, dan fisiologis tanaman teh menghasilkan klon GMB 7 serta menentukan kombinasi dosis pupuk anorganik dan bahan organik cair yang mengandung kitosan. Percobaan dilaksanakan pada bulan Juni 2023 sampai dengan September 2023  di Kebun Percobaan Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung, Jawa Barat dengan ketinggian tempat 1.250 m dpl. Tanaman yang digunakan adalah tanaman teh menghasilkan (TM) klon GMB 7 umur  tujuh  tahun. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Percobaan terdiri dari sembilan perlakuan kombinasi pupuk anorganik dan kitosan  dan diulang sebanyak empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pemberian pupuk anorganik N, P, K dan bahan organik cair kitosan pada tanaman teh menghasilkan klon GMB 7, berpengaruh  terhadap pertumuhan dan hasil  meliputi indeks klorofil daun dan nilai konduktansi stomata dan bobot segar pucuk, namun tidak berbeda nyata terhadap bobot kering pucuk dan rendemen pucuk. Perlakuan yang diberikan memberikan hasil yang berbeda-beda di setiap pengamatannya pada parameter jumlah peko, jumlah burung dan rasio peko-burung. Kombinasi pemberian 75% pupuk anorganik dan 30 ml/l bahan organik cair kitosan memberikan pengaruh yang paling baik terhadap bobot  pucuk segar tanaman teh klon GMB 7. Kombinasi ini juga memberikan pengaruh yang terbaik pada respons jumlah pucuk peko, jumlah pucuk burung, indeks klorofil daun dan nilai konduktansi stomata

    Perubahan Iklim Mikro dan Produksi Kopi Arabika (Coffea arabica L.) pada Daerah Aktivitas Geothermal PLTP Kamojang di Kabupaten Bandung

    Full text link
    Kopi Arabika adalah komoditas ekspor perkebunan yang berperan penting bagi perekonomian Indonesia. Namun, produksi kopi arabika ini masih tergolong rendah yaitu 800 kg/ha. Salah satu sentra kopi Arabika di Jawa Barat berada pada daerah aktivitas geothermal Pembangit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak uap dari aktivitas geothermal terhadap iklim mikro dan produksi kopi Arabika. Penelitian dilakukan dengan pengamatan parameter iklim yaitu suhu udara, kelembapan udara, dan intensitas cahaya matahari pada lima lokasi berdasarkan jarak berbeda dari pusat geothermal PLTP Kamojang yaitu Lokasi 1 (0-250 m), Lokasi 2 (250-500 m), Lokasi 3 (500-750 m), Lokasi 4 (750-1.000 m) dan Lokasi 5 sebagai lokasi kontrol (kira-kira berjarak 3 km) yang memiliki karakteristik lahan yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uap panas bumi berpengaruh terhadap kondisi iklim mikro yaitu menurunkan suhu udara sebesar 8,8, 8,3, 6,9 dan 1,8% dibandingkan kontrol, menurunkan intensitas cahaya matahari sebesar 62, 50, 36 dan 19% dibandingkan kontrol serta menaikkan kelembapan udara sebesar 11, 5, 4 dan 1% dibandingkan kontrol untuk masing-masing Lokasi 1-4. Kondisi iklim mikro tersebut berpengaruh terhadap penurunan produksi kopi Arabika (kg/ha) pada Lokasi 1, 2 dan 3 masing-masing sebesar 33, 19 dan 13% dengan radius kurang dari 750 m dari pusat geothermal PLTP Kamojang. Berkurangnya intensitas matahari berdampak pada penurunan suhu udara, dan pada gilirannya kelembaban relatif meningkat. Suhu yang lebih rendah dapat memperlambat pertumbuhan tanaman kopi. Kelembaban yang tinggi juga dapat meningkatkan risiko kejadian penyakit pada tanaman kopi

    The Thickness Changes of Anatomical Ornamental Monocotyledon Plant Leaves Affected by the Interactions between Plant Types and Light Intensity

    Full text link
    The different levels of light intensity affect the anatomical thickness of monocotyledon ornamental plant leaves. The aim of this research was to determine the anatomical thickness of several monocotyledon ornamental plant leaves under different light intensities. The research used a factorial complete randomized design with two main factors, namely plant type and different light intensity, repeated three times. The first factor was the plant type, which consisted of six plant species of monocotyledon ornamental plants which were Chlorophytum laxum, Dracaena reflexa, Rhoeo discolor, Aglaonema commutatum, Cordyline fruticosa and Hymenocallis littoralis. The second factor was light intensity, which consisted of high light intensity (open areas) and low light intensity (shaded areas). The observation was carried out on preserved leaf anatomy made using the paraffin method with modification. The observation variables were the total thickness of the leaf, upper and lower epidermis, mesophyll (for undifferentiated mesophyll), and palisade and sponge (for differentiated mesophyll). Data were analyzed using analysis of variance followed by the LSD test if the treatment was significant. Correlation tests were carried out between total leaf thickness and each leaf anatomical part under conditions of high and low light intensity. The results showed that the interaction between plant types and light intensity influenced the total thickness of the leaves, upper and lower epidermis, and palisade. The plant types independently influenced the mesophyll and sponges, while the light intensity independently influenced only the mesophyll but not the sponge thickness. Hymenocallis littoralis was the only plant that showed thicker under low light intensity, with an increase in the thickness of the upper and lower epidermis. The palisade mainly influenced leaf thickness changes in the differentiated mesophyll

    Perbaikan Pertumbuhan dan Hasil Kentang (Solanum tuberosum L.) G0 Varietas Granola L dengan Teknik Pengaturan Pemupukan pada Media Tanam

    Full text link
    Upaya untuk meningkatkan kualitas benih kentang terus dilakukan guna meningkatkan produksi benih G0, salah satunya melalui pemupukan. Sumber pupuk kandang yang berbeda dapat memberikan pengaruh yang berbeda pula dalam hal pertumbuhan dan perkembangan tanaman kentang. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perlakuan penambahan pupuk kandang yang memberikan pengaruh terbaik pada tanaman kentang G0 Granola L, ditinjau dari aspek pertumbuhan, hasil, dan analisis usaha taninya. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis sidik ragam 5% dengan tiga kali ulangan dan dilanjutkan dengan uji DMRT 5%, korelasi, dan analisis usaha tani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang sapi secara tunggal dengan dosis 40 ton/ha mendorong tanaman untuk tumbuh lebih tinggi dan luas daun yang optimal, sehingga memberikan hasil yang lebih baik pada jumlah umbi per tanaman, berat umbi per tanaman, dan persentase umbi standar. Aplikasi pupuk kandang sapi tunggal juga menghasilkan nilai kelayakan usaha tani terbaik. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya korelasi positif antara tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun terhadap kualitas dan kuantitas umbi kentang yang dihasilkan

    Daya Makan dan Mobilitas Keong Mas (Pomacea canaliculata L.) pada Tanaman Padi Hitam (Oryza sativa L) Berpupuk Ampas Bungkil Nimba (Azadirachta indica A. Juss) dengan Kedalaman Air Berbeda

    Full text link
    Keong mas (Pomacea canaliculata L.) merupakan salah satu hama pada tanaman padi hitam. Pengendalian secara kultur teknis seperti penggunaan pupuk mimba dan pengaturan kedalaman air dapat menjadi salah satu strategi dalam pengendalian keong mas di sawah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk ampas bungkil mimba, kedalaman air dan ukuran keong mas terhadap daya makan dan mobilitas keong mas. Penelitian dilakukan secara mesocosm yang dilakukan di Rumah Kaca Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada bulan April hingga Juli 2022. Rancangan Acak Kelompok dengan 18 perlakuan dan tiga ulangan digunakan dalam penelitian ini. Pengamatan daya makan dilakukan setiap dua jam sekali selama 24 jam dengan menghitung jumlah tanaman yang terserang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk 10 ton/ha dan kedalaman air 0 cm berpengaruh nyata terhadap penurunan daya makan keong mas hingga 0%. Pengukuran mobilitas keong mas dilakukan secara rutin setiap dua jam sekali, diamati sejak awal keong mas ditempatkan hingga 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk 10 ton/ha dan kedalaman air 0 cm berpengaruh nyata terhadap mobilitas keong mas dewasa yaitu sebesar 4,72 cm. Implikasi dari penelitian ini adalah manfaat dari pengaturan tinggi muka air pada lahan sawah yang merupakan teknologi tepat guna yang efektif untuk mengendalikan serangan keong mas

    Pengintegrasian Teknologi Internet of Things dalam Optimalisasi Pemupukan Organik untuk Pertumbuhan dan Hasil Panen Sacha Inchi

    Full text link
    Tanaman sacha inchi memiliki potensi ekonomi yang baik sehingga perlu pengembangan dengan mempertimbangkan sistem produksi berkelanjutan. Salah satu pendukung peningkatan pertumbuhan dan hasil panen adalah pemupukan dengan bahan organik. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis berbagai perlakuan pupuk dari bahan organik dari kotoran hewan ayam, kambing, dan sapi terhadap pertumbuhan dan hasil panen sehingga terbentuk model yang optimal dari berbagai perlakuan jenis pupuk dengan memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) dalam penyiraman dan pemupukan otomatis. Model perlakuan pupuk yang optimal dikembangkan dengan menggunakan metode ANFIS. Pengumpulan data di mulai bulan Maret hingga September 2023 di Desa Cikadu. Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi perlakuan pupuk organik dengan bahan kotoran hewan sapi menunjukkan hasil yang optimal pada paremeter pertumbuhan jumlah daun, jumlah batang dan jumlah buah potensial dengan akurasi prediksi terhadap model yang dihasilkan sebesar 96%. Implikasi hasil penelitian ini secara praktek dapat memanfaatkan bahan organik kotoran sapi sebagai alternatif pemupukan yang selama ini belum dimanfaatkan dan dijadikan nilai tambah. Implikasi lain secara teori yaitu dapat mengembangkan keberlanjutan produksi melalui pertumbuahn jumlah daun, jumlah batang dan jumlah buah potensial yang berdampak pada hasil panen sehingga ekosistem dalam mendukung agroindustri sacha inchi dapat tetap terjaga

    Eksplorasi dan Identifikasi Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) serta Karakteristik Tanah Lahan Pasca Tambang Batu Bara pada Tingkat Kelerengan Berbeda di Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto

    Full text link
    Kegiatan penambangan memberikan nilai keuntungan ekonomi yang cukup besar bagi suatu negara, salah satunya tambang batu bara. Akan tetapi, dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan juga relatif besar. Upaya revegetasi lahan dapat dicapai antara lain dengan penggunaan fungi mikoriza arbuskular (FMA). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh FMA indigen dari lahan bekas tambang batu bara di Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto untuk dikembangkan sebagai sumber inokulum, sehingga dapat diaplikasikan dalam upaya revegetasi lahan. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel tanah dari lahan bekas tambang batu bara sebanyak sepuluh titik yang dibedakan menjadi lima macam tipe kelerangan yaitu datar, landai, curam, agak curam, dan sangat curam. Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa lahan bekas tambang batu bara tergolong tanah marginal dengan tingkat kesuburan rendah ditandai dengan dominasi fraksi pasir, pH rendah, kadar hara P, N, K, Ca, Mg, dan KTK yang rendah serta memiliki kandungan unsur logam Al dan Pb yang tinggi. Adapun dari lima kategori kelerengan ditemukan empat jenis spora FAM yaitu Glomus sp., Acaulospora sp., Gigaspora sp., dan Sclerocystis sp. Lereng datar memberikan jumlah spora tertinggi dibanding lereng lainnya. Glomus sp. memiliki kemampuan adaptasi yang lebih tinggi di semua tipe lereng dibandingkan jenis lain. Semakin tinggi pH dan kadar P dalam tanah, jumlah dan keanekaragaman spora akan semakin menurun. Sementara itu, semakin tinggi nilai KTK tanah, jumlah dan keanekaragaman spora akan semakin tinggi sampai batas optimal tertentu bergantung dari kemampuan adaptasi masing-masing spora FMA

    Dampak Teknologi Informasi dan Komunikasi terhadap Produktivitas Pangan di Indonesia

    Full text link
    Permintaan pangan dunia diperkirakan meningkat sebesar 35% - 56% antara tahun 2010-2050, peningkatan permintaan ini terkait dengan adanya perkiraan populasi dunia yang meningkat sebesar 9,8 miliar orang pada tahun 2050. Hal ini menyebabkan perlunya tindakan untuk meningkatkan produksi pangan dunia. Saat ini, inovasi teknologi yang relatif baru adalah teknologi pertanian presisi. Pertanian perisisi bertujuan untuk mengadopsi layanan atau perangkat teknologi Informasi dan komunikasi (TIK) untuk mengumpulkan dan memproses informasi. Pemanfaatan dan penerapan TIK pada bidang pertanian sudah banyak dilakukan oleh berbagai negara seperti Amerika Serikat, Cina, Jepang, dan Afrika. Penerapan teknologi informasi di negara-negara tersebut memberikan kontribusi terhadap peningkatan produktivitas hasil pertanian yang berdampak pada peningkatan pendapatan petani. Di Indonesia, ketahanan pangan selalu menjadi prioritas nasional untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduknya yang terus bertambah, yang saat ini berjumlah 278 juta orang dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 1,07%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh teknologi informasi dan komunikasi terhadap produktivitas pangan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data skunder dengan memilih satu provinsi di Indonesia yaitu Jawa Timur. Pemilihan lokasi dilakukan secara multistage sampling. Hasil penelitian dengan menggunakan model Propensity Score Matching (PSM) menunjukan penggunaan internet oleh 65,13% atau 86.751 dari 133.187 rumah tangga petani berpengaruh positif terhadap produktivitas pangan yang dilihat dari sisi produktivitas lahan sebesar 1,34 persen, akan tetapi tidak signifikan secara statistik. Namun, hal tersebut tetap menunjukkan adanya potensi positif yang dapat diperoleh. Kemungkinan, pengaruh penggunaan internet terhadap produktivitas lebih kompleks dan membutuhkan penelitian lebih lanjut dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti kualitas internet, karakteristik sosial ekonomi petani, dan aksesibilitas infrastruktur

    Keefektifan Ekstrak Metanol Daun dan Biji Kemangi (Ocimum basilicum Sims) dalam Mengendalikan Hama Kutukebul (Bemisia tabaci Genn) pada Tanaman Tomat

    Full text link
    Kutukebul (Bemisia tabaci Genn)0merupakan salah satu0hama yang mengganggu produksi tanaman tomat. Saat ini sudah banyak tumbuhan yang0dapat dijadikan ekstrak pestisida nabati untuk mengendalikan serangga hama di antaranya adalah0tanaman kemangi (Ocimum basillicum Sims). Tanaman kemangi mengandung senyawa saponin, eugenol, tannin, dan flavonoid terutama pada bagian daun dan bijinya. Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan0konsentrasi ekstrak0metanol daun dan biji kemangi yang tepat dalam menekan0populasi B. tabaci pada tanaman tomat. Percobaan0ini dilakukan di Laboratorium Pestisida dan Toksikologi Lingkungan dan rumah kaca0Ciparanje Fakultas Pertanian Universitas0Padjadjaran pada bulan Maret hingga Agustus 2023. Penelitian ini0menggunakan metode percobaan0Rancangan Acak0Kelompok (RAK) yang terdiri atas sembilan perlakuan ekstrak metanol dan0tiga kali ulangan, yakni P1 (kontrol), P2 (3,8 g/l daun kemangi), P3 (8,3 g/l daun kemangi), P4 (16,7 g/l daun kemangi), P5 (25,1 g/l daun kemangi), P6 (4,1 g/l biji kemangi), P7 (9,1 g/l biji kemangi), P8 (18,3 g/l biji kemangi), dan P9 (27,4 g/l biji kemangi). Berdasarkan hasil pengujian toksisitas didapatkan nilai LC₅₀ dan LC₉₅ ekstrak metanol daun kemangi secara berurutan sebesar 3,8 g/l dan 8,3 g/l, sedangkan LC₅₀ dan LC₉₅ ekstrak metanol biji kemangi secara berurutan sebesar 4,1 g/l dan 9,1 g/l. Hasil0penelitian menujukkan ekstrak1metanol daun dan biji kemangi masing-masing pada konsentrasi terendah yaitu 3,8 g/l ekstrak methanol daun kemangi dan 4,1 g/l ekstrak methanol biji kemangi mampu menekan kepadatan populasi B. tabaci pada tanaman tomat.  Aplikasi025,1 g/l ekstrak metanol daun kemangi dan 27,4 g/l ekstrak metanol biji kemangi merupakan perlakuan yang paling tinggi penekanannya dalam mengendalikan B.tabaci

    Pengaruh Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (Glomus sp.) dan Giberelin terhadap Pertumbuhan Fase Vegetatif Tanaman Porang (Amorphophallus oncophyllus) di Tanah Ultisol

    Full text link
    Tanaman porang merupakan tanaman semak (herba) yang mempunyai prospek sebagai bahan pangan alternatif dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Umbi tanaman porang yang merupakan bagian yang dimanfaatkan memiliki kandungan polisakarida (glukomanan) yang tinggi dapat digunakan sebagai sumber pangan. Tanaman porang juga sudah banyak dimanfaatkan di bidang industri dan kesehatan. Salah satu kendala dalam budidaya tanaman porang yaitu minimnya informasi dan teknik budidaya yang baik bagi tanaman porang terutama pada fase pertumbuhan vegetatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian fungi mikoriza arbuskula (FMA) Glomus sp. dan zat pengatur tumbuh giberelin terhadap pertumbuhan fase vegetatif tanaman porang pada tanah Ultisol. Penelitian ini dilaksanakan di Dusun V Desa Telaga Sari Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang, dimulai pada bulan Februari sampai dengan Juli 2023. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 3 ulangan yang terdiri dari 2 faktor yaitu perlakukan dosis Glomus sp. (M0 = 0 g/tanaman, M1 = 10 g/tanaman, M2 = 20 g/tanaman dan M3 = 30 g/tanaman) dan perlakuan konsentrasi giberelin (G0 = 0 ppm, G1 = 50 ppm, G2 = 100 ppm dan G3 = 150 ppm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi Glomus sp. dengan dosis 20 g/tanaman memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman porang yaitu meningkatkan bobot umbi sebesar 21,48 g, serapan hara P sebesar 36,19 mg/tanaman dan derajat infeksi akar sebesar 50% atau masing-masing lebih tinggi 93,17%, 42,59% dan 650% dibandingkan dengan kontrol. Aplikasi giberelin berpengaruh tidak nyata terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman porang dan derajat infeksi akar oleh mikoriza di mana infeksi akar tertinggi sebesar 42,50% justru terjadi pada perlakuan tanpa pemberian giberelin

    231

    full texts

    249

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Agrikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇